Faktor faktor yang berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Lanjutan pada Anak Bawah Dua Tahun (Baduta)
Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Volume 5 Nomor 4, November 2023
e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
FAKTOR FAKTOR YANG1BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI
LANJUTAN PADA ANAK1BAWAH DUA TAHUN (BADUTA)
Yusiska*, Rezka Nurvinanda, Indri Puji Lestari
Program Studi Ilmu Keperawatan, Institut Citra Internasional, Jl. Pinus I, Kacang Pedang, Gerunggang, Pangkal
Pinang, Bangka Belitung 33125, Indonesia
*
ABSTRAK
Imunisasi lanjutan merupakan ulangan dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan
dan memperpanjang masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar. Imunisasi ini
diberikan pada anak usia bawah dua tahun (baduta). Rendahnya cakupan imunisasi tidak lepas dari
faktor perilaku kesehatan yang terdiri dari3 faktor yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan
faktor penguat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan pemberian imunisasi lanjutan pada anak bawah dua tahun (baduta) di puskesmas sungailiat
tahun 2023. Jenis penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat tahun
2023 yang berjumlah 431 orang. Sampel menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10%
didapatkan 81 responden.Analisa data yang digunakan adalah analsis Univariat dan Analisis Bivariat.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan (ρ-value 0,000; POR = 0,080),
pendidikan (ρ-value 0,000; POR = 0,138), pengetahuan (ρ-value 0,000; POR = 8,283), dukungan
keluarga (ρ-value 0,000; POR = 8,531) dan peran perugas kesehatan (ρ-value 0,001; POR = 4,772)
dengan pemberian imunisasi lanjutan pada baduta. Saran dari penelitian ini adalah diharapkan kepada
petugas kesehatan agar dapat memberikan edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat
khususnya tentang imunisasi.
Kata kunci: anak; faktor-faktor; imunisasi
FACTORS ASSOCIATED WITH THE ADVANCED IMMUNIZATION FOR
CHILDREN UNDER TWO YEARS OLD
ABSTRACT
Advanced immunization is a repeat of basic immunization to maintain the level of immunity and extend
the protection period of children who have received basic immunization. This immunization is given to
children under two years of age. Low immunization coverage cannot be separated from health behavior
factors which consist of 3 factors, namely: predisposing factors, supporting factors, and reinforcing
factors. The purpose of this study was to determine the factors associated with the provision of
continued immunization in children under two years of age (baduta) at sungailiat health center in 2023.
This type of research was conducted with a cross sectional design. The population in this study were all
mothers who had babies aged 24-36 months in the Sungailiat Health Center working area in 2022,
totaling 431 people. Sample using the Slovin formula with a 10% error rate obtained 81 respondents.
Data analysis used is Univariate analysis and Bivariate Analysis. The results showed there was a
relationship between occupation (ρ-value 0.000; POR = 0.080), education (ρ-value 0.000; POR =
0.138), knowledge (ρ-value 0.000; POR = 8.283), family support (ρ-value 0.000; POR = 8.531) and the
role of health workers (ρ-value 0.001; POR = 4.772) with the provision of continued immunization in
under-five children. The suggestion of this study is that health workers are expected to provide
continuous education to the community, especially about immunization.
Keywords: child; factors; immunization
1553
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 5 No 4, November 2023
Global Health Science Group
PENDAHULUAN
Baduta merupakan anak usia bawah dua tahun yang masa ini mengalami periode
pertumbuhan emas. Masa ini biasa disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan. Baduta
termasuk golongan yang paling rawan terhadap berbagai penyakit. Oleh karenanya, perlu
dilakukan upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada baduta agar tidak mudah sakit
salah satunya dengan memberikan imunisasi. Imunisasi sendiri dibedakan menjadi imunisasi
dasar dan imunisasi lanjutan. Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan pada bayi
sebelum usia 1 tahun yang terdiri dari imunisasi terhadap penyakit hepatitis B, poliomyelitis,
tuberculosis, difteri, pertussis, tetanus, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh
Heomphilus Influenza tipe b (Hib) dan campak. Sedangkan imunisasi lanjutan merupakan
ulangan dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang
masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar. Imunisasi ini diberikan
pada anak usia bawah dua tahun (baduta), anak usia sekolah dasar dan wanita usia subur
(WUS). Imunisasi yang diberikan pada Baduta terdiri atas imunisasi terhadap penyakit difteri,
pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Heomphilus
Influenza tipe b (Hib) dan campak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017)
Tidak semua baduta bisa memperolah imunisasi lanjutan, hal ini dapat terlihat dari data
vaksinasi global pada tahun 2021 diketahui bahwa 25 juta anak tidak mendapatkan vaksinasi,
2 juta lebih banyak dari tahun 2020 dan 6 juta lebih banyak dari tahun 2019. Data global dosis
ketiga difteri-tetanus-pertusis (DTP3) pada 2019 turun dari 86% menjadi 81% pada 2021
yang merupakan level terendah sejak 2008 (UNICEF, 2022). Perkiraan terbaru
WHO/UNICEF Estimates of National Immunization Coverage (WUENIC) bahwa 112
negara mengalami stagnasi atau penurunan cakupan DTP3 sejak 2019 dengan 62 negara di
antaranya mengalami penurunan setidaknya 5%. Akibatnya 25 juta anak tidak atau kurang
divaksinasi pada tahun 2021 dimana lebih dari 60% tinggal di 10 negara antara lain India,
Nigeria, Indonesia, Ethiopia, Filipina, Republik Demokratik Kongo, Brasil, Pakistan, Angola
dan Myanmar dan 18 juta anak tidak menerima vaksin apa pun (anak dengan dosis
nol)meningkat 5 juta dari tahun 2019 (UNICEF, 2022).
Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2021, anak usia 18 hingga 24 bulan
secara nasional menurun dibandingkan tahun 2020. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib4 pada
tahun pada tahun 2020 sebesar 67,8%, 2021 menurun menjadi 56,2%, sedangkan untuk
cakupan imunisasi Campak Rubella 2 pada tahun 2020 sebesar 64,7%, 2021 menurun
menjadi 58,5%. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib4 dan Campak Rubela 2 menurut provinsi
sangat bervariasi, dimana sebagian besar provinsi belum mencapai target tahun 2021
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Data Riskesdas 2013, untuk anak usia
12-23 bulan, imunisasi lengkap cenderung meningkat pada tahun 2007 sebesar 41,6%, 2010
53,8% dan 2013 sebesar 59,2% (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Sedangkan berdasarkan
data Riskesdas 2018, imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan sebesar 57,9%
mengalami penurunan sebesar 1,3% dibandingkan dengan tahun 2013 dan untuk cakupan
imunisasi lanjutan pada anak usia 24 – 35 bulan, DPT-HB-Hib lanjutan sebesar (...truncated)