Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic System in Bengkulu University's Environment

Kasuari: Physics Education Journal (KPEJ), Jun 2024

Bengkulu University is located in the coastal area precisely in Muara Bangka Hulu sub-district of Bengkulu City, which is one of the sub-districts bordering the coastline. Areas or regions bordering the coastline have a higher level of tsunami hazard compared to areas or regions far from the coastline. The marking of the evacuation point area in the Bengkulu University environment has not adjusted to the disaster mitigation parameters. The purpose of this research is to analyse and map the tsunami hazard class at Bengkulu University in a preventive mitigation effort as well as a consideration for future policies. Primary data measurements used Geodetic GPS devices and were analysed using GAMIT and GLOBK 10.6 software. While secondary data obtained from geospatial information agencies and DEMNAS were analysed using arcgis software. Based on the results of the analysis, it is known that the environment of Bengkulu University as a whole has 3 classes of hazard zones including high hazard class, medium hazard class, and low hazard class.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journalfkipunipa.org/index.php/kpej/article/download/517/345

Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic System in Bengkulu University's Environment

Kasuari: Physics Education Journal 7(1) (2024) 119-129 P-ISSN: 2615-2681 E-ISSN: 2615-2673 Kasuari: Physics Education Journal (KPEJ) Universitas Papua Web: http://jurnal.unipa.ac.id/index.php/kpej Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic System in Bengkulu University's Environment Umaya1*, Afrizal Mayub1, Henny Johan1, Muchammad Farid2, Rendy Wikrama Wardana1 1 Pascasarjana S2 Pendidikan IPA, FKIP, Universitas Bengkulu 2 S1 Geofisika, FMIPA, Universitas Bengkulu *Corresponding author: Abstract: Bengkulu University is located in the coastal area precisely in Muara Bangka Hulu sub-district of Bengkulu City, which is one of the sub-districts bordering the coastline. Areas or regions bordering the coastline have a higher level of tsunami hazard compared to areas or regions far from the coastline. The marking of the evacuation point area in the Bengkulu University environment has not adjusted to the disaster mitigation parameters. The purpose of this research is to analyse and map the tsunami hazard class at Bengkulu University in a preventive mitigation effort as well as a consideration for future policies. Primary data measurements used Geodetic GPS devices and were analysed using GAMIT and GLOBK 10.6 software. While secondary data obtained from geospatial information agencies and DEMNAS were analysed using arcgis software. Based on the results of the analysis, it is known that the environment of Bengkulu University as a whole has 3 classes of hazard zones including high hazard class, medium hazard class, and low hazard class. Keywords: Bengkulu University, GPS-Geodetic, tsunami hazard class mapping Pemetaan Kelas Bahaya Tsunami menggunakan Global Positioning System Geodetic di Lingkungan Universitas Bengkulu Abstrak: Universitas Bengkulu berada di daerah pesisir pantai tepatnya di Kec. Muara Bangka Hulu Kota Bengkulu, merupakan salah satu kecamatan yang berbatasan dengan garis pantai. Daerah atau wilayah yang berbatasan dengan garis pantai memiliki tingkat bahaya tsunami lebih tinggi dibandingkan dengan daerah atau wilayah yang jauh dari garis pantai. Penandaan daerah titik evakuasi yang ada di lingkungan Universitas Bengkulu belum menyesuaikan dengan parameter mitigasi bencana. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu menganalisis serta melakukan pemetaan kelas bahaya tsunami di Lingkungan Universitas Bengkulu dalam upaya mitigasi secara preventif serta bahan pertimbangan pada kebijakan di masa depan. Pengukuran data primer menggunakan alat GPS Geodetik dan dianalisis menggunakan software GAMIT dan GLOBK 10.6. Sedangkan data sekunder diperoleh dari badan informasi geospasial dan DEMNAS dianalisis menggunakan software arcgis.. