MABBACA DOANG: TRADISI MEMBACA DOA PADA MASYARAKAT BUGIS PERANTAUAN DI DESA TOMBEKUKU KECAMATAN BASALA KABUPATEN KONAWE SELATAN
ETNOREFLIKA
VOLUME 7
No. 1. Februari 2018
Halaman 66 - 74
MABBACA DOANG: TRADISI MEMBACA DOA PADA MASYARAKAT BUGIS
PERANTAUAN DI DESA TOMBEKUKU KECAMATAN BASALA KABUPATEN
KONAWE SELATAN1
Muh. Aking2
ABSTRAK
Penelitian betujuan untuk mengetahui jenis-jenis tradisi membaca do’a (mabbaca doang)
pada msyarakat Bugis perantauan di Desa Tombekuku. Selain itu juga untuk mengetahui alasan
masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi tersebut. Teknik analisis data digunakan
dalam penelitian ini bersifat deskriftif kualitatif. Data dikumpulkan dengan mengunakan teknik
pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi
membaca do’a (mabbaca doang) yang dilakukan masyarakat Bugis perantauan di Desa
Tombekuku memiliki beberapa jenis, yaitu mabbaca doang ketika menjelang puasa, saat hari raya
idul fitri, serta ketika naik rumah baru. Tradisi ini dilakasanakan bebagai bentuk rasa syukur
masyarakat setempat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu tradisi ini juga bertujuan untuk
memperoleh berkah, kesehatan dan keselamatan dalam hidup. Secara social, tradisi ini berfungsi
sebagai sarana untuk mempererat tali kekerabatan antara masyarakat. Sedangkan dari aspek religi,
tradisi ini berfungsi sebagai cara permohonan kepada Sang Pencipta. Alasan masyarakat Bugis
mempertahankan tradisi mabbaca doang di perantauan adalah karena tradisi tersebut merupakan
kepercayaan turun-temurun dari leluhur serta untuk melestarikan tradisi di tanah rantau.
Kata kunci: tradisi, mabbaca doang, masyarakat Bugis Perantauan
ABSTRACT
The research aims to find out the types of traditions of mabbaca doang in overseas
Buginese communities, Tombekuku Village. In addition, it is also to find out the reasons for the
local community still maintaining the tradition. The data analysis is descriptive qualitative. Data
collections are observation techniques and in-depth interviews. The results of this study indicate
that the tradition of mabbaca doang by the Bugis migrants in Tombekuku Village has several types,
namely mabbaca doang when approaching fasting, during Eid al-Fitr, and have a new house. This
tradition is carried out in various forms of gratitude by the local community towards the Almighty
God. Besides this tradition, it also aims to obtain blessings, health, and safety in life. Socially, this
tradition serves as a means to strengthen the kinship among communities. Whereas from the
religious aspect, this tradition serves as a way of pleading to the Creator. The reason the Buginese
community maintain the tradition of mabbaca on the overseas is that the tradition is a hereditary
belief from the ancestors and to preserve the tradition in the overseas land.
Keywords: traditions, mabacca doang, the overseas Buginese communities
1
Hasil Penelitian
Alumni Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, Kampus Hijau Bumi
Tridharma, Jl. H.E Agus Salim Mokodompit, Kendari 93232 , Pos-el:
2
66
Etnoreflika, Vol. 7, No. 1, Februari 2018
A. PENDAHULUAN
Tradisi merupakan salah satu unsur
budaya yang ada pada setiap masyarakat
pendukung kebudayaan. Tradisi dalam hal
ini lebih menekankan pada pola-pola
budaya yang masih berkembang dan
cenderung merupakan warisan dari masa
lalu. Tradisi merupakan bagian dari
kebudayaan, baik yang sifatnya tradisional
maupun yang telah mengalami pergeseran
kearah yang lebih moderen Iwayan Suca
Imadi (2013: 1).
Tradisi yang dilakukan secara turuntemurun biasanya memiliki tujuan yang
berbeda-beda antara masyarakat satu
dengan masyarakat yang lainnya. Seperti
halnya tradisi yang terdapat di Masyarakat
Bugis di Desa Tombekuku, yaitu tradisi
membaca doa (Mabbaca Doang).
Tradisi membaca doa (mabbaca
doang) memiliki kesamaan seperti di
masyarakat Jawa yang disebut tradisi
“Ruwutan”.
