Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Jagung sebagai Bahan Baku Pulp dengan Proses Organosolv
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI)
Vol. 3, No. 4, Agustus 2022, Hal. 349-354
DOI: https://doi.org/10.52436/1.jpti.196
p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219
Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Jagung sebagai Bahan Baku Pulp dengan Proses
Organosolv
Adelia Rahmayanti*1, Muhammad Yerizam2, Erwana Dewi3
1,2,3
Program Studi Teknologi Kimia Industri, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Sriwijaya,
Indonesia
Email: , ,
Abstrak
Pemanfaatan ampas tebu dan kulit jagung sebagai bahan baku pembuatan pulp dikarenakan memiliki kandungan
selulosa yang tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku pengganti kayu. Tujuan dari
penelitian untuk mengetahui potensi ampas tebu dan kulit jagung sebagai bahan baku pengganti kayu dalam
pembuatan pulp. Metode yang digunakan dalam penelitian berupa preparasi bahan baku, proses pulping
organosolv. Sedangkan analisis yang digunakan berupa analisis bahan baku dan analisis pulp yang terdiri dari
analisa kadar selulosa, kadar lignin dan kadar air. Proses yang digunakan dalam penelitian berupa proses
organosolv dengan pelarut berupa asam formiat : asam asetat : air dengan variasi bahan baku (10:90; 30:70;
50:50; 70:30; 90:10 %w/w) dan waktu pemasakan (60, 90, 120 menit). Hasil penelitian didapatkan kondisi
optimum pada waktu pemasakan 120 menit dan rasio bahan baku 10:90 didapatkan kadar selulosa 70%, kadar
lignin 11% dan kadar air 10%.
Kata kunci: Ampas Tebu, Kulit Jagung, Proses Organosolv.
Utilization of Sugarcane Bagasse and Corn Husk as Raw Material of Pulp with Organosolv
Abstract
Utilization of sugarcane bagasse and corn husks as raw materials for making pulp because it has a high
cellulose content so that it can be used as alternative raw materials for wood substitutes. The purpose of the
study was to determine the potential of bagasse and corn husk as raw material for wood substitutes in the
manufacture of pulp. The method used in this research is the preparation of raw materials and pulping. While
the analysis consisting of analysis of cellulose content, lignin content, and water content. The process used in
this research is an organosolv process with formic acid : acetic acid : aqudest as cooking solution with variation
in raw materials (10:90; 30:70; 50:50; 70:30; 90:10) and cooking time (60, 90, 120 minutes). The results
showed that optimum conditions at a cooking time 0f 120 minutes and a ratio of 10:90 raw materials obtained
70% cellulose content, 11% lignin content, and 10% moisture content.
Keywords: Corn Husk, Organosolv Process, Sugarcane Bagasse.
1.
PENDAHULUAN
Menurut Kementerian Perindustrian, kapasitas produksi pulp dan kertas pada tahun 2017 sebesar 4,55 juta
ton pulp dan 7,98 juta ton kertas. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya eksploitasi hutan yang menyebabkan
ketidakstabilan lingkungan [1].
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan bahan baku alternatif pengganti kayu dalam pembuatan kertas
diantaranya limbah biomassa seperti limbah ampas tebu dan kulit jagung. Disamping itu, Indonesia merupakan
produsen utama tanaman tebu dan jagung tetapi limbah dari tumbuhan tersebut belum termanfaatkan. Limbah
ampas tebu dan kulit jagung memiliki kandungan selulosa dengan kadar yang cukup tinggi. Ampas tebu
memiliki kandungan selulosa sebesar 35,01%, hemiselulosa sebesar 25,24%, dan lignin sebesar 6,4% [2].
Sedangkan kulit jagung memiliki kandungan selulosa sebesar 44,08%, lignin sebesar 15%, dan abu sebesar
5,09% [3].
Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat baik itu kayu maupun non kayu. Pulp memiliki
kandungan serat – serat berupa selulosa dan hemiselulosa yang menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan
kertas.
