Self Control Pada Anak Abk Di SLB Negeri Jember
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 1 No. 2 Januari - Juni 2023 Hal. 244-249
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Self Control Pada Anak ABK Di SLB Negeri Jember
Izzatus Sulaima1, Dian Alfi Khamidah2, Hanik Endah Rohmaniyah3, Ani Qotuz Zuhro’ Fitriana 4
1
Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq Jember,
*E-mail:
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui self control pada anak abk dislb negeri jember, penelitian ini juga bertujuan untuk
mengetahui peran guru dalam meningkatkan self control anak berkebutuhan khusus dengan beberapa ketunaan seperti anak
tuna rungu wicara dan tuna netra, menganalisa program yang diberikan dan strategi, faktor prndukung dan penghambat
program, serta evaluasi program peningkatan self control pada anak berkebutuhan khusus dislb negeri jember. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengambil latar belakang di SLB negeri jember, teknik pengumpulan
data dilakukan dengan cara melaksanakan observasi, wawancara serta dokumentasi dan subjek dalam penelitian ini sebanyak
5 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi proses peningkatan self control yaitu dengan
adanya kerjasama dan kemauan antara siswa dan guru untuk mengembangkan self control Pada anak yang memiliki
keistimewaan yang berbeda.
Kata kunci: Self control, anak abk
Abstract
This study aims to determine self-control in children with special needs in the country of Jember, this study also aims to
determine the role of teachers in increasing the self-control of children with special needs with some disabilities such as
children who are deaf and blind, analyze the programs given and strategies, supporting factors and program inhibitors, as
well as evaluation of programs to increase self-control in children with special needs outside Jember. This study used a
qualitative descriptive approach, by taking a background in SLB Negeri Jember, data collection techniques were carried
out by carrying out observations, interviews and documentation and the subjects in this study were 5 people. The results
showed that the factors that influence the process of increasing self-control are cooperation and willingness between
students and teachers to develop self-control in children who have different features.
Keywords: Self control, children with crew
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Menurut Ghufron (2003) self-control adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol atau mengubah
respon dari dalam dirinya untuk menghindarkan diri dari perilaku yang tidak di harapkan dan mengarahkan
dirinya pada sesuatu hal yang ingin dicapai. Tangney, Baumeister dan Bonne (2004) mengatakan bahwa
kemampuan self control yang baik memiliki dampak positif terutama bagi pelajar. Pelajar yang memiliki selfcontrol yang baik akan lebih lebih menonjol performa dalam mengerjakan suatu tugas tertentu. Self-control
sangat memiliki kapasitas besar dalam memberikan perubahan positif pada kehidupan seseorang (Tangey,
Baumeister & Boone, 2004). Self control merupakan kemampuan seseorang untuk menahan diri atau
mengarahkan diri ke arah yang lebih baik ketika dihadapkan dengan persoalan-persoalan (Hofman, Vohs &
Baumeister,2012).Menurut DeWall, Baumeister, Stillman & Gailliot (2005) Self-control dikatakan sebagai
pengendalian perilaku sosial yang buruk. Self-control terjadi ketika seseorang mencoba untuk mengubah cara
bagaimana seharusnya individu itu berfikir, berperilaku, merespon
Self control adalah suatu upaya untuk menahan diri dari segala sesuatu hal yang ingin kita lakukan. Self
control terhadap abk disini disangkutkan kepada orang tua sekaligus pada guru saat anak mengalami amarah
yang berlebihan dengan beberapa cara agar dapat tenang. Beberapa anak abk yang memiliki ciri khas tersendiri
itu pastinya pada saat melakukan self control pastinya berbeda setiap anak. Emosi ada beberapa macam
diantaranya yaitu sedih maupun senang , setiap orang tentunya memiliki emosi tersendiri entah itu sedih maupun
senang. Anak abk tentunya memiliki emosi, ketika anak tersebut mengalami emosi sedih di sekolah
kemungkinan besar yang menangani terlebih dahulu adalah seorang guru, dengan penanganan yang cukup
maksimal tentunya dapat teratasi perlahan. Ketika emosi senang pastinya anak tersebut menunjukkan
tingkahnya yang berbeda entah di rumah maupun sekolah, sehingga self control tersebut pada penanganan boleh
saja digunakan maupun tidak.
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.01 No. 02 Januari - Juni (2023)
244
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 1 No. 2 Januari - Juni 2023 Hal. 244-249
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Menurut Bachri (2010) anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah individu - individu yang memiliki
karakteristik berbeda dari individu lain yang dipandang normal oleh masyarakat pada umumnya. Bachri (2010)
juga mengemukakan bahwa anak berkebutuhan khusus menunjukkan karakteristik fisik, intelektual, dan
emosional yang lebih rendah atau lebih tinggi dari anak normal sebayanya atau berada di luar standar normal
yang berlaku di masyarakat, sehingga mengalami hambatan dalam meraih sukses baik dari segi sosial, personal,
maupun aktivitas pendidikan.
Menurut Wardani, dkk (2014) anak berkebutuhan khusus merupakan anak karena kelainan yang dimilikinya,
memerlukan bantuan khusus dalam pembelajaran agar mampu mengembangkan potensi secara optimal.
Wardani, dkk (2014) juga mengemukakan bahwa kelainan tersebut dapat berada di bawah normal, dapat juga
diatas normal, sehingga sebagai dampaknya diperlukan pengaturan khusus dalam pelayanan pendidikan.
Menurut Direktorat Pendidikan Luar Biasa (dalam Erawati dkk, 2016) anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah
anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (fisik, mental-intelektual,
sosial, 13 emosional) dalam proses perkembangan dan pertumbuhan dibandingkan dengan anak-anak lain
seusianya, sehingga anak memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Setelah melakukan penelitian di sekolah yang ada di salah satu kabupaten Jember sekolah luar biasa
(SLB) Jember ada beberapa guru yang kami lakukan observasi untuk mendapatkan hasil dari tujuan kami
observasi,Menurut ibu Erna mengatakan “Bahwa anak berkebutuhan khusus pada anak tuna rungu (tidak bisa
mendengar) dikelompokkan dalam kelas A dalam menangani emosi setiap individu anak berbeda dalam
menangani anak tuna rungu yang dilakukan oleh guru dengan cara pemahaman yang dilakukan oleh guru
terhadap anak yang memiliki emosi berbeda, dengan ini anak tersebut bisa melakukan self control terhadap
dirinya sendiri pada saat emosi sedih maupun senang dengan sendirinya. Self control ini anak tuna rungu dapat
mengembangkan bakat yang ia punya seperti contoh anak tuna rungu fashion show yang mendapatkan juara di
acara lomba tersebut, otomatis pada saat anak ini selesai (...truncated)