FONOLOGI BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF

Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, Oct 2012

Regional language spoken in the archipelago according to the national language policy serves as one of the elements of national culture and protected by the state. One of the local languages in Indonesia is the language of Minangkabau. The paper focuses on two issues: 1) how the realization of the original segment morphemes Minangkabau language?, 2) how the processes and phonological rules Minangkabau language? Phonemic, Minangkabau language has five vowels segments, namely / a, i, u, e, o /. However, phonetic, Minangkabau language has nine vowels because vowels / a, i, u, e, and o / experience the relaxation process each has allophones [I, U, ε, ɔ]. In phonemic consonant number of Minangkabau origin amounted to 18 pieces / p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ,, w, y / , but phonetically Minangkabau language has 19 consonants sound, example; p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ, ʔ, w, y /. Thus, the number of segments in the Minangkabau language vowels and consonants both phonemically is 23 pieces, while as many as 28 segments phonetically. To explain the changes that occur from the realization of phonemic to phonetic, phonology rules would require eight. Eighth phonology rules include: (1) vocal loosening rules, (2) rule "pelesapan" consonant / h /, (3) rules "pelesapan" resonant sounds / p, t, k, s, c /, (4) additional rules semivokal / w / and / y /, (5) the addition rule consonants / l /, (6) the addition rule consonants / r /, (7) changes in the rules of the consonant / h /, and (8) rule changes kosonan / k/

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://wacanaetnik.fib.unand.ac.id/index.php/wacanaetnik/article/download/33/38