349
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI)
p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219
Parameter penting dari pulp adalah kandungan selulosa dan lignin. Kandungan selulosa yang merupakan
bahan dengan rantai panjang menjadi parameter penting pada pulp jika kandungannya tinggi dapat menghasilkan
kertas yang kuat. Sedangkan untuk kandungan lignin yang tinggi dapat menyebabkan warna coklat pada kertas
yang dihasilkan [4].
Proses pembuatan pulp adalah proses pemisahan serat dari bahan baku yang mengandung serat dengan cara
mekanis, kimia ataupun semi kimia. Tujuan utama pembuatan pulp untuk memisahkan selulosa dari bahan –
bahan lainnya. Salah satu proses pembuatan pulp yaitu proses organosolv. Proses organosolv merupakan proses
pulping ramah lingkungan karena menggunakan perlarut yang lebih mudah didegradasi dan dapat didaur ulang
seperti pelarut organik [5]. Asam formiat merupakan salah stau pelarut organik yang banyak digunakan sebagai
larutan pemasak pada proses pulping.
Faktor – faktor yang mempengaruhi pembuatan pulp diantaranya konsentrasi pelarut, perbandingan cairan
pemasak terhadap bahan baku, temperatur pemasakan, waktu pemasakan, dan ukuran bahan baku [6].
Pada penelitian ini menggunakan proses organosolv dengan variasi bahan baku dan waktu pemasakan.
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui potensi ampas tebu dan kulit jagung sebagai bahan baku pengganti
kayu dalam pembuatan pulp serta mengetahui pengaruh dan kondisi optimum dari rasio bahan baku dan waktu
pemasakan terhadap karakteristik pulp yang dihasilkan.
2.
METODE PENELITIAN
2.1. Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan selama pada April – Juni 2022 yang dilakukan di Laboratorium Utilitas
Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya.
2.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada penelitian antara lain neraca analitik, oven, gelas kimia, erlenmeyer, labu
ukur, pipet ukur, bola karet, corong kaca, kaca arloji, cawan porselen, water bath, hot plate, chopper, kertas
saring.
Bahan yang digunakan pada penelitian antara lain ampas tebu, kulit jagung, aquadest, CH 2O2 90%,
CH3COOH 99,8%, NaOH 17,5%, H2SO4 72%.
2.3. Rancangan Penelitian
Variabel bebas pada penelitian antara lain rasio ampas tebu : kulit jagung (10:90; 30:70; 50:50; 70:30;
90:10) dan waktu pemasakan (60, 90, 120 Menit). Sedangkan variabel tetap pada penelitian antara lain berat
bahan baku 30 gr, temperatur pemasakan 110ºC, perbandingan larutan pemasak asam formiat : asam asetat : air
sebesar 30:50:20 %v/v, rasio bahan baku : pelarut sebesar 1:14 gr/ml.
2.4. Prosedur Percobaan
1.
Proses Persiapan Bahan Baku
Proses persiapan bahan baku diantaranya mencuci ampas tebu dan kulit jagung hingga bersih kemudian
dikeringkan dibawah sinar matahari. Kemudian, memotong ampas tebu dan kulit jagung lalu menggiling ampas
tebu dan kulit jagung menggunakan chopper hingga halus.
2. Proses Pulping dengan Proses Organosolv
Menimbang serbuk ampas tebu dan kulit jagung sebanyak 30 gram dengan masing – masing variasi rasio bahan
baku. Memasukkan bahan baku yang telah ditimbang, larutan pemasak dengan perbandingan asam formiat:asam
asetat:air sebesar 30:50:20 (%v/v) dengan rasio bahan baku: pelarut sebesar 1:14 (gr/ml) ke dalam erlenmeyer.
Kemudian, memasukkan campuran ke dalam water bath dengan temperatur 110ºC dan waktu pemasakan 60
menit. Mendingi (...truncated)