Makna Passempa’ Dalam Je’ne’-Je’ne’ Sappara’ Oleh Masyarakat Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 2 Januari – April 2024 Hal. 235-240
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Makna Passempa’ Dalam Je’ne’-Je’ne’ Sappara’ Oleh Masyarakat
Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto
Sulfiana Mansyur Putri, Rezky Putri Wira Utami M.
Prodi Seni Teater, Fak Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Embrio Intstitut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Selawesi Selatan Jl. Sombabella, Kec. Pattallassang, Kabupaten Takalar,
Sulawesi Selatan
,
ABSTRACK
The research entitled "The Meaning of Passempa in the Je'ne'-Je'ne' Sappara' Ritual by the Balangloe Tarowang
Community, Tarowang District, Jeneponto Regency" the authors try to reveal the values and meaning of passempa' for
the people of Balangloe Tarowang Village, Tarowang District, Jeneponto Regency. The problems analyzed are: (1) What
is the form of passempa' in je'ne'-je'ne' sappara' by the people of Balangloe Tarowang Village, Tarowang District,
Jeneponto Regency, and (2) What is the meaning of passempa' in je'ne'-je' ne' sappara' by the people of Balangloe
Tarowang Village, Tarowang District, Jeneponto Regency. Answering the first formulation of the problem uses the
theories and opinions of several theater leaders regarding forms. Responding to the second formulation of the problem,
namely the interpretation of symbolic forms as expressions of contextualization within the overall structure of meaning
by Geertz. This research is qualitative in nature. The data were collected through literature study, direct observation and
interviews. The results of the research using approaches related to the theory of form, structure, and the concept of
interpretation of meaning prove that passempa' by the people of Balangloe Tarowang Village in Tarowang District,
Jeneponto Regency includes elements of performing arts spectacle as well as other performing arts as well as indicating
the values of the Bugis- Makassar contained in the meaning passempa'.
Keywords: values, meaning, passempa'.
ABSTRAK
Penelitian yang berjudul “Makna Passempa Dalam Ritual Je’ne’-Je’ne’ Sappara’ Oleh Masyarakat Balangloe
Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto” penulis berusaha mengungkapkan nilai-nilai dan makna
passempa’ bagi masyarakat Desa Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto. Permasalahan
yang dianalisis adalah : (1) Bagaimana bentuk passempa’ dalam je’ne’-je’ne’ sappara’ oleh masyarakat Desa Balangloe
Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, dan (2) Bagaimana makna passempa’ dalam je’ne’-je’ne’
sappara’ oleh masyarakat Desa Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto. Menjawab rumusan
masalah yang pertama menggunakan teoriteori dan pendapat dari beberapa pemuka teater mengenai bentuk. Menjawab
rumusan masalah kedua yakni penafsiran bentuk-bentuk simbolik sebagai ekspresi-ekspresi kontekstualisasi di dalam
keseluruhan struktur makna oleh Geertz. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi pustaka,
observasi dan wawancara secara langsung. Hasil penelitian melalui pendekatan terkait teori bentuk, struktur, dan
konsep penafsiran makna membuktikan bahwa passempa’ oleh masyarakat Desa Balangloe Tarowang di Kecamatan
Tarowang Kabupaten Jeneponto mencakup elemen-elemen pada tontonan seni pertunjukan sama halnya dengan seni
pertunjukan lainnya sekaligus mengindikasikan nilainilai falsafah Bugis-Makassar yang terdapat dalam makna
passempa’.
Kata kunci: nilai-nilai, Makna, passempa’.
Pendahuluan
Desa Balangloe Tarowang didominasi oleh Penduduk asli yang bersuku Makassar, sehingga
kearifan lokal sudah dilakukan oleh masyarakat sejak adanya Desa Balangloe Tarowang. Masyarakat
Desa Balangloe Tarowang pada umumnya memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan karena
letaknya berada di pesisir pantai. Berbeda dengan desa lainnya, sumber ekonomi Desa Balangloe
Kecamatan Tarowang yaitu hasil dari melaut dan rumput laut. Masyarakat Desa Balangloe Tarowang
setiap tahun melaksanakan sebuah perayaan adat besar yaitu, Je’ne’-Je’ne’ Sappara’. Perayaan je’neje’ne sappara’ telah tercatat sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya yang masih ada hingga saat
ini. Salah satu budaya yang sudah turun temurun masih dilaksanakan oleh masyarakat Tarowang di
Kabupaten Jeneponto adalah perayaan Je’ne- Je’ne Sappara’. Jene-Jene Sappara yang artinya mandimandi di bulan safar tahun hijriah merupakan suatu rangkaian ritual yang dilakukan dengan cara
menceburkan diri secara bersama- sama di pantai Balangloe Tarowang, ini dilakukan sesuai dengan
keyakinan masyarakat yang menganutnya. Perayaan Je’ne’-Je’ne’Sappara ini dirangkaikan dengan
dilakukannya Passempa’. Passemppa’adalah sebuah prosesi yang ada dalam perayaan adat Je’ne’- Je’ne’
Sappara’ di Desa Balangloe Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto tepatnya di Pantai Wisata
Tarowang. Passempa’ pada umumnya sebuah tontonan bagi masyarakat. Passempa’ adalah bagian dari
perayaan Je’ne-Je’ne Sappara’. Passempa’ seringkali dikaitkan dengan seni pertunjukan karena
memiliki unsur yang hampir sama yaitu unsur tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Tarowang dalam
menyelenggarakan passempa’. Sumardjo (1997: 15) berpendapat bahwa Teater tradisional telah
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 02 Januari-April 2024
235
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 2 Januari – April 2024 Hal. 235-240
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
berkembang di Indonesia sebelum abad ke-17, misalnya pada konfigurasi masyarakat agraris, kehidupan
pertanian menjadi estetik teaternya dan cenderung dikaitkan dengan sistem religi masyarakat. Teater
tradisional sendiri biasanya hadir dari ritual atau budaya masyarakat yang kemudian dituangkan dalam
adeegan- adegan dramatik. Passempa’ menjadi sebuah symbol yang artinya ungkapan rasa syukur
masyarakat atas kemenangan Kerajaan Tarowang melawan Kerajaan Majapahit.
Teater sebagai karya seni sangat tergantung pada situasi masyarakat atau menunjukkan sebuah
peristiwa pada masa itu. Seni teater yang bercorak modern ditengarai muncul dan berkembang di kotakota dagang dan pusat-pusat pemerintah pada zaman Kolonial Belanda. Sumardjo (1997: 15) berpendapat
bahwa teater modern bersifat profan dan berorientasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota
terhadap naluri estetiknya dan khususnya naluri hiburan. Passempa’ ini bisa dikatakan berfungsi sebagai
sarana hiburan bagi penonton atau masyarakat Desa Balangloe Kecamatan Tarowang itu sendiri.
Passempa’ melakukan atraksi yang dihadirkan untuk menghibur tamu dan masyarakat yang hadir.
Passempa’ digambarkan sebagai sebuah pertandingan adu ketangkasan kaki. Peserta yang sedang
bertanding saling menendang satu sama lain hingga lawan terjatuh. Passempa’ ini tentu memiliki wasit
layaknya pertandingan adu ketangkasan lainnya. Wasit atau disebut Anto’ adalah orang yang telah
dipercaya selama bertahun-tahun menjadi wasit pertandingan. Anto’ adalah ora (...truncated)