Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab
Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
E-ISSN 2657-2206 / P-ISSN 2252-9926
https://journal.umgo.ac.id/index.php/AJamiy/index
http://dx.doi.org/10.31314/ajamiy.13.1.100-109.2024
Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab
Icha Tri Hasri
Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Indonesia
Corresponding Author
Article Info
Abstract
During the first two decades of the 21st century, an increasing number of
narratives defined as Arab dystopian fiction emerged in the Arab literary scene.
2023-08-21
This study aims to describe dystopian fiction in Arabic literature, along with the
Accepted
works and their characteristics. The data in this study were collected using the
2024-06-05
note-taking technique. Then, the data is analyzed by reducing the available data,
displaying the data, and making conclusions. The results of the research show
Published
2024-06-21
that dystopian fiction in Arabic literature has only developed in the 21st century,
but there are several works in the previous century that can be categorized as
Keywords:
dystopian fiction. Then, At-thabur by Basma Abd Al-Aziz, 2063 by Mutaz
Dystopian
Hasanin and Iraq +100: Stories from a Century after the Invasion edited by Hasan
Fiction;
Blasim et al are works of Arab dystopian fiction. Characteristics of Arab
Works of
Dystopian
dystopian fiction include non-totalitarian cultural degeneration, liberal society,
Fiction;
Characteristics the advent of the nuclear age, environmental threats, technological mastery and
terrorism-induced anxiety. In addition, religion also has a significant role in
of Dystopian
Fiction;
political manipulation.
Submitted
Arabic
Literature
Abstrak
Kata Kunci:
Fiksi Distopia;
Karya Fiksi
Distopia;
Karakteristik
Fiksi Distopia;
Kesusastraan
Arab
Selama dua dekade pertama abad ke-21, semakin banyak narasi yang
didefinisikan sebagai fiksi distopia Arab muncul di kancah kesusastran Arab.
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fiksi distopia dalam kesusastraan
Arab, berikut dengan karya-karya dan karakteristiknya. Data dalam penelitian ini
dikumpulkan menggunakan teknik simak-catat. Kemudian, data dianalisis
dengan mereduksi data yang tersedia, menampilkan data, dan melakukan
penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksi distopia dalam
kesusastraan Arab memang baru berkembang pada abad ke-21, namun ada
beberapa karya di abad sebelumnya yang dapat dikategorikan sebagai fiksi
distopia. Kemudian, At-thabur oleh Basma Abd Al-Aziz, 2063 oleh Mutaz
Hasanin dan Iraq +100: Stories from a Century after the Invasion yang disunting
oleh Hasan Blasim dkk merupakan karya fiksi distopia Arab. Karakteristik fiksi
distopia Arab meliputi degenerasi budaya non-totaliter, masyarakat liberal,
munculnya zaman nuklir, ancaman lingkungan, penguasaan teknologi dan
kecemasan yang disebabkan oleh terorisme. Selain itu, agama juga memiliki
peran yang signifikan dalam manipulasi politik.
Under the License CC BY-SA 4.0
Copyright© 2024, ‘AJamiy dan Prodi Sastra Arab-UMGO
100
A. Pendahuluan
Istilah “Distopia” mengacu pada istilah yang menjadi kebalikan dari “Utopia”.
Istilah “Utopia” pertama kali dikemukakan oleh Sir Thomas More dalam karyanya yang
berjudul Utopia pada tahun 1516, yang menggambarkan masyarakat fiksi yang mencapai
situasi dunia yang ideal, di mana keadilan, toleransi, dan moralitas akan berlaku dan
dijunjung tinggi.
