POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR 5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK

LINGUISTIK : Jurnal Bahasa dan Sastra, Aug 2022

Dengan kesantunan yang benar dan penggunaan bahasa yang benar, dapat timbullah keharmonisan dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi seseorang. Berbahasa yang santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil, anak perlu dibina dan dididik berbahasa yang santun, karena jika dibiarkan anak bisa menjadi orang yang kasar, arogan, dan tidak punya nilai etika serta agama. Agar anak pun mengerti dan bisa menanamkan kesantunan berbahasa kepada anak sebaiknya memberikan prinsip mengerti, merasakan, dan melaksanakan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif, menjelaskan data atau objek secara natural, objektif, dan faktual. Istilah deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada. Kesantunan pragmatikpola imperatif orang tua dan anak dalam pergaulan sehari hari di Desa Kelambir V Kebun diwujudkan dalam pola tuturan deklaratif dan interogatif. Wujud tuturan deklaratif yang ditemukan menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan, ajakan, permohonan, dan larangan, selanjutnya wujud tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif perintah, persilaan dan larangan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/Linguistik/article/download/5530/pdf

POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR 5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK

LINGUISTIK : Jurnal Bahasa & Sastra http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/Linguistik| Vol.7 No.1 Januari- Juni 2022 e- ISSN 2548 9402 | | DOI : 10.31604/linguistik.v7i1. 208-214 POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR 5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK Rusyda Nazhirah Yunus Universitas Pembangunan Panca Budi email: Abstrak Dengan kesantunan yang benar dan penggunaan bahasa yang benar, dapat timbullah keharmonisan dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi seseorang. Berbahasa yang santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil, anak perlu dibina dan dididik berbahasa yang santun, karena jika dibiarkan anak bisa menjadi orang yang kasar, arogan, dan tidak punya nilai etika serta agama. Agar anak pun mengerti dan bisa menanamkan kesantunan berbahasa kepada anak sebaiknya memberikan prinsip mengerti, merasakan, dan melaksanakan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif, menjelaskan data atau objek secara natural, objektif, dan faktual. Istilah deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada. Kesantunan pragmatikpola imperatif orang tua dan anak dalam pergaulan sehari hari di Desa Kelambir V Kebun diwujudkan dalam pola tuturan deklaratif dan interogatif. Wujud tuturan deklaratif yang ditemukan menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan, ajakan, permohonan, dan larangan, selanjutnya wujud tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif perintah, persilaan dan larangan. Kata Kunci: Kesantunan, Bahasa, Imperatif. PENDAHULUAN Munculnya pandemi besar penyakit virus corona pada akhir tahun 2019 telah berdampak besar pada manajemen pendidikan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, banyak sekolah yang berbondong-bondong membawa siswanya langsung ke lingkungan belajar digital ketimbang melakukan kegiatan belajar tatap muka. Namun, sejumlah besar anak mengalami penyakit mental ketika prose belajarnya dipaksa dengan mengubah ruang dan waktu. Beralih ke mode digital untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang biasanya tatap muka tampaknya menghambat pembelajaran. Berdasarkan kekhawatiran psikologis anak, keluarga harus menjadi wali terdekat dan terpenting bagi anak. Keluarga harus bekerja lebih keras untuk memenuhi perannya dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19 pada anak-anaknya. Akibat dari anak tidak bisa keluar rumah, anak jadi terbiasa menggunakan media digital dan menjelajah di media sosial. Jika melihat komentar dari pengguna media sosial, maka akan menemukan banyak bahasa yang cenderung kasar dan vulgar. Salah satu contohnya adalah perkataan banyak haters di media sosial yang menyakitkan dan tidak layak untuk didengar. Kasus lainnya adalah banyaknya insiden bullying di lingkungan © UM-Tapsel Press 2022 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Hal. 208 Pola Pengajaran Kesantunan Berbahasa Anak Pada……….......... . 