Terapi Madu sebagai Upaya untuk Menjaga Kebersihan Mulut dan Kelembapan Bibir pada Pasien dengan Ventilator Mekanik
Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Volume 7 Nomor 2, April 2025
e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
TERAPI MADU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENJAGA KEBERSIHAN MULUT
DAN KELEMBAPAN BIBIR PADA PASIEN DENGAN VENTILATOR MEKANIK:
STUDI KASUS
Kinanti1, Arif Wahyu Setyo Budi1*, Nurfaizah2
Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, Jl. Brawijaya, Geblagan, Tamantitro, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55183, Indonesia
2
RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo, Jl. Jenderal Sudirman No.60, Doplang, Purworejo, Jawa Tengah 54114,
Indonesia
*
1
ABSTRAK
Penggunaan ventilator dalam perawatan pasien di bangsal Intensive Care Unit (ICU) dapat
meningkatkan risiko infeksi, termasuk komplikasi pada kebersihan mulut. Salah satu cara untuk
menjaga kebersihan mulut dan kelembapan bibir pada pasien ventilator adalah dengan pemberian
madu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efek madu terhadap kebersihan oral pasien
ventilator di ICU. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo, pada tanggal 29 April hingga 1 Mei 2025. Subjek
penelitian terdiri dari dua pasien ICU yang menggunakan ventilator lebih dari 48 jam dan memenuhi
kriteria inklusi. Madu dioleskan pada mukosa oral pasien dua kali sehari selama empat hari berturutturut. Pengukuran kebersihan oral menggunakan Beck Oral Assessment Scale (BOAS). Analisis data
yang dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan skor BOAS sebelum dan setelah pemberian
madu. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kebersihan oral dan kelembapan bibir pada
pasien setelah diberikan terapi tambahan berupa pemberian madu, yang tercermin dari penurunan skor
BOAS. Kesimpulan dari penelitian ini, pemberian madu pada pasien ventilator dapat meningkatkan
kebersihan mulut dan dapat dipertimbangkan sebagai alternatif intervensi dalam perawatan kebersihan
mulut di ICU.
Kata kunci: kebersihan oral; madu; ventilator
EVIDENCE-BASED APPLICATION OF HONEY THERAPY FOR ORAL HYGIENE
AND LIP MOISTURE MAINTENANCE IN MECHANICALLY VENTILATED
PATIENTS: A CASE STUDY
ABSTRACT
Mechanical ventilation in intensive care unit (ICU) patients increases the risk of hospital-acquired
infections, including complications related to oral hygiene and lip dryness. Maintaining oral hygiene
and lip moisture is essential to prevent further complications in critically ill patients. Honey, known
for its natural antibacterial and moisturizing properties, may serve as an effective alternative
intervention. This study aimed to describe the effect of honey therapy on oral hygiene and lip moisture
in mechanically ventilated patients. A descriptive case study with a quantitative approach was
conducted at Dr. Tjitrowardojo Regional Hospital, Purworejo, from April 29 to May 1, 2025. Two
ICU patients who had been on mechanical ventilation for more than 48 hours and met the inclusion
criteria were included. Honey was applied to the patients’ oral mucosa twice daily for four
consecutive days. Oral hygiene was assessed using the Beck Oral Assessment Scale (BOAS), and data
were analyzed descriptively by comparing BOAS scores before and after the intervention. The results
showed improvements in oral hygiene and lip moisture, indicated by a reduction in BOAS scores
following honey application. In conclusion, honey therapy may be considered a supportive
intervention to maintain oral hygiene and lip moisture in mechanically ventilated ICU patients.
Keywords: honey; oral hygiene; ventilator
855
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 7 No 2, April 2025
Global Health Science Group
PENDAHULUAN
Ventilator mekanik merupakan alat yang krusial dalam perawatan intensif, digunakan untuk
mendukung pernapasan pasien yang mengalami gangguan pernapasan akut maupun kronis. Di
seluruh dunia, lebih dari 3 juta pasien membutuhkan ventilator setiap tahun di Unit Perawatan
Intensif (ICU), dan angka ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan bertambahnya
populasi pasien dengan penyakit kritis (Adini et al., 2018). Meskipun ventilator sangat vital
dalam mempertahankan kehidupan pasien kritis, penggunaannya tetap membawa risiko
tertentu. Salah satu komplikasi yang umum terjadi adalah Ventilator-Associated Pneumonia
(VAP), yakni infeksi paru-paru yang timbul setelah penggunaan ventilator lebih dari 48 jam.
Infeksi ini disebabkan oleh perpindahan bakteri dari mulut ke saluran napas bawah, yang
kemudian mengkolonisasi paru-paru. Penelitian menunjukkan bahwa VAP dapat
meningkatkan angka kesakitan, kematian, serta memperpanjang lama perawatan di unit
perawatan intensif (ICU) (Amiri et al., 2020).
Global burden of disease (GBD) memperkirakan bahwa VAP menjadi salah satu penyebab
utama kematian dan komplikasi pada pasien yang dirawat di ICU. Di beberapa rumah sakit,
insiden VAP dilaporkan mencapai 10 hingga 20% dari seluruh pasien yang terpasang
ventilator (Adini et al., 2018). Di Indonesia, data yang tersedia menunjukkan angka yang
signifikan terkait kejadian VAP, dengan peran utama kebersihan mulut yang buruk sebagai
faktor risiko utama. Kebersihan mulut yang tidak terjaga dapat menyebabkan kolonisasi
bakteri patogen, yang memperburuk kondisi klinis pasien dan berisiko menyebabkan infeksi
saluran pernapasan bawah (Sumara et al., 2021). Salah satu solusi yang banyak diteliti untuk
mencegah VAP adalah perawatan kebersihan mulut yang optimal. Pasien yang terhubung
dengan ventilator sering kali mengalami penurunan salivasi dan ketidakmampuan untuk
menjaga kebersihan mulut secara mandiri, yang menyebabkan penumpukan bakteri di rongga
mulut. Untuk itu, perawatan kebersihan mulut yang intensif sangat penting untuk mengurangi
jumlah bakteri patogen yang berkembang biak di rongga mulut (Rizky Amalia Shidiq et al.,
2021). Di ruang ICU, tindakan pencegahan terhadap VAP umumnya melibatkan penggunaan
antiseptik mulut seperti chlorhexidine untuk mengurangi jumlah bakteri. Namun, penggunaan
chlorhexidine sering dikaitkan dengan efek samping seperti perubahan rasa, iritasi, dan rasa
tidak nyaman di mulut pasien (Ames et al., 2011). Oleh karena itu, pencarian alternatif yang
lebih alami dan aman menjadi semakin relevan.
Salah satu alternatif yang menjanjikan dalam perawatan kebersihan mulut pada pasien
ventilator adalah penggunaan madu. Madu telah dikenal sejak zaman kuno sebagai bahan
alami dengan berbagai manfaat kesehatan, terutama karena sifat antibakteri, anti-inflamasi,
dan penyembuhannya. Penelitian yang dilakukan oleh Adini et al. (2018) menunjukkan
bahwa madu dapat secara signifikan mengurangi kolonisasi bakteri patogen di rongga mulut
pasien yang terpasang ventilator, sehingga membantu mencegah terjadinya VAP (Adini et al.,
2018). Madu memiliki senyawa aktif seperti peroksida hidrogen, flavonoid, dan asam fenolik
yang dapat menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri patogen yang biasa ditemukan di
rongga mulut pasien ICU (Amiri et al. (...truncated)