Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban)

Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, Jul 2012

People use many kinds of utterances in their daily activities that involve speakin. One of the utterances is interjection. This particular utterance is used to express the emotional feeling to the listener. Generally, interjections are used in spoken language except the using the novel or comics. One of the expressions of interjection is “outou” (answer). This is an expression to see the respond or answer from the listener. The expression can be a comment or reaction towards the listener’s opinion and demand. Keywords: “kandoushi” (interjection words), “outou” (jawaban).

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi/article/download/94/72

Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban)

Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban) Ilvan Roza Abstract: People use many kinds of utterances in their daily activities that involve speakin. One of the utterances is interjection. This particular utterance is used to express the emotional feeling to the listener. Generally, interjections are used in spoken language except the using the novel or comics. One of the expressions of interjection is “outou” (answer). This is an expression to see the respond or answer from the listener. The expression can be a comment or reaction towards the listener’s opinion and demand. Keywords: “kandoushi” (interjection words), “outou” (jawaban). PENDAHULUAN Setiap pemakaian bahasa, manusia selalu dapat merangkai kata demi kata sehingga membentuk kalimat. Dalam sebuah kalimat yang terbentuk haruslah mempunyai makna, agar komunikasi dapat terjalin dengan baik. Keraf (dalam Astuti, 2002:1) berpendapat bahwa melalui kata atau kalimat, seseorang dapat mengungkapkan semua perasaan dan maksud hatinya. Kata yang dipakai untuk menyatakan luapan emosi perasaan atau rasa hati seseorang disebut dengan kata seru. Menurut Kridalaksana (dalam Sudjianto, 1996:109) kata seru disebut juga interjeksi, yakni bentuk yang tidak dapat diberi afiks dan yang tidak mempunyai dukungan sintaksis dengan bentuk lain, dan yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan. Selain itu, menurut Morita (dalam Astuti, 2002:3), kandoushi (kata seru) digunakan dalam bahasa lisan atau bahasa tulis yang berbentuk percakapan, jarang digunakan dalam bahasa tulis. Karena interjeksi adalah kata yang mengungkapkan rasa hati manusia, pada umumnya interjeksi lebih bersifat tidak formal. Berdasarkan maknanya, kandoushi terdiri dari beberapa macam. Salah satunya adalah kandoushi yang mempunyai makna outou (jawaban). Outou adalah ungkapan yang memperhatikan respon atau jawaban dari lawan bicara. Ungkapan tersebut bisa berupa tanggapan atau reaksi terhadap pendapat atau tuntutan orang lain. Dalam penelitian terhadap bentuk kandoushi yang menyatakan outou, dalam tulisan ini akan dibahas bentuk kandoushi yang menyatakan `outou. Pembaca diharapkan dapat memahami bentuk kandoushi yang bermakna outou sekaligus fungsi dari penggunaan outou tersebut. PEMBAHASAN Sintaksis Sintaksis merupakan salah satu subdisiplin gramatika objek kajian frase, dan kalimat dari berbagai segi (Oka dan Suparno, 1994:189). Verhaar (1999:161) menyatakan bahwa sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Dari dua pendapat di atas, maka dapat disarikan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang frase dan kalimat dalam sebuah tuturan. Kalimat Menurut Chaer (1994:240), yang dimaksud kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjugasi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur yang paling penting yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. Kalimat berdasarkan pada strukturnya, secara garis besar terdiri dari dua macam, yaitu yang memiliki unsur predikat dan yang tidak memiliki unsur predikat. Kalimat yang tidak memiliki unsur Ilvan Roza adalah dosen Fakultas Bahasa Sastra Seni (FBSS) UNP Kampus FBSS