INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM PADA ANAK USIA DINI

Jurnal Pendidikan UNIGA, Apr 2018

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena yang terjadi di masyarakat, bahwa dalam mendidik dan membina anak-anaknya hanya mementingkan aspek kognitif atau intelektual ketimbang aspek afektif atau karakter Islam, padahal anak usia dini merupakan masa golden age, masa yang sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islam. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui internalisasi penanaman nilai-nilai karakter Islam pada anak usia dini di TK Persis Tarogong Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah metede kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi di lapangan. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, Program karakter yang dikembangkan di TK Persis Tarogong Garut dalam pengembangannya meliputi: Mahabbah, Mujahadah, Ta’awun, Amanah, Tawadlu. Kedua, Pelaksanaan penanaman karakter Islam di TK Persis di lakukan dalam pengajaran, pembiasaan, ketauladanan, pemotivasian, dan penegakan aturan yang jelas. Ketiga, Faktor pendukung dan penghambat diantaranya faktor pendukung:(1) Kelengkapan sarana dan prasarana serta fasilitas sekolah yang cukup memadai atau refresentatif .(2) Tersedianya program pembelajaran khas sekolah terutama program pengembangan karakter Islam. (3) Memilikinya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki syarat kualifikasi dan kompetensi. Sedangkan Faktor Penghambat: (1) program pengembangan karakter belum disosialisasikan dan diintegrasikan dalam kurikulum dinas pendidikan. (2)Sifat pribadi peserta didik yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda juga mempengaruhi keefektifan dalam penanaman karakter Islam. (3) Sosialisasi Penanaman karakter Islam disekolah tidak secara kontinyu di informasikan kepada orang tua siswa. Keempat, Impikasi atau dampaknya : (1) terjaminnya pelaksanaan fungsi sistem pendidikan di sekolah, yaitu transmisi dan transfer ilmu pengetahuan Islam, penanaman karakter Islam, dan pencapaian kader-kader Generasi muda yang Islami. (2) merupakan strategi yang ditempuh oleh pengelola untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islam sejak dini.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.uniga.ac.id/index.php/JP/article/download/818/718

INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM PADA ANAK USIA DINI

Jurnal Pendidikan Universitas Garut Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut ISSN: 1907-932X INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM PADA ANAK USIA DINI (Penelitian di TK Persis Rancabogo Tarogong Kidul Kabupaten Garut) Nenden Munawaroh Ijudin FPIK Universitas Garut Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena yang terjadi di masyarakat, bahwa dalam mendidik dan membina anak-anaknya hanya mementingkan aspek kognitif atau intelektual ketimbang aspek afektif atau karakter Islam, padahal anak usia dini merupakan masa golden age, masa yang sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islam. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui internalisasi penanaman nilai-nilai karakter Islam pada anak usia dini di TK Persis Tarogong Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah metede kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi di lapangan. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, Program karakter yang dikembangkan di TK Persis Tarogong Garut dalam pengembangannya meliputi: Mahabbah, Mujahadah, Ta’awun, Amanah, Tawadlu. Kedua, Pelaksanaan penanaman karakter Islam di TK Persis di lakukan dalam pengajaran, pembiasaan, ketauladanan, pemotivasian, dan penegakan aturan yang jelas. Ketiga, Faktor pendukung dan penghambat diantaranya faktor pendukung:(1) Kelengkapan sarana dan prasarana serta fasilitas sekolah yang cukup memadai atau refresentatif .(2) Tersedianya program pembelajaran khas sekolah terutama program pengembangan karakter Islam. (3) Memilikinya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki syarat kualifikasi dan kompetensi. Sedangkan Faktor Penghambat: (1) program pengembangan karakter belum disosialisasikan dan diintegrasikan dalam kurikulum dinas pendidikan. (2)Sifat pribadi peserta didik yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda juga mempengaruhi keefektifan dalam penanaman karakter Islam. (3) Sosialisasi Penanaman karakter Islam disekolah tidak secara kontinyu di informasikan kepada orang tua siswa. Keempat, Impikasi atau dampaknya : (1) terjaminnya pelaksanaan fungsi sistem pendidikan di sekolah, yaitu transmisi dan transfer ilmu pengetahuan Islam, penanaman karakter Islam, dan pencapaian kaderkader Generasi muda yang Islami. (2) merupakan strategi yang ditempuh oleh pengelola untuk menanamkan nilai-nilai karakter Islam sejak dini. Kata Kunci: Internalisasi, Karakter, Anak Usia Dini, Karakter Islam 1 Munawaroh & Ijudin Jurnal Pendidikan Universitas Garut Vol. 12; No. 01; 2018; 1-15 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya strategis yang berperan dalam mengubah dan membentuk karakter manusia. Bahkan, pendidikan juga memiliki peran penting dalan proses penataan peradaban manusia, sekaligus menentukan arah bagi gerak peradaban masyarakat. Pada kehidupan yang makin kompleks, di satu sisi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa kemajuan kehidupan yang memberi kemudahan dan kesejahteraan. Namun, di sisi lain, dampak samping kemajuan teknologi pada era globalisasi dan informasi membawa masyarakat bangsa Indonesia diwarnai berbagai patologi sosial.Peristiwa kekerasan, pencurian, korupsi, penyelewengan, tawuran, pembunuhan dan lain-lain yang terjadi menunjukkan bahwa masyarakat ternyata mampu melakukan tindakan yang tidak bermoral, yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan Untuk mengatasi permasalahan tersebut bangsa Indonesia harus membina dan membangun kehidupan dengan menamkan nilai-nilai positif agar bangsa Indonesia memiliki karakter yang positif dan mampu bersaing dengan negara lain di era globalisasi. Selain pendidikan, faktor yang mempengaruhi kemunduran bangsa Indonesia adalah karena bobroknya mental dan runtuhnya akhlak, baik pada generasi tua, begitu juga pada generasi muda, baik di jajaran pemerintahan maupun di kalangan masyarakat luas. Hal-hal tersebut mengakibatkan bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam berbagai macam posisi di dunia. Praktek pendidikan di Indonesia baru menyantuh kecerdasan intelektual, sementara untuk membentuk karakter dan jiwa seseorang menjadi pribadi yang matang dan dewasa belum dilakukan.1 Munculnya pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab, selama ini dirasakan, proses pendidikan dirasakan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal, karena banyak lulusan sekolah yang piawai menjawab soal ujian, beotak cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah. Mengecilkan pentingnya pendidikan karakter adalah penyebab gagalnya membangun manusia yang berkualitas. Dalam membangun karater anak perlu memperhatikan perkembangan anak yang memiliki berbagai dimensi, yaitu dimensi sosial, emosi, spiritual, koginitif dan psikomotor. Menanamkan karakter merupakan proses yang berlangsung seumur hidup, dimana masa usia dini merupakan peletak dasar karakter yang amat penting. Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa mengajarkan anakanak kecil ibarat melukis diatas batu yang akan berbekas sampai tua, sedangkan mengajar orang dewasa ibarat menulis diatas air yang akan cepat sirna dan tidak membekas. Ungkapan itu tidak bisa diremehkan begitu saja karena karakter yang 1 Arief Rahman, Redaksi. Sistem Pendidikan di Indonesia, Jakarta; Media Indonesia, 16 Maret 2002. 2 www.jurnal.uniga.ac.id Jurnal Pendidikan Universitas Garut Vol. 12; No. 01; 2018; 1-15 Munawaroh & Ijudin berkualitas perlu dibina dan dibentuk sejak kecil. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Karakter merupakan warna dasar setiap anak.2 Secara teori, awal pembentukan kepribadian anak dimulai dari lahir- 8 tahun, artinya pada masa usia tersebut kepribadian anak belum stabil dan masih berubah-ubah tergantung pengalaman hidupnya. Akhlak mulia tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, hal itu memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan (proses “pengukiran”). Dalam istilah arab karakter ini mirip dengan kata akhlak, yaitu tabiat atau kebiasaan melakukan hal-hal yang baik. Al-Ghazali menggambarkan bahwa akhlak tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik. Oleh karena itu pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit), sehingga sifat anak sudah terukir sejak kecil. Dari pendapat beberapa pakar pendidikan anak, antara lain Al-Ghazali, Ibnu AlQoyyim, dan Ibnu Sina dapat disimpulkan bahwa terbentuknya karakter (kepribadian) manusia adalah ditentukan oleh dua faktor, yaitu nature (faktor alami atau fitrah) dan nurture (sosialisasi dan pendidikan). Jika sosialisassi dan pendidikan (faktor nature) sangat penting dalam pendidikan karakter, maka pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini.3 Lembaga pendidikan pra-sekolah diharapkan menjadi pusat tumbuhnya kreativitas anak, agar ketika dewasa nanti, ia dapat hidup mandiri dan mampu mengantisipasi masa depan serta memberi sumbangan pada kemajuan intele (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.uniga.ac.id/index.php/JP/article/download/818/718
Article home page: https://journal.uniga.ac.id/index.php/JP/article/view/818/718

Nenden Munawaroh, -. Ijudin. INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER ISLAM PADA ANAK USIA DINI, Jurnal Pendidikan UNIGA, 2018, pp. 1-15,