MEDAN MAKNA KATA “TAJATUAH”
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK – Vol 8 No 1 April 2017, (29 – 39)
p ISSN 2089-8746, e ISSN 2302-7142
MEDAN MAKNA KATA “TAJATUAH”
Sucy Kurnia Wati
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
ABSTRACT
This paper aims to analyze and describe the field of meaning of the word “tajatuah”. Data are analyzed using
the matching method and the method used.
It can be concluded that the words that include the field of meaning of the word “tajatuah” are “tumbang, tagolek,
tarambau, taguliang, taserak, tajungkek, tadorong, talapeh, tasungkua, rabah, balambin, taampeh, taambua,
badabuak, taduduak, tasanduang, tatungkai, tatunggik , tasialia, tajilapak, tapaleset, tagalincia, tajirangkang,
tataruang, tatilantang, tagurajai, tatungkuik, luruah, roboh, rontok, runtuah, tabantiang, tabuang, tacampak,
lareh” and “taambuang”.
It can be concluded, the word “tajatuah” includes the types of lexical meanings, contextual meanings, associative
meanings, idiomatic meanings, and proverbs. Based on the classification of the field of tajatuah there are (1) the
basic meaning and additional meaning, (2) the value of taste, (3) the prevalence of usage and (4) the distribution.
Keywords: meaning field, tajatuah, Minangkabau.
PENGANTAR
Salah satu dari unsur kebudayaan yang ada yaitu bahasa. Dengan bahasa, seseorang dapat menyampaikan
ide, maksud dan kehendaknya kepada orang lain. Salah satu bahasa yang ada di Nusantara adalah bahasa
Minangkabau. Saat ini, bahasa Minangkabau berfungsi secara intens dalam kehidupan masyarakat sebagai alat
komunikasi. Selain itu, bahasa Minangkabau juga berfungsi sebagai lambang identitas daerah yang secara
Nasional ikut memperkaya khasanah kebudayaan Indonesia.
Medan makna kata tajatuah atau ‘terjatuh’ seara umum memiliki makna terjatuh secara tiba-tiba atau
tidak sengaja. Kata dasar terjatuh yaitu ‘jatuh’, yang artinya terlepas dan turun ke bawah dengan cepat baik ketika
masih dalam gerakan turun maupun sudah sampai ke tanah.
Kajian terhadap medan makna telah banyak dilakukan, namun demikian belum ditemukan adanya kajian
terhadap kata tajatuah ini. Yandi (Yandi, Susilo, & Hanye, 2014) menganalisis medan makna kata makan bahasa
Melayu dialek Sambas dan menemukan 22 leksem verba makan yang memiliki medan makna, komponen makna,
jenis makna, dan fungsi semantis. Medan makna kata membawa dalam bahasa Melayu dialek Sintang dikaji oleh
Perwitosari (Perwitosari, Sulissusiawan, & Susilo, 2014) yang menemukan medan makna verba membawa dalam
bahasa Melayu dialek Sintang terdiri dari membawa tanpa alat maupun membawa tanpa menggunakan alat dan
membawa yang berada di darat, air, maupun udara. Jenis makna verba membawa dalam bahasa Melayu dialek
Sintang terdiri dari makna leksikal, makna gramatikal, makna kolokatif, dan makna afektif. Junita (Junita, Amir,
& Syahrani, 2016) menemukan 40 leksem verba memotong menggunakan alat dan 7 leksem verba memotong
tidak menggunakan alat. Jenis makna yang ditemukan 47 makna leksikal, 9 bidang makna kolokatif, 47 makna
gramatikal, dan 47 fungsi semantic dalam medan makna verba memotong dalam Bahasa Dayak Kanayatn Dialek
Banana? /Ahe.
