PENILAIAN KUALITAS VISUAL RTH PERMUKIMAN DENGAN PENDEKATAN VISUAL RESOURCES ASSESSMENT PROCEDURE (VRAP) DI TAMAN MEBERE
ARSITEKNO | VOL 13 NO 01 MARET 2026
PENILAIAN KUALITAS VISUAL RTH PERMUKIMAN
DENGAN PENDEKATAN VISUAL RESOURCES
ASSESSMENT PROCEDURE (VRAP) DI TAMAN MEBERE
Nike Dyah Permata1, Nadhil Tamimi2, Nazirah Amalia3
1
Jurusan Teknik Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako,
email:
2
Jurusan Teknik Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako
3
Jurusan Teknik Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Perkembangan kawasan perkotaan yang pesat berimplikasi pada berkurangnya ruang terbuka
hijau (RTH), sehingga diperlukan evaluasi kualitas RTH sebagai ruang publik yang berfungsi
ekologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pengunjung dan
kualitas visual lanskap RTH Taman Mebere, Kelurahan Lasoani, Kota Palu, sebagai dasar
perumusan rekomendasi penataan dan pengelolaan RTH. Metode penelitian dilakukan melalui
observasi lapangan, pengukuran tapak, dokumentasi, serta wawancara dengan pengunjung pada
waktu kunjungan aktif. Analisis kualitas visual lanskap menggunakan metode modifikasi Visual
Resources Assessment Procedure (VRAP) dengan pembagian zona visual, yaitu zona visual dan
tepi, zona inti bawah, zona inti atas, dan zona pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kualitas visual Taman Mebere bervariasi antar zona. Zona inti bawah memiliki kualitas visual
tertinggi yang didukung oleh keberadaan elemen air, keragaman vegetasi, dan intensitas aktivitas
pengguna. Zona inti atas dan zona pendukung menunjukkan kualitas visual sedang hingga tinggi
yang berfungsi menjaga kesinambungan pengalaman visual. Sementara itu, zona visual dan tepi
memiliki kualitas visual rendah–sedang dan memerlukan penguatan identitas visual. Secara
keseluruhan, keberagaman vegetasi, elemen air, dan aktivitas pengguna merupakan faktor utama
pembentuk kualitas visual taman. Rekomendasi perbaikan diarahkan pada penguatan identitas
kawasan, peningkatan kualitas vegetasi, optimalisasi zona transisi, serta integrasi fungsi ekologis
dan sosial untuk mewujudkan RTH yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan
masyarakat.
Kata kunci: kualitas visual, persepsi pengunjung, ruang terbuka hijau, Taman Mebere, VRAP.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Info Artikel:
Dikirim: 24 Januari 2026; Revisi: 01 April 2026; Diterima: 28 April 2026; Diterbitkan: 31 Maret 2026
©2026 The Author(s). Published by Arsitekno, Architecture Program, Universitas Malikussaleh, Aceh,
Indonesia under the Creative Commons Attribution 4.0 International License
(https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. PENDAHULUAN
Perkembangan kota yang semakin pesat dapat berdampak pada berkurangnya jumlah
tutupan/area hijau. Penurunan area hijau di kawasan perkotaan dapat berdampak pada
menurunnya kualitas udara, serta terbatasnya ruang publik untuk interaksi sosial masyarakat [1].
Area hijau seperti ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan sangat berperan penting bagi
keseimbangan ekologis kota, selain itu juga RTH berfungsi sebagai ruang sosial, rekreatif, dan
estetika kota guna mendukung kualitas hidup masyarakat [2]. Di beberapa kota besar seperti
Jakarta, RTH juga dimanfaatkan sebagai area untuk olahraga, kegiatan sosial dan edukasi
lingkungan [3].
Berbagai macam manfaat RTH kota diantaranya dapat meningkatkan estetika dan keindahan
kota dengan adanya lanskap alami yang memperkaya pengalaman visual dan peningkatan citra
kota [4]. Secara ekologis, RTH berperan dalam pengendalian banjir, mengurangi efek urban heat
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
|81|
PENILAIAN KUALITAS VISUAL RTH PERMUKIMAN DENGAN PENDEKATAN VISUAL RESOURCES
ASSESSMENT PROCEDURE (VRAP) DI TAMAN MEBERE
island, dan meningkatkan kualitas udara [5]. Secara sosial, RTH menjadi sarana ruang publik
untuk berinteraksi dan berkumpul bersama [6]. Oleh karena itu keberadaan RTH kota menjadi
sangat penting bagi masyarakat dan kota itu sendiri.
Kondisi fasilitas, sarana dan prasaran RTH juga akan memperngaruhi pola kunjungan dan
cakupan pelayanan RTH tersebut, khususnya dalam meningkatkan aksesibilitas dan intensitas
pemanfaatan ruang publik [4]. Selain itu, peran vegetasi tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga
berkontribusi terhadap kualitas akses dan kenyamanan pengunjung di ruang terbuka publik [7].
Meskipun berbagai penelitian telah membahas peran RTH dalam meningkatkan kualitas
lingkungan perkotaan, kajian mengenai kualitas visual lanskap RTH pada skala permukiman
masih relatif terbatas, khususnya di kota-kota berkembang seperti Palu. Sebagian besar penelitian
lebih menitikberatkan pada aspek ekologis atau fungsi sosial taman kota, sementara aspek
pengalaman visual pengunjung sebagai bagian dari kualitas ruang publik belum banyak dikaji
secara mendalam.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas visual lanskap
adalah Visual Resources Assessment Procedure (VRAP). Metode ini digunakan untuk menilai
kualitas visual suatu lanskap berdasarkan karakteristik elemen fisik, kondisi lingkungan, serta
potensi pengalaman visual yang dirasakan oleh pengunjung [8]. Beberapa penelitian sebelumnya
telah menggunakan metode VRAP untuk menilai kualitas visual lanskap pada kawasan wisata
dan ruang terbuka publik. Namun, penerapan metode ini pada ruang terbuka hijau skala
lingkungan permukiman masih relatif terbatas, sehingga diperlukan kajian yang dapat
memberikan pemahaman mengenai bagaimana kualitas visual lanskap mempengaruhi
pengalaman ruang pengunjung pada taman lingkungan. Salah satu RTH di Kota Palu yang sudah
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas seperti bersantai dan bersosialisasi ialah
Taman Mebere, Lasoani.
Taman Mebere berfungsi sebagai ruang terbuka yang nyaman dan mudah diakses oleh
masyarakat. Taman Mebere terletak di tengah kawasan permukiman penduduk, sehingga menjadi
pilihan untuk berkumpul sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan permukiman. Pemanfaatan
tersebut menunjukkan bahwa RTH berperan penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan
mikro serta menyediakan ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
Keberhasilan RTH kota tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi
juga kualitas yang dirasakan oleh pengunjung. Oleh karena itu persepsi pengunjung menjadi
indikator penting untuk menilai sejauh mana suatu RTH mampu memenuhi kebutuhan
masyarakat. Evaluasi RTH berbasis persepsi pengunjung akan memberikan informasi mengenai
pengalaman langsung pengunjung. Penilaian terhadap aspek aksesibilitas, kenyamanan,
kebersihan, keamanan, kualitas lingkungan, fungsi sosial, serta estetika visual dapat memberikan
gambaran nyata mengenai kekuatan dan kelemahan suatu RTH sebagai ruang publik yang
fungsional dan berkualitas bagi masyarakat.
Berdasarkan latar belakang t (...truncated)