Perspektif Ulama dan Tenaga Medis di Kabupaten Sumedang terhadap Tahnik pada Bayi Baru Lahir
Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Volume 7 Nomor 2, April 2025
e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
PERSPEKTIF ULAMA DAN TENAGA MEDIS DI KABUPATEN SUMEDANG
TERHADAP TAHNIK PADA BAYI BARU LAHIR
Kamelia Dewi*, Elissa Noorwillah Islami, Jasella Kartika Aryadi, Munaawarotul Hidayah, Nabila
Rahmani, Salwa Juwita, Kamelia Dewi
Program Studi S1 Keperawatan, Kampus Sumedang, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Margamukti No.93
Licin, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat 45353, Indonesia
*
ABSTRAK
Tahnik adalah praktik sunnah dalam Islam yang dilakukan dengan menggosokkan kurma yang telah
dikunyah ke langit-langit mulut bayi baru lahir. Praktik ini diyakini membawa keberkahan dan
manfaat spiritual. Namun, dari sudut pandang medis, pemberian substansi selain ASI pada bayi baru
lahir dinilai berisiko, termasuk potensi gangguan pencernaan dan infeksi seperti botulisme. Perbedaan
ini memunculkan perdebatan antara keyakinan agama dan anjuran medis. Penelitian ini bertujuan
mengeksplorasi praktik tahnik yang aman dari perspektif keagamaan dan medis agar dapat diterapkan
tanpa mengabaikan keselamatan bayi. Pendekatan kualitatif digunakan dengan wawancara semiterstruktur terhadap ulama dan tenaga medis di Kecamatan Ganeas, Sumedang. Ditemukan enam tema
utama: perbedaan pandangan antara agama dan medis, manfaat spiritual tahnik, risiko kesehatan,
adaptasi praktik dalam era modern, kontestasi otoritas, dan upaya harmonisasi nilai agama dengan
kesehatan. Ulama menekankan aspek spiritual, keberkahan, dan nilai ibadah dari tahnik, sementara
tenaga medis fokus pada keamanan, risiko pencernaan, serta pentingnya ASI eksklusif. Menengahi hal
tersebut, tahnik tetap dapat dilakukan dengan aman menggunakan bahan yang steril, tidak mengganti
bahan tahnik menggunakan buah-buahan, larutan gula, ataupun madu yang telah tercampur zat-zat
lainnya, memperhatikan kesehatan ulama atau orang tua yang melakukan tahnik untuk mencegah
penyebaran penyakit menular, dan dilakukan pada waktu yang tepat setelah kondisi bayi stabil.
Kata kunci: bayi baru lahir; kurma; perspektif ulama; perspektif medis; tahnik
ISLAMIC SHCOLAR'S AND MEDICAL PERSPECTIVE IN SUMEDANG DISTRICT ON
TAHNIK FOR NEWBORN
ABSTRACT
Tahnik is a Sunnah practice in Islam performed by rubbing a chewed date onto the palate of a
newborn baby. This practice is believed to bring blessings and spiritual benefits. However, from a
medical perspective, introducing substances other than breast milk to newborns is considered risky,
due to the potential for digestive issues and infections such as botulism. This contrast has sparked
debate between religious beliefs and medical recommendations. This study aims to explore a safe
tahnik practice from both religious and medical perspectives, enabling the ritual to be observed
without compromising the infant’s safety.A qualitative approach was employed, using semi-structured
interviews with Islamic scholars and healthcare professionals in Ganeas District, Sumedang. Six key
themes emerged: differences in religious and medical perspectives, the spiritual significance of tahnik,
health risks, adaptation of the practice in modern times, authority contestation, and efforts to
harmonize religious values with health. Religious scholars highlighted the spiritual, blessed, and
devotional aspects of tahnik, while medical professionals emphasized safety, digestive risks, and the
importance of exclusive breastfeeding. As a middle ground, tahnik can be safely practiced by using
sterile substances, avoiding the use of fruits, sugar solutions, or honey mixed with other ingredients,
ensuring the person performing tahnik is healthy, and conducting the ritual after the newborn’s
condition has stabilized.
