Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting Pada Anak Usia 7-24 Bulan

Kritis, Jun 2024

ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dari anak seusianya atau dikenal dengan istilah kerdil. Keluarga berpengaruh besar terhadap status gizi anak melalui proses perawatan dan pengasuhan. Pertumbuhan anak yang mencapai optimal menjadi salah satu indikator kesehatan masyarakat serta gambaran kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor karakteristik keluarga dengan risiko stunting pada anak usia 7-24 bulan di Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo, Kuningan, dan Dadapsari. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian case control. Pelaksanaan penelitian pada Mei-September 2023. Data bersumber dari data primer melalui kuesioner dan data sekunder melalui data operasi timbang, buku KIA, serta data pengukuran posyandu. Populasi penelitian sebanyak 566 anak, pengambilan sampel menerapkan metode purposive sampling. Didapat 175 anak sebagai sampel penelitian, 50 sampel menjadi kelompok kasus dan 125 sampel menjadi kelompok kontrol. Teknik analisis menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara risiko stunting dengan berat badan lahir (p=0,007; OR=4,643), panjang lahir (p=0,000; OR=5,732), usia ibu saat menikah (p=0,001; OR=4,792), dan pendapatan ayah (p=0,045; OR=2,078). Hasil uji multivariat menunjukkan panjang lahir menjadi variabel dengan pengaruh terkuat terhadap kejadian stunting. Kata kunci: stunting, karakteristik keluarga, baduta

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/download/10423/2803

Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting Pada Anak Usia 7-24 Bulan

Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting pada Anak Usia 7-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo dengan Pendekatan Case Control Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting pada Anak Usia 7-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo dengan Pendekatan Case Control Wasilah Khoirun Nisa1, Muhammad Azinar2 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang e-mail: 1 ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dari anak seusianya atau dikenal dengan istilah kerdil. Keluarga berpengaruh besar terhadap status gizi anak melalui proses perawatan dan pengasuhan. Pertumbuhan anak yang mencapai optimal menjadi salah satu indikator kesehatan masyarakat serta gambaran kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor karakteristik keluarga dengan risiko stunting pada anak usia 7-24 bulan di Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo, Kuningan, dan Dadapsari. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian case control. Pelaksanaan penelitian pada Mei-September 2023. Data bersumber dari data primer melalui kuesioner dan data sekunder melalui data operasi timbang, buku KIA, serta data pengukuran posyandu. Populasi penelitian sebanyak 566 anak, pengambilan sampel menerapkan metode purposive sampling. Didapat 175 anak sebagai sampel penelitian, 50 sampel menjadi kelompok kasus dan 125 sampel menjadi kelompok kontrol. Teknik analisis menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara risiko stunting dengan berat badan lahir (p=0,007; OR=4,643), panjang lahir (p=0,000; OR=5,732), usia ibu saat menikah (p=0,001; OR=4,792), dan pendapatan ayah (p=0,045; OR=2,078). Hasil uji multivariat menunjukkan panjang lahir menjadi variabel dengan pengaruh terkuat terhadap kejadian stunting. Kata kunci: stunting, karakteristik keluarga, baduta ABSTRACT Stunting is a growth disorder characterized by a child's height being lower than that of other children of the same age. Families have a major influence on children's nutritional status through the care and nurturing process. Optimal child growth is an indicator of public health and an 17 KRITIS, Vol XXXIII No. 1, 2024: 17 - 36 illustration of the quality of human resources. This study aims to determine the relationship between family characteristics factors and the risk of stunting in children aged 7-24 months in Tanjung Mas, Bandarharjo, Kuningan, and Dadapsari Villages. This type of research is analytic observational with case control research design. The research was conducted in May-September 2023. Data were sourced from primary data through questionnaires and secondary data through weighing operation data, MCH books, and posyandu measurement data. The study population was 566 children, sampling applied purposive sampling method. There were 175 children as research samples, 50 samples became the case group and 125 samples became the control group. The analysis technique used chi-square test and logistic regression test. Bivariate analysis showed that there was an association between the risk of stunting and birth weight (p=0.007; OR=4.643), birth length (p=0.000; OR=5.732), maternal age at marriage (p=0.001; OR=4.792), and father's income (p=0.045; OR=2.078). Multivariate test results showed birth length to be the variable with the strongest influence on the incidence of stunting. Keywords: stunting, family characteristics, under-five children PENDAHULUAN Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi dasar kemajuan suatu bangsa. Salah satu faktor penentu kualitas sumber daya manusia yakni gizi. Jika gangguan gizi terjadi di awal kehidupan, akibatnya kualitas kehidupan di masa mendatang akan terdampak (Saputri & Kadarisman, 2021). Salah satu masalah gizi utama yang dihadapi saat ini yaitu stunting. Stunting merupakan kondisi gizi kurang yang terjadi secara berkepanjangan, kondisi ini menghambat tumbuh kembang anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sehingga dalam tujuan kedua Sustainable Development Goals (SDGs) ditargetkan penghapusan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi, dengan harapan tidak ada lagi anak dengan status gizi kurang (UNICEF, 2020). Kondisi stunting dimulai sejak masa sebelum kehamilan atau prakonsepsi yaitu ketika seorang remaja putri menderita kurang gizi dan anemia (Lemaking et al., 2022). Anak dikategorikan stunting apabila pengukuran indeks panjang badan berdasarkan umur atau tinggi badan berdasarkan umur (PB/U atau TB/U) menunjukan hasil di bawah -2 standar deviasi median standar pertumbuhan (Kemenkes RI, 2020). Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi sebagai penyebab langsung, beberapa penyebab tidak langsung kejadian stunting diantaranya panjang badan lahir, berat badan lahir, pemberian makan yang tidak adekuat, pendapatan keluarga, pola pengasuhan, sanitasi, 18 Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting pada Anak Usia 7-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo dengan Pendekatan Case Control pendidikan dan pengetahuan ibu, serta dukungan ayah dapat berpengaruh terhadap status gizi anak (Wanimbo & Wartiningsih, 2019; Siregar & Siagian, 2021; Suryati & Nurlailla, 2021). Pendidikan pada orang tua menjadi dasar pemicu kejadian stunting, pendidikan tinggi akan meningkatkan kesempatan orang tua dalam memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang cukup sehingga layanan kesehatan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal yang sehat, serta kemampuan membeli makanan bergizi untuk anak akan terpenuhi. Selain itu, orang tua dengan pendidikan tinggi dapat terhindar dari pernikahan dan kehamilan usia remaja, serta cenderung mudah dalam menerima pengetahuan mengenai gizi yang kemudian diterapkan menjadi pola asuh yang baik pada anak (Lestari et all., 2022; Siswati, 2018). Faktor lain yang berpengaruh pada status gizi anak adalah pekerjaan ibu, berdasarkan penelitian oleh Astuti et al., (2021) menyatakan bahwa ibu yang bekerja mampu meningkatkan risiko kejadian stunting sebesar 2,6 kali. Hal ini karena ibu memiliki sedikit waktu dalam merawat anak. Tidak jarang anak akan dititipkan kepada pengasuh yang belum tentu memiliki pengetahuan mengenai pola asuh yang baik. Periode emas (golden age) menjadi fase kritis serta terjadi peningkatan risiko stunting secara signifikan. Hal ini karena kebutuhan gizi anak semakin bertambah guna menunjang tumbuh kembang fisik maupun kognitif, namun sering tidak diimbangi dengan pola asuh, akses layanan kesehatan, serta pola pemberian makanan yang tepat. Sehingga, peran orang tua pada fase ini sangat dibutuhkan untuk meminimalisir gangguan yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak menuju dewasa (Nadiyah et al., 2014; Sakti, 2020). Kondisi stunting pada anak menyebabkan perkembangan motorik, interaksi sosial, dan keterampilan bahasa mengalami keterlambatan (Mustakim et al., 2022). Perkembangan fisik anak stunting tidak optimal, penurunan kecer (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/download/10423/2803
Article home page: https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/view/10423/2803

Wasilah Khoirun Nisa, Azinar Muhammad. Karakteristik Keluarga Berisiko Stunting Pada Anak Usia 7-24 Bulan, Kritis, 2024, pp. 17-36,