Gambaran Kenyamanan Ibu Menyusui yang Menggunakan Ruang Laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman

Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal), Nov 2020

Background: The scope of exclusive breastfeeding in Indonesia is still fluctuating, thus the government made policies regarding procurement of lactation rooms in public places and in the workplace. It is necessary for the availability of lactation rooms to consider the comfort of mothers who use it, because comfort is an important condition.Objective: To understand the description of comfort of breastfeeding mother who used the lactation room in primary health care in Sleman District.Method: This research was a descriptive quantitative non-experimental research with cross-sectional design. This research was conducted in five Primary Health Care that were selected randomly. The samples of this research were 91 people who had been or currently used spaces in the five lactation rooms at the five Primary Health Cares. Instrument in this study was General Comfort Questionnaire (GCQ) questionnaire from Kolcaba which had been modified. This research was analyzed using univariate analysis.Result: Physical comfort perceived by respondents including not feeling sore (80,2%), not hungry/thirsty (85,7%), and not tired (91,2%). Psycho-spiritual comfort perceived by respondents including feeling confident (87,9%), satisfied (89,0%), privacy-maintained (87,9%), the mind became calm (90,1%), having no fear (84,6 ), not feeling depressed/discouraged (94,5%), and the need to feel more comfortable when breastfeed in lactation room (93,4%). Environmental comfort perceived by respondents including feeling in a groove (87,9%), comfortable with room lighting (73,6%), no odor (79,1%), the lactation room was easy to find (92,3%), and feeling calm in the room (87,9%). Social comfort perceived by respondents including not feeling lonely (86,8%), not disturbed by people (95,6%), still using the lactation room although there was someone in it (81,3%), and did not require the help of another person when breastfeed in the lactation room (89,0%).Conclusion: The majority of breastfeeding mothers who used the lactation room felt comfortable in terms of physical, psycho-spiritual, environmental, and social.ABSTRAKLatar belakang: Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih fluktuatif, maka pemerintah membuat kebijakan mengenai pengadaan ruang laktasi di tempat umum maupun di tempat kerja. Adanya ruang laktasi perlu memperhatikan kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruangan tersebut, karena kenyamanan merupakan suatu kondisi yang penting bagi seorang ibu menyusui.Tujuan: Mengetahui gambaran kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Mei 2016 di lima Puskesmas di Kabupaten Sleman. Responden penelitian ini dipilih menggunakan teknik convenience sampling, yaitu sebanyak 91 orang ibu menyusui yang pernah atau sedang menggunakan ruang laktasi di lima Puskesmas tersebut. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner General Comfort Questionnaire (GCQ) dari Kolcaba yang dimodifikasi. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat.Hasil: Responden merasakan kenyamanan fisik seperti tidak merasa pegal (80,2%), tidak lapar/haus (85,7%), tidak lelah (91,2%), dan merasa sehat (95,6%); kenyamanan psiko-spiritual, seperti merasa percaya diri (87,9%), puas (89,0%), privasi terjaga (87,9%), pikiran menjadi tenang (90,1%), tidak takut (84,6), dan tidak merasa patah semangat (94,5%); kenyamanan lingkungan seperti merasa berada di tempat yang disenangi (87,9%), nyaman dengan pencahayaan (73,6%), tidak bau (79,1%), mudah untuk menemukan ruangan (92,3%), serta merasa tenang (87,9%); dan kenyamanan sosial seperti tidak kesepian (86,8%), tidak ada yang mengganggu (95,6%), tetap menggunakan ruang walaupun ada seseorang di dalamnya (81,3%), dan tidak memerlukan bantuan orang lain ketika menyusui (89,0%).Kesimpulan: Sebagian besar ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi merasa nyaman baik dari segi fisik, psiko-spiritual, lingkungan, dan sosial.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.ugm.ac.id/jkkk/article/download/44289/37454

Gambaran Kenyamanan Ibu Menyusui yang Menggunakan Ruang Laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman

