Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic System in Bengkulu University's Environment
Kasuari: Physics Education Journal 7(1) (2024) 119-129
P-ISSN: 2615-2681
E-ISSN: 2615-2673
Kasuari: Physics Education Journal (KPEJ)
Universitas Papua
Web: http://jurnal.unipa.ac.id/index.php/kpej
Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic
System in Bengkulu University's Environment
Umaya1*, Afrizal Mayub1, Henny Johan1, Muchammad Farid2, Rendy Wikrama Wardana1
1
Pascasarjana S2 Pendidikan IPA, FKIP, Universitas Bengkulu
2
S1 Geofisika, FMIPA, Universitas Bengkulu
*Corresponding author:
Abstract: Bengkulu University is located in the coastal area precisely in Muara Bangka Hulu sub-district of
Bengkulu City, which is one of the sub-districts bordering the coastline. Areas or regions bordering the
coastline have a higher level of tsunami hazard compared to areas or regions far from the coastline. The
marking of the evacuation point area in the Bengkulu University environment has not adjusted to the disaster
mitigation parameters. The purpose of this research is to analyse and map the tsunami hazard class at
Bengkulu University in a preventive mitigation effort as well as a consideration for future policies. Primary
data measurements used Geodetic GPS devices and were analysed using GAMIT and GLOBK 10.6 software.
While secondary data obtained from geospatial information agencies and DEMNAS were analysed using
arcgis software. Based on the results of the analysis, it is known that the environment of Bengkulu University
as a whole has 3 classes of hazard zones including high hazard class, medium hazard class, and low hazard
class.
Keywords: Bengkulu University, GPS-Geodetic, tsunami hazard class mapping
Pemetaan Kelas Bahaya Tsunami menggunakan Global Positioning System Geodetic
di Lingkungan Universitas Bengkulu
Abstrak: Universitas Bengkulu berada di daerah pesisir pantai tepatnya di Kec. Muara Bangka
Hulu Kota Bengkulu, merupakan salah satu kecamatan yang berbatasan dengan garis pantai.
Daerah atau wilayah yang berbatasan dengan garis pantai memiliki tingkat bahaya tsunami lebih
tinggi dibandingkan dengan daerah atau wilayah yang jauh dari garis pantai. Penandaan daerah
titik evakuasi yang ada di lingkungan Universitas Bengkulu belum menyesuaikan dengan
parameter mitigasi bencana. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu menganalisis serta melakukan
pemetaan kelas bahaya tsunami di Lingkungan Universitas Bengkulu dalam upaya mitigasi secara
preventif serta bahan pertimbangan pada kebijakan di masa depan. Pengukuran data primer
menggunakan alat GPS Geodetik dan dianalisis menggunakan software GAMIT dan GLOBK
10.6. Sedangkan data sekunder diperoleh dari badan informasi geospasial dan DEMNAS
dianalisis menggunakan software arcgis.. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa
lingkungan Universitas Bengkulu secara menyeluruh mempunyai 3 kelas zona bahaya meliputi
kelas bahaya tinggi, kelas bahaya sedang, dan kelas bahaya rendah.
Kata kunci: GPS-Geodetik, pemetaan kelas bahaya tsunami, Universitas Bengkulu
PENDAHULUAN
Provinsi Bengkulu yang terletak di Indonesia memiliki kerentanan yang signifikan
terhadap bencana tsunami, terkhusus kota Bengkulu. Kota Bengkulu berada di pantai Barat
Sumatera, memiliki garis pantai yang membentang sepanjang kurang lebih 525 km.
