Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old)

Media Keperawatan Indonesia, Dec 2023

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by height or body length that is not proportional to age. The prevalence of stunting at the Bandarharjo Health Center is the highest in Semarang City in 2021 reaching 534 children under five. Low nutritional intake and genetic and economic factors are some of the factors that influence the incidence of stunting. The study aimed to determine the risk factors for stunting in toddlers at the Bandarharjo Health Center. This study used cross-sectional with a sample of 51 families with stunting toddlers recorded at the Bandarharjo Health Center. The selection of subjects in total sampling is then data obtained through questionnaires. The data were analyzed using the chi-square test.This study showed that the Family Per Capita Income was low at 9.8%, and the Family Per Capita Income was high at 90.2%; the results showed that family income was not significantly related (p = 0.368) with the incidence of stunting. Conclusion: The level of Low Family Per Capita Income in children under the age of 2 – 5 years in the working area of the Bandarharjo Health Center Semarang City is 9.8%, and the level of High Family Per Capita Income is 90.2% and there is no relationship between Family Per Capita Income and the incidence of stunting in children under the age of 0 - 24 month in the working area of the Bandarharjo Health Center, Semarang City.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/MKI/article/download/14120/pdf

Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old)

Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC Universitas Muhammadiyah Semarang Phone: 02476740287, Fax: 02476740287 Email: Research article Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old) Septi Handayani1, Dewi Setyawati1, Ali Rosidi1, Ernawati Ernawati1 1 Universitas Muhammadiyah Semarang, Indonesia Article Info Article History: Submitted: Nov 18th, 2023 Accepted: Dec 12th, 2023 Published: Dec 31st, 2023 Keywords: Stunting; toddlers aged 2-5 years Abstract Stunting is a chronic nutritional problem characterized by height or body length that is not proportional to age. The prevalence of stunting at the Bandarharjo Health Center is the highest in Semarang City in 2021 reaching 534 children under five. Low nutritional intake and genetic and economic factors are some of the factors that influence the incidence of stunting. The study aimed to determine the risk factors for stunting in toddlers at the Bandarharjo Health Center. This study used cross-sectional with a sample of 51 families with stunting toddlers recorded at the Bandarharjo Health Center. The selection of subjects in total sampling is then data obtained through questionnaires. The data were analyzed using the chi-square test.This study showed that the Family Per Capita Income was low at 9.8%, and the Family Per Capita Income was high at 90.2%; the results showed that family income was not significantly related (p = 0.368) with the incidence of stunting. Conclusion: The level of Low Family Per Capita Income in children under the age of 2 – 5 years in the working area of the Bandarharjo Health Center Semarang City is 9.8%, and the level of High Family Per Capita Income is 90.2% and there is no relationship between Family Per Capita Income and the incidence of stunting in children under the age of 0 - 24 month in the working area of the Bandarharjo Health Center, Semarang City. PENDAHULUAN Stunting yang juga disebut balita pendek merupakan suatu masalah gizi yang kronik dan ditandai tinggi badan atau panjang badan yang tidak sebanding dengan usianya. Persoalan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita sehingga memiliki tubuh terlalu pendek dibandingkan anak seusianya, masih menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini. Berdasarkan Global Nutrition Report pada 2018 menunjukkan Prevalensi Stunting Indonesia dari 132 negara berada Corresponding author: Dewi Setyawati Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023 e-ISSN: 2615-1669 ISSN: 2722-2802 DOI: 10.26714/mki.6.4.2023.277-284 pada peringkat ke-108, sedangkan di kawasan Asia Tenggara prevalensi stunting Indonesia tertinggi ke dua setelah Kamboja [1]. Indonesia menempati urutan ketiga negara di dunia dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara menurut data World Health Organization (WHO). Prevalensi balita pendek Indonesia sebesar 36,8 % pada 2007, menurun sedikit menjadi 35,6 % di tahun 2010. Prevalensi stunting meningkat kembali pada tahun 2013 menjadi 37,2 % dan lalu menjadi 30,8 % Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023/ page 277-284 pada tahun 2018 [1]. Penyebab stunting terdiri dari multifaktor meliputi penyebab langsung (asupan gizi termasuk pola makan dan penyakit infeksi) dan penyebab tidak langsung (ketahanan pangan, pola asuh termasuk perilaku higiene, sanitasi lingkungan dan pelayanan kesehatan) dan penyebab dasar (pendidikan, kemiskinan, disparitas, sosial budaya, pemerintahan dan politik) [2] . Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah menyebutkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, prevalensi stunting di Jawa Tengah pada tahun 2022 ada pada angka 20,8%. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan penurunan angka stunting per tahun sebanyak 3,5%. Pada 2022 angka stunting Jawa Tengah sebanyak 20,8%. Jika target penurunan stunting 3 persen per tahun, maka akhir 2022 angka stunting di Jawa Tengah hanya 17,4 persen dan tahun 2023 turun hingga 14 persen. Terkait target ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis seluruh pihak stakeholder dapat bekerja sama mencegah dan mengatasi stunting [3]. Kota Semarang memiliki 37 wilayah kerja Puskesmas. Jumlah balita stunting tertinggi pada tahun 2021 berada pada wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo yaitu sebanyak 534 balita. Disusul oleh wilayah kerja Puskesmas Sekaran sebanyak 243 balita, kemudian wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu sebanyak 225 balita, wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Wetan sebanyak 205 balita, wilayah kerja Puskesmas Karangdoro sebanyak 134 balita dan wilayah kerja Puskesmas Padangsari sebanyak 130 balita[4]. Sedangkan jumlah balita stunting per april 2023 tertinggi terdapat dikelurahan Tanjungmas yaitu sebanyak 87 balita, kemudian kelurahan bandarharjo yaitu sebanyak 51 balita, kemudian kelurahan kuningan sebanyak 22 balita dan kelurahan dadapsari sebanyak 16 balita. Hasil dari studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota 278 Semarang didapatkan jumlah balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo pada tahun 2017 sebanyak 797 anak, kemudian pada tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 950 anak, dan mengalami penurunan pada tahun 2019 yaitu 849 anak, dan pada tahun 2021 didapatkan jumlah balita yang mengalami stunting adalah 534 anak. Sedangkan data balita stunting di puskesmas Bandarharjo per April 2023 sebanyak 21 balita [4] . Stunting akan menyebabkan dampak jangka panjang yaitu terganggunya perkembangan fisik, mental, intelektual serta kognitif. Anak yang terkena stunting hingga usia 5 tahun akan sulit untuk diperbaiki sehingga akan berlanjut hingga dewasa dan dapat meningkatkan risiko keturunan dengan berat badan lahir yang rendah (BBLR) [5] . Balita yang berusia lebih dari dua tahun yang mengalami stunting akan sulit mengejar pertumbuhannya. Karena, usia lebih dari dua tahun cenderung bersifat tidak dapat mengejar pertumbuhannya dan penanganan yang diberikan hanya sebatas untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Maka dari itu, peneliti mengambil usia 6-23 bulan untuk melakukan deteksi dini faktor risiko stunting agar dapat ditanggulangi atau melakukan penanganan yang cepat dan tepat [6]. Faktor resiko kejadian stunting pada Balita meliputi berat bayi saat lahir, status anemia anak, usia ibu saat melahirkan dan juga pendidikan ibu. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah riwayat penyakit infeksi, riwayat imunisasi, pemberian MP ASI dan Pemberian ASI Eksklusif [1]. METODE Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode cross sectional, dimana peneliti mendeskripsikan faktor risiko dengan kejadian stunting pada balita dan melakukan analisis antara kedua variabel tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah balita yang terdiagnosis stunting di wilayah Wilayah Kerja Puskesmas Dewi Setyawati / Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old) Media Keperawatan Indonesia, Vol 6 No 4, Dec 2023/ page 277-284 Bandarharjo Kota Semarang. Kriteria inklusi pada penelitian ini terdiri dari 1) Balita usia 0-24 bulan yang terdiag (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/MKI/article/download/14120/pdf
Article home page: https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/MKI/article/view/14120/pdf

Septi Handayani, Dewi Setyawati, Ali Rosidi, Ernawati Ernawati. Risk Factors for Stunting among Toddler (2-5 years old), Media Keperawatan Indonesia, 2023, pp. 277-284,