Cost-Minimization Analysis of Antibiotic Therapy in Pneumonia Patients
ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing
AACENDIKIA: Journal of Nursing, Volume 3 (2), Desember 2024, p.47-54
https://doi.org/10.59183/aacendikiajon.v3i2.35
Analisis Minimalisasi Biaya (Cost-Minimization Analysis) Terapi Antibiotik Pada
Pasien Pneumonia
Cost-Minimization Analysis of Antibiotic Therapy in Pneumonia Patients
Nurlailis Sa'adah Lailis*
1
Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta
*Correspondence: Nurlailis Sa'adah Lailis. Address: Jalan Ringroad Barat, Dowangan, Banyuraden, Kec. Gamping, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293; Email:
Responsible Editor: Safruddin, S.Kep., Ns., M.Kep
Received: 24 November 2024 ○ Revised: 26 Desember 2024 ○ Accepted: 30 Desember 2024
ABSTRACT
Pneumonia, a severe lung infection caused by various pathogens, poses a significant global health challenge and is associated
with high mortality rates. In the Special Region of Yogyakarta, respiratory infections are a leading cause of illness. This study
aims to identify patient characteristics and evaluate antibiotic therapies and cost-efficiency at RSUD Yogyakarta in 2023.
Utilizing a descriptive observational design and Cost Minimization Analysis (CMA), the study found that ceftriaxone injection
is the most cost-effective single antibiotic therapy (Rp5,858,567), while the combination of Mei Act Capsules + fosmycin
injection is the most economical combination therapy (Rp2,832,524). These findings highlight the importance of selecting
antibiotic therapies that are not only effective but also cost-efficient, in order to enhance pneumonia treatment quality while
reducing financial burdens.
ABSTRAK
Pneumonia, infeksi paru-paru yang serius dengan berbagai patogen penyebab, menimbulkan tantangan kesehatan global dan
tingkat kematian tinggi. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, infeksi saluran pernapasan menjadi salah satu penyebab utama
penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien dan mengevaluasi terapi antibiotik serta
efisiensi biaya di RSUD Yogyakarta pada tahun 2023. Dengan menerapkan desain observasional deskriptif dan analisis
Cost Minimization Analysis (CMA), ditemukan bahwa ceftriaxone injeksi adalah pilihan antibiotik tunggal yang paling
ekonomis (Rp5.858.567), sedangkan kombinasi Mei Act Kaps + fosmycin injeksi merupakan terapi kombinasi yang paling
hemat biaya (Rp2.832.524). Hasil ini menekankan pentingnya pemilihan terapi antibiotik yang tidak hanya efektif tetapi
juga cost- effective, untuk meningkatkan kualitas pengobatan pneumonia sambil mengurangi beban biaya.
Keywords: pneumonia; antibiotics; inpatient
Pendahuluan
Pneumonia adalah infeksi pada jaringan
paru-paru yang dapat disebabkan oleh berbagai
patogen, termasuk bakteri, virus, dan jamur.
Infeksi ini dapat menular melalui droplet dari
batuk atau bersin, sentuhan dengan kontaminan,
dan udara yang terhirup oleh individu rentan
(ALA, 2016). Pneumonia menjadi salah satu
masalah kesehatan global dengan angka kematian
tinggi dan merupakan penyebab utama rawat inap
47 | E-ISSN: 2963-6434
di Indonesia, yang mencatat prevalensi meningkat
dari 4,0% pada 2013 menjadi 4,5% pada 2018
(Kemenkes, 2018).
Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa
infeksi saluran pernapasan menempati urutan
ketiga tertinggi di D.I. Yogyakarta, yang
berdampak pada peningkatan penggunaan
antibiotik di rumah sakit (Depkes RI, 2019).
Indonesia juga menempati peringkat ketujuh dunia
dalam hal kematian akibat infeksi pernapasan
© 2024 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative
Commons Attribution 4.0 International License (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/).