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa lingkungan Universitas Bengkulu secara menyeluruh mempunyai 3 kelas zona bahaya meliputi kelas bahaya tinggi, kelas bahaya sedang, dan kelas bahaya rendah. Kata kunci: GPS-Geodetik, pemetaan kelas bahaya tsunami, Universitas Bengkulu PENDAHULUAN Provinsi Bengkulu yang terletak di Indonesia memiliki kerentanan yang signifikan terhadap bencana tsunami, terkhusus kota Bengkulu. Kota Bengkulu berada di pantai Barat Sumatera, memiliki garis pantai yang membentang sepanjang kurang lebih 525 km. Berdasarkan susunan geologisnya, wilayah Bengkulu terletak tepat di atas zona subduksi 119 Kasuari: Physics Education Journal 7(1) (2024) 119-129 P-ISSN: 2615-2681 E-ISSN: 2615-2673 tempat pertemuan Lempeng Eurasia serta Indo-Australia, yang mengakibatkan pergerakan tahunan sebesar 4 hingga 6 cm. Pertemuan lempeng tersebut menyebabkan potensi tinggi terjadinya gempa bumi dan tsunami (Naryanto, 2019). Berdasarkan data BMKG tahun 2018, Bengkulu pernah mengalami gelombang tsunami berkali-kali sepanjang sejarah, diawali dengan gempa berkekuatan 7,0 SR pada tanggal 18 Maret 1818. Selanjutnya pada tanggal 29 Januari serta 24 November 1833 terjadi gempa dengan kekuatan 8,2 SR sehingga memicu terjadinya tsunami. Tsunami terjadi lagi pada tanggal 21 April 1958 disebabkan karna gempa dengan kekuatan 6,5 SR, serta terakhir terjadi pada tanggal 29 September 2007 dengan gempa berkekuatan 8,4 SR (Fachri et al., 2022). Seringnya terjadi bencana gempa bumi dan tsunami menjadi tanda bahwa Bengkulu ialah wilayah yang rentan bencana alam tsunami. Ancaman yang tinggi terhadap bencana alam tsunami di kota Bengkulu ternyata belum dibarengi dengan kesiapsiagaan yang baik. Pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah) kota Bengkulu tahun 2019–2023 dinyatakan bahwa kota Bengkulu belum siap secara optimal dalam menghadapi bencana tsunami. Terdapat beberapa alasan yang membelakangi hal tersebut, seperti rendahnya pengetahuan masyarakat tentang peringatan dini tsunami, koordinasi yang kurang antara masyarakat dan pemerintah terkait tsunami, dan kurangnya informasi serta data kebencanaan yang mutakhir. Akibatnya, jika tsunami terjadi, wilayah pesisir kota Bengkulu akan mengalami kerusakan paling parah dengan tingkat ancamannya paling tinggi. Dengan tingginya tingkat ancaman serta kesiapsiagaan bencana yang belum optimal di wilayah pesisir kota Bengkulu, maka diperlukan langkah-langkah penanggulangan bencana. Berdasarkan hasil observasi langsung, Universitas Bengkulu yang berada pada wilayah pesisir pantai tepatnya pada Kec. Muara Bangka Hulu Kota Bengkulu. Kecamatan Muara Bangka Hulu yaitu salah satu kecamatan yang berbatasan dengan garis pantai. Wilayah atau daerah yang berbatasan garis pantai mempunyai bahaya tsunami lebih tinggi apabila dibandingkan wilayah atau daerah yg jauh dari garis pantai (Naryanto, 2019). Ditambah lagi belum adanya bukit-bukit atau penghalang (barrier) di sekitaran pantai yang dapat meredam laju tsunami akan membuat ancaman tsunami jauh lebih besar apabila dibandingkan pada wilayah yang telah memiliki bukit-bukit atau penghalang (barrier). Tamtanan struktur bangunan dengan berbagai dimensi perhitungan baik secara horizontal maupun vertikal yang seimbang dapat menciptakan bangunan teroptimalkan untuk menahan arus gelombang laut (Keban et al., 2023). Kurang optimalnya bukit-bukit penghalang atau barrier di sekitaran pantai, serta kurangnya ekosistem mangrove yang dapat menahan laju arus tsunami secara alami. Berdasarkan data yang didapat dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam, posisi hutan mangrove di pesisir pantai panjang hingga pulau baai tedapat seluas 91,13 ha, dimana ada 5 jenis mangrove yang tersebar antara lain Sonneratia sp, Rhizophora sp, Avicennia marina, Lumnitzera dan Bruguriera. Tanaman mangrove ini tersebar secara tidak merata, terkhusus di kecamatan Muara Bangka Hulu yang hanya terdapat beberapa pohon saja sehingga hal tersebut tidak optimal dalam menahan arus gelombang laut. Sejalan dengan pendapat (Asy’ari et al., 2022) ekosistem mangrove membentuk penghalang alami untuk daerah pesisir, menghalangi arus ombak, hujan serta angin, serta secara alami meredam gelombang tsunami dan melindungi garis pantai dari pengikisan. Mangroves can defend the coast from incoming wa (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journalfkipunipa.org/index.php/kpej/article/download/517/345
Article home page: http://journalfkipunipa.org/index.php/kpej/article/view/517/345

Umaya Umaya, Mayub Afrizal, Johan Henny, Farid Muchammad, Wardana Rendy Wikrama. Class Mapping of Tsunami's Risk using Global Positioning Geodetic System in Bengkulu University's Environment, Kasuari: Physics Education Journal (KPEJ), 2024, pp. 119-129,