Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab

'A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, Jun 2024

Selama dua dekade pertama abad ke-21, semakin banyak narasi yang didefinisikan sebagai fiksi distopia Arab muncul di kancah kesusastran Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fiksi distopia dalam kesusastraan Arab, berikut dengan karya-karya dan karakteristiknya. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik simak-catat. Kemudian, data dianalisis dengan mereduksi data yang tersedia, menampilkan data, dan melakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksi distopia dalam kesusastraan Arab memang baru berkembang pada abad ke-21, namun ada beberapa karya di abad sebelumnya yang dapat dikategorikan sebagai fiksi distopia. Kemudian, At-thabur oleh Basma Abd Al-Aziz, 2063 oleh Mutaz Hasanin dan Iraq +100: Stories from a Century after the Invasion yang disunting oleh Hasan Blasim dkk merupakan karya fiksi distopia Arab. Karakteristik fiksi distopia Arab meliputi degenerasi budaya non-totaliter, masyarakat liberal, munculnya zaman nuklir, ancaman lingkungan, penguasaan teknologi dan kecemasan yang disebabkan oleh terorisme. Selain itu, agama juga memiliki peran yang signifikan dalam manipulasi politik.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.umgo.ac.id/index.php/AJamiy/article/download/2470/1645

Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab

Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab E-ISSN 2657-2206 / P-ISSN 2252-9926 https://journal.umgo.ac.id/index.php/AJamiy/index http://dx.doi.org/10.31314/ajamiy.13.1.100-109.2024 Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab Icha Tri Hasri Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Indonesia Corresponding Author Article Info Abstract During the first two decades of the 21st century, an increasing number of narratives defined as Arab dystopian fiction emerged in the Arab literary scene. 2023-08-21 This study aims to describe dystopian fiction in Arabic literature, along with the Accepted works and their characteristics. The data in this study were collected using the 2024-06-05 note-taking technique. Then, the data is analyzed by reducing the available data, displaying the data, and making conclusions. The results of the research show Published 2024-06-21 that dystopian fiction in Arabic literature has only developed in the 21st century, but there are several works in the previous century that can be categorized as Keywords: dystopian fiction. Then, At-thabur by Basma Abd Al-Aziz, 2063 by Mutaz Dystopian Hasanin and Iraq +100: Stories from a Century after the Invasion edited by Hasan Fiction; Blasim et al are works of Arab dystopian fiction. Characteristics of Arab Works of Dystopian dystopian fiction include non-totalitarian cultural degeneration, liberal society, Fiction; Characteristics the advent of the nuclear age, environmental threats, technological mastery and terrorism-induced anxiety. In addition, religion also has a significant role in of Dystopian Fiction; political manipulation. Submitted Arabic Literature Abstrak Kata Kunci: Fiksi Distopia; Karya Fiksi Distopia; Karakteristik Fiksi Distopia; Kesusastraan Arab Selama dua dekade pertama abad ke-21, semakin banyak narasi yang didefinisikan sebagai fiksi distopia Arab muncul di kancah kesusastran Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fiksi distopia dalam kesusastraan Arab, berikut dengan karya-karya dan karakteristiknya. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik simak-catat. Kemudian, data dianalisis dengan mereduksi data yang tersedia, menampilkan data, dan melakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksi distopia dalam kesusastraan Arab memang baru berkembang pada abad ke-21, namun ada beberapa karya di abad sebelumnya yang dapat dikategorikan sebagai fiksi distopia. Kemudian, At-thabur oleh Basma Abd Al-Aziz, 2063 oleh Mutaz Hasanin dan Iraq +100: Stories from a Century after the Invasion yang disunting oleh Hasan Blasim dkk merupakan karya fiksi distopia Arab. Karakteristik fiksi distopia Arab meliputi degenerasi budaya non-totaliter, masyarakat liberal, munculnya zaman nuklir, ancaman lingkungan, penguasaan teknologi dan kecemasan yang disebabkan oleh terorisme. Selain itu, agama juga memiliki peran yang signifikan dalam manipulasi politik. Under the