SEJARAH TARI MENGUYAK PUCUK CIPTAAN BAPAK FAUZI DI KOTA TANJUNG BALAI (Fidya Tri Kartika)

Gesture: Jurnal Seni Tari, Jun 2012

Tari Menguyak Pucuk diciptakan oleh Bapak Fauzi seorang seniman Melayu yang dimiliki masyarakat kota Tanjung Balai. Tari ini bersumber dari aktifitas para buruh dalam mengolah daun nipah yang dijadikan rokok daun, yang kebanyakan dilakukan oleh buruh wanita Ada 6 gerak pekerjaan yang dimulai dari mengimas, menebang, menotak, menguyak, menjemur, dan menggundal, yang kemudian dijadikan motif dasar tari yang dikembangkan menjadi karya Tari Menguyak Pucuk. Kata kunci: Menguyak Pucuk, Penciptaan, Aktifitas masyarakat

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gesture/article/download/158/53

SEJARAH TARI MENGUYAK PUCUK CIPTAAN BAPAK FAUZI DI KOTA TANJUNG BALAI (Fidya Tri Kartika)

SEJARAH TARI MENGUYAK PUCUK CIPTAAN BAPAK FAUZI DI KOTA TANJUNG BALAI Fidya Tri Kartika Prodi Seni Tari Jurusan Sendratasik FBS Unimed ABSTRAK Tari Menguyak Pucuk diciptakan oleh Bapak Fauzi seorang seniman Melayu yang dimiliki masyarakat kota Tanjung Balai. Tari ini bersumber dari aktifitas para buruh dalam mengolah daun nipah yang dijadikan rokok daun, yang kebanyakan dilakukan oleh buruh wanita Ada 6 gerak pekerjaan yang dimulai dari mengimas, menebang, menotak, menguyak, menjemur, dan menggundal, yang kemudian dijadikan motif dasar tari yang dikembangkan menjadi karya Tari Menguyak Pucuk. Kata kunci: Menguyak Pucuk, Penciptaan, Aktifitas masyarakat A. Latar Belakang Suku Melayu tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, yang terbentang dari daerah Pesisir Timur wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai wilayah Nusa Tenggara Barat. Di daerah Sumatera sendiri suku Melayu menyebar di daerah sebahagian Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Pesisir Timur Sumatera Barat, Palembang, Riau, dan Lampung. Suku Melayu di Sumatera Utara terdapat di beberapa daerah antara lain kota Medan, Deli Serdang, Asahan, Tanjung Balai, Pesisir Sibolga, dan lain- lain. Kesemua suku Melayu ini memiliki kesamaan dalam adat budaya dengan berpijak pada aturan-aturan yang disesuaikan dengan hukum- hukum dalam agama yaitu Islam, sebagai agama yang dianut masyarakat suku Melayu. Aturan-aturan itu tertuang dan dipatuhi masyarakat dalam berbagai kegiatan adat budaya, salah satunya adalah kesenian. Suku Melayu seperti yang sudah dikemukakan di atas, juga memiliki berbagai kesenian yang memiliki corak dan ciri sendiri, yang memperlihatkan budaya dari masyarakatnya. Kesenian yang dimiliki ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, serta menjadi identitas pribadi masyarakat Melayu. Kesenian yang mereka miliki menjadi sarana komunikasi, untuk menginformasikan dan mewujudkan keinginan dari 2 masyarakatnya sesuai kehendak dan tujuan dari pelaksanaan penyajian kesenian tersebut. Berbagai bentuk kesenian mereka informasikan dalam berbagai kegiatan, dan menjadi cerminan dari kehidupan masyarakatnya, yang kuat memegang adat dan agama sebagai dasar dalam menjalani hidup dan bermasyarakat. Bentuk-bentuk kesenian yang mereka miliki antara lain; seni musik, seni rupa, seni tari, syair, dan lain sebagainya. Seni Tari bagi masyarakat Melayu digunakan dalam berbagai kesempatan, baik dalam kegiatan upacara adat, kegiatan hiburan, maupun pertunjukan. Mereka menjadikan seni tari sebagai media untuk penyampaian kehendak, dan ekspresi kreatifitas, yang diungkapankan dengan keindahan dan ekspresi jiwa manusia melalui bentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Menurut beberapa pakar menyatakan bahwa ekspresi jiwa manusia diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi suatu bentuk gerak yang baik dan sebagai ungkapan sipencipta. Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh beberapa pakar tentang tari, suku Melayu menjadikan tari sebagai symbol ungkapan kehendak, yang diekspresikan lewat tubuh sebagai media untuk menyampaikan keinginan. Demikian juga halnya dengan tari- tari yang ada di daerah Tanjung Balai, yang dimiliki Suku Melayu sebagai salah satu suku di Tanjung Balai. Masyarakat Melayu di Tanjung Balai dalam melaksanakan kegiatan adat budayanya, menyertakan tari sebagai kelengkapan dalam berbagai kegiatan, baik dalam kegiatan upacara, kegiatan hiburan maupun kegiatan pertunjukan. Tari menjadi media efektif bagai masyarakat, dalam menyampaikan keinginan dan pesan sebagai komunikasi lewat karya tari yang diciptakan berdasarkan keinginan dan tujuan yang hendak disampaikan. Tari Menguyak Pucuk, adalah salah satu tarian yang terdapat di daerah Tanjung Balai, dan menjadi tarian yang populer karena melalui tarian ini, bisa dilihat aktifitas kehidupan masyarakatnya. Tari ini diciptakan oleh Bapak Fauzi, salah seorang seniman kreatif yang dimiliki masyarakat Melayu Tanjung Balai, yang mendapatkan ide berdasarkan kehidupan masyarakat dalam mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan. Tarian ini, menceritakan tentang kehidupan buruh dalam mengolah daun nipah untuk dijadikan rokok, yang umumnya dikerjakan oleh kaum wanita. Proses pembuatan rokok menjadi inspirasi bagi Bapak Fauzi untuk menjadikannya sebuah karya tari, dengan mengambil wanita sebagai penari agar aktifitas dalam proses pembuatan rokok dapat tersampaikan. Tari Menguyak Pucuk diiringi dengan lagu Iyolah Molek, yang merupakan lagu tradisi yang sangat digemari oleh masyarakat Melayu Tanjung Balai. Lagu ini dipilih untuk lebih menguatkan alur cerita dari tari, dengan irama yang manja sesuai dengan sifat kaum wanita, 3 maka lagu Iyolah Molek menjadi pilihan Bapak Fauzi sebagai pengiring dari tari Menguyak Pucuk. Majunya zaman dan pesatnya perkembangan teknologi, serta adanya globalisasi di segala bidang, membuat perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali perubahan yang terjadi dalam kesenian. Tari menguyak pucuk yang semula pada awal penciptaanya merupakan tari kreasi yang diciptakan pada tahun 80-an, saat ini diakui oleh masyarakatnya menjadi tari kreasi yang ada di kota Tanjung Balai. Hal ini dikarenakan masyarakat sangat menggemari pertunjukan tari Menguyak Pucuk, dan banyak para penari dari sanggar-sanggar yang ada di Tanjung Balai belajar tari ini, selain itu banyak kegaiatan yang menjadikan Tari Menguyak Pucuk sebagai materi pertunjukan. Berdasarkan beberapa hal ini dan factor- faktor lain, akhirnya masyarakat menjadikan tari menguyak Pucuk sebagai salah satu tari kreasi yang dimiliki, dan layak untuk dilestarikan. Dari apa yang sudah dijelaskan, maka penelitian ini mengkaji latar belakang koreografer dalam menciptakan Tari Menguyak Pucuk, dengan menganalisis dasar penciptaan tari, sumber garapan, music iringan, dan lain sebagainya. 2. Landasan Teoretis Landasan teoretis menjadi dasar, pijakan, dalam menganalisis data-data yang dikumpulkan berdasarkan batasan masalah. Sebagai dasar, pijakan dalam penelitian diperlukan kajian pustaka yang berhubungan dengan topic/kajian yang akan diteliti, agar proses pengumpulan data, dan proses penganalisisan dapat terarah. Landasan teori ini sangat di harapkan supaya bisa menyelesaikan suatu masalah yang diteliti dalam penelitian. 1. Pengertian Sejarah Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (WJS poerwadarminto, 1982:646) menyebutkan bahwa sejarah mengandung 3 pengertian yaitu: a. Kesusasteraan lama: silsilah, asal – usul. b. Kejadian dan peristiwa yang benar – benar terjadi pada masa lampau. c. Ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar – benar terjadi pada masa lampau Berkaitan dengan pengertian diatas, penelitian ini adalah penelitian yang mengkaji tentang asal mula penciptaan Tari Menguyak Pucuk yang dapat dikaji dari sia (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gesture/article/download/158/53
Article home page: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gesture/article/view/158/53

Kartika Fidya Tri. SEJARAH TARI MENGUYAK PUCUK CIPTAAN BAPAK FAUZI DI KOTA TANJUNG BALAI (Fidya Tri Kartika), Gesture: Jurnal Seni Tari, 2012,