PETA JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANGANDARAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

MAJALAH ILMIAH GLOBE, May 2024

Tsunami Kabupaten Pangandaran tanggal 17 Juli 2006 menimbulkan kerugian yang sangat besar baik dalam kehidupan manusia maupun infrastruktur. Kurangnya informasi dan tidak adanya peta jalur evakuasi menyebabkan banyak korban jiwa dan harta benda. Pembuatan peta jalur evakuasi menjadi sangat penting untuk dikaji guna mengurangi kerugian di masa mendatang dengan tetap memperhatikan kondisi wilayah Kabupaten Pangandaran. Penentuan jalur evakuasi dalam penelitian ini menggunakan metode Network Analysis dikombinasikan dengan SIG (Sistem Informasi Geografis). Metode ini menggunakan data jaringan jalan dan dapat menggunakan tanda stop secara manual agar tidak memilih jalur yang diberi tanda stop tersebut pada jalan yang berada di zona bahaya. Pembuatan data set jaringan jalan dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu panjang dan waktu tempuh setiap segmen jalan melalui atribut spasialnya. Sedangkan data set jaringan jalan merupakan data masukan (input) untuk membuat rencana jalur evakuasi dengan menggunakan Network Analysis. Peta keterpaparan bahaya bencana tsunami di wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu kategori sangat tinggi berada di wilayah Kecamatan Parigi dengan luas 43,56% dari luas wilayah; kategori tinggi berada di wilayah Kecamatan Parigi dengan luas 49,92% dari luas wilayah; kategori sedang berada di wilayah Kecamatan Kalipucang dengan luas 57% dari luas wilayah; kategori rendah berada di Kecamatan Sidamulih dengan luas 8,74% dari luas wilayah; dan kategori sangat rendah berada di wilayah Kecamatan Sidamulih dan Parigi dengan luas 0,02% dari luas wilayah.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.big.go.id/GL/article/download/139/113

