PERSEPSI TAMPILAN PEWARNAAN HIDANGAN AKIBAT TEMPERATUR WARNA CAHAYA DAN DAMPAKNYA PADA SELERA BERSANTAP DI CAFE
AKSEN : Journal of Creative Industry 9 (1)
October 2024, 30-45 AKSEN
Vol.9 no.1 Oktober 2024
DOI : 10.37715/aksen.v9i1.4391
aksen
P-ISSN : 2477-2593
E-ISSN : 2477 -2607
PERSEPSI TAMPILAN PEWARNAAN HIDANGAN AKIBAT
TEMPERATUR WARNA CAHAYA DAN DAMPAKNYA PADA SELERA
BERSANTAP DI CAFE
a
Leonardoa, Yuma Chandraherab, Shirly N. Suhanjoyoc
Prodi Arsitektur, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha , Bandung, Indonesia
b/c
Prodi Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha Indonesia
Alamat surat menyurat: a
Received: 22 May 2024 Revised: 13 August 2024 Accepted: 26 August 2024
How to Cite: Leonardo, et al (2024). Persepsi Tampilan Pewarnaan Hidangan Akibat Temperatur Warna Cahaya dan
Dampaknya pada Selera Bersantap di Café.
AKSEN: Journal of Design and Creative Industry, 9 (1), halaman 30-45.
https:10.37715/aksen.v9i1.4391
ABSTRACT
Correlated Color Temperature/CCT from artificial lighting in casual dining area at cafés is used to guide visitors visual
perception through the interior atmosphere and dish display when served. Its visual impact triggers a non-visual
response in the form of the visitors perception to rise appetite. This research aims to see the strength of causal
relationship between perception of the dish display and the appetite for dining. A descriptive approach is used through
questionnaire to examine the magnitude of this relationship using simple linear regression. The results show that the
clarity of the dish display impact strongly on visitors perception on dish display (R Square 87.81%). Then, perception
on dish display gives strong impact on appetite (R Square 87%). This research concludes that neutral CCT preferences
give higher impact on dining appetite since the perception on the dish display has previously evaluated positive.
Keywords: Ccorrelated color temperature,non-visual lighting impact visual impact, visual perception, non-visual
response
ABSTRAK
Temperatur warna cahaya (Correlated Color Temperature/CCT) pencahayaan buatan dalam area santap di kafe
dimanfaatkan untuk menggiring persepsi visual pengunjung melalui suasana interior dan tampilan objek hidangan saat
akan bersantap. Dampak visual tampilan objek hidangan memicu respons non-visual berupa persepsi pengunjung dan
mampu memunculkan keinginan/selera bersantap. Tujuan riset ini adalah untuk melihat besar hubungan kausal antara
persepsi terhadap objek hidangan dan selera bersantap. Pendekatan deskriptif melalui kuesioner dipakai menelaah
besar hubungan tadi dengan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan bahwa kejelasan objek hidangan berdampak
kuat pada tampilan hidangan (R Square 87.81%), dan tampilan hidangan berdampak kuat pada selera (R Square
87%). Riset ini menyimpulkan bahwa preferensi CCT netral lebih besar dampaknya pada selera bersantap karena
kesan tampilan objek hidangan sudah terlebih dahulu dinilai positif.
Kata Kunci: Dampak non-visual, dampak visual, cahaya, persepsi visual, respons non-visual,temperatur warna
30
Leonardo, Chandrahera, Suhanjoyo
Persepsi Tampilan Pewarnaan Diangan Akibat Temperatur Warna Cahaya Dan Dampaknya
Pada Selera Bersantap Di Cafe
PENDAHULUAN
Kebiasaan bersantap di luar rumah adalah hal
yang lumrah dan sudah menjadi bagian dari
gaya hidup dan bahkan tren di masa kini. Gaya
hidup tersebut sudah meluas menjadi bagian
dari kehidupan bersosialisasi sambil menikmati
suasana tertentu di samping menikmati hidangan
pilihan mereka (Khan, 2020). Hal ini pun
didorong oleh tuntutan pekerjaan yang memiliki
beban tinggi, serba cepat, dan waktu yang ketat
(Robson, 2016). Dinamika gaya hidup itu tentu
sudah dipahami benar oleh pengusaha kafe atau
restoran kasual (Kusumawati, 2020). Banyak
fasilitas santap publik seperti itu yang berlombalomba untuk menawarkan ‘kenyamanan’ dengan
caranya tersendiri dan unik demi kepuasan
pelanggan, dan tentunya mereka mengharapkan
kunjungan berulang dan berkala sehingga pada
akhirnya akan berdampak pada pendapatan
yang menguntungkan usahanya.