Keywords: dates; islamic scholars’ perspective; medical perspective; newborn; tahnik
901
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 7 No 2, April 2025
Global Health Science Group
PENDAHULUAN
Neonatus merupakan rentang periode bayi baru lahir sampai dengan 28 hari (Manik et al.,
2022). Sementara menurut Herawati & Anggraini (2020) neonatus ialah transisi dari
kehidupan di dalam rahim ke ekstra uterin melalui tahapan-tahapan dengan keterbatasan
sesuai dengan kematangan fungsi organ tubuh. Di dalam Islam ada beberapa perlakuan
khusus yang dilakukan pada bayi baru lahir, salah satunya ialah tahnik. Tahnik merupakan
suatu cara pemeliharaan secara fisik dengan memberikan kurma yang telah dikunyah atau
dihaluskan pada langi-langit mulut bayi sambil mendoakannya (Argaheni & Kostania, 2022).
Menurut Argaheni & Kostania (2022) tahnik dapat dilakukan dengan menggunakan selain
kurma jika tidak tersedia seperti madu, adukan larutan gula, dan sesuatu yang tidak terkena
api (tidak dimasak menggunakan api). Namun menurut Harun et al. (2021) pemberian madu
pada bayi terutama bayi yang kurang dari 12 bulan dapat menyebabkan infeksi botulisme.
Infeksi botulisme dapat terjadi karena madu berisiko dapat terkontaminasi spora Clostridium
botulinum (Harun et al., 2021). Akan tetapi, umat Islam meyakini bahwa Sunah Nabi
Muhammad tidak berbahaya karena merupakan wahyu dari Allah SWT. Dari perspektif
syar’i, tahnik disebutkan dalam berbagai hadis, termasuk hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Musa Al-Ash’ari, yang menyatakan: “Ketika lahirnya anakku, aku membawanya kepada
Rasulullah SAW, ia pun menjilatnya.” Hadis ini memberikan legitimasi syar’i bagi praktik
tahnik dan menunjukkan pentingnya komitmen agama terhadap perawatan dan pemeliharaan
bayi baru lahir. Dalam beberapa riwayat hadis lainnya, Rasulullah SAW melakukan tahnik
dan mendoakan kebaikan untuk bayi yang baru lahir. Para ulama salaf al-shalih juga
menerapkan praktik ini pada anak-anak mereka, sebagai bentuk ittiba’ (meneladani) Nabi
Muhammad SAW. Adapun hadis tahnik ialah sebagai berikut.
ِيم َو َحنَّ َكهُ بِت َ ْم َرة
َ َ ف-ي – صلى هللا عليه وسلم
َّ ِولد لي غُالم فَأَتَيْتُ بِ ِه النَّب
َ س َّماهُ إِب َْراه
“Aku dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi, maka beliau
memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma (tamr).” (HR al-Bukhari,
1992 ).
Dalam riwayat sebuah hadits yang diriwayatkan Aisyah berbunyi:
َّ صلَّى
علَ ْي ِه ْم َويُ َحنِكُ ُه ْم
َّ سلَّ َم َكانَ يُؤْ تِي بِال
َ ُان فَيُبَ ِرك
َ َُّللا
َ علَ ْي ِه َو
َ ِأ َ َّن َرسُ ْو َل هللا
ِ َص ْبي
Artinya: “Bahwasannya Nabi saw pernah didatangi seorang dari kalangan sahabat dengan
membawa beberapa anak bayi, lalu beliau memohonkan berkah kepada Allah untuk mereka
dan juga menciptakan kurma manis (tahnik).” (HR Muslim).
Adapun makna dilakukannya tahnik yaitu jika anak bayi tersebut sudah besar diharapkan
dapat bertutur kata dengan manis, sopan pada saat berbicara dengan orang yang lebih tua, dan
perkataannya tidak membuat orang lain tersinggung atau sakit hati (Argaheni and Kostania,
2022). Hal ini sejalan dengan Harun et al. (2021) yang menyatakan bahwa dalam
Encyclopedia Perbidanan Melayu: A Treasury of Medical Science a (...truncated)