Faktor faktor yang berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Dua Tahun (Baduta)

JURNAL PENELITIAN PERAWAT PROFESIONAL, Jul 2023

Imunisasi lanjutan merupakan ulangan dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar. Imunisasi ini diberikan pada anak usia bawah dua tahun (baduta). Rendahnya cakupan imunisasi tidak lepas dari faktor perilaku kesehatan yang terdiri dari3 faktor yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor penguat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi lanjutan pada anak bawah dua tahun (baduta) di puskesmas sungailiat tahun 2023. Jenis penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat tahun 2023 yang berjumlah 431 orang. Sampel menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10% didapatkan 81 responden.Analisa data yang digunakan adalah analsis Univariat dan Analisis Bivariat. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan (ρ-value 0,000; POR = 0,080), pendidikan (ρ-value 0,000; POR = 0,138), pengetahuan (ρ-value 0,000; POR = 8,283), dukungan keluarga (ρ-value 0,000; POR = 8,531) dan peran perugas kesehatan (ρ-value 0,001; POR = 4,772) dengan pemberian imunisasi lanjutan pada baduta. Saran dari penelitian ini adalah diharapkan kepada petugas kesehatan agar dapat memberikan edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat khususnya tentang imunisasi.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/1885/1474

Faktor faktor yang berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Dua Tahun (Baduta)

