Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Volume 2, Nomor 2, Januari 2025, pp 78-85
E-ISSN: 3030-9972
Open Access: https://journal.pipuswina.com/index.php/jippsi/about
Psikoterapi Islam untuk Meningkatkan Kesehatan Mental
1,2,3
Diana Kurniati Kartika 1*, Vivik Shofiah2, Khairunnas Rajab3
Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia
* E-mail Author’s:
[email protected]*, 2,
[email protected]
Submitted: 10-12-2024
Accepted: 17-12-2024
Published: 17-12-2024
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas psikoterapi Islam dalam
meningkatkan kesehatan mental melalui tinjauan literatur. Psikoterapi Islam yang
berlandaskan Al-Qur'an dan Al-Hadist berupaya mengatasi masalah psikologis dan
spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan ini berjalan efektif terutama
melalui penguatan spiritualitas seperti dzikir, shalat, dan membaca Al-Qur'an dalam
meningkatkan pengendalian diri dan ketahanan terhadap stres. Psikoterapi Islam
mendorong individu untuk hidup sesuai nilai agama dan berkontribusi pada kesehatan
mental yang lebih baik.
Kata Kunci: Psikologi Islam, Psikoterapi Islam, Kesehatan Mental.
Abstract
This study aims to examine the effectiveness of Islamic psychotherapy in improving
mental health through a literature review. Islamic psychotherapy based on the Koran and
Al-Hadith seeks to overcome psychological and spiritual problems. The results of the
study show that this approach is effective, especially through strengthening spirituality
such as dhikr, prayer, and reading the Koran in increasing self-control and resistance to
stress. Islamic psychotherapy encourages individuals to live according to religious values
and contributes to better mental health.
Keywords: Islamic Psychology, Islamic Psychotherapy, Mental Health
1. PENDAHULUAN
Kesehatan mental adalah keadaan yang memungkinkan individu untuk tumbuh
secara fisik, emosional, dan intelektual secara menyeluruh, serta mendukung
perkembangan seiring bertambahnya usia individu lain (Kasyfillah & Muhid, 2022).
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental didefinisikan sebagai
kesejahteraan yang mencakup aspek fisik, sosial, dan mental seseorang (WHO, 2004).
Dalam perspektif Islam, kesehatan mental meliputi kemampuan seseorang dalam
mengelola fungsi-fungsi psikis serta menyesuaikan diri secara dinamis dengan
lingkungan, baik diri sendiri, lingkungan sekitar, maupun orang lain, dengan Al-Qur'an
dan as-Sunnah sebagai panduan utama dalam kehidupan dunia dan akhirat (Ariadi, 2019).
Menjaga kesehatan mental memiliki dampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain
karena dapat mengurangi stress pada sehari-hari (Levin, 2010).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional tahun 2022, sekitar 17
juta remaja di Indonesia tercatat ada mengalami masalah kesehatan mental
(detiksumut.com, 2024). Kasus ini terlihat jelas dalam pengalaman seorang mahasiswa di
Jember, yang hampir mencoba bunuh diri akibat beban mental yang berlebihan atau
overthinking ketika ia menjabat sebagai panitia dalam suatu kegiatan kampus
78
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
(Kompas.com, 2022). Fenomena gangguan kesehatan mental di Jawa Timur menjadi
semakin marak akhir-akhir ini. Beberapa kasus yang mencuat antara lain seorang guru
SD di Malang yang mengakhiri hidupnya, aksi serupa juga dilakukan seorang remaja di
Kediri akibat tekanan dari utang pinjol yang digunakan untuk permainan game daring,
serta tragedi yang melibatkan seorang mantan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB)
Malang yang melompat dari lantai 12 gedung fakultas ilmu komputer (detikjatim.com,
2023).
Remaja di Indonesia menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan
kesehatan mental. Data menunjukkan bahwa 61% penduduk Indonesia yang berusia 15
tahun ke atas mengalami masalah kesehatan mental (sehatnegeriku.kemkes.go.id, 2023).
Hal ini menandakan bahwa masalah kesehatan mental semakin umum dan mendesak
untuk ditangani secara serius. Pemerintah telah merespons situasi ini dengan menetapkan
resolusi kesehatan mental, bertujuan membantu masyarakat dalam mengelola stres,
kecemasan, dan mengurangi kebiasaan overthinking yang sering menjadi pemicu utama
dalam gangguan kesehatan mental di kalangan remaja dan dewasa (Cnnindonesia.com,
2024).
Penelitian yang dilakukan oleh Trimulyaningsih (2019) menunjukkan bahwa
psikoterapi Islam dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang, terutama jika individu
tersebut memiliki keyakinan agama yang kuat atau tingkat spiritualitas yang tinggi, yang
berdampak positif pada kesejahteraan mental. Penelitian lain yang dilakukan pada
komunitas Muslim di Indonesia mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan
antara agama dan kesehatan mental sebesar 40,3% (Affandi & Diah, 2011). Di Indonesia,
agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat; secara filosofis,
nilai-nilai agama diakui sebagai bagian integral dari kehidupan berbangsa. Hal ini juga
tercermin dalam ideologi Pancasila, di mana sila pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa,"
menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia sangat terkait dengan nilai-nilai
agama mereka, termasuk dalam menjaga kesehatan mental.
Seiring perkembangan zaman, bidang kesehatan mental juga mulai dikaji dalam
perspektif psikologi agama. Psikologi agama awalnya diperkenalkan di Jerman pada abad
ke-19, sekitar tahun 1875 Masehi, dan memasuki abad ke-20, kajian ini berkembang pesat
seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi digital (Ramayulis, 2002). Penelitian
oleh Andini et al. (2021) menemukan bahwa psikoterapi Islam merupakan pendekatan
yang sangat efektif dalam pencegahan gangguan jiwa. Pendekatan ini tidak hanya
bermanfaat bagi mereka yang mengalami gangguan fisik dan mental, tetapi juga mampu
memulihkan kualitas kesehatan mental individu, meningkatkan kualitas hidup sehat, dan
menumbuhkan perasaan bahagia. Psikoterapi Islam berkontribusi secara positif terhadap
kesehatan mental dengan menciptakan ketenangan, kesejahteraan, dan ketentraman jiwa
seseorang. Salah satu pendekatan dalam menangani kesehatan mental adalah dengan
mengaplikasikan psikoterapi Islam, yang melibatkan metode pengobatan berbasis ajaran
agama Islam melalui Al-Qur'an dan Hadis. Agama Islam mengedepankan kesejahteraan
umat manusia dalam aspek jasmani maupun rohani, dan memiliki peran penting bagi umat
Islam dalam mengatasi gangguan emosional secara empiris.
Maryati (2020) melakukan penelitian pada siswa di Pondok Pesantren Darul
Muizi Bandung menjelaskan bahwa psikoterapi Islam dapat membantu psikologis
individu serta meningkatkan kemampuan santri dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam proses ini, subjek didorong untuk memahami arti hidup, menjalankan kewajiban
Muslim, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dilarang dalam Islam, dan untuk
menguatkan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Inti dari psikoterapi Islam
79
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
adalah kesungguhan hat (...truncated)