Representasi Ibu Ideal pada Media Sosial (Analisis Multimodality pada Akun Instagram @andienippekawa)
Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2, 2017
REPRESENTASI IBU IDEAL PADA MEDIA SOSIAL
(ANALISIS MULTIMODALITY PADA AKUN INSTAGRAM
@ANDIENIPPEKAWA)
Ruvira Arindita
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Al Azhar Indonesia
Email:
Abstrak
Kehadiran media sosial dan segala dinamikanya mewarnai kehidupan masyarakat,
termasuk para ibu. Kehidupan selebriti yang kini juga sudah menjadi ibu dapat
disaksikan setiap harinya melalui linimasa akun instagram. Untuk memahami maksud
dan tujuan foto-foto postingan selebriti ibu di instagram, peneliti menggunakan
analisis multimodality/semiotika sosial dari Kress dan Van Leeuwen. Setelah itu
peneliti melakukan analisis representasi Stuart Hall untuk memahami bagaimana
sosok ibu ideal digambarkan di media sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
selebriti Andien Aisyah melalui akun instagram @andienippekawa yang sengaja
dibuatnya setelah menjadi ibu, memposting foto-foto kesehariannya bersama anak
sebagai bentuk hasrat mendapat pengakuan sebagai ibu ideal dari masyarakat luas.
Kata Kunci: Ibu Ideal, Media Sosial, Representasi, Multimodality, Semiotika Sosial
Abstract
The dynamics of social media has given impact to society members, including mothers. The
daily life of a celebrity who have become mothers can be seen through the Instagram timeline
every day. In order to understand the purpose of the Instagram postings from celebrity mothers,
the researcher is using the multimodality analysis/ social semiotics method from Kress and Van
Leeuwen. After that, the researcher uses the representation analysis by Stuart Hall to
comprehend how the picture of an ideal mother is represented on social media. The result of this
research shows that Andien Aisyah as the celebrity, posted her daily activities with her son
through her special account dedicated for photos of her mothering experience is to get the
acknowledgment of ideal mother from society.
Keywords: Ideal Mother, Social Media, Representation, Multimodality, Social Semiotics
131
Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2, 2017
Pendahuluan
Menjadi seorang ibu muda masa kini memang memiliki dinamika tersendiri.
Tugas yang diemban mereka pun tidak mudah. Seolah tugas membesarkan seorang anak
belum cukup berat, tantangan yang dihadapi ibu generasi milennial pun tidak mainmain: mulai dari menjaga buah hati dari dampak negatif kemajuan teknologi hingga
yang paling menakutkan yaitu ancaman narkoba dan predator seksual yang mengintai
anak-anak. Belum lagi adanya tuntutan untuk menjadi sosok ibu ideal seperti yang
banyak digambarkan oleh media massa, bahwa seorang ibu itu harus serba bisa: handal
dan cekatan dalam urusan rumah tangga, berkarir cemerlang atau memiliki bisnis
sendiri, hangat dan penuh kasih sayang, sekaligus tetap cantik menawan serta memiliki
tubuh seramping gadis belia.
Terdapat adagium yang mengatakan bahwa “mendidik perempuan sama artinya
mendidik dua generasi”. Di dalam keluarga, ibu memegang peranan sebagai pendidik
anak, madrasah pertama bagi anak-anaknya. Lalu bagaimana ibu muda masa kini
memperoleh informasi dalam kesehariannya? Merdeka.com (23 Juli 2013) menyebutkan
bahwa berdasarkan hasil riset, perempuan memang dinilai lebih aktif di dunia jejaring
sosial dibanding laki-laki. Berdasarkan hasil statistik comScore dari 40 negara di dunia
pada 2010 menunjukkan bahwa perempuan memang lebih suka berjejaring sosial
dibandingkan laki-laki (Merdeka.com, 23 Juli 2013). Masih dalam artikel yang sama,
menurut comScore perempuan menghabiskan waktu lebih banyak di internet
dibandingkan dengan laki-laki, yaitu rata-rata 24,8 jam untuk perempuan dan 22,9 jam
untuk laki-laki. Terdapat perbedaan kegiatan favorit antara perempuan dan laki-laki
sewaktu menggunakan internet. Dari data tersebut, 16,3 % perempuan menggunakan
waktu di internet untuk aktif di jejaring sosial, sedangkan laki-laki hanya 11,7 %. Data
tersebut juga memperlihatkan bahwa dalam tiga kategori yang bisa dimasukkan ke
media sosial, yaitu jejaring sosial, instant messengers, dan email, perempuan
mengungguli laki-laki. Ketiga kegiatan ini menghabiskan waktu lebih dari 35% waktu
yang digunakan perempuan dalam berinternet.