FONOLOGI BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF

Fonologi Bahasa Minangkabau ... FONOLOGI BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF Rona Almos Abstract Regional language spoken in the archipelago according to the national language policy serves as one of the elements of national culture and protected by the state. One of the local languages in Indonesia is the language of Minangkabau. The paper focuses on two issues: 1) how the realization of the original segment morphemes Minangkabau language?, 2) how the processes and phonological rules Minangkabau language? Phonemic, Minangkabau language has five vowels segments, namely / a, i, u, e, o /. However, phonetic, Minangkabau language has nine vowels because vowels / a, i, u, e, and o / experience the relaxation process each has allophones [I, U, ε, ɔ]. In phonemic consonant number of Minangkabau origin amounted to 18 pieces / p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ,, w, y / , but phonetically Minangkabau language has 19 consonants sound, example; p, b, t, d, c, j, k, g, r, l, s, h, m, n, ŋ, ñ, ʔ, w, y /. Thus, the number of segments in the Minangkabau language vowels and consonants both phonemically is 23 pieces, while as many as 28 segments phonetically. To explain the changes that occur from the realization of phonemic to phonetic, phonology rules would require eight. Eighth phonology rules include: (1) vocal loosening rules, (2) rule "pelesapan" consonant / h /, (3) rules "pelesapan" resonant sounds / p, t, k, s, c /, (4) additional rules semivokal / w / and / y /, (5) the addition rule consonants / l /, (6) the addition rule consonants / r /, (7) changes in the rules of the consonant / h /, and (8) rule changes kosonan / k/ Keywords: phonem, alophone, rules Pendahuluan Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipakai untuk mengungkapkan pikiran dan perasaaan. Bahasa tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena bahasa selalu mengikuti setiap aktifitasnya. Samsuri (1987:3) mengatakan bahwa bahasa WACANA ETNIK Vol. 3 No.2 - 143 WACANA ETNIK, Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. ISSN 2098-8746. Volume 3, Nomor 2, Oktober 2012. Halaman 143 - 163. Padang: Pusat Studi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PSIKM) dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas Rona Almos erat hubungannya dengan pemakai bahasa, karena bahasa merupakan alat yang paling vital bagi kehidupan manusia. Lebih lanjut Samsuri mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat yang dipakai untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatan. Bahasa juga merupakan alat untuk mempengaruhi manusia. Dari uraian di atas tampaklah bahwa bahasa adalah dasar utama yang paling berakar pada manusia. Masyarakat Indonesia pada umumya masyarakat yang dwibahasawan, sekurang-kurangnya mengenal dua bahasa. Pertama bahasa daerah atau bahasa ibu, sedangkan yang kedua adalah bahasa Indonesia (Samsuri, 1987:56). Keanekaragaman bahasa daerah mencerminkan kekayaan budaya nasional, maka sangat penting dijaga dan dilestarikan di tengah masyarakat penuturnya. Bahasa daerah yang dipakai di wilayah nusantara menurut politik bahasa nasional berkedudukan sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional dan dilindungi oleh negara. Salah satu di antara bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah bahasa Minangkabau. Hingga saat ini bahasa Minangkabau tetap dapat bertahan dari derasnya pengaruh bahasa lain terutama bahasa Indonesia. Keberadaan bahasa Minangkabau yang tetap bertahan tidak lepas dari pengaruh sikap dan perilaku penuturnya. Peranan bahasa Minangkabau sebagai sarana ilmu, sastra, dan ungkapan budaya hanya terbatas dalam ligkup kebudayaan dan adat Minangkabau saja. Numun, jika kita lihat banyak sastrawan Indonesia yang berasal dari Minangkabau, hal ini memungkinkan bahasa Minangkabau mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia (Ayub dkk, 1993: 15). Mengingat betapa pentingnya bahasa Minangkabau ini, maka segala aspek kebahasaanya patut diperikan. Patut pula diakui bahwa penelitian mengenai bahasa Minangkabau telah sering dilakukan, baik dalam objek kajian mikro maupun makro. Salah satu diantaranya adalah aspek fonologi. Seperti penelitian yang dilakukan Erna Fitri (2001) yang meneliti fonologi bahasa Minangkabau di Sawah Lunto Sijunjung, dengan menggunakan teori struktural. Oleh sebab itu makalah sederhana ini akan melihat fonologi berdasarkan pendekatan transformasi generatif. Bertolak dari latar belakang di atas, maka masalah yang dikaji dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana realisasi segmen asal dari morfem-morfem bahasa Minangkabau? 2. Bagaimana proses-proses dan kaidah-kaidah fonologi bahasa Minangkabau? Penelitian terhadap bahasa Minangkabau bukanlah penelitian yang pertama kali dilakukan. Penelitian terhadap bahasa Minangkabau yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya khususnya membicarakan masalah fonologi masih bisa 144 - WACANA ETNIK Vol. 3 No.2 Fonologi Bahasa Minangkabau ... ditindak lanjuti. Penelitian yang dilakukan terdahulu baru pada tahap pendeskripsian fonem dan pola persukuan. Masalah perubahan bunyi, serta kaidah-kaidah fonologi belum dibicarakan. Disamping itu penelitian terdahulu menggunakan pendekatan struktural, sedangkan dalam makalah ini menggunakan teori transformasi generatif. Dengan menggunakan pendekatan dan teori yang berbeda, sudah tentu hasil yang dicapai juga berbeda. Menurut Fitri (2001) jumlah bunyi konsonan bahasa Minangkabau di Sawah Lunto Sijunjung adalah sebanyak 17 buah segmen konsonan asal yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/ ,/k/, /g/, /s/, /m/, /n/, /ñ/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/ , dan secara fonemis ditemukan lima buah segmen asal voka yaitu /a, i, u, e, dan o/. Namun secara fonetis empat buah segmen asal mengalami pengenduran yaitu /I, U, ε, dan ɔ/ . Dengan demikian terdapat 9 segmen vokal. Dalam makalah ini ditemukan 19 segmen konsonan asal dan 9 segmen vokal asal bahasa Minangkabau. Hasil penelitian Fitri mengatakan bunyi glotal frikatif tak bersuara ([h]) dan bunyi glotal hambat tak bersuara ([ʔ]) tidak digunakan oleh masyarakat Minangkabau di Sawah Lunto Sijunjung. Penelitian yang serupa juga pernah dilakukan, antara lain oleh I Wayan Pastika (1990) terhadap bahasa Bali, dan pada tahun 1991 oleh Nyoman Suparsa terhadap bahasa Sasak Dialek Aga. Antara penelitian Pastika dan Suparsa hampir terdapat kesamaan dari segi pendekatan teori, dan metode yang diterapkan; samasama menggunakan pendekatan Transformasi Generatif. Walaupun demikian, hasil dicapai berbeda-beda karena perbedaan tempat dan bahasa yang dijadikan objek penelitian. Fonem adalah suatu bunyi yang terkecil yang mampu menujukan kontras makna (Kridalaksana, 2001: 55), dari definisi ini fonem pada dasarnya adalah bunyi. Juga seperti bunyi, fonem juga diproduksi alat ucap dan kemudian terdengar sebagai bunyi. Jadi tidak ada beda antara keduanya. Pada data yang terdiri dari bunyi yang sama kecuali satu bunyi saja yang berbeda, perbedaan yang satu bunyi ini mampu membedakan makna. Bunyi inilah yang dicatat sebagai fonem. Di bawah ini dib (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://wacanaetnik.fib.unand.ac.id/index.php/wacanaetnik/article/download/33/38
Article home page: http://wacanaetnik.fib.unand.ac.id/index.php/wacanaetnik/article/view/33/38

Almos Rona FIB Universitas Andalas Padang. FONOLOGI BAHASA MINANGKABAU: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF, Jurnal Elektronik WACANA ETNIK, 2012, pp. 143-163,