Peningkatan Produktivitas Melalui Ergonomic Pop Rice Machine di IKM XYZ Kabupaten Gowa
JATTEC, Vol 3 No 1, Januari 2022: 24-31
Peningkatan Produktivitas Melalui Ergonomic Pop Rice Machine di IKM XYZ
Kabupaten Gowa
Arminas1), Nofias Fajri 2)
Jurusan Teknik Industri Agro/Politeknik ATI Makassar1,2
Jl. Sunu No.220, Suangga, Kec. Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
E-mail:
ABSTRAK
Produktivitas yang rendah merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh berbagai Industri Kecil
Menengah (IKM) di Indonesia. Rendahnya produktivitas IKM disebabkan oleh banyak faktor seperti
(rendahnya kapasitas dan kualitas tenaga kerja, keterbatasan akses kepada modal, energi, teknologi,
informasi dan pengetahuan) menyebabkan IKM sulit untuk menjadi besar atau bertahan pada usaha produktif
dan berkelanjutan. Masalah lain yang dihadapi oleh IKM selain produktivitas adalah tidak efektifnya
teknologi yang dipakai sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pada kesehatan dan keselamatan
pekerja. Pengabdian masyarakat ini dilakukan di salah satu IKM di Kabupaten Gowa. IKM XYZ bergerak
dalam pembuatan bipang. Berbagai permasalahan yang ada di IKM XYZ adalah: Rendahnya kapasitas
produksi, lingkungan kerja yang bising, hal ini disebabkan oleh mesin pembuat pop rice menimbulkan suara
bising imtermiten. Selama proses produksi dibutuhkan energi yang besar untuk memutar mesin yang
mengakibatkan pekerja merasakan keluhan pada bagian otot dan rangka pada tangan. Kegiatan yang
dilakukan dalam pengabdian masyarakat ini adalah: mengidentifikasi permasalahan yang ada di IKM XYZ,
melakukaan telaah permasalahan, membuat rancangan teknis, dan uji coba. Hasil dari pengabdian
masyarakat ini adalah berupa mesin pop rice yang digunakan dalam memproduksi pop rice.
Kata kunci: produktivitas, pop rice, MSDS, ergonomi
ABSTRACT
Low productivity is a classic problem faced by various Small and Medium Industries (SMEs) in Indonesia.
The low productivity of SMEs is caused by many factors such as (low capacity and quality of labor, limited
access to capital, energy, technology, information and knowledge) making it difficult for SMEs to grow large
or survive in productive and sustainable businesses. Another problem faced by SMIs besides productivity is
the ineffectiveness of the technology used, causing various problems in the health and safety of workers. This
community service was carried out in one of the IKM in Gowa Regency. IKM XYZ is engaged in the
manufacture of bipang. Various problems that exist in IKM XYZ are: Low production capacity, noisy work
environment, this is caused by the pop rice making machine causing intermittent noise. During the production
process it takes a lot of energy to rotate the machine which causes workers to feel complaints in the muscles
and skeleton of the hands. The activities carried out in this community service are : identifying problems that
exist in IKM XYZ, conducting problem studies, making technical designs, and testing. The result of this
community service is a pop rice machine used in producing pop rice.
