Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTS Dan PLTMH-GRID) Di Desa Tiworiwu I Dan Desa Bea Pawe, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Lektrokom: Jurnal Ilmiah Program Studi Teknik Elektro
Volume 6 No 2. September 2023, E-ISSN: 2686-1534
Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTS Dan PLTMHGRID) Di Desa Tiworiwu I Dan Desa Bea Pawe, Kabupaten Ngada,
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Mardelin Kastela*, 2Bambang Widodo, 3Robinson Purba
Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Jakarta
1,2,3
Jl. Mayjen Sutoyo No.2 Cawang, Jakarta Timur 13630, DKI Jakarta
*Corresponding author:
1
1,2,3
Abstrak
Desa Tiworiwu I dan Desa Bea Pawe, yang terletak di Kabupaten Ngada, memiliki pembangkit
listrik energi terbarukan, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Wae Roa, yang
terhubung ke PLN. Kapasitas daya total yang dihasilkan dari pembangkit listrik ini, mencapai 370
kW dan lokasi pembangkit berada di Desa Bea Pawe. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
merancang Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) dengan menggabungkan PLTMH-Grid
dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tingkat radiasi matahari di Desa Bea Pawe
mencapai 5,531 kWh/m2. Kapasitas modul surya yang digunakan dalam penelitian ini adalah 325
Wp/modul. Total kapasitas keseluruhan mencapai 525.200 Wp dengan jumlah modul
Photovoltaic (PV) sebanyak 1616 unit dan 53 unit inverter dengan kapasitas 10 kW, sehingga
total kapasitas inverter mencapai 530 kW. Setelah melakukan analisis simulasi terhadap PLTH
dengan menggunakan perangkat lunak HOMER, menunjukkan bahwa produksi energi listrik
yang dihasilkan oleh PLTH di Desa Tiworiwu I dan Desa Bea Pawe adalah sebesar 3.131.745
kWh/tahun. Kontribusi PLTS dalam produksi energi adalah sebesar sebesar 27,5%, kontribusi
PLTMH sebesar 51,5%, dan kontribusi dari jaringan listrik (grid) sebesar 21%. Dari segi
ekonomi, estimasi nilai Net Present Cost (NPC) pada PLTH jauh lebih rendah dibandingkan
dengan PLTMH-Grid, dengan selisih sebesar Rp. 5.304.430.000. Levelized Cost of Electricity
(LCOE) pada PLTMH-Grid juga lebih rendah, dengan selisih Rp. 383,39/kWh. Break Even Point
(BEP) diperkirakan terjadi dalam waktu sekitar 5,05 tahun. Nilai NPC dan LCOE dari PLTH
lebih rendah dibandingkan dengan PLTMH-Grid PLN.
Kata Kunci : PLTH, PLTS, PLTMH, NPC, LCOE, BEP dan HOMER
25
Lektrokom: Jurnal Ilmiah Program Studi Teknik Elektro
Volume 6 No 2. September 2023, E-ISSN: 2686-1534
Abstract
Tiworiwu I Village and Bea Pawe Village, located in Ngada Regency, have a renewable energy
power plant, the Wae Roa Microhydro Power Plant (PLTMH), which is connected to PLN. The
total power capacity generated from this power plant reaches 370 kW and the location of the
plant is in Bea Pawe Village. This research was conducted with the aim of designing a Hybrid
Power Plant (PLTH) by combining PLTMH-Grid and Solar Power Plant (PLTS). The level of
solar radiation in Bea Pawe Village reached 5,531 kWh/m2. Thecapacity of the solar module used
in this study was 325 Wp/module. The total total capacity reaches 525,200 Wp with the number of
Photovoltaic (PV) modules as many as 1616 units and 53 inverter units with a capacity of 10 kW,
so that the total inverter capacity reaches 530 kW. After conducting a simulation analysis of
PLTH using HOMER software, it shows that the production of electrical energy produced by
PLTH in Tiworiwu I Village and Bea Pawe Village is 3,131,745 kWh / year. The contribution of
PLTS in energy production is 27.5%, the contribution of PLTMH is 51.5%, and the contribution
of the electricity network (grid) is 21%. From an economic point of view, the estimated Net
Present Cost (NPC) value of PLTH is much lower than that of PLTMH-Grid, with a difference of
Rp. 5,304,430,000. Levelized Cost of Electricity (LCOE) at PLTMH-Grid is also lower, with a
difference of Rp. 383.39 / kWh. Break Even Point (BEP) is expected to occur in about 5.05 years.
