Fenomena Generasi Strawberry Pada Mahasiswa di FISIP
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 2 Oktober - Desember 2024 Hal. 817-825
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Fenomena Generasi Strawberry Pada Mahasiswa di FISIP
Dina Amaliaa, Varinia Pura Damaiyantib
a
Program Studi Sosiologi, FISIP, Universitas Lambung Mangkurat,
Abstract
Entering the modern era and the rapid pace of technology, mental health has become an important issue that must be paid
attention to, especially for teenagers and adults who are currently known to tend to experience excessive stress, anxiety and
depression. Mental health issues are closely related to the strawberry generation, which is considered to have a soul that is
more vulnerable and sensitive to pressure from the social environment, family and social media than previous generations.
The pressure they experience makes them a generation that has a higher level of awareness of mental health issues compared
to previous generations, which leads to this happening self diagnose or self-identify without assistance from a medical
professional. This research is aimed at understanding habits self diagnose among FISIP students at Lambung Mangkurat
University (ULM) as the strawberry generation, with qualitative methods and phEnomEnological research types explored
through George Herbert Mead's "I" and "Me" theory. Research data collection was carried out using structured interview
techniques, participatory observation, and collecting documentation in the form of screenshots of recordings of the results
of the researcher's interviews with informants, which were analyzed through data reduction techniques, data presentation,
and drawing conclusions. The results of this study indicate that the Strawberry Generation has different perceptions in each
of their respective perspectives, in addition to different perceptions, they also believe that the self-perception they have is
the reality that actually occurs in their lives without any coercion. The Strawberry Generation also has a life image that is
inversely proportional to the original self-perception they have, about how they want to be seen by others, but the reality is
not like their original self-perception.
Keywords: Mental Health, Strawberry Generation, Self Diagnose
Abstrak
Memasuki era modern dan pesatnya teknologi, membuat isu kesehatan mental menjadi suatu isu penting yang harus
diperhatikan, khususnya terhadap para remaja dan dewasa yang saat ini diketahui cenderung mengalami stress, kecemasan,
dan depresi yang berlebihan. Isu kesehatan mental tidak jauh selalu dikaitkan pada generasi strawberry, yang dianggap
memiliki jiwa yang lebih rentan dan sensitif terhadap tekanan dari lingkungan sosial, keluarga, maupun media sosial
dibandingkan generasi sebelumnya. Tekanan yang dialami menjadikan mereka sebagai generasi yang memiliki tingkat
kedasaran akan isu kesehatan mental yang tinggi dibanding generasi sebelumnya, yang berujung terjadinya self diagnose
atau mengidentifikasi diri sendiri tanpa bantuan dari profesional medis. Penelitian ini ditujukan untuk memahami kebiasaan
self diagnose dikalangan mahasiswa FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai generasi strawberry, dengan
metode kualitatif dan jenis penelitian fEnomEnologi yang dikupas melalui teori “I” and “Me” Goerge Herbert Mead.
Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur, observasi partisipatif, dan pengumpulan
dokumentasi berupa gambar tangkap layar rekaman hasil wawancara peneliti dengan informan, yang dianalisis melalui
teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Generasi Strawberry
memiliki persepsi yang berbeda beda setiap sudut pandangan mereka masing masing, selain persepsi yang berbeda beda
mereka juga meyakini persepsi diri yang mereka punya adalah kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam hidup mereka tanpa
adanya paksaan apapun. Generasi Strawberry juga mempunyai citra hidup yang berbanding terbalik dengan persepsi diri asli
yang mereka punya, tentang bagaimana diri mereka ingin dilihat oleh orang lain, namun kenyataan tidak seperti persepsi diri
mereka aslinya.
Kata Kunci: Kesehatan Mental, Generasi Strawberry, Self Diagnose
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Generasi Z, yang sering disebut sebagai "Generasi Strawberry", dikenal karena memiliki mental yang
dianggap rapuh dan mudah tertekan. Istilah ini menggambarkan remaja yang rentan terhadap stres, cenderung
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.03 No. 01 Oktober – Desember 2024
817
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 2 Oktober - Desember 2024 Hal. 817-825
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
mudah menyerah, dan memiliki daya tahan yang rendah. Mereka sering mengeluh tentang kehidupan mereka
dan merasa kesulitan menghadapi tantangan. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih tangguh
dan memiliki semangat bertahan hidup yang lebih kuat. Kecenderungan ini banyak terlihat pada remaja yang
bergantung pada teknologi dan kemajuan sosial, serta kurangnya rasa syukur.
Meskipun begitu, ada sisi positif dalam karakteristik generasi ini, seperti kreativitas, keberanian untuk
mencoba hal baru, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun, di balik semangat
tersebut, mereka juga rentan terjebak dalam zona nyaman, kurang tanggung jawab, dan mudah menyerah.
Banyak remaja generasi ini yang memiliki harapan tidak realistis dan cenderung egois, seperti contoh dalam
hubungan asmara yang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan untuk bertanggung jawab atas perasaan
orang lain.
Penyebab dari karakteristik generasi strawberry ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar,
terutama didikan orang tua. Orang tua yang tidak peka dalam membimbing anak dapat berkontribusi pada
perkembangan mental dan pola pikir anak. Namun, di era sekarang, semakin banyak orang tua yang lebih peka
terhadap dunia parenting dan lebih memperhatikan kesehatan mental anak. Meski begitu, banyak remaja yang
memilih untuk melakukan self-diagnose tanpa bimbingan profesional, yang dapat menyebabkan
kesalahpahaman mengenai kondisi mental mereka.
Generasi strawberry juga sering kali mengungkapkan keresahan mereka melalui media sosial, yang
menjadi tempat mereka untuk berbagi perasaan dan mendapatkan perhatian. Istilah-istilah baru, seperti
"kesabaran setipis tisu dibelah dua", menggambarkan betapa mudahnya mereka merasa tertekan dan kecewa.
Namun, fenomena ini juga menunjukkan betapa peka dan sensitifnya mereka terhadap kehidupan sekitar,
meski tidak selalu mampu menghadapinya dengan cara yang sehat.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami kebiasaan generasi strawberry, khususnya mahasiswa,
dalam melakukan self-diagnose ketika mereka merasa lelah secara fisik dan mental. Meskipun mereka lebih
sadar tentang pentingnya kesehatan mental, sering kali mereka tidak mendapatkan bim (...truncated)