Ruang Jalanan sebagai Arena Dakwah: Analisis Sosiologis terhadap Anak Jalanan dan Strategi Bertahan Hidup

Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman, May 2026

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi bertahan hidup anak jalanan di Kota Pekanbaru serta memahami jalanan sebagai arena sosial, ekonomi, dan dakwah dalam perspektif sosiologi dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak jalanan memiliki strategi bertahan hidup yang adaptif melalui aktivitas ekonomi informal seperti mengemis, mengamen, dan menjadi badut jalanan. Aktivitas ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga melibatkan interaksi simbolik untuk membangun empati masyarakat. Jalanan berfungsi sebagai arena sosial yang dinamis yang ditandai oleh interaksi, kompetisi, dan relasi kuasa. Dalam perspektif sosiologi dakwah, fenomena ini menunjukkan bahwa praktik dakwah belum sepenuhnya menjangkau kelompok marginal di ruang publik. Anak jalanan tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat sosial atas ketimpangan yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dakwah yang lebih inklusif, kontekstual, dan berbasis pemberdayaan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.diniyah.ac.id/index.php/Baitul_Hikmah/article/download/2160/844

Ruang Jalanan sebagai Arena Dakwah: Analisis Sosiologis terhadap Anak Jalanan dan Strategi Bertahan Hidup

Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman Volume 4 No. 1 Edisi Januari – Juni 2026 Halaman 18 - 32 Ruang Jalanan sebagai Arena Dakwah: Analisis Sosiologis terhadap Anak Jalanan dan Strategi Bertahan Hidup Yeni Yasyah Sinaga* Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru Jl. Kuau No.1 Kampung Melayu Kec. Sukajadi Kota Pekanbaru Fazri Hasiholan Sinaga Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. H.R. Soebrantas No. 155 Pekanbaru Article History: Received: 06/05/2026 Revised: 07/05/2026 Accepted: 19/05/2026 Published: 20/05/2026 https://doi.org/10.46781/baitul_hikmah.v4i1.2160 Corresponding Author: Abstract This study examines the survival strategies of street children in Pekanbaru and analyzes the street as a social, economic, and da’wah arena from the perspective of the sociology of da’wah. This research employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The findings reveal that street children develop adaptive survival strategies through informal economic activities such as begging, busking, and street clowning. These practices involve not only economic motives but also symbolic interaction to attract public empathy. The street functions as a dynamic arena characterized by interaction, competition, and power relations. From the perspective of the sociology of da’wah, the findings indicate that da’wah practices have not fully reached marginalized groups in public spaces. Street children serve not only as objects of da’wah but also as social reminders of inequality. This study highlights the need for a more inclusive, contextual, and empowerment-based da’wah approach. Keywords: Street children, informal economy, public space, social da’wah, sociology of da’wah 18 | P a g e Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman Volume 4 No. 1 Edisi Januari – Juni 2026 Halaman 18 - 32 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi bertahan hidup anak jalanan di Kota Pekanbaru serta memahami jalanan sebagai arena sosial, ekonomi, dan dakwah dalam perspektif sosiologi dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak jalanan memiliki strategi bertahan hidup yang adaptif melalui aktivitas ekonomi informal seperti mengemis, mengamen, dan menjadi badut jalanan. Aktivitas ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga melibatkan interaksi simbolik untuk membangun empati masyarakat. Jalanan berfungsi sebagai arena sosial yang dinamis yang ditandai oleh interaksi, kompetisi, dan relasi kuasa. Dalam perspektif sosiologi dakwah, fenomena ini menunjukkan bahwa praktik dakwah belum sepenuhnya menjangkau kelompok marginal di ruang publik. Anak jalanan tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat sosial atas ketimpangan yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dakwah yang lebih inklusif, kontekstual, dan berbasis pemberdayaan. Kata Kunci: Anak jalanan, Dakwah sosial, Ruang publik, Ekonomi informal, Sosiologi dakwah A. Pendahuluan Fenomena anak jalanan merupakan salah satu persoalan sosial yang terus berkembang di berbagai kota di Indonesia, termasuk Kota Pekanbaru. Keberadaan anak jalanan di ruang publik seperti persimpangan jalan dan pusat aktivitas ekonomi mencerminkan adanya ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, serta lemahnya sistem perlindungan sosial. Secara konseptual, anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja atau beraktivitas di jalanan guna memenuhi kebutuhan hidup. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi keluarga, lingkungan sosial, dan terbatasnya akses pendidikan. Menurut Bagong Suyanto, anak jalanan merupakan kelompok marginal yang muncul akibat ketidakmampuan sistem sosial dan ekonomi dalam menjamin kesejahteraan masyarakat secara merata.1 Kondisi ini menyebabkan anak-anak harus mengambil peran ekonomi sejak usia dini, sehingga mengalami pergeseran fungsi dari yang seharusnya berfokus pada pendidikan dan perkembangan diri menjadi pelaku ekonomi informal. Fenomena anak jalanan di Pekanbaru menunjukkan dinamika yang cukup kompleks. Berdasarkan penelitian tentang profil anak jalanan di Pekanbaru, keberadaan mereka berkaitan erat dengan faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan, serta kurangnya perhatian keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan anak jalanan tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan lemahnya pengawasan sosial menjadi penyebab utama meningkatnya eksploitasi terhadap anak di ruang publik.2 1 Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak (Jakarta: Kencana, 2010). Dkk Indah Lamtiur Simatupang, Wan Fazila Azira, “Analisis Dampak Kasus Eksploitasi Anak Di Pekanbaru Berdasarkan Teori Abuse Of Power,” IKRA-ITH HUMAINORA : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol.9 No.2 (2025): 434–43, https://doi.org/https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v9i2. 2 19 | P a g e Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman Volume 4 No. 1 Edisi Januari – Juni 2026 Halaman 18 - 32 Dalam konteks ini, anak jalanan tidak hanya dapat dipahami sebagai korban, tetapi juga sebagai aktor sosial yang memiliki strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan. Mereka melakukan berbagai aktivitas ekonomi informal seperti mengemis, mengamen, menjadi badut jalanan, hingga menjual barang kecil di jalanan. Aktivitas ini menunjukkan adanya kreativitas sekaligus keterpaksaan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Menurut Soerjono Soekanto, masyarakat perkotaan memiliki karakteristik kompleks yang ditandai dengan diferensiasi sosial dan kompetisi dalam memperoleh sumber daya.3 Dalam kondisi tersebut, kelompok marginal seperti anak jalanan sering kali berada pada posisi yang tidak menguntungkan, sehingga harus mencari alternatif sumber penghidupan di sektor informal. Jalanan dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai ruang ekonomi dan sosial yang dimanfaatkan oleh kelompok marginal. Sektor informal berkembang sebagai respons terhadap keterbatasan akses terhadap ekonomi formal. Dengan demikian, aktivitas anak jalanan di ruang publik dapat dipahami sebagai bagian dari sistem ekonomi informal yang muncul akibat ketidakmampuan sistem formal dalam menyerap tenaga kerja. Selain dimensi ekonomi, fenomena anak jalanan juga memiliki dimensi sosial dan simbolik. Jalanan menjadi ruang interaksi antara anak jalanan dan masyarakat, khususnya pengguna jalan. Interaksi ini bersifat langsung dan spontan, namun memiliki makna sosial yang penting, seperti empati, penolakan, hingga konflik sosial. Dalam perspektif sosiolo (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.diniyah.ac.id/index.php/Baitul_Hikmah/article/download/2160/844
Article home page: https://ojs.diniyah.ac.id/index.php/Baitul_Hikmah/article/view/2160/844

Yeni Yasyah Sinaga, Fazri Hasiholan Sinaga. Ruang Jalanan sebagai Arena Dakwah: Analisis Sosiologis terhadap Anak Jalanan dan Strategi Bertahan Hidup, Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman, 2026, pp. 18-32, Volume 4, Issue 1,