Konsep Etnomatematika pada Alat Musik Tradisional Mandailing Natal : Gordang Sambilan
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume 3 Nomor 4, Tahun 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 182-188
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v3i4.1609
Available Online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Konsep Etnomatematika pada Alat Musik Tradisional Mandailing Natal :
Gordang Sambilan
Mutiah Dina Maya1, Muhammad Rif’an2, Shaqila Rizky D.A3, Riani Tazkia Hadi4,
Elvi Mailani5, Mardhiyah Kharismayanda6
1-6
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan,
Sumatera Utara, Indonesia.
Korespondensi penulis : *
Abstract. This study aims to explore the ethnomathematics concepts embedded in the traditional musical
instrument Gordang Sambilan from Mandailing culture and how these concepts can be integrated into
mathematics education. Gordang Sambilan, which consists of nine drums of varying sizes, serves not only as a
cultural symbol but also as a rich source of mathematical elements, including arithmetic sequences in drum sizes
and geometric shapes such as cylinders and truncated cones. This research employs a literature study method to
collect and analyze data from various relevant references. The results reveal that Gordang Sambilan offers
contextual learning opportunities through geometric analysis, such as circumference, surface area, and volume
of cylinders. Integrating Gordang Sambilan into mathematics learning not only helps students grasp mathematical
concepts more concretely but also strengthens their appreciation of local culture. Hence, leveraging
ethnomathematics from Gordang Sambilan can serve as an innovative strategy in mathematics education while
preserving cultural heritage amidst globalization.
Keywords: Gordang Sambilan, Ethnomathematics, Mathematics Education, Geometry, Mandailing Culture
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep etnomatematika yang ada pada alat musik
tradisional Gordang Sambilan dari budaya Mandailing, serta bagaimana konsep tersebut dapat diintegrasikan
dalam pembelajaran matematika. Gordang Sambilan, yang terdiri atas sembilan gendang berukuran berbeda, tidak
hanya menjadi simbol budaya tetapi juga kaya akan elemen matematika, seperti pola aritmatika dalam ukuran
gendang dan bentuk geometri tabung serta kerucut terpancung. Penelitian menggunakan metode studi literatur
untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai referensi terkait. Hasil penelitian membuktikan bahwa
Gordang Sambilan memberikan peluang pembelajaran kontekstual melalui analisis geometri, seperti keliling, luas
permukaan, dan volume tabung. Integrasi Gordang Sambilan dalam pembelajaran matematika bukan hanya
membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih konkret tetapi juga memperkuat apresiasi terhadap
budaya lokal. Dengan demikian, penggunaan etnomatematika dari Gordang Sambilan dapat menjadi strategi
inovatif dalam pendidikan matematika sekaligus pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.
Kata Kunci: Gordang Sambilan, Etnomatematika, Pembelajaran Matematika, Geometri, Budaya Mandailing
1. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya dan keberagaman budaya, ras, suku,
bahasa daerah, dan banyak lagi. Keberagaman ini merupakan aset dan keindahan bangsa
Indonesia. Setiap daerah memiliki keunikan dan budaya tersendiri, ciri khas yang mencakup
pakaian adat, arsitektur rumah, seni, bahasa, dan tradisi lainnya (Lubis et al., 2018).
Salah satu tradisi lokal yang populer di Indonesia adalah tradisi Mandailing yang
berasal dari Pulau Sumatera. Kabupaten Mandailing berada di sisi paling selatan Provinsi
Sumatera Utara dan berbatasan langsung Provinsi Sumatera Barat (Widiarsih & Sandri, 2018).
Gordang Sambilan adalah kebudayaan musik tradisional yang termasuk simbol identitas
Received: Oktober 13, 2024; Revised: November 19, 2024; Accepted: Desember 01, 2024; Published: Desember 03, 2024
Konsep Etnomatematika pada Alat Musik Tradisional Mandailing Natal : Gordang Sambilan
Mandailing. Ini adalah ansambel musik perkusi khas Mandailing yang memiliki ciri khas
tersendiri, baik segi ukuran, jumlah pemain, maupun irama dari alat musik lainnya. Masyarakat
Mandailing percaya Gordang Sambilan pertama kali muncul tahun 1575 di Mandailing. Tradisi
ini dikenalkan dari era kerajaan Nasution oleh Raja Sibaroar. Gordang Sambilan sering
dipentaskan dalam berbagai acara, seperti upacara pernikahan, peringatan HUT RI, HUT
Madina, serta untuk menyambut tamu pemerintahan Mandailing Natal (Alwiyah & Rusdi,
2021).
Etnomatematika adalah konsep matematika yang terkandung dalam budaya.
Kemunculan matematika dipengaruhi oleh budaya dapat memberi kontribusi penting dalam
proses pembelajaran matematika. Etnomatematika bertujuan untuk melihat bagaimana budaya
tertentu mengadaptasi matematika dan menggambarkan hubungan antar budaya dan
matematika (Martyanti & Suhartini, 2018). Konsep etnomatematika menegaskan bahwa
matematika bukan hanya bersifat abstrak dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, namun
terkandung konteks budaya serta kegiatan manusia (Qurohman et al, 2024).
Etnomatematika kebudayaan Mandailing dari segi musik ada alat Gordang Sambilan,
Gordang Sambilan berupa alat musik yang dimainkan masyarakat di acara pernikahan.
Gordang sambilan sesuai dengan namanya gordang adalah gendang atau beduk sedangkan
sambilan adalah jumlah dari gendang atau beduknya yang berjumlah sembilan gendang (T. A.
Nasution et al, 2024). Pada Gordang Sambilan, terdapat unsur-unsur matematika, seperti pola
barisan aritmetika dalam ukuran gendang, serta bentuk geometris tabung dan kerucut
terpancung, yang dapat digunakan sebagai media pengajaran geometri dan aritmetika. Dengan
demikian, etnomatematika pada Gordang Sambilan tidak hanya membantu siswa memahami
matematika, tetapi juga menguatkan pemahaman mereka terhadap budaya lokal
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi konsep
etnomatematika dalam alat musik Gordang Sambilan, dengan harapan dapat diterapkan dalam
pembelajaran matematika.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan cara studi literatur. Studi
literatur merupakan metode penelitian yang memanfaatkan referensi atau sumber yang disusun
ilmiah, termasuk mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Teknik ini
mengandalkan kepustakaan untuk mengintegrasikan dan menyajikan data yang diperoleh
(Idhartono, 2020). Studi Literatur dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti
menyajikan ringkasan yang sistematis dari berbagai temuan di bidang ini, sehingga
183
CONCEPT - VOLUME 3 NOMOR 4, TAHUN 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 182-188
memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang penerapan etnomatematika dalam budaya
tradisional Mandailing.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian diperoleh bahwa Gordang Sambilan itu merupakan warisan budaya
mandailing. Gordang Sambilan dipakai dalam upacara untuk memanggil roh nenek moyang
ketika dibutuhkan bantuan mereka. Upacara ini (...truncated)