Penggunaan Kandoushi Kandou Dalam Manga Kakkou No Iinazuke Volume 1-7
N Asilah & P Haryanti
PENGGUNAAN KANDOUSHI KANDOU DALAM MANGA KAKKOU
NO IINAZUKE VOLUME 1-7
*Nada Asilah1, Pitri Haryanti2
Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Komputer Indonesia,
Jl. Dipati Ukur 112-116, Bandung, Indonesia
ABSTRACT
Kandoushi is a linguistic construct that encompasses a diverse range of expressive functions,
including but not limited to summoning, questioning, expressing astonishment, and other related
forms of communication. The word class being referred to does not encompass words that
function as subjects or predicates. Kandoushi frequently emerges in the daily discourse of
individuals in Japan, thus attaining a status of commonplace usage. This research employs
pragmatic investigations pertaining to the speech context. The research employed a descriptive
qualitative research methodology. The subject of investigation in this study pertains to the manga
series titled "Kakkou No Iinazuke," encompassing volumes 1 to 7, authored by Miki Yoshikawa.
During the phase of data collecting, the author employs note-taking methodologies. During the
data analysis phase, the author employs content analysis methodologies. Subsequently, during
the data presentation phase, the author employs an informal approach. The theoretical
framework employed in this study encompasses the kandou theory, as posited by Takanao,
Masuoka, and Takubo, as well as the theoretical framework of pragmatic parameter relations, as
proposed by Brown and Levinson. Researchers have conducted an analysis, which forms the basis
of the following discussion.
Keywords: Kandoushi Kandou, Manga, Kakkou No Iinazuke, Japanese, Pragmatics
ABSTRAK
Kandoushi ialah jenis kata tunggal yang dapat mengungkapkan berbagai macam bentuk ekspresi
seperti panggilan, keraguan, terkejut, dan lain-lain. Kelas kata ini bukan termasuk kata subjek
maupun predikat. Pada kehidupan masyarakat di Jepang, kandoushi sering muncul di percakapan
sehari-hari, sehingga hal tersebut sudah dianggap lazim. Penelitian ini menggunakan kajian
pragmatik yang berhubungan dengan konteks tuturan. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Objek penelitian berupa manga Kakkou No Iinazuke
volume 1-7 karya Miki Yoshikawa. Pada tahap pengumpulan data, penulis menggunakan teknik
simak catat. Pada tahap analisis data, penulis menggunakan teknik analisis konten. Kemudian,
pada tahap penyajian data, penulis menggunakan metode informal. Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teori kandou menurut teori Takanao, Masuoka dan Takubo, juga Namatame,
serta teori hubungan parameter pragmatik yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson.
Berdasarkan analisis yang telah peneliti lakukan.
Kata kunci: Kandoushi Kandou, Manga, Kakkou No Iinazuke, Bahasa Jepang, Pragmatik
175
Mahadaya, Vol. 3, No. 2, Oktober 2023
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting bagi manusia dalam berinteraksi
dan menyampaikan ide, gagasan, serta perasaan. Bahasa digunakan sebagai sistem
lambang bunyi arbitrer yang memungkinkan sekelompok manusia untuk berkomunikasi,
mengidentifikasi diri, dan bekerja sama (Kridalaksana dan Kentjono dalam Chaer, 2014).
Bahasa memiliki peran penting dalam ekspresi perasaan dan pemikiran seseorang,
memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan lawan tutur (Djomi, 2017). Hal
tersebut berkaitan dengan teori pragmatik yang memahami makna pada tuturan
berdasarkan konteksnya (Permata dan Arianingsih, 2022). Pragmatik adalah studi tentang
makna dalam komunikasi yang telah diteliti oleh para ahli melalui pendekatan pragmatik.
