Penciptaan Komik Webtoon Sebagai Sarana Edukasi Bagi Remaja Tentang Perilaku Berkomentar Yang Baik Di Media Sosial
PENCIPTAAN KOMIK WEBTOON SEBAGAI SARANA
EDUKASI BAGI REMAJA TENTANG PERILAKU
BERKOMENTAR YANG BAIK DI MEDIA SOSIAL
Rossyta Wahyutiar. 1, Benny Rahmawan 2, Swesti Anjampiana 3,
Jonathan Nicholas Gusnov4
Institut informatika Indonesia, Surabaya1
Abstrak
Keberadaan media sosial dapat menimbulkan fenomena yang
menyebabkan adanya tindakan kebencian yang akrab dikenal dengan
istilah cyberbullying. Fenomena cyberbullying kerap kali terjadi pada
anak-anak muda yang masih menjajaki usia remaja awal. Tindakan
cyberbullying umumnya bermanifestasi sebagai komentar negatif atau
ekspresi permusuhan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,
tindakan berkomentar secara negatif yang mengandung kebencian
tersebut dilakukan oleh para remaja didasari dengan pencarian jati diri
untuk membangun rasa superioritas dan dominasi atas orang
sekitarnya, khususnya pada korban cyberbullying. Penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa melalui komik edukatif yang disusun,
para remaja menjadi lebih peka terhadap akibat dari tindakan
cyberbullying. Komik ini menggambarkan secara realistis konsekuensi
emosional yang dialami oleh korban cyberbullying serta membahas
dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan kebencian tersebut.
Pengenalan akan pentingnya empati dan toleransi di dalam komik ini
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para remaja akan dampak
negatif yang ditimbulkan oleh tindakan cyberbullying. Dengan
demikian, penciptaan komik ini bertujuan untuk mengedukasi para
remaja mengenai tindakan cyberbullying dan memberikan pemahaman
yang lebih mendalam tentang akibat yang merugikan dari tindakan
kebencian tersebut. Diharapkan inisiatif ini akan berkontribusi pada
penurunan prevalensi cyberbullying di Indonesia, dengan menciptakan
lingkungan daring yang lebih aman dan toleran bagi semua
penggunanya.
Kata kunci: Cyberbullying, Remaja, Media Sosial
Abstract
The presence of social media can give rise to a phenomenon that
engenders acts of animosity commonly known as cyberbullying. This
Rossyta Wahyutiar, Institut Informatika Indonesia, Surabaya.
39
cyberbullying phenomenon often transpires among adolescent youths
who are in the nascent stages of their teenage years. Cyberbullying
actions typically manifest as deleterious comments or expressions of
enmity. Based on the conducted research, it is discerned that negative
and hate-filled comments among teenagers stem from their quest for
self-identity to establish feelings of superiority and dominance over
their peers, particularly about cyberbullying victims. The research
undertaken demonstrates that through the formulation of an
educational comic, adolescents develop heightened sensitivity towards
the ramifications of cyberbullying activities. This comic realistically
depicts the emotional consequences experienced by cyberbullying
victims and expounds upon the adverse impacts engendered by such
malevolent actions. The comic's introduction of the paramount
significance of empathy and tolerance endeavours to enhance
awareness among adolescents concerning the deleterious outcomes of
cyberbullying activities. Thus, the creation of this comic aims to
educate adolescents about cyberbullying actions and instil a more
profound comprehension of the detrimental repercussions arising
from acts of animosity. It is hoped that this initiative will contribute to
the reduction of cyberbullying prevalence in Indonesia by cultivating
a virtual environment that is safer and more tolerant for all its users.
Keywords: Cyberbullying, Teenagers, Social Media
PENDAHULUAN
Dalam evolusi teknologi informasi, manusia telah menghasilkan suatu
inovasi yang secara luas digunakan untuk memfasilitasi komunikasi antarindividu,
yaitu Media Sosial. Menurut Kottler dan Keller (2016:338), media sosial adalah
media yang digunakan oleh konsumen untuk berbagi teks, gambar, suara, video
dan informasi dengan orang lain. Taprial dan Kanwar (2012:8) mendefinisikan
media sosial ialah media yang digunakan seseorang untuk menjadi sosial, atau
mendapatkan daring sosial dengan berbagi isi, berita, foto dan lain-lain dengan
orang lain.
Media
sosial, pada era
kontemporer, mempersembahkan sejumlah
keuntungan yang signifikan; namun, tidak dapat dipungkiri bahwa jika tidak
dimanfaatkan dengan bijaksana, media sosial juga memiliki potensi untuk
menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Penggunaan media sosial oleh
para remaja telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap
kesejahteraan mereka. Fenomena seperti cyberbullying, kecanduan media sosial,
40
ARTIKA Volume.7, Nomor.1, Juli 2023.
ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251
dan masalah kesehatan mental telah menjadi konsekuensi yang sering terjadi akibat
penggunaan yang tidak bertanggung jawab.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Jones (2020:275-279), ditemukan
bahwa pengalaman cyberbullying yang terjadi melalui platform media sosial
memiliki efek yang merugikan, termasuk penurunan kepercayaan diri, depresi, dan
kecemasan yang meningkat. Selain itu, penelitian oleh Smith (2019:259-265)
menunjukkan
bahwa
penggunaan media
sosial secara
berlebihan dapat
menyebabkan gangguan tidur, pengurangan interaksi sosial langsung, dan
kurangnya keterlibatan dalam aktivitas fisik.
Terkait isu dampak negatif penggunaan media sosial. Upaya penanganannya
juga telah menarik perhatian dari pemerintah dengan pendirian Badan Siber dan
Sandi Negara (BSSN) yang diresmikan pada tanggal 17 Mei 2017. Organisasi ini
bertujuan untuk melindungi keamanan siber dan mencegah kejahatan dunia maya.
Meskipun adanya langkah-langkah tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kasuskasus komentar kebencian dalam konteks media sosial tetap meluas dan bahkan
mengalami peningkatan yang signifikan selama periode pandemic Covid-19
(Badan Siber dan Sandi Negara. (n.d.)).
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Kompas.com, pada tahun 2021,
tercatat bahwa sebanyak 41% peserta didik melaporkan mengalami pengalaman
perundungan secara daring. Fenomena ini memiliki dampak yang merugikan baik
secara mental maupun emosional. Secara mental, individu yang menjadi korban
cyberbullying akan merasakan perasaan malu dan amarah terhadap diri sendiri serta
orang-orang di sekitarnya.
Selain itu, beberapa kasus ekstrem bahkan mengarah pada isolasi sosial dan
bahkan upaya bunuh diri. Dari segi emosional, perubahan perilaku yang signifikan
juga dapat terjadi, di mana seseorang yang sebelumnya ceria dan mudah tersenyum
dapat berubah menjadi murung dan cenderung menyendiri. Dalam melihat dampak
negatif yang parah dari komentar kebencian tersebut, maka dibuatlah penciptaan
webtoon ini dengan tujuan utama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat
mengenai pentingnya kesadaran akan dampak negatif dari cyberbullying.
Pemilihan media webtoon sebagai media utama dalam penelitian ini
didasarkan pada pertumbuhan yang signifikan dalam jumlah pengguna webtoon
Rossyta Wahyutiar, Institut Informatika Indonesia, Surabaya.
41
setiap tahunnya. Seperti yang diungkapkan dalam jurnal "Line Webtoon Seba (...truncated)