29
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK – Vol 8 No 1 April 2017, (29 – 39)
p ISSN 2089-8746, e ISSN 2302-7142
Kajian lain terhadap medan makna kata adalah kajian Endang (Endang, Hanye, & Susilo, 2013) terhadap
medan makna verba mengambil dalam Bahasa Dayak Banyadu. Endang menemukan bahwa verba mengambil
dalam bahasa dayak Banyadu ada dua yaitu mengambil menggunakan alat dan mengambil tanpa alat. Karmila
(Karmila, Hanye, & Susilo, 2013) mengkaji medan makna verba berjalan bahasa Melayu dialek Ngabang yang
digunakan oleh masyarakat Melayu Kecamatan Ngabang dan menemukan bahwa medan makna verba berjalan
Bahasa Melayu Dialek Ngabang memiliki komponen makna, jenis makna dan fungsi makna.
Di samping verba, medan makna rasa juga menjadi pusat perhatian kajian kebahasaan. Asmani (Asmani,
2016) mengkaji medan makna rasa dalam Bahasa Bajo dan menemukan bahwa berdasarkan konsepnya, leksemleksem yang mengandung medan makna rasa dalam bahasa Bajo tidak selalu dapat diungkap dengan sebuah
leksem, atau dalam hal ini diungkapkan dengan leksem Ø (zero atau kosong). Dan, leksem-leksem Ø ini,
cenderung mengisi posisi atau lokasi yang menjadi superordinat dan subordinat. Pengelompokkan leksem-leksem
pengungkap rasa dalam bahasa Bajo, didasari ciri semantik umum yang sama. Sementara itu, medan makna rasa
bahasa Moronene menjadi kajian Dakuku (Dakuku, 2016). Dakuku menemukan bahwa berdasarkan konsepnya,
leksem-leksem yang mengandung medan makna rasa bahasa Moronene tidak selalu diungkapkan dengan sebuah
leksem, atau dalam hal ini leksem Ø (zero atau kosong) dan leksem-leksem Ø ini, mengisis posisi atau lokasi yang
menjadi superordinat dan subordinat dalam objek kajiannya tersebut. Penellitian lain dilakukan oleh Harianja
(Harianja, 2014) terhadap medan makna aktivitas memasak (membakar) dalam bahasa Perancis, dan Firmansyah
(Firmansyah, Sulissusiawan, & Amir, 2014) terhadap Medan makna peralatan prosesi adat perkawinan Melayu
Sambas.
Pemilihan medan makna kata tajatuah dalam bahasa Minangkabau sebagai objek penelitian ini
berdasarkan atas alasan-alasan. Penulis berusaha menemukan variasi-variasi kata yang terdapat pada kata tajatuah
tersebut karena kata tajatuah sebagaimana diketahui mempunyai banyak variasi kata dan kata tajatuah tidak hanya
untuk manusia saja tetapi ada untuk tumbuhan, hewan, benda mati dan sebagainya.
KERANGKA PEMIKIRAN
Berdasarkan jenis semantiknya makna dibedakan menjadi dua yaitu makna leksikal dan kontekstual.
Makna leksikal terdiri dari makna konseptual dan asosiatif. Sedangkan, makna kontekstualnya terdiri dari makna
gramatikal dan tematik (Prawirasumantri, 1998). Makna leksikal disebut juga lexical meaning, semantic meaning
dan external meaning adalah makna yang terdapat pada kata yang berdiri sendiri (terpisah dari kata yang lain),
baik dalam bentuk dasar maupun dalam bentuk kompleks atau turunan, dan makna yang ada relatif tetap seperti
apa yang dapat kita lihat di dalam kamus. Leksikal adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina
leksikon (vokabuler, kosakata, perbendaharaan kata). Satuan-satuan dari leksikon adalah kata, yaitu satuan bentuk
bahasa yang bermakna. Makna leksikal dapat diartikan pula sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat
leksem, atau bersifat kata. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna
yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Dapat ditarik kesimpulan bahwa makna leksikal dari suatu
kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan oleh kata itu dan dapat dilihat
dalam kamus.
Makna gramatikal (gramatikal meaning, functional meaning, structural meaning) adalah makna yang
muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata dalam kalimat, misalnya kata mata mengandung makna leksikal
30
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK – Vol 8 No 1 April 2017, (29 – 39)
p ISSN 2089-8746, e ISSN 2302-7142
berupa alat at (...truncated)