UNP Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang 25131 Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban) (Ilvan Roza) predikat disebut dokuritsugobun (kalimat minim), sedangkan kalimat yang memiliki unsur predikat disebut jutsugobun (kalimat lengkap). Di dalam dokuritsugobun ada dua macam yang menggunakan kata seru (kandoushi) dan yang menggunakan nomina (meishi) (Sutedi, 2003 :61-62). Berikut merupakan contoh dari jutsugobun dan dokuritsugobun yang menggunakan kata seru (kandoushi), dan yang menggunakan nomina (meishi). (1) Jutsugobun: taro wa terebi o miru (Taro menononton televisi) (Sutedi, 2003:63) (2) Dokuritsugobun (kandoushi): o~i (“Hei…!”) (Sutedi, 2003:62) (3) Dokuritsu (meishi): kaji! (“Kebakaran!”) (Sutedi, 2003:62) Pada contoh (1) yang menjadi predikat dalam jutsugobun adalah miru, sedangkan pada contoh (2) dan (3) tidak memerlukan predikat karena merupakan dokuritsugobun. Dalam dokuritsugobun contoh (2) terbentuk dari kata seru (kandoushi), sehingga tidak dapat diperluas atau ditambah dengan keterangan lainnya. Pada contoh (3) masih dapat diperluas dengan memberi keterangan yang lain. Dokuritsugobun seperti pada contoh (2) di atas, hanya digunakan untuk menyatakan panggilan atau jawaban (sahutan), mengungkapkan rasa terkejut atau marah pada saat berbicara. Kalimat ini tidak bisa digunakan untuk menyatakan keadaan masa lampau (Sutedi, 2003:62). Menurut McLain (1981:213), yang dimaksud kandoushi adalah kata tunggal yang dapat mengungkapkan bermacam-macam ekspresi seperti terkejut, panggilan, keraguan, dan sebagainya. Kandoushi bukan merupakan sebuah subjek, bukan juga merupakan predikat. Selain itu, kandoushi tidak dapat ditambah dengan keterangan kata-kata lainnya. Menurut No Gakusushu (dalam Astuti, 2002:17), kandoushi tidak hanya merupakan kata bebas, melainkan juga kata tunggal yang berfungsi untuk menyatakan impresi (kando), panggilan (yobikake), jawaban (oto), dan sebagainya. Di dalam kalimat, kandoushi tidak berfungsi sebagai subjek, predikat, objek, atau sebagai kata penghubung, melainkan berfungsi sebagai kata tunggal yang bebas. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah letak kandoushi selalu berada di awal kalimat. Hal inilah yang membedakan kandoushi dengan jenis kata lain. Pengertian kandoushi menurut Ogawa (1982:141) seperti di bawah ini. 太郎はテレビを見る。「 」 お~い 「 」 火事! 「 」 品詞の一種。感嘆詞、感投詞などの呼称もあ る。独立語として文の初めに置かれるか、独 立した-語文として使用される(まれに文の 中間に現れる)。驚き、疑問、当惑、などの感 情か、注意、制止、勧誘、呼びかけ、応答な どの意志を直接的に表現した語。 Kandoushi merupakan jenis kata yang juga disebut kantanshi atau kantoushi. Kata yang diletakkan di awal kalimat sebagai kata yang dapat berdiri sendiri, dan digunakan sebagai kata yang berdiri sendiri (walaupun masih terlihat hubungannya dalam kalimat itu). Kata yang diungkapakan secara langsung yang mengungkapkan impresi (perasaan terkejut, bertanya-tanya, dll.), seruan, larangan, ajakan, panggilan, jawaban dan lain-lain. Dari pengertian-pengertian tentang kandoushi di atas, dapat disimpulkan bahwa kandoushi merupakan kata tunggal yang ada di awal kalimat dan dapat berdiri sendiri, sehingga dengan sendirinya dapat menjadi sebuah kalimat (bunsetsu) walaupun tanpa bantuan kelas kata lain. Kandoushi tidak bisa berfungsi sebagai subjek, predikat, objek dan tidak pula dapat berfungsi sebagai konjugasi, kandoushi hanya berfungsi sebagai kata tunggal yang sifatnya bebas. Selain itu, kata yang diungkapkan mengandung bermacammacam perasaan pembicara seperti perasaan Kandoushi Sudjianto dan Dahidi (2007:169) menjelaskan bahwa kandoushi merupakan salah satu kelas kata yang termasuk jiritsugo yang tidak dapat berubah bentuknya, tidak dapat menjadi subjek, tidak dapat menjadi keterangan, tidak pula dapat menjadi konjugas (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi/article/download/94/72
Article home page: https://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi/article/view/94/72

Roza Ilvan. Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban), Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, 2012,