TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP REMAJA YANG MELAKUKAN SEX BEBAS DI SEKOLAH
Jurnal Lex Suprema
ISSN: 2656-6141 (online)
Volume II Nomor 2 September 2020
Artikel
TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP REMAJA YANG
MELAKUKAN SEX BEBAS DI SEKOLAH
CRYMINOLOGICAL REVIEW OF TEENAGERS WHO DO FREE SEX AT
SCHOOL
Kania Prafianti1, Ajar Sulistyono2, Lawenti Tinambunan3
Fakultas Hukum, Universitas Balikpapan
Jalan Pupuk Raya, Gunung Bahagia, Balikpapan, Gn. Bahagia, Kecamatan Balikpapan
Selatan, Kalimantan Timur, 76114
E-mail: , , ,
ABSTRAK
Latar belakang masalah penulisan ini adalah mengkaji perilaku seks bebas yang dilakukan remaja di
sekolah yang terdapat di Kota Balikpapan yang di tinjau dari segi kriminologis. Namun secara yuridis
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) perilaku seks bebas yang dilakukan tanpa
adanya ikatan perkawinan tidak di atur. Maka penelitian ini akan merumuskan masalah faktor-faktor
apakah yang mempengaruhi remaja melakukan seks bebas disekolah yang dilihat oleh teman
sekelasnya ditinjau dari segi kriminologi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi remaja melakukan seks bebas di sekolah yang dilihat oleh teman sekelasnya ditinjau
dari segi kriminologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, adalah metode pendekatan yuridis
empiris, yang dimaksud dengan yuridis empiris adalah yakni suatu metode penelitian hukum yang
berfungsi untuk melihat hukum dalam artian nyata dan meneliti bagaimana bekerjanya hukum di
lingkungan masyarakat. Dengan pendekataan penelitian tersebut, maka penulis dalam penyusunan
penelitian ini lebih mengarahkan pada pengkajian fakta-fakta yang terdapat dilapangan terkait
permasalahan tinjauan kriminologis terhadap remaja yang melakukan sex bebas di sekolah. Hasil
penelitian ini mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi remaja melakukan seks bebas disekolah
yang dilihat oleh teman sekelasnya ditinjau dari segi kriminologi dibagi menjadi dua yaitu faktor
internal dan faktor eksternal, faktor internal adalah faktor umur/usia, faktor keluarga dan faktor
kurangnya mengontrol diri, faktor agama, dan faktor hilangnya rasa malu. Faktor eksternal yaitu faktor
lingkungan pergaulan, faktor lingkungan sekolah, faktor ekonomi serta faktor teknologi dan media
sosial.
Kata Kunci: Kriminologi, Remaja, Seks Bebas
ABSTRACT
The background to this writing problem is to examine the free sex behavior carried out by teenagers in
schools in Balikpapan that are reviewed in terms of criminology. But legally in the Penal Code (Penal
Code) free sex conduct carried out without a marriage bond is not arranged. So this study will
formulate the issue of what factors influence teenagers to have free sex in school that classmates see
reviewed in terms of criminology. The purpose of this study was to find out the factors that affect
teenagers having free sex in school that classmates see as being reviewed in terms of criminology. The
method used in this study, is a method of empirical juridical approach, which is empirical juridical is
a method of legal research that serves to see the law in a real sense and examine how the law works in
the community environment. With the shortness of the study, the authors in the preparation of this
study focused more on the assessment of the facts contained in the field related to the problem of
1
Fakultas Hukum Universitas Balikpapan
Fakultas Hukum Universitas Balikpapan
3
Fakultas Hukum Universitas Balikpapan
2
82
Jurnal Lex Suprema
ISSN: 2656-6141 (online)
Volume II Nomor 2 September 2020
Artikel
criminologist reviews of adolescents who have free sex in school. The results of this study on factors
that influence teenagers to have free sex in school seen by their classmates are reviewed in terms of
criminology divided into two internal factors and external factors, internal factors are age/age
factors, family factors and factors lack of self-control, religious factors, and loss of shame factors.
External factors are social environmental factors, school environmental factors, economic factors as
well as technological and social media factors.
Keywords: Criminology, Teen, Free Sex
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fase remaja adalah masa penuh gairah, semangat, energi, dan pergolakan, saat seorang
anak, tidak saja mengalami perubahan fisik tetapi juga psikis. Seks ternyata menjadi bahan
pembicaraan menarik di kalangan remaja, baik remaja laki-laki maupun perempuan.
Meskipun kadang-kadang mereka malu-malu mengungkapkanya secara terang-terangan,
namun pergumulan tersebut tetap tidak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya. Hal ini dapat
dipahami karena mereka sedang mengalami gejolaknya yang dahsyat. Artinya, mereka sedang
berproses di dalamnya sehingga merasakan sendiri dampaknya. Kesalahan sekecil apapun
dalam pengelolaan dorongan seks masa muda, akan berdampak sangat fatal dan
menghancurkan diri sendiri. Bagaimanapun, dorongan seks yang tidak dikendalikan dengan
baik pasti akan meruntuhkan cita-cita, harapan, dan mengubur mimpi tentang masa depan
yang indah. Para remaja tentu saja sangat membutuhkan informasi dan pengajaran yang benar
tentang seks dan seksualitas.4
Saat ini remaja mempunyai pemahaman yang keliru mengenai seksualitas sehingga
menjadikan mereka mencoba untuk bereksperimen mengenai masalah seks tanpa menyadari
bahaya yang timbul dari perbuatannya, dan ketika permasalahan yang ditimbulkan oleh
perilaku seksnya mulai bermunculan, remaja takut untuk mengutarakan permasalahan tersebut
kepada orang tua. Remaja lebih senang menyimpan dan memilih jalannya sendiri tanpa berani
mengungkapkan kepada orang tua. Hal ini disebabkan karena ketertutupan orang tua terhadap
anak terutama masalah seks yang dianggap tabu untuk dibicarakan serta kurang terbukanya
anak terhadap orang tua karena anak merasa takut untuk bertanya.5
Seks, dalam pemikiran sebagian orang tua, merupakan ungkapan kotor. Mereka tidak suka
mendiskusikannya dengan anak-anak remaja mereka sebagaimana orang-orang tua mereka
dahulu juga tidak pernah mendiskusikannya dengan mereka.6 Namun pada saat ini Indonesia
sedang kurang pendidikan tentang seks, seks menjadi hal tabu dan sulit untuk di bicakaran.
Pendidikan seks yang di ajarkan di sekolah-sekolah umum tidaklah sempurna. Pendidikan
seks yang diajarkan itu tidak meliputi moralitas yang bertalian dengan seks, tidak meliputi
gangguan fungsi seksual, tidak meliputi penyimpangan-penyimpangan seksual dan lembaga
perkawinan.7 Hal ini membuat remaja ingin mencari tahu dengan sendirinya dan berakhir
tanpa adanya pengawasan. Seks bebas yang tidak terikat perkawinan ini tidak di atur di dalam
4
EB Surbakti, Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja (Jakarta: PT Elex Media KOmputindo,
2008). Hlm 41
5
Amrillah, A. Hubungan antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua anak dengan 717
perilaku seksual pranikah dalam “186376-ID-Faktor-Faktor-Yang-Mempengaruhi-Kejadian.Pdf,” accessed
December
18,
2019,
https://media.neliti.com/media/publications/186376-ID-faktor-faktor-yangmempengaruhi-kejadian.pdf.
6
Shahid Athar, Bimbingan Seks Bagi Kaum Muda M (...truncated)