TRANSFORMASI NASIONALISME DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN UPAYA PENGUATAN IDENTITAS KEBANGSAAN BAGI PESERTA DIDIK

Jurnal Geocivic, May 2026

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika nasionalisme di era digital, dengan fokus pada berbagai tantangan serta upaya penguatan identitas kebangsaan pada peserta didik. Perkembangan teknologi digital yang pesat serta arus globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam pola pikir, sikap, dan interaksi generasi muda, yang pada akhirnya turut memengaruhi pembentukan sikap nasionalisme mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Sumber data diperoleh dari berbagai literatur yang relevan, seperti buku ilmiah, jurnal akademik, hasil penelitian terdahulu, serta dokumen resmi yang berkaitan dengan nasionalisme, pendidikan kewarganegaraan, dan literasi digital.Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan pengkajian literatur secara sistematis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan tematik, yaitu melalui proses reduksi data, pengelompokan informasi berdasarkan tema, interpretasi makna, serta penarikan kesimpulan yang mengacu pada perspektif pendidikan kewarganegaraan dan teori konstruksi identitas nasional.Hasil kajian menunjukkan bahwa era digital memiliki karakter dualistik, yaitu sebagai peluang sekaligus tantangan dalam penguatan nasionalisme. Media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana inovatif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui konten kreatif berbasis sejarah, budaya, dan identitas nasional. Namun demikian, rendahnya literasi digital kritis di kalangan peserta didik berpotensi menimbulkan penurunan kualitas nasionalisme akibat paparan informasi global yang tidak terfilter. Dalam hal ini, sekolah memiliki peran strategis melalui integrasi nilai-nilai kewarganegaraan dalam pembelajaran serta penguatan program berbasis karakter kebangsaan.Penelitian ini menyimpulkan bahwa nasionalisme generasi muda tidak mengalami kemunduran, melainkan mengalami transformasi dalam bentuk dan ekspresinya. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan yang terarah dan berkelanjutan dari lembaga pendidikan agar nilai nasionalisme tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/geocivic/article/download/11909/pdf

TRANSFORMASI NASIONALISME DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN UPAYA PENGUATAN IDENTITAS KEBANGSAAN BAGI PESERTA DIDIK