Kaum ibu pun tidak kalah aktif dalam memanfaatkan internet dan berseluncur di
jejaring sosial. Berdasarkan survei pada tahun 2014 yang dilakukan Marketers dan
MarkPlus Insight di 10 kota urban di Indonesia, sekitar 5,4 juta netizen atau orang yang
menghabiskan waktu tiga jam per hari menggunakan internet merupakan ibu rumah
132
Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2, 2017
tangga dari total 32 juta netizen (Solopos.com, 30 September 2014). Dalam survei Asian
Digital Mum yang dirilis theAsianparent.com. dan dilakukan terhadap 10.000 calon ibu
dan ibu yang memiliki anak berusia di bawah 16 tahun di empat negara, yaitu
Singapura, Malaysia, Thailand dan Indonesia menunjukkan bahwa perempuan lebih
sering menggunakan internet setelah menjadi ibu (Solopos.com, 30 September 2014).
Sekitar 80 persen perempuan di Asia menggunakan internet setelah mereka menjadi ibu
dan di saat yang sama 58 persen dari mereka mengurangi jam menonton televisi.
Sejumlah 99 persen dari mereka menggunakan smartphone untuk mengakses internet.
Sementara itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran, kegiatan
yang paling sering dilakukan para ibu saat berseluncur di internet di antaranya belanja
secara online, mencari referensi tentang pengasuhan dan tumbuh kembang anak serta
berkomunikasi dengan teman-teman di jejaring sosial (Unpad.ac.id, 24 Maret 2017).
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia
(APJII) pada tahun 2016, kelompok Ibu Rumah Tangga merupakan kelompok kedua
terbesar yang menjadi pengguna internet (apjii.or.id, 5 November 2016). Berikut
gambaran komposisinya:
Gambar 1. Komposisi Pengguna Internet di Indonesia Berdasarkan Pekerjaan
(Sumber: apjii.or.id, 5 November 2016).
Kemudahan akses internet dan semakin beragamnya pilihan media sosial
memudahkan para ibu untuk mendapatkan berbagai infomasi. Keinteraktifan media
sosial juga memungkinkan mereka untuk dapat mengekspresikan pendapat mereka
secara lebih bebas di dunia maya. Namun banyaknya informasi yang begitu mudah
diakses cenderung membuat para ibu menjadi lebih cemas dan waspada bahkan terkena
sindrom “information overload” atau banjir informasi.
133
Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2, 2017
Banjir informasi tersebut pula yang menjadi salah satu pencetus munculnya
wacana“mommy wars” di Amerika Serikat hingga di Indonesia. Para ibu
memperdebatkan pilihan-pilihan ibu-ibu lainnya seputar pengasuhan anak, dimulai dari
proses kelahiran, pilihan untuk bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga
sepenuhnya, pilihan untuk memberi ASI atau susu formula hingga keputusan untuk
menyekolahkan anak di rumah (homeschooling) atau di sekolah publik.
Di antara pertarungan wacana yang muncul di media mengenai sosok ibu yang
ideal, hadir sosok-sosok public figure yang menjadi panutan (...truncated)