Pengaruh Mindfulness Terhadap Psychological Well Being pada Mahasiswa yang Tinggal di Rumah Kos
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Volume 2, Nomor 2, Januari 2025, pp 134-144
E-ISSN: 3030-9972
Open Access: https://journal.pipuswina.com/index.php/jippsi/about
Pengaruh Mindfulness Terhadap Psychological Well Being pada Mahasiswa yang
Tinggal di Rumah Kos
Yerliani Boymau1, Hendrik A.E. Lao2
Institut Agama Kristen Negeri Kupang
* E-mail Author’s:
1,2
Submitted: 12-01-2025
Accepted: 26-01-2025
Published: 26-01-2025
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mindfulness terhadap psychological
well-being pada mahasiswa yang tinggal di rumah kos. Populasi peneliltian adalah
mahasiswa berjumlah 250 orang dan pengambilan sampel menggunakan purposive
sampling sehingga memperoleh 60 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan angket atau kuesioner berbasis dua skala, yaitu skala Five Facet
Mindfulness Questionnaire (FFMQ) yang disusun oleh Baer dkk untuk mengukur
mindfulness untuk mengukur tingkat mindfulness, dan Psychological Well-Being Scale
(PWBS) yang disusun oleh Ryff yang di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk
mengukur tingkat kesejahteraan psikologis. Analisis data dilakukan menggunakan uji
regresi linear sederhana dengan bantuan software SPSS versi 26. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai signifikansi (p-value) < 0,05 dengan koefisien regresi sebesar
0,115. Temuan ini mengindikasikan bahwa mindfulness memiliki pengaruh positif dan
signifikan yang masih rendah terhadap psychological well-being pada mahasiswa yang
tinggal di rumah kos. Namun demikian, semakin tinggi tingkat mindfulness mahasiswa,
maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis atau psychological well-being
mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi upaya penguatan aspek mindfulness
dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa yang tinggal di rumah kos.
Kata kunci: Mindfulness, Psychological Well Being, Tinggal di Rumah Kos
Abstract
This study aims to examine the effect of mindfulness on psychological well-being among
college students living in boarding houses. The research population consists of 250
students, with a sample of 60 selected using purposive sampling. Data collection was
conducted using a questionnaire based on two scales: the Five Facet Mindfulness
Questionnaire (FFMQ) developed by Baer et al. to measure mindfulness levels, and the
Psychological Well-Being Scale (PWBS) developed by Ryff, translated into Indonesian,
to assess psychological well-being levels. Data analysis was performed using simple
linear regression tests with the help of SPSS software version 26. The results showed a
significance value (p-value) < 0.05 with a regression coefficient of 0.115. These findings
indicate that mindfulness has a positive and significant, albeit low, effect on
psychological well-being among students living in boarding houses. Thus, the higher the
students' mindfulness levels, the better their psychological well-being. This study
134
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
contributes to efforts to strengthen mindfulness as a means of supporting the mental
health of students living in boarding houses
Keywords: Mindfulness, Psychological well being, boarding house
1. PENDAHULUAN
Mahasiswa adalah individu yang terdaftar sebagai peserta pendidikan tinggi di
perguruan tinggi, seperti universitas, institut, atau akademi, dengan tujuan memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan gelar akademik. Knopfemacher (dalam Kurniawati &
Baroroh, 2016) menyatakan bahwa Mahasiswa merupakan calon sarjana yang terdidik
dalam Perguruan Tinggi dan dituntut untuk berkontribusi kepada masyarakat. Untuk itu
mahasiswa yang berada dalam tahap transisi menuju kedewasaan ini diharapkan mampu
mandiri, berpikir kritis, dan berkontribusi terhadap masyarakat.
Ketika menjadi mahasiswa, orang tua mulai mengijinkan anaknya yang sudah
untuk merantau dengan tinggal di asrama yang disediakan pihak Perguruan Tinggi,
tinggal dengan sanak keluarga, dan atau tinggal di rumah orang lain yang lokasinya
berdekatan dengan kampus atau disebut tinggal di rumah kos. Tinggal di rumah kos
menjadi pilihan beberapa mahasiswa dengan pertimbangan secara umum yaitu dengan
tinggal di rumah kos mahasiswa dapat lebih bebas dalam hal mengatur waktu untuk
belajar, bekerja, mengatur ekonominya sendiri dan lainnya. Namun, pada kebebasan yang
diperoleh dari tinggal di rumah kos terdapat beberapa dampak yang mungkin timbul
seperti masalah kesehatan mental (Awaliyah et al., 2017).
Pada berita online unggahan di surat Kabar Victory News (31/10/2023) seorang
mahasiswa di Kota Kupang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri
di kamar kosnya. Di duga ia berani mengambik keputusan untuk bunuh diri karena
terbeban dnegan tugas akhir yang tidak kunjung selesai (Manuleus, 2023). Berita lainnya
yang di lansir dari media online Liputan 6 (22/12/2023) memberitakan kasus bunuh diri
dengan cara menggantung diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswa di Kota Kupang
yang tinggal dua jam akan diwisuda, kuat dugaan mahasiswa yang tinggal di rumah kos
ini terlibat masalah perkuliahan dan ekonomi (Keda, 2023). Dari berita-berita tersebut
nampak masalah kesehatan mental yang cenderung dialami mahasiswa yang tinggal di
rumah kos yaitu rentan terhadap perasaan kesepian, cemas, stres, depresi, dan lainnya.
Hasil observasi dan wawancara penulis yang dilakukan terhadap salah satu mahasiswa
yang tinggal di rumah kos berinisial NS (22 tahun) mahasiswa semester VIII (delapan)
menyatakan bahwa dirinya mengalami masa penyesuain diri yang cukup lama untuk
membuat dirinya nyaman dan memilih untuk tinggal menetap di tempat kosnya sekarang
ini. NS diawal merasa “shock” dan beberapa kali harus berpindah tempat kos karena
mudah terganggu dengan lingkungan kos yang ribut, hal ini menjadikan relasi dengan
beberapa tetangga kos menjadi kurang baik. Relasi yang kurang baik membuat NS merasa
kesepian dan sering kali kembali mengenang kebersamaan dalam keluarganya
(membanding-bandingkan situasianya). NS menjadikan kegiatan ekstrakulikulerkemahasiswaan untuk mengalihkan perasaan kesepiannya karena dapat berkumpul
dengan teman-teman se-daerahnya untuk mengikuti kegiatan, jalan-jalan, ataupun
sekedar duduk berkumpul. Akhirnya semua itu berdampak pada perkuliahannya yaitu
beberapa tugas tidak diselesaikan tepat waktu, waktu belajar yang kurang sehingga nilai
akhir semester yang menjadi buruk. Semua yang terjadi ini berujung terjadinya perasaan
tidak bahagia hingga stress pada mahasiswa tinggal di rumah kos.
135
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
Sementara mahasiswa lainnya yaitu RS mahasiswi (20 tahun) semester VI (enam)
juga menceritakan kondisinya yang tinggal di rumah kos. RS menyatakan bahwa ketika
tinggal di rumah kos ia harus terus belajar berhati-hati dalam berkata ataupun bertindak
karena teman kos-nya yang berlatar belakang berbeda dengan dirinya sehingga mereka
cukup sensitif. RS cenderung untuk berdiam diri. Lingkungan kos dengan orang-orang
yang beragam membuat RS juga terkada (...truncated)