The NPC and LCOE values of PLTH are lower than PLTMH-Grid PLN.
Keywords: PLTH, PLTS, PLTMH, NPC, LCOE, BEP and HOMER
1. PENDAHULUAN
Setiap tahun, seiring pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan jumlah
penduduk, kebutuhan listrik nasional
juga semakin meningkat. Dalam periode
sepuluh tahun terakhir, mulai dari tahun
2010 hingga 2020, penggunaan energi
akhir di Indonesia meningkat dari 134
juta TOE menjadi 258 TOE, dengan
pertumbuhan rata-rata sebesar 8,5%
setiap tahun. Seiring dengan peningkatan
konsumsi energi, ketersediaan sumber
energi
primer
juga
mengalami
peningkatan[1].
Dengan pertumbuhan kebutuhan
energi
yang
terus
berkembang,
penggunaan sumber energi fosil semakin
meningkat dan mengakibatkan penipisan
cadangan
energi
fosil.
Arifin
menyatakan bahwa, jika tidak ditemukan
cadangan baru, maka cadangan minyak
bumi di Indonesia akan habis dalam 9
tahun ke depan. Sementara itu, cadangan
gas bumi diperkirakan akan habis dalam
22 tahun dan batubara diperkirakan akan
habis dalam 65 tahun[2].
Penggunaan energi fosil pada
pembangkit tenaga listrik, menimbulkan
gas CO2 yang merupakan salah satu jenis
gas rumah kaca. Efek dari gas rumah
kaca ini akan menyebabkan radiasi infra
merah dari bumi terperangkap kembali
oleh gas rumah kaca di atmosfer
sehingga mengakibatkan pemanasan
global di permukaan bumi[3].
Peraturan Pemerintah (PP) No. 79
tahun 2014 tentang kebijakan Energi
Nasional, Bab 2 Pasal 9, menetapkan
pembatasan penggunaan sumber energi
fosil dan menetapkan target penggunaan
energi baru.
Tahun 2025 ditetapkan bahwa, peran
Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
paling sedikit 23% dan pada tahun 2050
paling sedikit 31%[4]. Oleh karena itu,
transisi dari penggunaan energi fosil ke
sumber EBT seperti mikrohidro, energi
surya, biomassa, energi nuklir dan energi
angin[5] menjadi sangat penting.
26
Lektrokom: Jurnal Ilmiah Program Studi Teknik Elektro
Volume 6 No 2. September 2023, E-ISSN: 2686-1534
Pembangkit listrik berbasis EBT,
diharapkan dapat berkontribusi dalam
upaya menurunkan emisi gas rumah
kaca sebesar 156,6 juta ton CO2, yang
setara dengan 49,8% dari total tindakan
mitigasi dalam sektor energi [6].
Pemanfaatan sumber EBT, khususnya
energi surya sebagai sumber pembangkit
listrik, memiliki potensi yang sangat
besar di Indonesia karena negara ini
terletak di daerah tropis dengan sinar
matahari yang tersedia sepanjang waktu.
Di Indonesia, potensi energi surya
mencapai 4,8 kWh/m2[5]. Selain itu,
keberadaan kekayaan sungai yang
melimpah di Indonesia memberikan
peluang besar untuk mengembangkan
sumber EBT berbasis mikrohidro.
Indonesia memiliki potensi mikrohidro
sebesar 450 MW[5].
Terdapat beberapa jenis sistem PLTS
yaitu off-grid, on-grid dan hybrid [7][8][9].
PLTS off-grid merupakan sistem yang
berdiri sendiri dan tidak terkoneksi
dengan jaringan listrik PLN. Sistem ini
sangat cocok digunakan di daerah yang
belum terkoneksi jaringan listrik PLN[7].
PLTS sistem On-Grid merupakan sistem
PLTS yang terhubung dengan jaringan
listrik utama atau grid. Kelebihan energi
disalurkan ke jaringan listrik utama,
sedangkan kekurangan energi diperoleh
dari jaringan listrik utama. Sistem ini
sangat cocok digunakan didaerah yang
sudah terhubung dengan jaringan listrik
(...truncated)