Ini berkaitan dengan makna suatu ujaran dan situasi berbicara (speech situation),
termasuk unsur-unsur seperti sapaan, waktu, tujuan, konteks, tuturan, dan tempat. Leech
(dalam Simatupang, 2017) menggambarkan pragmatik sebagai analisis tentang makna
ujaran dalam konteks tertentu. Dalam bahasa Jepang, pragmatik dikenal sebagai
Goyouron. Pragmatik tidak hanya menganalisis, tetapi juga mempertimbangkan
penerapan bahasa dalam berbagai situasi. Kalimat dalam ujaran dapat memiliki makna
yang tepat dalam konteks tertentu di mana ujaran itu digunakan (Tamotsu dalam
Sulistiara, 2017).
Konteks berperan penting dalam memahami maksud dan tujuan antara penutur dan
lawan tutur, sehingga mereka dapat terhubung. Konteks mencakup keadaan, suasana,
aktivitas, waktu, dan ikatan sosial dalam percakapan. Malinowski dalam Pateda (2011)
menekankan pentingnya memperhatikan konteks situasi untuk memahami ujaran secara
utuh, bukan hanya kata per kata. Konteks dalam bahasa Jepang dikenal sebagai
bunmyaku. Ini melibatkan latar belakang, keadaan, dan kondisi lingkungan percakapan,
memastikan pesan yang disampaikan oleh penutur dipahami oleh lawan tutur (Sulistiara,
2017). Hymes (dalam Aini, 2020) menjelaskan unsur-unsur pembentuk konteks melalui
akronim "SPEAKING":
- S (Setting and Scene): Tempat dan waktu tuturan.
- P (Participants): Para pihak yang terlibat.
- E (Ends): Tujuan dan maksud tuturan.
- A (Act): Isi dan bentuk tuturan.
- K (Key): Nada dan semangat komunikasi.
- I (Instrumentalities): Jalur bahasa yang digunakan.
Dalam penelitian ini, fokus akan diberikan pada unsur-unsur SPEAKI untuk
mendapatkan konteks data yang relevan, karena unsur-unsur NG dianggap memiliki
kesamaan pada data yang diteliti. Dengan memahami konteks ini, kita dapat menghargai
bagaimana makna muncul dalam percakapan dan bagaimana unsur-unsur tersebut
memengaruhi komunikasi antara penutur dan lawan tutur.
Dalam konteks bahasa Jepang, ekspresi komunikasi sering diperkuat dengan
penggunaan kandoushi, yang merupakan kata seru atau interjeksi. Kandoushi adalah jenis
kata yang termasuk dalam jiritsugo (kata yang berdiri sendiri), sehingga tidak berperan
sebagai keterangan, penghubung, kata subjek, atau mengalami perubahan bentuk.
Meskipun demikian, kandoushi bisa menjadi bunsetsu (kalimat yang berdiri sendiri)
tanpa bantuan jenis kata lainnya (Sudjianto dan Dahidi, 2004). Kandoushi
mengungkapkan berbagai ekspresi seperti panggilan, keraguan, dan terkejut. Kelas kata
ini berdiri sendiri, terletak di awal kalimat, dan digunakan dalam bentuk lisan maupun
tulisan, memungkinkan pengertian yang langsung dipahami (Sudjianto, 2004). Di dalam
kehidupan masyarakat Jepang, kandoushi kerap muncul dalam percakapan sehari-hari,
baik langsung maupun tidak langsung. Penggunaan kata seru dalam bahasa lisan dan
176
N Asilah & P Haryanti
tulisan memiliki perbedaan; dalam tulisan, kata seru selalu diakhiri dengan tanda seru,
sementara dalam ucapan lisan, kata seru dilontarkan dengan intonasi tinggi. Kandoushi
mengungkapkan impresi, emosi, serta intuisi, seperti rasa senang, pilu, marah, dan
lainnya (Murakami dalam Sudjianto, 2004).
Kandoushi berfungsi untuk mengungkapkan perasaan penutur, seperti kebahagiaan,
kesedihan, terharu, jijik, keheranan, dan lainnya (Djajasudarma, 2006). Arti dari
kandoushi tidak selalu dapat ditemukan dalam kamus, karena mereka sering digunakan
dalam situasi komunikasi informal dan spontan. (...truncated)