Pengalaman bersantap yang memuaskan
bagi pelanggan merupakan tujuan utamanya,
namun untuk mencapainya tidak cukup hanya
dengan menyajikan sederet menu yang
diunggulkan. Diperlukan upaya lebih dari itu,
maka tidak heran kenyamanan visual bagi
pengunjung sangat diutamakan sebagai cara
untuk menarik perhatian dan memanjakan mata
mereka. Kenyamanan tersebut didesain dengan
menciptakan suasana tempat bersantap yang
dapat dinikmati pengunjung untuk mendukung
pengalaman bersantap secara utuh. Mulai luar
saat memasuki bangunan, seluruh interior hingga
tiba di ruangan bersantap yang dipilih, serta
akhirnya pada lingkup visual yang spesifik di
atas dan sekitar meja bersantap. Tentu saja ada
banyak pendekatan yang dapat dimanfaatkan
untuk membuat rangkaian kenyamanan visual
tercapai. Suasana interior yang didesain kondusif
baru akan dapat mendukung pengalaman
bersantap dengan adanya tata cahaya. Di sisi
lain pengalaman bersantap yang memuaskan
tidak hanya berasal dari sajian yang disantap dan
sulit dinikmati tanpa pengondisian lingkungan
visual yang mendukung penglihatan pelanggan.
Secara umum, salah satu unsur desain yang
kuat digunakan sebagai pendekatan untuk dapat
memengaruhi kenyamanan visual pengunjung
adalah melalui pengondisian pencahayaan
yang terlihat dari suasana interior yang tercipta.
Jika diterapkan secara tepat, pencahayaan
mampu memperbaiki mood negatif (Hsieh,
2015) dan memicu munculnya emosi positif
pada pengunjung (Duman, 2020), (Agbenyegah,
2022), (Shahidi, 2021).
Temperatur warna cahaya (Correlated Color
Temperature / CCT) merupakan salah satu
unsur intrinsik cahaya yang berperan sangat
penting dalam pengondisian pencahayaan
interior. CCT dapat memberikan dampak nonvisual secara psikologis pada manusia, yaitu
menggugah atensi seperti yang diungkapkan
Lin (2015). Pewarnaan lingkungan visual oleh
pencahayaan mampu menggiring persepsi
pengunjung pada tampilan makanan, bahkan
hingga mampu menggugah keinginan dan
31
aksen Vol.9 no.1 Oktober 2024
akhirnya berselera untuk mulai bersantap (Yang,
2015), (Wang, 2021), (Cornelio, 2022).
Berkaitan dengan hal tersebut, lampu pabrikan
dengan spesifikasi teknis ber-CCT rendah sudah
sering digunakan pada desain tata cahaya interior
area bersantap untuk membangun suasana yang
memberikan kesan hangat, dan diselaraskan
pula dengan pemilihan material interiornya (BV,
2018). Pada riset lainnya, penggunaan CCT
yang cenderung netral lebih dapat diterima
oleh pengunjung saat melihat objek lukisan di
museum (Feltrin, 2020), hal ini penting diperlukan
agar mereka dapat mengamati tampilan warna
sebenarnya yang dimunculkan dari lukisan
tersebut secara visual. Pada sisi non-visual,
banyak riset mengenai CCT (Chen, 2022) yang
telah menunjukkan betapa pentingnya pengaruh
CCT secara psikologis pada mood karena mood
selanjutnya mampu memengaruhi pengambilan
keputusan dan tindakan seseorang. Sementara
itu, masih sedikit riset yang tidak dilakukan
pada situasi nyata, melainkan terkontrol dan
terkondisikan, pad (...truncated)