Keyword: productivity, pop rice, MSDS, ergonomic
24
Peningkatan Produktivitas Melalui Ergonomic Pop Rice… (Arminas)
1. Pendahuluan
Industri Kecil Menengah (IKM) merupakan salah satu bentuk dari kegiatan ekonomi informal
yang memberikan dampak sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan serapan tenaga
kerja secara nasional. Pada akhir tahun 2018 tercatat bahwa lebih dari Rp 8500 trilun pada PDB atau
setara 57,8 persen berasal dari IKM. Berdasarkan data Kementrian Tenaga Kerja 64 juta unit usaha
IKM mampu menyerap sebesar 116 juta pekerja atau sekitar 97% dari angkatan kerja nasional
(Kemnaker, 2018). IKM ditengah kondisi pandemi COVID-19 mengalami keterpurukan yang cukup
parah. Berbagai kendala dihadapi selama pandemi COVID 19, mulai dari kesulitan bahan baku,
rendahnya daya beli masyarakat dan diperlakukan pembatasan kegiatan masyarakat membuat kondisi
IKM menjadi semakin parah. Berbagai tantang tersebut dihadapi oleh IKM untuk keluar dari
permasalahan tersebut. Bantuan pemerintah, berupa keringanan pajak, relaksasi pinjaman bank,
memberikan celah bagi IKM untuk tetap eksis ditengah pandemi. Pentingnya peranan IKM pada
signifikansi perekonomian nasional menjadi prioritas dalam pengembangan ekonomi. Strategisnya
peranan IKM serta diikuti oleh kompetisi yang ketat dengan berbagai perusahaan besar membuat
sektor IKM menjadi kurang strategis. Persaingan yang menjadi semakin ketat, IKM harus kreatif
dalam bersaing pada era global (Sasono, dkk, 2014).
Berbagai permasalahan dihadapi oleh IKM menyebabkan proyeksi bisnis IKM menjadi jalan
ditempat. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh IKM adalah rendahnya produktivitas.
Rendahnya produktivitas IKM disebabkan oleh berbagai permasalahan yang ada di IKM. Hal ini
disebabkan oleh produktivitas per unit usaha maupun tenaga kerja. Berbagai kendala yang dihadapi
IKM seperti rendahnya kapasitas dan kualitas sumber daya manusia, keterbatasan akses kepada
sumber daya yang produktif seperti (modal, bahan baku, teknologi, informasi dan pengetahuan).
Kendala-kendala tersebut menyebabkan IKM masih selalu berada pada level usaha mikro atau kecil
dan sulit untuk mencapai usaha besar atau bertahan dengan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Produktivitas yang rendah di IKM merupakan tingkat produksi yang dapat dikerjakan selama per
tahun. Hal ini diakibatkan oleh kinerja IKM yang masih berbasis tradisi dengan sistem yang serba
manual. Menghadapi pasar yang dinamis dan semakin ketat membuat IKM wajib melakukan
perubahan dari berbagai hal. Pengembangan produk, pasar dan teknologi sangat dibutuhkan untuk
menciptakan daya saing yang tinggi. Potensi dalam pengembangan IKM akan dapat menyerap tenaga
kerja sehingga menekan angka pengangguran dan kemiskinan. IKM memiliki potensi yang besar
untuk dikembangkan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki baik sumber daya alam,
sumber daya manusia dan budaya lokal, sehingga akan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat
setempat. (Kurniawati, dkk, 2021).
Produktivitas bukan menjadi kendala satu-satunya yang membuat kondisi IKM jalan ditempat.
Tidak efisiennya teknologi yang dipakai, kondisi lingkungan kerja yang buruk membuat IKM
semakin tidak efektif dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Teknologi yang tidak baik dapat
membuat kapasitas produksi yang rendah, kualitas produk yang kurang baik, sehingga ketika produk
tersebut tidak dapat bersaing secara global. Kualitas lingkungan kerja yang buruk akan
mengakibatkan penurunan produktivitas pekerja dan juga menimbulkan ketidaknyamanan selama
bekerja yang berdampak negatif baik pada saat bekerja atau dapat menimbulkan penyakit akibat kerja
pada masa yang akan datang. Fasilitas kerja yang baik akan memberikan produktivitas dan wellbeing
yang baik kepada para pekerja. Salah satu permasalahan lingkungan kerja adalah masalah lingkungan
kerja fisik (bising, panas, dan pencahayaan). Kebisingan merupakan bunyi yang tidak diinginkan atau
mengganggu dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat waktu tertentu yang mampu menimbulkan
masala (...truncated)