Jurnal GeoCivic Vol. 9, No. 1, April 2026 E-ISSN: 2722-3698 P-ISSN: 2301-4334 TRANSFORMASI NASIONALISME DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN UPAYA PENGUATAN IDENTITAS KEBANGSAAN BAGI PESERTA DIDIK Rosvita Yolantika Yestari1*, Maria Nirma Komala Rija2, Maria Miklola Sarmita3, Fransiska Afdatitan4, Vanda Lidya Diana Manu Ndun5, Fadil Mas’ud6 1*,2,3,4,5 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Nusa Cendana 6 Prodi PPKn, FKIP, Universitas Nusa Cendana *E-mail: Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika nasionalisme di era digital, dengan fokus pada berbagai tantangan serta upaya penguatan identitas kebangsaan pada peserta didik. Perkembangan teknologi digital yang pesat serta arus globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam pola pikir, sikap, dan interaksi generasi muda, yang pada akhirnya turut memengaruhi pembentukan sikap nasionalisme mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Sumber data diperoleh dari berbagai literatur yang relevan, seperti buku ilmiah, jurnal akademik, hasil penelitian terdahulu, serta dokumen resmi yang berkaitan dengan nasionalisme, pendidikan kewarganegaraan, dan literasi digital. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan pengkajian literatur secara sistematis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan tematik, yaitu melalui proses reduksi data, pengelompokan informasi berdasarkan tema, interpretasi makna, serta penarikan kesimpulan yang mengacu pada perspektif pendidikan kewarganegaraan dan teori konstruksi identitas nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa era digital memiliki karakter dualistik, yaitu sebagai peluang sekaligus tantangan dalam penguatan nasionalisme. Media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana inovatif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui konten kreatif berbasis sejarah, budaya, dan identitas nasional. Namun demikian, rendahnya literasi digital kritis di kalangan peserta didik berpotensi menimbulkan penurunan kualitas nasionalisme akibat paparan informasi global yang tidak terfilter. Dalam hal ini, sekolah memiliki peran strategis melalui integrasi nilai-nilai kewarganegaraan dalam pembelajaran serta penguatan program berbasis karakter kebangsaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nasionalisme generasi muda tidak mengalami kemunduran, melainkan mengalami transformasi dalam bentuk dan ekspresinya. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan yang terarah dan berkelanjutan dari lembaga pendidikan agar nilai nasionalisme tidak hanya dipahami secara 66 konseptual, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Kunci: Nasionalisme; Pendidikan Kewarganegaraan; Literasi Digital; Media Sosial. Pendahuluan Nasionalisme merupakan salah satu fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada tahun 1945, semangat nasionalisme telah menjadi kekuatan pemersatu yang mampu mengintegrasikan keberagaman suku, agama, ras, budaya, serta bahasa ke dalam satu identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia (Anderson, 2006; Latif, 2011). Dalam konteks ini, nasionalisme tidak hanya dipahami sebagai rasa cinta terhadap tanah air, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, khususnya dalam era globalisasi dan digitalisasi, konsep dan praktik nasionalisme mengalami dinamika yang signifikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet dan media sosial, telah mengubah pola interaksi sosial, cara memperoleh informasi, serta gaya hidup generasi muda. Peserta didik saat ini hidup dalam ekosistem digital yang memungkinkan mereka untuk terhubung secara global tanpa batas ruang dan waktu. Kondisi ini menjadikan ruang digital sebagai salah satu arena utama dalam pembentukan identitas sosial, termasuk identitas kebangsaan (Arianto, 2020; UNESCO, 2021). Di satu sisi, kehadiran teknologi digital membuka peluang yang sangat besar dalam memperkuat nilai-nilai nasionalisme. Media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang efektif untuk menyebarkan informasi tentang sejarah perjuangan bangsa, kekayaan budaya lokal, serta nilai-nilai Pancasila. Generasi muda kini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang aktif dalam menciptakan narasi kebangsaan melalui berbagai platform digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa nasionalisme tidak mengalami kemunduran, melainkan mengalami transformasi dalam bentuk ekspresi yang lebih kreatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman (Dewi & Furnamasari, 2021; Prasetyo, 2021). Lebih lanjut, munculnya berbagai komunitas digital yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan juga menjadi indikator bahwa kesadaran nasionalisme di kalangan generasi muda masih tetap eksis. Konten-konten kreatif seperti video edukatif, kampanye digital tentang 67 toleransi, serta promosi budaya lokal melalui media sosial menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi wahana strategis dalam memperkuat identitas kebangsaan. Hal ini sejalan dengan konsep digital citizenship yang menekankan pentingnya partisipasi aktif individu dalam menciptakan ruang digital yang positif, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan (UNESCO, 2021). Namun demikian, di balik berbagai peluang tersebut, era digital juga menghadirkan tantangan yang tidak kalah kompleks. Salah satu tantangan utama adalah derasnya arus globalisasi yang membawa masuk berbagai nilai, budaya, dan ideologi dari luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Dominasi budaya asing dalam konten digital, misalnya, dapat memengaruhi preferensi dan pola pikir generasi muda sehingga berpotensi menggeser identitas nasional mereka (Hidayat & Nurhasanah, 2022). Selain itu, maraknya penyebaran hoaks, disinformasi, serta ujaran kebencian berbasis SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) di media sosial juga menjadi ancaman serius bagi kohesi sosial dan persatuan bangsa. Informasi yang tidak terverifikasi dapat dengan mudah memicu konflik sosial, memperkuat polarisasi, serta menurunkan kepercayaan terhadap institusi negara. Dalam konteks ini, peserta didik sebagai pengguna aktif media digital menjadi kelompok yang rentan terhadap pengaruh negatif tersebut, terutama jika tidak memiliki kemampuan literasi digital yang memadai (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, 2021; UNESCO, 2021). Rendahnya literasi digital kritis di kalangan peserta didik menjadi salah satu faktor yang memperkuat kerentanan tersebut. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan mema (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/geocivic/article/download/11909/pdf
Article home page: https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/geocivic/article/view/11909/pdf

Rosvita Yolantika Yestari, Maria Nirma Komala Rija, Maria Miklola Sarmita, Fransiska Afdatitan, Vanda Lidya Diana Manu Ndun, Fadil Mas’ud. TRANSFORMASI NASIONALISME DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN UPAYA PENGUATAN IDENTITAS KEBANGSAAN BAGI PESERTA DIDIK, Jurnal Geocivic, 2026, pp. 66-75,