Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban)
Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang
Menyatakan Outou (Jawaban)
Ilvan Roza
Abstract: People use many kinds of utterances in their daily activities that involve speakin. One of the
utterances is interjection. This particular utterance is used to express the emotional feeling to the listener.
Generally, interjections are used in spoken language except the using the novel or comics. One of the
expressions of interjection is “outou” (answer). This is an expression to see the respond or answer from
the listener. The expression can be a comment or reaction towards the listener’s opinion and demand.
Keywords: “kandoushi” (interjection words), “outou” (jawaban).
PENDAHULUAN
Setiap pemakaian bahasa, manusia selalu
dapat merangkai kata demi kata sehingga
membentuk kalimat. Dalam sebuah kalimat yang
terbentuk haruslah mempunyai makna, agar
komunikasi dapat terjalin dengan baik. Keraf
(dalam Astuti, 2002:1) berpendapat bahwa melalui
kata atau kalimat, seseorang dapat mengungkapkan
semua perasaan dan maksud hatinya. Kata yang
dipakai untuk menyatakan luapan emosi perasaan
atau rasa hati seseorang disebut dengan kata seru.
Menurut Kridalaksana (dalam Sudjianto,
1996:109) kata seru disebut juga interjeksi, yakni
bentuk yang tidak dapat diberi afiks dan yang tidak
mempunyai dukungan sintaksis dengan bentuk lain,
dan yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan.
Selain itu, menurut Morita (dalam Astuti, 2002:3),
kandoushi (kata seru) digunakan dalam bahasa lisan
atau bahasa tulis yang berbentuk percakapan, jarang
digunakan dalam bahasa tulis. Karena interjeksi
adalah kata yang mengungkapkan rasa hati manusia,
pada umumnya interjeksi lebih bersifat tidak formal.
Berdasarkan maknanya, kandoushi terdiri
dari beberapa macam. Salah satunya adalah
kandoushi yang mempunyai makna outou
(jawaban). Outou adalah ungkapan yang memperhatikan respon atau jawaban dari lawan bicara.
Ungkapan tersebut bisa berupa tanggapan atau
reaksi terhadap pendapat atau tuntutan orang lain.
Dalam penelitian terhadap bentuk kandoushi
yang menyatakan outou, dalam tulisan ini akan
dibahas bentuk kandoushi yang menyatakan `outou.
Pembaca diharapkan dapat memahami bentuk
kandoushi yang bermakna outou sekaligus fungsi
dari penggunaan outou tersebut.
PEMBAHASAN
Sintaksis
Sintaksis merupakan salah satu subdisiplin
gramatika objek kajian frase, dan kalimat dari
berbagai segi (Oka dan Suparno, 1994:189).
Verhaar (1999:161) menyatakan bahwa sintaksis
adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar
kata dalam tuturan. Dari dua pendapat di atas, maka
dapat disarikan bahwa sintaksis adalah salah satu
cabang linguistik yang mengkaji tentang frase dan
kalimat dalam sebuah tuturan.
Kalimat
Menurut Chaer (1994:240), yang dimaksud
kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari
konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa,
dilengkapi dengan konjugasi bila diperlukan, serta
disertai dengan intonasi final. Dari penjelasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur yang
paling penting yang menjadi dasar kalimat adalah
konstituen dasar dan intonasi final.
Kalimat berdasarkan pada strukturnya, secara
garis besar terdiri dari dua macam, yaitu yang
memiliki unsur predikat dan yang tidak memiliki
unsur predikat. Kalimat yang tidak memiliki unsur
Ilvan Roza adalah dosen Fakultas Bahasa Sastra Seni (FBSS) UNP Kampus FBSS UNP Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang 25131
Bentuk Kandoushi (Kata Seru) yang Menyatakan Outou (Jawaban) (Ilvan Roza)
predikat disebut dokuritsugobun (kalimat minim),
sedangkan kalimat yang memiliki unsur predikat
disebut jutsugobun (kalimat lengkap). Di dalam
dokuritsugobun ada dua macam yang menggunakan
kata seru (kandoushi) dan yang menggunakan
nomina (meishi) (Sutedi, 2003 :61-62).
Berikut merupakan contoh dari jutsugobun dan
dokuritsugobun yang menggunakan kata seru
(kandoushi), dan yang menggunakan nomina
(meishi).