Berdasarkan susunan geologisnya, wilayah Bengkulu terletak tepat di atas zona subduksi
119
Kasuari: Physics Education Journal 7(1) (2024) 119-129
P-ISSN: 2615-2681
E-ISSN: 2615-2673
tempat pertemuan Lempeng Eurasia serta Indo-Australia, yang mengakibatkan pergerakan
tahunan sebesar 4 hingga 6 cm. Pertemuan lempeng tersebut menyebabkan potensi tinggi
terjadinya gempa bumi dan tsunami (Naryanto, 2019). Berdasarkan data BMKG tahun
2018, Bengkulu pernah mengalami gelombang tsunami berkali-kali sepanjang sejarah,
diawali dengan gempa berkekuatan 7,0 SR pada tanggal 18 Maret 1818. Selanjutnya pada
tanggal 29 Januari serta 24 November 1833 terjadi gempa dengan kekuatan 8,2 SR
sehingga memicu terjadinya tsunami. Tsunami terjadi lagi pada tanggal 21 April 1958
disebabkan karna gempa dengan kekuatan 6,5 SR, serta terakhir terjadi pada tanggal 29
September 2007 dengan gempa berkekuatan 8,4 SR (Fachri et al., 2022). Seringnya terjadi
bencana gempa bumi dan tsunami menjadi tanda bahwa Bengkulu ialah wilayah yang
rentan bencana alam tsunami.
Ancaman yang tinggi terhadap bencana alam tsunami di kota Bengkulu ternyata belum
dibarengi dengan kesiapsiagaan yang baik. Pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka
Menegah Daerah) kota Bengkulu tahun 2019–2023 dinyatakan bahwa kota Bengkulu
belum siap secara optimal dalam menghadapi bencana tsunami. Terdapat beberapa alasan
yang membelakangi hal tersebut, seperti rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
peringatan dini tsunami, koordinasi yang kurang antara masyarakat dan pemerintah terkait
tsunami, dan kurangnya informasi serta data kebencanaan yang mutakhir. Akibatnya, jika
tsunami terjadi, wilayah pesisir kota Bengkulu akan mengalami kerusakan paling parah
dengan tingkat ancamannya paling tinggi. Dengan tingginya tingkat ancaman serta
kesiapsiagaan bencana yang belum optimal di wilayah pesisir kota Bengkulu, maka
diperlukan langkah-langkah penanggulangan bencana.
Berdasarkan hasil observasi langsung, Universitas Bengkulu yang berada pada wilayah
pesisir pantai tepatnya pada Kec. Muara Bangka Hulu Kota Bengkulu. Kecamatan Muara
Bangka Hulu yaitu salah satu kecamatan yang berbatasan dengan garis pantai. Wilayah
atau daerah yang berbatasan garis pantai mempunyai bahaya tsunami lebih tinggi apabila
dibandingkan wilayah atau daerah yg jauh dari garis pantai (Naryanto, 2019). Ditambah
lagi belum adanya bukit-bukit atau penghalang (barrier) di sekitaran pantai yang dapat
meredam laju tsunami akan membuat ancaman tsunami jauh lebih besar apabila
dibandingkan pada wilayah yang telah memiliki bukit-bukit atau penghalang (barrier).
Tamtanan struktur bangunan dengan berbagai dimensi perhitungan baik secara horizontal
maupun vertikal yang seimbang dapat menciptakan bangunan teroptimalkan untuk
menahan arus gelombang laut (Keban et al., 2023). Kurang optimalnya bukit-bukit
penghalang atau barrier di sekitaran pantai, serta kurangnya ekosistem mangrove yang
dapat menahan laju arus tsunami secara alami.
Berdasarkan data yang didapat dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam, posisi hutan
mangrove di pesisir pantai panjang hingga pulau baai tedapat seluas 91,13 ha, dimana ada
5 jenis mangrove yang tersebar antara lain Sonneratia sp, Rhizophora sp, Avicennia
marina, Lumnitzera dan Bruguriera. Tanaman mangrove ini tersebar secara tidak merata,
terkhusus di kecamatan Muara Bangka Hulu yang hanya terdapat beberapa pohon saja
sehingga hal tersebut tidak optimal dalam menahan arus gelombang laut. Sejalan dengan
pendapat (Asy’ari et al., 2022) ekosistem mangrove membentuk penghalang alami untuk
daerah pesisir, menghalangi arus ombak, hujan serta angin, serta secara alami meredam
gelombang tsunami dan melindungi garis pantai dari pengikisan. Mangroves can defend
the coast from incoming wa (...truncated)