Gambaran Kenyamanan Ibu Menyusui yang Menggunakan Ruang Laktasi di Puskesmas Kabupaten Sleman The Description of Comfort of Breastfeeding Mothers Using Lactation Room in Primary Health Care in Sleman District 1 Rizky Endah Wuningsari1*, Sri Mulyani2 Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada 2 Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada ABSTRACT Background: The scope of exclusive breastfeeding in Indonesia is still fluctuating, thus the government made policies regarding procurement of lactation rooms in public places and in the workplace. It is necessary for the availability of lactation rooms to consider the comfort of mothers who use it, because comfort is an important condition. Objective: To understand the description of comfort of breastfeeding mother who used the lactation room in primary health care in Sleman District. Method: This research was a descriptive quantitative non-experimental research with cross-sectional design. This research was conducted in five Primary Health Care that were selected randomly. The samples of this research were 91 people who had been or currently used spaces in the five lactation rooms at the five Primary Health Cares. Instrument in this study was General Comfort Questionnaire (GCQ) questionnaire from Kolcaba which had been modified. This research was analyzed using univariate analysis. Result: Physical comfort perceived by respondents including not feeling sore (80,2%), not hungry/ thirsty (85,7%), and not tired (91,2%). Psycho-spiritual comfort perceived by respondents including feeling confident (87,9%), satisfied (89,0%), privacy-maintained (87,9%), the mind became calm (90,1%), having no fear (84,6 ), not feeling depressed/discouraged (94,5%), and the need to feel more comfortable when breastfeed in lactation room (93,4%). Environmental comfort perceived by respondents including feeling in a groove (87,9%), comfortable with room lighting (73,6%), no odor (79,1%), the lactation room was easy to find (92,3%), and feeling calm in the room (87,9%). Social comfort perceived by respondents including not feeling lonely (86,8%), not disturbed by people (95,6%), still using the lactation room although there was someone in it (81,3%), and did not require the help of another person when breastfeed in the lactation room (89,0%). Conclusion: The majority of breastfeeding mothers who used the lactation room felt comfortable in terms of physical, psycho-spiritual, environmental, and social. Keywords: breastfeeding mother, comfort, lactation room ABSTRAK Latar belakang: Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih fluktuatif, maka pemerintah membuat kebijakan mengenai pengadaan ruang laktasi di tempat umum maupun di tempat kerja. Adanya ruang laktasi perlu memperhatikan kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruangan tersebut, karena kenyamanan merupakan suatu kondisi yang penting bagi seorang ibu menyusui. Tujuan: Mengetahui gambaran kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Mei 2016 di lima Puskesmas di Kabupaten Sleman. Responden penelitian ini dipilih menggunakan teknik convenience sampling, yaitu sebanyak 91 orang ibu menyusui yang pernah atau sedang menggunakan ruang laktasi di lima Puskesmas tersebut. Alat Corresponding Author: Rizky Endah Wuningsari Jl. Farmako Sekip Utara, Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta 55281 Email: Vol 4 (3) November 2020, Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas 141 Wuningsari & Mulyani ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner General Comfort Questionnaire (GCQ) dari Kolcaba yang dimodifikasi. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil: Responden merasakan kenyamanan fisik seperti tidak merasa pegal (80,2%), tidak lapar/haus (85,7%), tidak lelah (91,2%), dan merasa sehat (95,6%); kenyamanan psiko-spiritual, seperti merasa percaya diri (87,9%), puas (89,0%), privasi terjaga (87,9%), pikiran menjadi tenang (90,1%), tidak takut (84,6), dan tidak merasa patah semangat (94,5%); kenyamanan lingkungan seperti merasa berada di tempat yang disenangi (87,9%), nyaman dengan pencahayaan (73,6%), tidak bau (79,1%), mudah untuk menemukan ruangan (92,3%), serta merasa tenang (87,9%); dan kenyamanan sosial seperti tidak kesepian (86,8%), tidak ada yang mengganggu (95,6%), tetap menggunakan ruang walaupun ada seseorang di dalamnya (81,3%), dan tidak memerlukan bantuan orang lain ketika menyusui (89,0%). Kesimpulan: Sebagian besar ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi merasa nyaman baik dari segi fisik, psiko-spiritual, lingkungan, dan sosial. Kata kunci: ibu menyusui, kenyamanan, ruang laktasi PENDAHULUAN Menyusui merupakan hal yang penting bagi ibu setelah melahirkan bayinya karena memiliki banyak manfaat. Manfaat yang dapat diperoleh dari menyusui antara lain menimbulkan ketenangan dan kenyamanan ketika ibu menyusui bayinya, adanya perasaan ikatan yang unik antara ibu dan bayi, meningkatkan pencapaian peran sebagai seorang ibu, dan mengurangi risiko terjadinya kanker rahim atau kanker payudara.1,2 Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan pada bayi juga memiliki manfaat yaitu sebagai perlindungan untuk melawan serangan infeksi saluran pernapasan, mengurangi kejadian diare pada bayi karena adanya Lactobacillus bifidus, mempercepat pertumbuhan otak bayi di awal bulan kelahiran, dan juga mengurangi angka kematian pada bayi baru lahir.3 Adanya manfaat yang diperoleh dari menyusui tidak secara langsung membuat cakupan pemberian ASI di Indonesia meningkat, akan tetapi masih fluktuatif. Hal ini dibuktikan dengan cakupan pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia enam bulan pada tahun 2007 sebesar 28,6%, menurun pada tahun 2008 sebesar 24,3%, tahun 2009 meningkat menjadi 34,3%, tahun 2010 menurun kembali menjadi 33,6%, dan di tahun 2011 kembali meningkat menjadi 38,5%. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan pada tahun 2012 sebesar 54,3% juga belum memenuhi target nasional yaitu sebesar 75%.4,5 Banyak kendala untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI. Kendala tersebut antara lain ibu menyusui yang sudah kembali bekerja, perusahaan tidak memberikan kesempatan bagi ibu untuk melaksanakan pemberian ASI eksklusif, tenaga konselor ASI yang terbatas, dan tenaga kesehatan yang belum peduli terhadap pemberian ASI eksklusif.6 Untuk mengatasi hal tersebut maka pemerintah membuat kebijakan bahwa pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan. Kebijakan tersebut tertuang pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif pasal 30 ayat 3 di mana Pengurus Tempat Kerja harus (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.ugm.ac.id/jkkk/article/download/44289/37454
Article home page: https://jurnal.ugm.ac.id/jkkk/article/view/44289/37454

Wuningsari Rizky Endah, Sri Mulyani. Gambaran Kenyamanan Ibu Menyusui yang Menggunakan Ruang Laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman, Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal), 2020, pp. 141-150,