License CC BY-SA 4.0 Copyright© 2024, ‘AJamiy dan Prodi Sastra Arab-UMGO 100 A. Pendahuluan Istilah “Distopia” mengacu pada istilah yang menjadi kebalikan dari “Utopia”. Istilah “Utopia” pertama kali dikemukakan oleh Sir Thomas More dalam karyanya yang berjudul Utopia pada tahun 1516, yang menggambarkan masyarakat fiksi yang mencapai situasi dunia yang ideal, di mana keadilan, toleransi, dan moralitas akan berlaku dan dijunjung tinggi. Sedangkan distopia merupakan istilah dari bahasa Yunani yang dapat diartikan sebagai “tempat yang buruk”, umumnya menggambarkan masyarakat utopis yang memiliki masalah serius dalam kehidupan mereka. Meski distopia dikenal sebagai anti utopia, mereka memiliki banyak kesamaan karakteristik.1 Distopia dapat pula diartikan sebagai istilah yang merujuk pada kritik atas kondisi sosial-politik yang buruk atau tidak ideal, yang mengacu pada kejahatan dan ketidakadilan dalam masyarakat.2 Sebagaimana yang dikemukakan Sargent bahwa distopia adalah “masyarakat imajiner yang digambarkan secara detail dan biasanya berada dalam ruang dan waktu di mana pegarang ingin pembaca melihat masa depan masyarakat yang jauh lebih buruk daripada saat pembaca hidup".3 Fiksi distopia muncul dan berkembang pada abad ke-sembilan belas sebagai reaksi kritis dan kebalikan mutlak dari fiksi utopia. Sementara fiksi utopia umumnya menggambarkan masyarakat imajiner yang ideal dengan keadaan sosial-ekonomi yang sempurna dan sistem politik yang lebih unggul dari masa kini,4 fiksi distopia menggambarkan keadaan yang bertolak belakang dengan menampilkan kemungkinan kondisi dunia yang akan semakin memburuk di masa depan.5 Kemunculan fiksi distopia pada abad ke-sembilan belas nyatanya baru berkembang pesat pada abad ke-20, seiring dengan meningkatnya masyarakat materialistis yang meyakini bahwa masyarakat utopis hanyalah sebuah mitos. E.M Forester dianggap sebagai pelopor fiksi distopia dengan novelnya The Machine Stops pada tahun 1909. Belakangan, banyak karya sastra distopia yang muncul seperti : We (1924) oleh Zamyatin, Brave New World (1932) oleh Huxley, dan 1984 (1949) oleh George Orwell. Ketiga novel tersebut dianggap sebagai karya sastra yang sangat 1 J. Gerhard, Control and Resistance in the Dystopian Novel: A Comparative Analysis (California State University, Chico, 2012), p. 1 <https://books.google.co.id/books?id=\_3-NAQAACAAJ>. 2 Mohammed Mustafa Hassouna, ‘Dystopian Egypt before the Arabian Spring: Critical Review on Ahmed Khaled Towfik’s The Knife’, Journal of Comparative Literature and Aesthetics, 43 (2019), 71–83 (p. 73). 3 Lyman Tower Sargent, Rethinking Utopia and Utopianism: The Three Faces of Utopianism Revisited and Other Essays, Ralahine Utopian Studies, Vol no. 25 (New York: Peter Lang, 2022), p. 9. 4 Gerhard, p. 3. 5 New Perspectives on Dystopian Fiction in Literature and Other Media, ed. by Saija Isomaa, Jyrki Korpua, and Jouni Teittinen (Newcastle upon Tyne, UK: Cambridge Scholars Publishing, 2020), p. ix. Ajamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab | Vol.13 No.1, Juni 2024 | 101 kontroversial dalam sejarah sastra 6 sekaligus karya yang dianggap paling tepat untuk merepresentasikan genre distopia.7 Salah satu ciri khas fiksi distopia adalah kemampuannya untuk merefleksikan isu-isu kontemporer dalam masyarakat, untuk mengidentifikasi potensi ancaman atau kecenderungan adanya bahaya dan untuk mengungkap sumber tersembunyi dari kejahatan sosial.8 Fiksi distopia memungkinkan penulis untuk mewujudkan aksi protes terhadap nilai-nilai budaya yang terdapat pada dekade sebelumnya, melalui pilihan bahasa, gaya, penggunaan ironi dan sindiran yang berbeda.9 Hal ini menjadikan genre distopia sebagai genre yang populer di seluruh dunia, meskipun kemunculan dan perkembangannya dalam kesusastraan Arab baru terjadi pada abad ke-21.10 Selama dua dekade pertama abad ke-21, semakin banyak narasi yang didefinisikan sebagai fiksi distopia Arab muncul di kancah kesusastran Arab. 11 Beberapa novel dan cerita pendek, disebut sebagai distopia dalam artikel surat kabar, web, (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.umgo.ac.id/index.php/AJamiy/article/download/2470/1645
Article home page: https://journal.umgo.ac.id/index.php/AJamiy/article/view/2470/1645

Hasri Icha Tri. Fiksi Distopia dalam Kesusastraan Arab, 'A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 2024, pp. 100-109,