PETA JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANGANDARAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peta Jalur Evakuasi Bencana Tsunami di Wilayah Pesisir Kabupaten Pangandaran…………………………………….(Mahfudz, et al) PETA JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANGANDARAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Tsunami Disaster Evacuation Route Map in Coastal Area of Pangandaran Regency Based on Geographic Information System) Mohamad Mahfudz, Rudie R. Admawidjaja, Yudi Firmansyah Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Pakuan Jl. Pakuan, Tegalega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor Jawa Barat E-mail: Diterima: 5 Februari 2024; Direvisi 12 Maret 2024; Disetujui untuk Dipublikasikan 29 April 2024 ABSTRAK Tsunami Kabupaten Pangandaran tanggal 17 Juli 2006 menimbulkan kerugian yang sangat besar baik dalam kehidupan manusia maupun infrastruktur. Kurangnya informasi dan tidak adanya peta jalur evakuasi menyebabkan banyak korban jiwa dan harta benda. Pembuatan peta jalur evakuasi menjadi sangat penting untuk dikaji guna mengurangi kerugian di masa mendatang dengan tetap memperhatikan kondisi wilayah Kabupaten Pangandaran. Penentuan jalur evakuasi dalam penelitian ini menggunakan metode Network Analysis dikombinasikan dengan SIG (Sistem Informasi Geografis). Metode ini menggunakan data jaringan jalan dan dapat menggunakan tanda stop secara manual agar tidak memilih jalur yang diberi tanda stop tersebut pada jalan yang berada di zona bahaya. Pembuatan data set jaringan jalan dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu panjang dan waktu tempuh setiap segmen jalan melalui atribut spasialnya. Sedangkan data set jaringan jalan merupakan data masukan (input) untuk membuat rencana jalur evakuasi dengan menggunakan Network Analysis. Peta keterpaparan bahaya bencana tsunami di wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu kategori sangat tinggi berada di wilayah Kecamatan Parigi dengan luas 43,56% dari luas wilayah; kategori tinggi berada di wilayah Kecamatan Parigi dengan luas 49,92% dari luas wilayah; kategori sedang berada di wilayah Kecamatan Kalipucang dengan luas 57% dari luas wilayah; kategori rendah berada di Kecamatan Sidamulih dengan luas 8,74% dari luas wilayah; dan kategori sangat rendah berada di wilayah Kecamatan Sidamulih dan Parigi dengan luas 0,02% dari luas wilayah. Kata Kunci: Peta jalur evakuasi, Pangandaran, SIG, Tsunami ABSTRACT The tsunami in Pangandaran Regency on July 17, 2006, resulted in significant losses both in terms of human lives and infrastructure. The lack of information and the absence of evacuation route maps led to numerous casualties and property damage. The creation of evacuation route maps is crucial to mitigate future losses while maintaining the conditions of the Pangandaran Regency area. In this study, the determination of evacuation routes utilizes Network Analysis combined with GIS (Geographic Information System). This method utilizes road network data and can manually designate stop signs to avoid selecting routes marked with these signs in hazardous zones. The creation of a road network dataset involves determining the length and travel time of each road segment through its spatial attributes. The road network dataset serves as input for devising evacuation route plans using Network Analysis. The hazard exposure map for tsunami disasters in the coastal areas of Pangandaran Regency is divided into 5 levels: very high, located in Parigi District covering 43.56% of the area; high, also in Parigi District covering 49.92% of the area; moderate exposure level in Kalipucang District covering 57% of the area; low exposure category in Sidamulih District covering 8.74% of the area; and very low, found in both Sidamulih and Parigi Districts covering 0.02% of the area. Keywords; Evacuation route map, GIS, Pangandaran, Tsunami PENDAHULUAN Berbagai bencana alam seperti gempabumi, gelombang badai, gelombang tsunami, banjir, dan lainnya, terjadi setiap tahun di berbagai belahan dunia. Untuk memperkirakan tingkat bencana secara kuantitatif, perlu untuk memperkirakan 31 perilaku fenomena alam yang menyebabkan bencana alam (Uno & Kashiyama, 2008). Tsunami juga sering dianggap sebagai gelombang air pasang. Hal ini terjadi karena pada saat mencapai daratan, gelombang tsunami lebih menyerupai air pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara alami oleh Globe Vol. 26 No 1 April Tahun 2024: 31-40 tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk menghindari pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan istilah gelombang laut seismic untuk menyebut tsunami yang secara ilmiah (Power & Leonard, 2013). Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki ancaman terhadap bencana gempabumi dan tsunami. Hal ini dikarenakan Indonesia berada di antara tiga lempeng dunia, yaitu Lempeng IndoAustralia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Lempeng-lempeng ini mengalami pergerakan yang dapat menyebabkan terjadinya gangguangangguan di dasar laut berupa gempabumi tektonik, longsoran lempeng di dasar laut, dan letusan gunung api di dasar laut (Hadi & Astrid 2017). Pada rentang tahun 1629 sampai 2000, terdapat 108 kejadian tsunami, yang terdiri dari 98 (90,7%) tsunami yang disebabkan oleh gempabumi, 9 (8,3%) oleh erupsi gunung api, dan 1 (1%) karena longsoran. Tingginya kejadian tsunami di Indonesia itu berkaitan erat dengan tatanan tektonik (tectonic setting) kepulauan Indonesia (Tejakusuma, 2008). Total ada 110 tsunami yang terjadi di Indonesia. Di antara 110 tsunami tersebut, 100 tsunami disebabkan oleh gempabumi, sembilan tsunami disebabkan oleh letusan gunung berapi, dan satu tsunami oleh disebabkan oleh tanah longsor (Febrina et al., 2020). Tsunami yang disebabkan oleh gempabumi merupakan faktor utama terjadinya tsunami di Indonesia. Pusat gempa berhubungan erat dengan zona subduksi dan menyebabkan jalur gempa yang terjadi sering melewati zona subduksi (Febrina et al., 2020). Kabupaten Pangandaran merupakan kabupaten yang cukup terkenal. Pada 2016, terdapat 2.459.096 pengunjung yang mengunjungi tempat wisata di Kabupaten Pangandaran. Dari jumlah tersebut, 56% pengunjung mengunjungi wisata Pantai Pangandaran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Pantai Pangandaran menjadi bagian dari destinasi tempat wisata favorit (Putra Sandrika et al., 2020). Pantai Pangandaran ialah salah satu dari beberapa pantai yang berada di selatan Pulau Jawa yang letaknya berada pada zona tumbukan (subduksi) antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia sehingga menyebabkan Pantai Pangandaran rawan akan terjadinya gempabumi dan tsunami (Lestari et al., 2023). Daerah Pesisir Selatan Kabupaten Pangandaran yang memiliki riwayat tsunami dengan ketinggian run up tsunami mencapai 15,7 meter pada tahun 2006 berdasarkan data BPBD Kabupaten Pangandaran (Nurwatik et al., 2022). Ketika tsunami di Pangandaran terjadi pada 2006, sistem peringatan dini tsunami Indonesia masih dalam proses pengembangan. Sistem pelampung penilaia (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.big.go.id/GL/article/download/139/113
Article home page: https://jurnal.big.go.id/GL/article/view/139/113

Mohamad Mahfudz, Rudie R. Admawidjaja, Yudi Firmansyah. PETA JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN PANGANDARAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS, MAJALAH ILMIAH GLOBE, 2024, pp. 31 - 40,