(1) Jutsugobun:
taro wa terebi o
miru
(Taro menononton televisi) (Sutedi, 2003:63)
(2) Dokuritsugobun (kandoushi):
o~i
(“Hei…!”) (Sutedi, 2003:62)
(3) Dokuritsu (meishi):
kaji!
(“Kebakaran!”) (Sutedi, 2003:62)
Pada contoh (1) yang menjadi predikat dalam
jutsugobun adalah miru, sedangkan pada contoh (2)
dan (3) tidak memerlukan predikat karena merupakan dokuritsugobun. Dalam dokuritsugobun contoh
(2) terbentuk dari kata seru (kandoushi), sehingga
tidak dapat diperluas atau ditambah dengan
keterangan lainnya. Pada contoh (3) masih dapat
diperluas dengan memberi keterangan yang lain.
Dokuritsugobun seperti pada contoh (2) di
atas, hanya digunakan untuk menyatakan panggilan
atau jawaban (sahutan), mengungkapkan rasa
terkejut atau marah pada saat berbicara. Kalimat ini
tidak bisa digunakan untuk menyatakan keadaan
masa lampau (Sutedi, 2003:62).
Menurut McLain (1981:213), yang dimaksud
kandoushi adalah kata tunggal yang dapat
mengungkapkan bermacam-macam ekspresi seperti
terkejut, panggilan, keraguan, dan sebagainya.
Kandoushi bukan merupakan sebuah subjek, bukan
juga merupakan predikat. Selain itu, kandoushi
tidak dapat ditambah dengan keterangan kata-kata
lainnya.
Menurut No Gakusushu (dalam Astuti,
2002:17), kandoushi tidak hanya merupakan kata
bebas, melainkan juga kata tunggal yang berfungsi
untuk menyatakan impresi (kando), panggilan
(yobikake), jawaban (oto), dan sebagainya. Di
dalam kalimat, kandoushi tidak berfungsi sebagai
subjek, predikat, objek, atau sebagai kata
penghubung, melainkan berfungsi sebagai kata
tunggal yang bebas. Selain itu, yang perlu
diperhatikan adalah letak kandoushi selalu berada
di awal kalimat. Hal inilah yang membedakan
kandoushi dengan jenis kata lain.
Pengertian kandoushi menurut Ogawa
(1982:141) seperti di bawah ini.
太郎はテレビを見る。「
」
お~い 「 」
火事! 「 」
品詞の一種。感嘆詞、感投詞などの呼称もあ
る。独立語として文の初めに置かれるか、独
立した-語文として使用される(まれに文の
中間に現れる)。驚き、疑問、当惑、などの感
情か、注意、制止、勧誘、呼びかけ、応答な
どの意志を直接的に表現した語。
Kandoushi merupakan jenis kata yang juga disebut
kantanshi atau kantoushi. Kata yang diletakkan di
awal kalimat sebagai kata yang dapat berdiri sendiri,
dan digunakan sebagai kata yang berdiri sendiri
(walaupun masih terlihat hubungannya dalam
kalimat itu). Kata yang diungkapakan secara
langsung yang mengungkapkan impresi (perasaan
terkejut, bertanya-tanya, dll.), seruan, larangan,
ajakan, panggilan, jawaban dan lain-lain.
Dari
pengertian-pengertian
tentang
kandoushi di atas, dapat disimpulkan bahwa
kandoushi merupakan kata tunggal yang ada di
awal kalimat dan dapat berdiri sendiri, sehingga
dengan sendirinya dapat menjadi sebuah kalimat
(bunsetsu) walaupun tanpa bantuan kelas kata lain.
Kandoushi tidak bisa berfungsi sebagai subjek,
predikat, objek dan tidak pula dapat berfungsi
sebagai konjugasi, kandoushi hanya berfungsi
sebagai kata tunggal yang sifatnya bebas. Selain itu,
kata yang diungkapkan mengandung bermacammacam perasaan pembicara seperti perasaan
Kandoushi
Sudjianto
dan
Dahidi
(2007:169)
menjelaskan bahwa kandoushi merupakan salah
satu kelas kata yang termasuk jiritsugo yang tidak
dapat berubah bentuknya, tidak dapat menjadi
subjek, tidak dapat menjadi keterangan, tidak pula
dapat menjadi konjugas (...truncated)