FONOLOGI BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF
Fonologi Bahasa Minangkabau ...
FONOLOGI BAHASA
MINANGKABAU:
KAJIAN TRANSFORMASI
GENERATIF
Rona Almos
Abstract
Regional language spoken in the archipelago according to the national
language policy serves as one of the elements of national culture and
protected by the state. One of the local languages in Indonesia is the
language of Minangkabau. The paper focuses on two issues: 1) how the
realization of the original segment morphemes Minangkabau language?,
2) how the processes and phonological rules Minangkabau language?
Phonemic, Minangkabau language has five vowels segments, namely / a, i, u, e,
o /. However, phonetic, Minangkabau language has nine vowels because vowels /
a, i, u, e, and o / experience the relaxation process each has allophones [I, U, ε, ɔ].
In phonemic consonant number of Minangkabau origin amounted to 18
pieces / p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ,, w, y / , but phonetically
Minangkabau language has 19 consonants sound, example; p,
b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ, ʔ, w, y /. Thus, the number of
segments in the Minangkabau language vowels and consonants both
phonemically is 23 pieces, while as many as 28 segments phonetically.
To explain the changes that occur from the realization of phonemic to phonetic,
phonology rules would require eight. Eighth phonology rules include: (1) vocal
loosening rules, (2) rule "pelesapan" consonant / h /, (3) rules "pelesapan"
resonant sounds / p, t, k, s, c /, (4) additional rules semivokal / w / and / y /,
(5) the addition rule consonants / l /, (6) the addition rule consonants / r /, (7)
changes in the rules of the consonant / h /, and (8) rule changes kosonan / k/
Keywords: phonem, alophone, rules
Pendahuluan
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipakai untuk mengungkapkan
pikiran dan perasaaan. Bahasa tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena bahasa
selalu mengikuti setiap aktifitasnya. Samsuri (1987:3) mengatakan bahwa bahasa
WACANA
ETNIK Vol.
3 No.2
- 143
WACANA ETNIK, Jurnal Ilmu Sosial
dan Humaniora.
ISSN
2098-8746.
Volume 3, Nomor 2, Oktober 2012. Halaman 143 - 163.
Padang: Pusat Studi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PSIKM)
dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas
Rona Almos
erat hubungannya dengan pemakai bahasa, karena bahasa merupakan alat yang
paling vital bagi kehidupan manusia. Lebih lanjut Samsuri mengatakan bahwa
fungsi bahasa adalah sebagai alat yang dipakai untuk membentuk pikiran, perasaan,
keinginan, dan perbuatan. Bahasa juga merupakan alat untuk mempengaruhi
manusia. Dari uraian di atas tampaklah bahwa bahasa adalah dasar utama yang
paling berakar pada manusia.
Masyarakat Indonesia pada umumya masyarakat yang dwibahasawan,
sekurang-kurangnya mengenal dua bahasa. Pertama bahasa daerah atau bahasa
ibu, sedangkan yang kedua adalah bahasa Indonesia (Samsuri, 1987:56).
Keanekaragaman bahasa daerah mencerminkan kekayaan budaya nasional, maka
sangat penting dijaga dan dilestarikan di tengah masyarakat penuturnya.
Bahasa daerah yang dipakai di wilayah nusantara menurut politik bahasa
nasional berkedudukan sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional dan dilindungi
oleh negara. Salah satu di antara bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah
bahasa Minangkabau. Hingga saat ini bahasa Minangkabau tetap dapat bertahan
dari derasnya pengaruh bahasa lain terutama bahasa Indonesia. Keberadaan bahasa
Minangkabau yang tetap bertahan tidak lepas dari pengaruh sikap dan perilaku
penuturnya.
Peranan bahasa Minangkabau sebagai sarana ilmu, sastra, dan ungkapan
budaya hanya terbatas dalam ligkup kebudayaan dan adat Minangkabau saja.
Numun, jika kita lihat banyak sastrawan Indonesia yang berasal dari Minangkabau,
hal ini memungkinkan bahasa Minangkabau mempunyai pengaruh yang cukup
besar terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia (Ayub dkk, 1993: 15).
