Perspektif Ulama dan Tenaga Medis di Kabupaten Sumedang terhadap Tahnik pada Bayi Baru Lahir

JURNAL PENELITIAN PERAWAT PROFESIONAL, Apr 2025

Tahnik adalah praktik sunnah dalam Islam yang dilakukan dengan menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut bayi baru lahir. Praktik ini diyakini membawa keberkahan dan manfaat spiritual. Namun, dari sudut pandang medis, pemberian substansi selain ASI pada bayi baru lahir dinilai berisiko, termasuk potensi gangguan pencernaan dan infeksi seperti botulisme. Perbedaan ini memunculkan perdebatan antara keyakinan agama dan anjuran medis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi praktik tahnik yang aman dari perspektif keagamaan dan medis agar dapat diterapkan tanpa mengabaikan keselamatan bayi. Pendekatan kualitatif digunakan dengan wawancara semi-terstruktur terhadap ulama dan tenaga medis di Kecamatan Ganeas, Sumedang. Ditemukan enam tema utama: perbedaan pandangan antara agama dan medis, manfaat spiritual tahnik, risiko kesehatan, adaptasi praktik dalam era modern, kontestasi otoritas, dan upaya harmonisasi nilai agama dengan kesehatan. Ulama menekankan aspek spiritual, keberkahan, dan nilai ibadah dari tahnik, sementara tenaga medis fokus pada keamanan, risiko pencernaan, serta pentingnya ASI eksklusif. Menengahi hal tersebut, tahnik tetap dapat dilakukan dengan aman menggunakan bahan yang steril, tidak mengganti bahan tahnik menggunakan buah-buahan, larutan gula, ataupun madu yang telah tercampur zat-zat lainnya, memperhatikan kesehatan ulama atau orang tua yang melakukan tahnik untuk mencegah penyebaran penyakit menular, dan dilakukan pada waktu yang tepat setelah kondisi bayi stabil.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/6439/4497

Perspektif Ulama dan Tenaga Medis di Kabupaten Sumedang terhadap Tahnik pada Bayi Baru Lahir