Nurlailis Sa'adah Lailis (2024)
AACENDIKIA: Journal of Nursing
akut, dengan pneumonia sebagai salah satu
penyebab utama rawat inap, mencapai 271.496
kasus pada 2018 (Kemenkes, 2023).
Dinas
Kesehatan
D.I.
Yogyakarta
melaporkan fluktuasi jumlah kasus pneumonia
dari 396 pada 2015 hingga 1.178 pada 2019,
dengan penurunan signifikan menjadi 183 kasus
pada 2021. Data terkini menunjukkan 441 kasus
pneumonia di Yogyakarta pada Januari- Oktober
2023 (Dinkes, 2023). Antibiotik merupakan terapi
utama untuk pneumonia (PDPI, 2017), namun
penggunaan yang tidak tepat dapat mengakibatkan
resistensi
bakteri,
memperpanjang
waktu
penyembuhan, dan meningkatkan biaya serta
menurunkan mutu pelayanan rumah sakit (Rahayu
dkk, 2016). Oleh karena itu, penting untuk
memilih antibiotik yang efektif dan ekonomis.
Metode Cost Minimization Analysis (CMA)
digunakan untuk membandingkan biaya terapi
dengan efektivitas klinis yang setara, guna
menentukan opsi pengobatan yang paling hemat
biaya (Jurana, 2018). Analisis ini mendukung
efisiensi
ekonomi
kesehatan
dengan
memaksimalkan hasil terapi dengan biaya yang
optimal (Rahayu dkk, 2016).
Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan
untuk
mengevaluasi
karakteristik
pasien
pneumonia rawat inap di RSUD Yogyakarta,
menggambarkan terapi penggunaan antibiotik
yang diterapkan, serta menentukan biaya yang
paling minimal untuk pengobatan pneumonia.
Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat
diperoleh wawasan yang lebih mendalam
mengenai pengelolaan biaya dan efektivitas terapi
antibiotik di rumah sakit tersebut.
Metode
Penelitian ini termasuk dalam kategori
penelitian observasional dengan desain deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif,
mengingat data yang digunakan merupakan data
sekunder yang telah tersedia dan fokus pada
analisis fenomena di masa lalu. Data yang akan
dianalisis dalam penelitian ini meliputi rekam
medis pasien pneumonia rawat inap dan daftar
biaya terapi dari bagian keuangan RSUD
Yogyakarta untuk periode Januari hingga
Desember 2023.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menggunakan metode Cost
Minimization Analysis (CMA) menunjukkan
bahwa terapi antibiotik tunggal yang paling hemat
biaya adalah Ceftriaxone Inj, dengan rata-rata
biaya sebesar Rp5.858.567. Sementara itu, dalam
kategori terapi kombinasi, Mei Act kapsul +
Fosmycin Inj adalah pilihan paling ekonomis
dengan rata-rata biaya Rp2.832.524. Metode CMA
digunakan untuk mengevaluasi biaya terapi ketika
hasil klinis dari terapi yang dibandingkan dianggap
serupa (Claxton et al., 2018). Dengan memilih
Ceftriaxone Inj untuk pengobatan tunggal dan Mei
Act kapsul + Fosmycin Inj untuk terapi kombinasi,
dapat dicapai penghematan biaya signifikan tanpa
mengorbankan efektivitas pengobatan.
Biaya total perawatan, yang mencakup biaya
antibiotik, laboratorium, rawat inap, dan obat
tambahan, dihitung untuk setiap kelompok terapi.
Analisis biaya ini melibatkan perbandingan setiap
komponen biaya terhadap biaya total per
kelompok, dibagi dengan jumlah pasien untuk
mendapatkan rata-rata biaya per pasien. Menurut
Drummond et al. (2015), CMA memerlukan
pengukuran teliti dari semua biaya terkait terapi
untuk memastikan bahwa laporan biaya total
mencerminkan semua aspek pengeluaran. Analisis
ini penting dalam farmakoekonomi karena
memungkinkan keputusan berbasis data dalam
pengelolaan anggaran rumah saki (...truncated)