Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old)
Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC Universitas Muhammadiyah
Semarang Phone: 02476740287, Fax: 02476740287 Email:
Research article
Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old)
Septi Handayani1, Dewi Setyawati1, Ali Rosidi1, Ernawati Ernawati1
1
Universitas Muhammadiyah Semarang, Indonesia
Article Info
Article History:
Submitted: Nov 18th, 2023
Accepted: Dec 12th, 2023
Published: Dec 31st, 2023
Keywords:
Stunting; toddlers aged 2-5
years
Abstract
Stunting is a chronic nutritional problem characterized by height or body
length that is not proportional to age. The prevalence of stunting at the
Bandarharjo Health Center is the highest in Semarang City in 2021 reaching
534 children under five. Low nutritional intake and genetic and economic
factors are some of the factors that influence the incidence of stunting. The
study aimed to determine the risk factors for stunting in toddlers at the
Bandarharjo Health Center. This study used cross-sectional with a sample of
51 families with stunting toddlers recorded at the Bandarharjo Health
Center. The selection of subjects in total sampling is then data obtained
through questionnaires. The data were analyzed using the chi-square
test.This study showed that the Family Per Capita Income was low at 9.8%,
and the Family Per Capita Income was high at 90.2%; the results showed that
family income was not significantly related (p = 0.368) with the incidence of
stunting. Conclusion: The level of Low Family Per Capita Income in children
under the age of 2 – 5 years in the working area of the Bandarharjo Health
Center Semarang City is 9.8%, and the level of High Family Per Capita Income
is 90.2% and there is no relationship between Family Per Capita Income and
the incidence of stunting in children under the age of 0 - 24 month in the
working area of the Bandarharjo Health Center, Semarang City.
PENDAHULUAN
Stunting yang juga disebut balita pendek
merupakan suatu masalah gizi yang kronik
dan ditandai tinggi badan atau panjang
badan yang tidak sebanding dengan
usianya. Persoalan stunting atau kondisi
gagal tumbuh pada anak balita sehingga
memiliki
tubuh
terlalu
pendek
dibandingkan anak seusianya, masih
menjadi tantangan besar yang dihadapi
bangsa ini. Berdasarkan Global Nutrition
Report pada 2018 menunjukkan Prevalensi
Stunting Indonesia dari 132 negara berada
Corresponding author:
Dewi Setyawati
Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023
e-ISSN: 2615-1669
ISSN: 2722-2802
DOI: 10.26714/mki.6.4.2023.277-284
pada peringkat ke-108, sedangkan di
kawasan Asia Tenggara prevalensi stunting
Indonesia tertinggi ke dua setelah Kamboja
[1].
Indonesia menempati urutan ketiga negara
di dunia dengan prevalensi tertinggi di
regional Asia Tenggara menurut data World
Health Organization (WHO). Prevalensi
balita pendek Indonesia sebesar 36,8 %
pada 2007, menurun sedikit menjadi 35,6 %
di tahun 2010. Prevalensi stunting
meningkat kembali pada tahun 2013
menjadi 37,2 % dan lalu menjadi 30,8 %
Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023/ page 277-284
pada tahun 2018 [1]. Penyebab stunting
terdiri dari multifaktor meliputi penyebab
langsung (asupan gizi termasuk pola makan
dan penyakit infeksi) dan penyebab tidak
langsung (ketahanan pangan, pola asuh
termasuk perilaku higiene, sanitasi
lingkungan dan pelayanan kesehatan) dan
penyebab dasar (pendidikan, kemiskinan,
disparitas, sosial budaya, pemerintahan dan
politik) [2] .
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Jawa Tengah menyebutkan hasil Studi
Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022,
prevalensi stunting di Jawa Tengah pada
tahun 2022 ada pada angka 20,8%.