Mengingat betapa pentingnya bahasa Minangkabau ini, maka segala aspek
kebahasaanya patut diperikan. Patut pula diakui bahwa penelitian mengenai bahasa
Minangkabau telah sering dilakukan, baik dalam objek kajian mikro maupun makro.
Salah satu diantaranya adalah aspek fonologi. Seperti penelitian yang dilakukan
Erna Fitri (2001) yang meneliti fonologi bahasa Minangkabau di Sawah Lunto
Sijunjung, dengan menggunakan teori struktural. Oleh sebab itu makalah sederhana
ini akan melihat fonologi berdasarkan pendekatan transformasi generatif.
Bertolak dari latar belakang di atas, maka masalah yang dikaji dirumuskan
dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana realisasi segmen asal dari morfem-morfem bahasa Minangkabau?
2. Bagaimana proses-proses dan kaidah-kaidah fonologi bahasa Minangkabau?
Penelitian terhadap bahasa Minangkabau bukanlah penelitian yang pertama
kali dilakukan. Penelitian terhadap bahasa Minangkabau yang telah dilakukan
oleh peneliti sebelumnya khususnya membicarakan masalah fonologi masih bisa
144 - WACANA ETNIK Vol. 3 No.2
Fonologi Bahasa Minangkabau ...
ditindak lanjuti. Penelitian yang dilakukan terdahulu baru pada tahap pendeskripsian
fonem dan pola persukuan. Masalah perubahan bunyi, serta kaidah-kaidah fonologi
belum dibicarakan. Disamping itu penelitian terdahulu menggunakan pendekatan
struktural, sedangkan dalam makalah ini menggunakan teori transformasi generatif.
Dengan menggunakan pendekatan dan teori yang berbeda, sudah tentu hasil yang
dicapai juga berbeda.
Menurut Fitri (2001) jumlah bunyi konsonan bahasa Minangkabau di Sawah
Lunto Sijunjung adalah sebanyak 17 buah segmen konsonan asal yaitu /p/, /b/, /t/, /d/,
/c/, /j/ ,/k/, /g/, /s/, /m/, /n/, /ñ/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/ , dan secara fonemis ditemukan
lima buah segmen asal voka yaitu /a, i, u, e, dan o/. Namun secara fonetis empat
buah segmen asal mengalami pengenduran yaitu /I, U, ε, dan ɔ/ . Dengan demikian
terdapat 9 segmen vokal. Dalam makalah ini ditemukan 19 segmen konsonan asal
dan 9 segmen vokal asal bahasa Minangkabau. Hasil penelitian Fitri mengatakan
bunyi glotal frikatif tak bersuara ([h]) dan bunyi glotal hambat tak bersuara ([ʔ])
tidak digunakan oleh masyarakat Minangkabau di Sawah Lunto Sijunjung.
Penelitian yang serupa juga pernah dilakukan, antara lain oleh I Wayan
Pastika (1990) terhadap bahasa Bali, dan pada tahun 1991 oleh Nyoman Suparsa
terhadap bahasa Sasak Dialek Aga. Antara penelitian Pastika dan Suparsa hampir
terdapat kesamaan dari segi pendekatan teori, dan metode yang diterapkan; samasama menggunakan pendekatan Transformasi Generatif. Walaupun demikian, hasil
dicapai berbeda-beda karena perbedaan tempat dan bahasa yang dijadikan objek
penelitian.
Fonem adalah suatu bunyi yang terkecil yang mampu menujukan kontras
makna (Kridalaksana, 2001: 55), dari definisi ini fonem pada dasarnya adalah
bunyi. Juga seperti bunyi, fonem juga diproduksi alat ucap dan kemudian terdengar
sebagai bunyi. Jadi tidak ada beda antara keduanya.
Pada data yang terdiri dari bunyi yang sama kecuali satu bunyi saja yang
berbeda, perbedaan yang satu bunyi ini mampu membedakan makna. Bunyi
inilah yang dicatat sebagai fonem. Di bawah ini dib (...truncated)