Di
Desa
Tambaboyo,
Tawangsari, Sukoharjo terdapat tradisi yang
dilaksanakan dibulan Sya’ban (atau
Ruwah), dalam budaya Islam Jawa tradisi
Ruwah adalah tradisi yang selalu
dilaksanakan sepuluh hari sebelum puasa
Ramadan. Semua rangkaian acara ruwah
bertolak dari keimanan pada tuhan agar
dalam hidup ini, mereka yang tengah hidup
didunia mengingat akan asal-usulnya
(sangkan paraning dumadi) secara biologis
dan merenungi kehidupan manusia yang
sementara, seraya berdoa untuk mereka
yang telah mendahului merupakan inti dari
tradisi di bulan Ruwah ini. Ruwahan
dimaknai sebagai sebuah tradisi yang
berupa penghormatan kepada arwah nenek
moyang dan memanjatkan doa selamatan.
Mutia Suryandari ( 2013: 1-3). Pada
masyarakat Muna disebut dengan “Haroa”
tradisi ini biasanya dilakukan pada malam
27 Rajab (Isra Mi’aj), malam 15 Sya’ban
yang disebut Nifsyu Syaban(jawaban lain
adalah kelahiran Iman Mahdi), 1 Ramadhan
(Awal Puasa), 15 Ramadhan (Malam
Qunut), 17 Ramadhan (Turunnya Al Qur’an
atau yang biasa disebut Nuzulul Qur’an),
untuk 21-29 ramadhan (Lailtul Qadar).
Suraya (2014: 47 ).
Masyarakat
Bugis
di
Desa
Tombekuku, tradisi “Mabbaca Doang”
merupakan hal yang biasa dilaksanakan,
pada saat hajatan, kematian, naik rumah
baru, naik haji, dan pada masa panen.
Tradisi ini masih dilaksanakan oleh
masyarakat Bugis di Desa Tombekuku
walaupun mereka berada di tanah rantau.
Tradisi ini diyakini mempunyai fungsi
sebagai bentuk permohonan do’a kepada
Allah SWT agar masyarakat diberikan
keselamatan dari bencana dan penyakit.
Pada tradisi membaca do’a “Mabbca
Doang”, masyarakat Bugis di Desa
Tombekuku memiliki berbagai jenis cara
dalam pelaksanaannya, namun penelitian
ini tidak secara menyeluruh menyajikan
jenis-jenis pelaksanaan tradisi membaca
do’a pada masyarakat Bugis di Desa
Tombekuku
atau
dalam
artian
menyajikannya di luar Life Cycle
(lingkarang hidup).
Penelitian
terdahulu
yang
bersangkutan dengan penelitian ini yaitu
Safarudding (2015: 1) dalam penelitiannya
berjudul “Massuro Mabbaca”, dalam ritual
Mabbaca, pihak yang didoakan biasanya
menyiapkan makanan yang memiliki
filosofi yang luas, misalnya Onde-onde,
Baje, Kue lapis, Kue tujuh macam dan
Cucur. Jenis kue ini sangat identik dengan
tepung, gula merah dan kelapa yang di
anggap sebagai filosofi kehidupan yang
sejahtera
(makanja).
Juga
sering
dihidangkan makanan seperti nasi putih,
beras ketan, lengkap dengan lauk seperti
ayam, ikan telur dan air putih. Makanan ini
melambangkan filosofi kehidupan yang
berkecukupan dan mapan. Seseorang yang
melakukan ritual mabbaca sampai saat ini
masih sering dijumpai di tengah masyarakat
bugis, sebagai upaya untuk menolak bala
dan atau sebagai bentuk kesyukuran. Yang
melakukan ritual ini akan memanggil
tetangga-tetangganya terutama orang-orang
67
Muh. Aking:Mabacca Doang (Tradisi Membaca Doa pada Masyarakat Bugis Perantauan di Desa
Tombekuku Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan
fakir untuk menikmati hidangan bersamasama, setelah tokoh adat selesai membaca
doa-doanya.
Tang
(1996:
40)
Dalam
penelitiannya berjudul ” Aneka Ragam
Pengaturan Sekuritas Sosial di Bekas
Kerajaan
Barru
Sulawesi
Selatan,
Indonesia” dalam upacara Menre Bola
(persemian rumah), ada yang disebut
Panrita Bol (...truncated)