Jurnal Penelitian Perawat Profesional Volume 5 Nomor 4, November 2023 e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757 http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP FAKTOR FAKTOR YANG1BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI LANJUTAN PADA ANAK1BAWAH DUA TAHUN (BADUTA) Yusiska*, Rezka Nurvinanda, Indri Puji Lestari Program Studi Ilmu Keperawatan, Institut Citra Internasional, Jl. Pinus I, Kacang Pedang, Gerunggang, Pangkal Pinang, Bangka Belitung 33125, Indonesia * ABSTRAK Imunisasi lanjutan merupakan ulangan dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar. Imunisasi ini diberikan pada anak usia bawah dua tahun (baduta). Rendahnya cakupan imunisasi tidak lepas dari faktor perilaku kesehatan yang terdiri dari3 faktor yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor penguat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi lanjutan pada anak bawah dua tahun (baduta) di puskesmas sungailiat tahun 2023. Jenis penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat tahun 2023 yang berjumlah 431 orang. Sampel menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10% didapatkan 81 responden.Analisa data yang digunakan adalah analsis Univariat dan Analisis Bivariat. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan (ρ-value 0,000; POR = 0,080), pendidikan (ρ-value 0,000; POR = 0,138), pengetahuan (ρ-value 0,000; POR = 8,283), dukungan keluarga (ρ-value 0,000; POR = 8,531) dan peran perugas kesehatan (ρ-value 0,001; POR = 4,772) dengan pemberian imunisasi lanjutan pada baduta. Saran dari penelitian ini adalah diharapkan kepada petugas kesehatan agar dapat memberikan edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat khususnya tentang imunisasi. Kata kunci: anak; faktor-faktor; imunisasi FACTORS ASSOCIATED WITH THE ADVANCED IMMUNIZATION FOR CHILDREN UNDER TWO YEARS OLD ABSTRACT Advanced immunization is a repeat of basic immunization to maintain the level of immunity and extend the protection period of children who have received basic immunization. This immunization is given to children under two years of age. Low immunization coverage cannot be separated from health behavior factors which consist of 3 factors, namely: predisposing factors, supporting factors, and reinforcing factors. The purpose of this study was to determine the factors associated with the provision of continued immunization in children under two years of age (baduta) at sungailiat health center in 2023. This type of research was conducted with a cross sectional design. The population in this study were all mothers who had babies aged 24-36 months in the Sungailiat Health Center working area in 2022, totaling 431 people. Sample using the Slovin formula with a 10% error rate obtained 81 respondents. Data analysis used is Univariate analysis and Bivariate Analysis. The results showed there was a relationship between occupation (ρ-value 0.000; POR = 0.080), education (ρ-value 0.000; POR = 0.138), knowledge (ρ-value 0.000; POR = 8.283), family support (ρ-value 0.000; POR = 8.531) and the role of health workers (ρ-value 0.001; POR = 4.772) with the provision of continued immunization in under-five children. The suggestion of this study is that health workers are expected to provide continuous education to the community, especially about immunization. Keywords: child; factors; immunization 1553 Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 5 No 4, November 2023 Global Health Science Group PENDAHULUAN Baduta merupakan anak usia bawah dua tahun yang masa ini mengalami periode pertumbuhan emas. Masa ini biasa disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan. Baduta termasuk golongan yang paling rawan terhadap berbagai penyakit. Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada baduta agar tidak mudah sakit salah satunya dengan memberikan imunisasi. Imunisasi sendiri dibedakan menjadi imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan pada bayi sebelum usia 1 tahun yang terdiri dari imunisasi terhadap penyakit hepatitis B, poliomyelitis, tuberculosis, difteri, pertussis, tetanus, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Heomphilus Influenza tipe b (Hib) dan campak. Sedangkan imunisasi lanjutan merupakan ulangan dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar. Imunisasi ini diberikan pada anak usia bawah dua tahun (baduta), anak usia sekolah dasar dan wanita usia subur (WUS). Imunisasi yang diberikan pada Baduta terdiri atas imunisasi terhadap penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Heomphilus Influenza tipe b (Hib) dan campak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017) Tidak semua baduta bisa memperolah imunisasi lanjutan, hal ini dapat terlihat dari data vaksinasi global pada tahun 2021 diketahui bahwa 25 juta anak tidak mendapatkan vaksinasi, 2 juta lebih banyak dari tahun 2020 dan 6 juta lebih banyak dari tahun 2019. Data global dosis ketiga difteri-tetanus-pertusis (DTP3) pada 2019 turun dari 86% menjadi 81% pada 2021 yang merupakan level terendah sejak 2008 (UNICEF, 2022). Perkiraan terbaru WHO/UNICEF Estimates of National Immunization Coverage (WUENIC) bahwa 112 negara mengalami stagnasi atau penurunan cakupan DTP3 sejak 2019 dengan 62 negara di antaranya mengalami penurunan setidaknya 5%. Akibatnya 25 juta anak tidak atau kurang divaksinasi pada tahun 2021 dimana lebih dari 60% tinggal di 10 negara antara lain India, Nigeria, Indonesia, Ethiopia, Filipina, Republik Demokratik Kongo, Brasil, Pakistan, Angola dan Myanmar dan 18 juta anak tidak menerima vaksin apa pun (anak dengan dosis nol)meningkat 5 juta dari tahun 2019 (UNICEF, 2022). Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021, anak usia 18 hingga 24 bulan secara nasional menurun dibandingkan tahun 2020. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib4 pada tahun pada tahun 2020 sebesar 67,8%, 2021 menurun menjadi 56,2%, sedangkan untuk cakupan imunisasi Campak Rubella 2 pada tahun 2020 sebesar 64,7%, 2021 menurun menjadi 58,5%. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib4 dan Campak Rubela 2 menurut provinsi sangat bervariasi, dimana sebagian besar provinsi belum mencapai target tahun 2021 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Data Riskesdas 2013, untuk anak usia 12-23 bulan, imunisasi lengkap cenderung meningkat pada tahun 2007 sebesar 41,6%, 2010 53,8% dan 2013 sebesar 59,2% (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Sedangkan berdasarkan data Riskesdas 2018, imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan sebesar 57,9% mengalami penurunan sebesar 1,3% dibandingkan dengan tahun 2013 dan untuk cakupan imunisasi lanjutan pada anak usia 24 – 35 bulan, DPT-HB-Hib lanjutan sebesar (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/1885/1474
Article home page: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/view/1885/1474

Yusiska Yusiska, Rezka Nurvinanda, Lestari Indri Puji. Faktor faktor yang berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Dua Tahun (Baduta), JURNAL PENELITIAN PERAWAT PROFESIONAL, 2023, pp. 1553-1566,