Sedangkan distopia merupakan istilah dari bahasa Yunani yang
dapat diartikan sebagai “tempat yang buruk”, umumnya menggambarkan masyarakat
utopis yang memiliki masalah serius dalam kehidupan mereka. Meski distopia dikenal
sebagai anti utopia, mereka memiliki banyak kesamaan karakteristik.1
Distopia dapat pula diartikan sebagai istilah yang merujuk pada kritik atas
kondisi sosial-politik yang buruk atau tidak ideal, yang mengacu pada kejahatan dan
ketidakadilan dalam masyarakat.2 Sebagaimana yang dikemukakan Sargent bahwa
distopia adalah “masyarakat imajiner yang digambarkan secara detail dan biasanya
berada dalam ruang dan waktu di mana pegarang ingin pembaca melihat masa depan
masyarakat yang jauh lebih buruk daripada saat pembaca hidup".3
Fiksi distopia muncul dan berkembang pada abad ke-sembilan belas sebagai
reaksi kritis dan kebalikan mutlak dari fiksi utopia. Sementara fiksi utopia umumnya
menggambarkan masyarakat imajiner yang ideal dengan keadaan sosial-ekonomi yang
sempurna dan sistem politik yang lebih unggul dari masa kini,4 fiksi distopia
menggambarkan keadaan yang bertolak belakang dengan menampilkan kemungkinan
kondisi dunia yang akan semakin memburuk di masa depan.5
Kemunculan fiksi distopia pada abad ke-sembilan belas nyatanya baru
berkembang pesat pada abad ke-20, seiring dengan meningkatnya masyarakat
materialistis yang meyakini bahwa masyarakat utopis hanyalah sebuah mitos. E.M
Forester dianggap sebagai pelopor fiksi distopia dengan novelnya The Machine Stops
pada tahun 1909. Belakangan, banyak karya sastra distopia yang muncul seperti : We
(1924) oleh Zamyatin, Brave New World (1932) oleh Huxley, dan 1984 (1949) oleh
George Orwell. Ketiga novel tersebut dianggap sebagai karya sastra yang sangat
1
J. Gerhard, Control and Resistance in the Dystopian Novel: A Comparative Analysis (California
State University, Chico, 2012), p. 1 <https://books.google.co.id/books?id=\_3-NAQAACAAJ>.
2
Mohammed Mustafa Hassouna, ‘Dystopian Egypt before the Arabian Spring: Critical Review on
Ahmed Khaled Towfik’s The Knife’, Journal of Comparative Literature and Aesthetics, 43 (2019), 71–83
(p. 73).
3
Lyman Tower Sargent, Rethinking Utopia and Utopianism: The Three Faces of Utopianism
Revisited and Other Essays, Ralahine Utopian Studies, Vol no. 25 (New York: Peter Lang, 2022), p. 9.
4
Gerhard, p. 3.
5
New Perspectives on Dystopian Fiction in Literature and Other Media, ed. by Saija Isomaa, Jyrki
Korpua, and Jouni Teittinen (Newcastle upon Tyne, UK: Cambridge Scholars Publishing, 2020), p. ix.
Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol.13
No.1, Juni 2024 |
101
kontroversial dalam sejarah sastra 6 sekaligus karya yang dianggap paling tepat untuk
merepresentasikan genre distopia.7
Salah satu ciri khas fiksi distopia adalah kemampuannya untuk merefleksikan
isu-isu kontemporer dalam masyarakat, untuk mengidentifikasi potensi ancaman atau
kecenderungan adanya bahaya dan untuk mengungkap sumber tersembunyi dari
kejahatan sosial.8 Fiksi distopia memungkinkan penulis untuk mewujudkan aksi protes
terhadap nilai-nilai budaya yang terdapat pada dekade sebelumnya, melalui pilihan
bahasa, gaya, penggunaan ironi dan sindiran yang berbeda.9
Hal ini menjadikan genre distopia sebagai genre yang populer di seluruh dunia,
meskipun kemunculan dan perkembangannya dalam kesusastraan Arab baru terjadi pada
abad ke-21.10 Selama dua dekade pertama abad ke-21, semakin banyak narasi yang
didefinisikan sebagai fiksi distopia Arab muncul di kancah kesusastran Arab. 11 Beberapa
novel dan cerita pendek, disebut sebagai distopia dalam artikel surat kabar, web, (...truncated)