208-214 Rusyda Nazhirah Yunus antar sesama anak, yang menunjukkan terkikisnya tata krama berbahasa anak-anak kita. Sinetron anak-anak di televisi juga membuat kita sedih karena tindakan dan perkataan mereka tidak mencerminkan kesantunan. Oleh karena itu, keluarga harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan anakanaknya, terutama yang terkena pandemi COVID-19. Orang tua perlu menyadari konteks pembelajaran digital dan menganalisis persiapan anak mereka. Bahasa yang santun adalah bahasa yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya masyarakat. Etika berbahasa tercermin dalam cara seseorang berkomunikasi melalui simbol verbal atau proses bahasa. Ketika kita berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya dan melakukan lebih dari sekedar menyampaikan ide-ide yang kita pikirkan. Praktik bahasa harus sesuai dengan elemen budaya masyarakat tempat mereka tinggal dan penggunaan bahasa dalam komunikasi. Penggunaan bahasa yang santun dapat memberikan dampak yang signifikan bagi penutur, lingkungan bahasa, dan khalayak. Adalah bijaksana bagi pembicara untuk melihat semua kondisi dan berpikir positif. Ketika pembicara berpikir positif dan berbicara dengan sopan, lingkungan juga bermanfaat, bahkan dalam keadaan emosional. Ada banyak bahasa yang tidak sopan untuk mengutamakan emosi dan ego, salah satunya terjebak di jalan raya. Pengemudi menghina atau menghina pengemudi lain berdasarkan emosi dan ego mereka. Ini membuat situasi semakin kabur dan tidak berguna. Sikap ini menyebabkan hilangnya empati dan toleransi. Jika hal ini tidak ditegaskan, penggunaan kata-kata kasar berupa kutukan tidak dapat dihentikan. Watts menyatakan bahwa kesopanan adalah alat untuk menciptakan dan memelihara struktur masyarakat yang hierarkis dan elitis dan untuk memelihara perbedaan sosial. Dalam hal ini, etiket merupakan cara yang sangat efisien untuk menertibkan masyarakat (Dowlatabadi, Mehri & Tajabadi, 2014). Kesopanan memainkan peran penting dalam membina hubungan dan menjaga kehormatan. Kesopanan dapat disebut universal karena memiliki penerapan yang berbeda tetapi umum dalam bahasa dan negara yang berbeda (Duleimi, Rashid & Abdullah, 2016). Sayangnya, akhir-akhir ini muncul fenomena buruknya etika berbahasa di kalangan masyarakat Indonesia. Pada dasarnya faktor kesantunan berbahasa lisan adalah ketepatan intonasi, kekuatan suara, penggunaan nada, dan penggunaan pemilihan kata dalam kalimat. Hal ini sesuai dengan (Hamidah, 2017) yang mengungkapkan mengenai “Faktor penentu kesantunan adalah segala hal yang dapat memengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun atau tidak santun. Faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkatian dengan suasana emosi penutur; nada resmi, nada bercanda, nada mengejek, menyindir, dan sebagainya), faktor pilihan kata, dan faktor susunan kalimat.” Seperti disebutkan sebelumnya, menggunakan bahasa yang sopan menciptakan suasana yang membantu. Suasana yang membantu menghasilkan beberapa kemajuan belajar, termasuk memperkuat pembentukan kepribadian. Character Building Enhancements (PPC) hadir untuk mempersiapkan Generasi Emas 2045 dengan 21 skill. Lima karakter utama sebagai bagian dari Gerakan Nasional PPK adalah agama, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan sinergi yang kuat antar elemen pendidikan. Penegasan karakter di rumah berlandaskan pada keluarga dan Penguatan di sekolah, bertumpu pada pendidik. Jika seorang anak dalam keadaan formal terbiasa mendengarkan dan berbicara dalam bahasa yang santun, tetapi diperbolehkan menggunakan bahasa apapun dalam situasi informal, maka kegiatan maksimalisasi tidak berpengaruh nyata. Bahkan dengan pelatihan karakter, jika perilaku di satu tempat berbeda di tempat lain, hasilnya tidak akan © UM-Tapsel Press 2022 This work is licens (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/Linguistik/article/download/5530/pdf
Article home page: http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/Linguistik/article/view/5530/pdf

Rusyda Nazhirah Yunus. POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR 5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK, LINGUISTIK : Jurnal Bahasa dan Sastra, 2022, pp. 208-214,