Pemerintah
Provinsi
Jawa
Tengah
menargetkan penurunan angka stunting
per tahun sebanyak 3,5%. Pada 2022 angka
stunting Jawa Tengah sebanyak 20,8%. Jika
target penurunan stunting 3 persen per
tahun, maka akhir 2022 angka stunting di
Jawa Tengah hanya 17,4 persen dan tahun
2023 turun hingga 14 persen. Terkait target
ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
optimistis seluruh pihak stakeholder dapat
bekerja sama mencegah dan mengatasi
stunting [3].
Kota Semarang memiliki 37 wilayah kerja
Puskesmas. Jumlah balita stunting tertinggi
pada tahun 2021 berada pada wilayah kerja
Puskesmas Bandarharjo yaitu sebanyak
534 balita. Disusul oleh wilayah kerja
Puskesmas Sekaran sebanyak 243 balita,
kemudian wilayah kerja Puskesmas
Kedungmundu sebanyak 225 balita,
wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Wetan
sebanyak 205 balita, wilayah kerja
Puskesmas Karangdoro sebanyak 134
balita dan wilayah kerja Puskesmas
Padangsari sebanyak 130 balita[4].
Sedangkan jumlah balita stunting per april
2023 tertinggi terdapat dikelurahan
Tanjungmas yaitu sebanyak 87 balita,
kemudian kelurahan bandarharjo yaitu
sebanyak 51 balita, kemudian kelurahan
kuningan sebanyak 22 balita dan kelurahan
dadapsari sebanyak 16 balita. Hasil dari
studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota
278
Semarang didapatkan jumlah balita
stunting di wilayah kerja Puskesmas
Bandarharjo pada tahun 2017 sebanyak
797 anak, kemudian pada tahun 2018
mengalami peningkatan menjadi 950 anak,
dan mengalami penurunan pada tahun
2019 yaitu 849 anak, dan pada tahun 2021
didapatkan jumlah balita yang mengalami
stunting adalah 534 anak. Sedangkan data
balita stunting di puskesmas Bandarharjo
per April 2023 sebanyak 21 balita [4] .
Stunting akan menyebabkan dampak
jangka panjang yaitu terganggunya
perkembangan fisik, mental, intelektual
serta kognitif. Anak yang terkena stunting
hingga usia 5 tahun akan sulit untuk
diperbaiki sehingga akan berlanjut hingga
dewasa dan dapat meningkatkan risiko
keturunan dengan berat badan lahir yang
rendah (BBLR) [5] . Balita yang berusia
lebih dari dua tahun yang mengalami
stunting
akan
sulit
mengejar
pertumbuhannya. Karena, usia lebih dari
dua tahun cenderung bersifat tidak dapat
mengejar
pertumbuhannya
dan
penanganan yang diberikan hanya sebatas
untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Maka dari itu, peneliti mengambil usia 6-23
bulan untuk melakukan deteksi dini faktor
risiko stunting agar dapat ditanggulangi
atau melakukan penanganan yang cepat
dan tepat [6]. Faktor resiko kejadian
stunting pada Balita meliputi berat bayi saat
lahir, status anemia anak, usia ibu saat
melahirkan dan juga pendidikan ibu. Faktor
yang berhubungan dengan kejadian
stunting adalah riwayat penyakit infeksi,
riwayat imunisasi, pemberian MP ASI dan
Pemberian ASI Eksklusif [1].
METODE
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif
dengan menggunakan metode cross
sectional, dimana peneliti mendeskripsikan
faktor risiko dengan kejadian stunting pada
balita dan melakukan analisis antara kedua
variabel tersebut. Sampel dalam penelitian
ini adalah balita yang terdiagnosis stunting
di wilayah Wilayah Kerja Puskesmas
Dewi Setyawati / Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old)
Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023/ page 277-284
Bandarharjo Kota Semarang. Kriteria
inklusi pada penelitian ini terdiri dari 1)
Balita usia 0-24 bulan yang terdiag (...truncated)