Jurnal Penelitian Perawat Profesional Volume 7 Nomor 2, April 2025 e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757 http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP PERSPEKTIF ULAMA DAN TENAGA MEDIS DI KABUPATEN SUMEDANG TERHADAP TAHNIK PADA BAYI BARU LAHIR Kamelia Dewi*, Elissa Noorwillah Islami, Jasella Kartika Aryadi, Munaawarotul Hidayah, Nabila Rahmani, Salwa Juwita, Kamelia Dewi Program Studi S1 Keperawatan, Kampus Sumedang, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Margamukti No.93 Licin, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat 45353, Indonesia * ABSTRAK Tahnik adalah praktik sunnah dalam Islam yang dilakukan dengan menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut bayi baru lahir. Praktik ini diyakini membawa keberkahan dan manfaat spiritual. Namun, dari sudut pandang medis, pemberian substansi selain ASI pada bayi baru lahir dinilai berisiko, termasuk potensi gangguan pencernaan dan infeksi seperti botulisme. Perbedaan ini memunculkan perdebatan antara keyakinan agama dan anjuran medis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi praktik tahnik yang aman dari perspektif keagamaan dan medis agar dapat diterapkan tanpa mengabaikan keselamatan bayi. Pendekatan kualitatif digunakan dengan wawancara semiterstruktur terhadap ulama dan tenaga medis di Kecamatan Ganeas, Sumedang. Ditemukan enam tema utama: perbedaan pandangan antara agama dan medis, manfaat spiritual tahnik, risiko kesehatan, adaptasi praktik dalam era modern, kontestasi otoritas, dan upaya harmonisasi nilai agama dengan kesehatan. Ulama menekankan aspek spiritual, keberkahan, dan nilai ibadah dari tahnik, sementara tenaga medis fokus pada keamanan, risiko pencernaan, serta pentingnya ASI eksklusif. Menengahi hal tersebut, tahnik tetap dapat dilakukan dengan aman menggunakan bahan yang steril, tidak mengganti bahan tahnik menggunakan buah-buahan, larutan gula, ataupun madu yang telah tercampur zat-zat lainnya, memperhatikan kesehatan ulama atau orang tua yang melakukan tahnik untuk mencegah penyebaran penyakit menular, dan dilakukan pada waktu yang tepat setelah kondisi bayi stabil. Kata kunci: bayi baru lahir; kurma; perspektif ulama; perspektif medis; tahnik ISLAMIC SHCOLAR'S AND MEDICAL PERSPECTIVE IN SUMEDANG DISTRICT ON TAHNIK FOR NEWBORN ABSTRACT Tahnik is a Sunnah practice in Islam performed by rubbing a chewed date onto the palate of a newborn baby. This practice is believed to bring blessings and spiritual benefits. However, from a medical perspective, introducing substances other than breast milk to newborns is considered risky, due to the potential for digestive issues and infections such as botulism. This contrast has sparked debate between religious beliefs and medical recommendations. This study aims to explore a safe tahnik practice from both religious and medical perspectives, enabling the ritual to be observed without compromising the infant’s safety.A qualitative approach was employed, using semi-structured interviews with Islamic scholars and healthcare professionals in Ganeas District, Sumedang. Six key themes emerged: differences in religious and medical perspectives, the spiritual significance of tahnik, health risks, adaptation of the practice in modern times, authority contestation, and efforts to harmonize religious values with health. Religious scholars highlighted the spiritual, blessed, and devotional aspects of tahnik, while medical professionals emphasized safety, digestive risks, and the importance of exclusive breastfeeding. As a middle ground, tahnik can be safely practiced by using sterile substances, avoiding the use of fruits, sugar solutions, or honey mixed with other ingredients, ensuring the person performing tahnik is healthy, and conducting the ritual after the newborn’s condition has stabilized. Keywords: dates; islamic scholars’ perspective; medical perspective; newborn; tahnik 901 Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 7 No 2, April 2025 Global Health Science Group PENDAHULUAN Neonatus merupakan rentang periode bayi baru lahir sampai dengan 28 hari (Manik et al., 2022). Sementara menurut Herawati & Anggraini (2020) neonatus ialah transisi dari kehidupan di dalam rahim ke ekstra uterin melalui tahapan-tahapan dengan keterbatasan sesuai dengan kematangan fungsi organ tubuh. Di dalam Islam ada beberapa perlakuan khusus yang dilakukan pada bayi baru lahir, salah satunya ialah tahnik. Tahnik merupakan suatu cara pemeliharaan secara fisik dengan memberikan kurma yang telah dikunyah atau dihaluskan pada langi-langit mulut bayi sambil mendoakannya (Argaheni & Kostania, 2022). Menurut Argaheni & Kostania (2022) tahnik dapat dilakukan dengan menggunakan selain kurma jika tidak tersedia seperti madu, adukan larutan gula, dan sesuatu yang tidak terkena api (tidak dimasak menggunakan api). Namun menurut Harun et al. (2021) pemberian madu pada bayi terutama bayi yang kurang dari 12 bulan dapat menyebabkan infeksi botulisme. Infeksi botulisme dapat terjadi karena madu berisiko dapat terkontaminasi spora Clostridium botulinum (Harun et al., 2021). Akan tetapi, umat Islam meyakini bahwa Sunah Nabi Muhammad tidak berbahaya karena merupakan wahyu dari Allah SWT. Dari perspektif syar’i, tahnik disebutkan dalam berbagai hadis, termasuk hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Ash’ari, yang menyatakan: “Ketika lahirnya anakku, aku membawanya kepada Rasulullah SAW, ia pun menjilatnya.” Hadis ini memberikan legitimasi syar’i bagi praktik tahnik dan menunjukkan pentingnya komitmen agama terhadap perawatan dan pemeliharaan bayi baru lahir. Dalam beberapa riwayat hadis lainnya, Rasulullah SAW melakukan tahnik dan mendoakan kebaikan untuk bayi yang baru lahir. Para ulama salaf al-shalih juga menerapkan praktik ini pada anak-anak mereka, sebagai bentuk ittiba’ (meneladani) Nabi Muhammad SAW. Adapun hadis tahnik ialah sebagai berikut. ‫ِيم َو َحنَّ َكهُ بِت َ ْم َرة‬ َ َ‫ ف‬-‫ي – صلى هللا عليه وسلم‬ َّ ِ‫ولد لي غُالم فَأَتَيْتُ بِ ِه النَّب‬ َ ‫س َّماهُ إِب َْراه‬ “Aku dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma (tamr).” (HR al-Bukhari, 1992 ). Dalam riwayat sebuah hadits yang diriwayatkan Aisyah berbunyi: َّ ‫صلَّى‬ ‫علَ ْي ِه ْم َويُ َحنِكُ ُه ْم‬ َّ ‫سلَّ َم َكانَ يُؤْ تِي بِال‬ َ ُ‫ان فَيُبَ ِرك‬ َ ُ‫َّللا‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫أ َ َّن َرسُ ْو َل هللا‬ ِ َ‫ص ْبي‬ Artinya: “Bahwasannya Nabi saw pernah didatangi seorang dari kalangan sahabat dengan membawa beberapa anak bayi, lalu beliau memohonkan berkah kepada Allah untuk mereka dan juga menciptakan kurma manis (tahnik).” (HR Muslim). Adapun makna dilakukannya tahnik yaitu jika anak bayi tersebut sudah besar diharapkan dapat bertutur kata dengan manis, sopan pada saat berbicara dengan orang yang lebih tua, dan perkataannya tidak membuat orang lain tersinggung atau sakit hati (Argaheni and Kostania, 2022). Hal ini sejalan dengan Harun et al. (2021) yang menyatakan bahwa dalam Encyclopedia Perbidanan Melayu: A Treasury of Medical Science a (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/6439/4497
Article home page: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/view/6439/4497

Dewi Kamelia, Islami Elissa Noorwillah, Aryadi Jasella Kartika, Hidayah Munaawarotul, Nabila Rahmani, Salwa Juwita, Tedi Supriyadi. Perspektif Ulama dan Tenaga Medis di Kabupaten Sumedang terhadap Tahnik pada Bayi Baru Lahir, JURNAL PENELITIAN PERAWAT PROFESIONAL, 2025, pp. 901-912,