INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM PADA ANAK USIA DINI
Jurnal Pendidikan Universitas Garut
Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan
Universitas Garut
ISSN: 1907-932X
INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM
PADA ANAK USIA DINI
(Penelitian di TK Persis Rancabogo Tarogong Kidul Kabupaten
Garut)
Nenden Munawaroh
Ijudin
FPIK Universitas Garut
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena yang terjadi di masyarakat,
bahwa dalam mendidik dan membina anak-anaknya hanya mementingkan aspek
kognitif atau intelektual ketimbang aspek afektif atau karakter Islam, padahal anak
usia dini merupakan masa golden age, masa yang sangat tepat untuk menanamkan
nilai-nilai karakter Islam. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui internalisasi penanaman nilai-nilai karakter Islam pada anak usia dini
di TK Persis Tarogong Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah
metede kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
mendalam, studi dokumentasi dan observasi di lapangan. Adapun hasil penelitian
adalah sebagai berikut: Pertama, Program karakter yang dikembangkan di TK
Persis Tarogong Garut dalam pengembangannya meliputi: Mahabbah, Mujahadah,
Ta’awun, Amanah, Tawadlu. Kedua, Pelaksanaan penanaman karakter Islam di TK
Persis di lakukan dalam pengajaran, pembiasaan, ketauladanan, pemotivasian, dan
penegakan aturan yang jelas. Ketiga, Faktor pendukung dan penghambat
diantaranya faktor pendukung:(1) Kelengkapan sarana dan prasarana serta fasilitas
sekolah yang cukup memadai atau refresentatif .(2) Tersedianya program
pembelajaran khas sekolah terutama program pengembangan karakter Islam. (3)
Memilikinya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki syarat kualifikasi dan
kompetensi. Sedangkan Faktor Penghambat: (1) program pengembangan karakter
belum disosialisasikan dan diintegrasikan dalam kurikulum dinas pendidikan.
(2)Sifat pribadi peserta didik yang berasal dari latar belakang keluarga yang
berbeda juga mempengaruhi keefektifan dalam penanaman karakter Islam. (3)
Sosialisasi Penanaman karakter Islam disekolah tidak secara kontinyu di
informasikan kepada orang tua siswa. Keempat, Impikasi atau dampaknya : (1)
terjaminnya pelaksanaan fungsi sistem pendidikan di sekolah, yaitu transmisi dan
transfer ilmu pengetahuan Islam, penanaman karakter Islam, dan pencapaian kaderkader Generasi muda yang Islami. (2) merupakan strategi yang ditempuh oleh
pengelola untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islam sejak dini.
Kata Kunci: Internalisasi, Karakter, Anak Usia Dini, Karakter Islam
1
Munawaroh & Ijudin
Jurnal Pendidikan Universitas Garut
Vol. 12; No. 01; 2018; 1-15
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan upaya strategis yang berperan dalam mengubah dan
membentuk karakter manusia. Bahkan, pendidikan juga memiliki peran penting dalan
proses penataan peradaban manusia, sekaligus menentukan arah bagi gerak peradaban
masyarakat.
Pada kehidupan yang makin kompleks, di satu sisi, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi membawa kemajuan kehidupan yang memberi kemudahan
dan kesejahteraan. Namun, di sisi lain, dampak samping kemajuan teknologi pada era
globalisasi dan informasi membawa masyarakat bangsa Indonesia diwarnai berbagai
patologi sosial.Peristiwa kekerasan, pencurian, korupsi, penyelewengan, tawuran,
pembunuhan dan lain-lain yang terjadi menunjukkan bahwa masyarakat ternyata
mampu melakukan tindakan yang tidak bermoral, yang sebelumnya mungkin tidak
pernah terbayangkan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut bangsa Indonesia harus membina dan
membangun kehidupan dengan menamkan nilai-nilai positif agar bangsa Indonesia
memiliki karakter yang positif dan mampu bersaing dengan negara lain di era
globalisasi.
Selain pendidikan, faktor yang mempengaruhi kemunduran bangsa Indonesia
adalah karena bobroknya mental dan runtuhnya akhlak, baik pada generasi tua, begitu
juga pada generasi muda, baik di jajaran pemerintahan maupun di kalangan masyarakat
luas. Hal-hal tersebut mengakibatkan bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam
berbagai macam posisi di dunia.
Praktek pendidikan di Indonesia baru menyantuh kecerdasan intelektual,
sementara untuk membentuk karakter dan jiwa seseorang menjadi pribadi yang matang
dan dewasa belum dilakukan.1
Munculnya pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab, selama ini
dirasakan, proses pendidikan dirasakan belum berhasil membangun manusia Indonesia
yang berkarakter. Bahkan banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal, karena
banyak lulusan sekolah yang piawai menjawab soal ujian, beotak cerdas, tetapi mental
dan moralnya lemah.
Mengecilkan pentingnya pendidikan karakter adalah penyebab gagalnya
membangun manusia yang berkualitas. Dalam membangun karater anak perlu
memperhatikan perkembangan anak yang memiliki berbagai dimensi, yaitu dimensi
sosial, emosi, spiritual, koginitif dan psikomotor. Menanamkan karakter merupakan
proses yang berlangsung seumur hidup, dimana masa usia dini merupakan peletak dasar
karakter yang amat penting.
Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa mengajarkan anakanak kecil ibarat melukis diatas batu yang akan berbekas sampai tua, sedangkan
mengajar orang dewasa ibarat menulis diatas air yang akan cepat sirna dan tidak
membekas. Ungkapan itu tidak bisa diremehkan begitu saja karena karakter yang
1
Arief Rahman, Redaksi. Sistem Pendidikan di Indonesia, Jakarta; Media Indonesia, 16 Maret
2002.
2
www.jurnal.uniga.ac.id
Jurnal Pendidikan Universitas Garut
Vol. 12; No. 01; 2018; 1-15
Munawaroh & Ijudin
berkualitas perlu dibina dan dibentuk sejak kecil. Usia dini merupakan masa kritis bagi
pembentukan karakter seseorang.
Karakter merupakan warna dasar setiap anak.2 Secara teori, awal pembentukan
kepribadian anak dimulai dari lahir- 8 tahun, artinya pada masa usia tersebut
kepribadian anak belum stabil dan masih berubah-ubah tergantung pengalaman
hidupnya.
Akhlak mulia tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia
dilahirkan, hal itu memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan
(proses “pengukiran”). Dalam istilah arab karakter ini mirip dengan kata akhlak, yaitu
tabiat atau kebiasaan melakukan hal-hal yang baik. Al-Ghazali menggambarkan bahwa
akhlak tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik. Oleh karena itu
pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit),
sehingga sifat anak sudah terukir sejak kecil.
Dari pendapat beberapa pakar pendidikan anak, antara lain Al-Ghazali, Ibnu AlQoyyim, dan Ibnu Sina dapat disimpulkan bahwa terbentuknya karakter (kepribadian)
manusia adalah ditentukan oleh dua faktor, yaitu nature (faktor alami atau fitrah) dan
nurture (sosialisasi dan pendidikan). Jika sosialisassi dan pendidikan (faktor nature)
sangat penting dalam pendidikan karakter, maka pendidikan karakter perlu dilakukan
sejak usia dini.3
Lembaga pendidikan pra-sekolah diharapkan menjadi pusat tumbuhnya
kreativitas anak, agar ketika dewasa nanti, ia dapat hidup mandiri dan mampu
mengantisipasi masa depan serta memberi sumbangan pada kemajuan intele (...truncated)