POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR 5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK
LINGUISTIK : Jurnal Bahasa & Sastra
http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/Linguistik| Vol.7 No.1 Januari- Juni 2022
e- ISSN 2548 9402 | | DOI : 10.31604/linguistik.v7i1. 208-214
POLA PENGAJARAN KESANTUNAN BERBAHASA ANAK PADA
LINGKUNGAN KELUARGA MASYARAKAT DESA KELAMBIR
5 KEBUN KECAMATAN HAMPARAN PERAK
Rusyda Nazhirah Yunus
Universitas Pembangunan Panca Budi
email:
Abstrak
Dengan kesantunan yang benar dan penggunaan bahasa yang benar, dapat
timbullah keharmonisan dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar.
Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif
terhadap kematangan emosi seseorang. Berbahasa yang santun seharusnya
sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil,
anak perlu dibina dan dididik berbahasa yang santun, karena jika dibiarkan
anak bisa menjadi orang yang kasar, arogan, dan tidak punya nilai etika
serta agama. Agar anak pun mengerti dan bisa menanamkan kesantunan
berbahasa kepada anak sebaiknya memberikan prinsip mengerti,
merasakan, dan melaksanakan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif bersifat deskriptif, menjelaskan data atau objek
secara natural, objektif, dan faktual. Istilah deskriptif merupakan penelitian
yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada.
Kesantunan pragmatikpola imperatif orang tua dan anak dalam pergaulan
sehari hari di Desa Kelambir V Kebun diwujudkan dalam pola tuturan
deklaratif dan interogatif. Wujud tuturan deklaratif yang ditemukan
menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan, ajakan, permohonan, dan
larangan, selanjutnya wujud tuturan interogatif yang menyatakan makna
pragmatik imperatif perintah, persilaan dan larangan.
Kata Kunci: Kesantunan, Bahasa, Imperatif.
PENDAHULUAN
Munculnya pandemi besar penyakit virus corona pada akhir tahun 2019 telah
berdampak besar pada manajemen pendidikan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri,
banyak sekolah yang berbondong-bondong membawa siswanya langsung ke lingkungan
belajar digital ketimbang melakukan kegiatan belajar tatap muka. Namun, sejumlah besar
anak mengalami penyakit mental ketika prose belajarnya dipaksa dengan mengubah
ruang dan waktu. Beralih ke mode digital untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran
yang biasanya tatap muka tampaknya menghambat pembelajaran. Berdasarkan
kekhawatiran psikologis anak, keluarga harus menjadi wali terdekat dan terpenting bagi
anak. Keluarga harus bekerja lebih keras untuk memenuhi perannya dalam menghadapi
dampak pandemi COVID-19 pada anak-anaknya.
Akibat dari anak tidak bisa keluar rumah, anak jadi terbiasa menggunakan media
digital dan menjelajah di media sosial. Jika melihat komentar dari pengguna media sosial,
maka akan menemukan banyak bahasa yang cenderung kasar dan vulgar. Salah satu
contohnya adalah perkataan banyak haters di media sosial yang menyakitkan dan tidak
layak untuk didengar. Kasus lainnya adalah banyaknya insiden bullying di lingkungan
© UM-Tapsel Press 2022
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Hal. 208
Pola Pengajaran Kesantunan Berbahasa Anak Pada……….......... . 208-214
Rusyda Nazhirah Yunus
antar sesama anak, yang menunjukkan terkikisnya tata krama berbahasa anak-anak kita.
Sinetron anak-anak di televisi juga membuat kita sedih karena tindakan dan perkataan
mereka tidak mencerminkan kesantunan.
Oleh karena itu, keluarga harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan anakanaknya, terutama yang terkena pandemi COVID-19. Orang tua perlu menyadari konteks
pembelajaran digital dan menganalisis persiapan anak mereka. Bahasa yang santun
adalah bahasa yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya masyarakat. Etika berbahasa
tercermin dalam cara seseorang berkomunikasi melalui simbol verbal atau proses bahasa.
Ketika kita berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya dan melakukan lebih
dari sekedar menyampaikan ide-ide yang kita pikirkan. Praktik bahasa harus sesuai
dengan elemen budaya masyarakat tempat mereka tinggal dan penggunaan bahasa dalam
komunikasi.
Penggunaan bahasa yang santun dapat memberikan dampak yang signifikan bagi
penutur, lingkungan bahasa, dan khalayak. Adalah bijaksana bagi pembicara untuk
melihat semua kondisi dan berpikir positif. Ketika pembicara berpikir positif dan
berbicara dengan sopan, lingkungan juga bermanfaat, bahkan dalam keadaan emosional.
Ada banyak bahasa yang tidak sopan untuk mengutamakan emosi dan ego, salah satunya
terjebak di jalan raya. Pengemudi menghina atau menghina pengemudi lain berdasarkan
emosi dan ego mereka. Ini membuat situasi semakin kabur dan tidak berguna. Sikap ini
menyebabkan hilangnya empati dan toleransi. Jika hal ini tidak ditegaskan, penggunaan
kata-kata kasar berupa kutukan tidak dapat dihentikan.
Watts menyatakan bahwa kesopanan adalah alat untuk menciptakan dan memelihara
struktur masyarakat yang hierarkis dan elitis dan untuk memelihara perbedaan sosial.
Dalam hal ini, etiket merupakan cara yang sangat efisien untuk menertibkan masyarakat
(Dowlatabadi, Mehri & Tajabadi, 2014). Kesopanan memainkan peran penting dalam
membina hubungan dan menjaga kehormatan. Kesopanan dapat disebut universal karena
memiliki penerapan yang berbeda tetapi umum dalam bahasa dan negara yang berbeda
(Duleimi, Rashid & Abdullah, 2016).
Sayangnya, akhir-akhir ini muncul
fenomena buruknya etika berbahasa di kalangan masyarakat Indonesia. Pada dasarnya
faktor kesantunan berbahasa lisan adalah ketepatan intonasi, kekuatan suara, penggunaan
nada, dan penggunaan pemilihan kata dalam kalimat. Hal ini sesuai dengan (Hamidah,
2017) yang mengungkapkan mengenai “Faktor penentu kesantunan adalah segala hal
yang dapat memengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun atau tidak santun. Faktor
penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi (keras
lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkatian dengan
suasana emosi penutur; nada resmi, nada bercanda, nada mengejek, menyindir, dan
sebagainya), faktor pilihan kata, dan faktor susunan kalimat.” Seperti disebutkan
sebelumnya, menggunakan bahasa yang sopan menciptakan suasana yang membantu.
Suasana yang membantu menghasilkan beberapa kemajuan belajar, termasuk
memperkuat pembentukan kepribadian. Character Building Enhancements (PPC) hadir
untuk mempersiapkan Generasi Emas 2045 dengan 21 skill. Lima karakter utama sebagai
bagian dari Gerakan Nasional PPK adalah agama, nasionalisme, kemandirian, gotong
royong, dan integritas. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan sinergi yang kuat antar
elemen pendidikan. Penegasan karakter di rumah berlandaskan pada keluarga dan
Penguatan di sekolah, bertumpu pada pendidik.
Jika seorang anak dalam keadaan formal terbiasa mendengarkan dan berbicara
dalam bahasa yang santun, tetapi diperbolehkan menggunakan bahasa apapun dalam
situasi informal, maka kegiatan maksimalisasi tidak berpengaruh nyata. Bahkan dengan
pelatihan karakter, jika perilaku di satu tempat berbeda di tempat lain, hasilnya tidak akan
© UM-Tapsel Press 2022
This work is licens (...truncated)