Perancangan Animasi Stop Motion Sebagai Media Edukasi Untuk Memahami Aturan Sensor Tayangan Televisi Bagi Remaja Usia 12 — 21 Tahun

Artika, Jan 2024

Sensor pada tayangan televisi berfungsi untuk membatasi informasi dan pesan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, Akan tetapi, saat ini banyak masyarakat yang belum memahami aturan dan ketentuan tentang sensor tersebut. Keterbatasan ini telah memicu anggapan bahwa efektifitas sensor televisi di Indonesia sangat menyimpang dari tujuan utama. Dan juga banyak munculnya suatu fenomena anggapan sensor alay, sensor berlebihan dan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu maka diperlukan suatu media yang mampu berperan dalam menjembatani masyarakat dengan lembaga sensor terkait dengan cara memberikan edukasi mengenai aturan dan ketentuan sensor televisi Metode penelitian berupa metode campuran, yaitu dengan wawancara langsung dan melalui penyebaran kuesioner. Metode perancangan yang dilakukan adalah ide cerita, pembuatan figur dengan bahan clay, proses digital dan editing. Hasil dari perancangan ini berupa tayangan video iklan layanan masyarakat sebanyak 3 episode dengan durasi 6 menit. Video ditayangkan melalui Youtube dengan target penonton utama remaja. Dikemas dengan gaya stop motion dengan tujuan agar penonton tidak merasa bosan dan fokus dengan penjelasan tentang tujuan sensor.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/download/755/290

Perancangan Animasi Stop Motion Sebagai Media Edukasi Untuk Memahami Aturan Sensor Tayangan Televisi Bagi Remaja Usia 12 — 21 Tahun

PERANCANGAN ANIMASI STOP MOTION EDUKATIF UNTUK MEMAHAMI ATURAN SENSOR TAYANGAN TELEVISI BAGI REMAJA Benny Rahmawan Noviadji1*, Briantito Adiwena2, Fernando Andriyanto 3 Institut Informatika Indonesia, Surabaya Abstrak Sensor pada tayangan televisi berfungsi untuk membatasi informasi dan pesan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, Akan tetapi, saat ini banyak masyarakat yang belum memahami aturan dan ketentuan tentang sensor tersebut. Keterbatasan ini telah memicu anggapan bahwa efektifitas sensor televisi di Indonesia sangat menyimpang dari tujuan utama. Dan juga banyak munculnya suatu fenomena anggapan sensor alay, sensor berlebihan dan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu maka diperlukan suatu media yang mampu berperan dalam menjembatani masyarakat dengan lembaga sensor terkait dengan cara memberikan edukasi mengenai aturan dan ketentuan sensor televisi Metode penelitian berupa metode campuran, yaitu dengan wawancara langsung dan melalui penyebaran kuesioner. Metode perancangan yang dilakukan adalah ide cerita, pembuatan figur dengan bahan clay, proses digital dan editing. Hasil dari perancangan ini berupa tayangan video iklan layanan masyarakat sebanyak 3 episode dengan durasi 6 menit. Video ditayangkan melalui Youtube dengan target penonton utama remaja. Dikemas dengan gaya stop motion dengan tujuan agar penonton tidak merasa bosan dan fokus dengan penjelasan tentang tujuan sensor. Kata kunci: Animasi, Stop Motion, Iklan Layanan Masyarakat. Abstract Censorship on television shows serves to limit information and messages that are not in accordance with applicable norms, however, currently many people do not understand the rules and regulations regarding censorship. This limitation has triggered the assumption that the effectiveness of television censorship in Indonesia is very deviant from the main goal. And there are also many phenomena such as alay censorship, excessive censorship and not on target. Therefore, a media is needed that is able to play a role in bridging the community with related censorship institutions by providing education about the rules and regulations of television censorship. The research method is a mixed method, namely by direct interviews and through distributing questionnaires. The design methods carried out are story ideas, making figures with clay materials, digital processes and editing. 184 ARTIKA Vol.7,No.2 November (2023) ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251 The result of this design is a public service advertisement video show of 3 episodes with a duration of 6 minutes. The video is aired via Youtube with the main target audience of teenagers. Packaged in stop motion style with the aim that the audience does not feel bored and focus on the explanation of the purpose of censorship. Key words: Animation, Stop Motion, Public Service Announcement. PENDAHULUAN Sensor televisi menjadi perdebatan di masyarakat, terutama ketika adegan tertentu disensor, yang menjadi kontroversial karena dianggap tidak realistis. Tidak sedikit orang yang menyalahkan pemerintah atas KPI dan LSF karena mereka tidak tahu tentang sistem sensor televisi. Fenomena penyensoran melalui pengaburan atau blur terhadap tayangan-tayangan televisi yang disiarkan secara nasional menimbulkan polemik dan sekaligus tanda tanya dikalangan publik sebenarnya apa yang dilakukan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dengan melakukan sensor gambar yang sama sekali tidak diperlukan Berdasarkan pernyataan yang diluncurkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui suatu Focus Group Discussion (FGD) yang ditayangkan pada suatu stasiun televisi Metro TV pada acara QnA, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyatakan bahwa dirinya bukanlah suatu lembaga yang bertugas langsung untuk melakukan sensor pada tayangan televisi. Dan hal tersebut juga sudah tertulis pada peraturan perundang – undang tentang penyiaran (P3SPS). Menanggapi tentang fenomena anggapan masyarakat tentang sensor yang tidak tepat sasaran tersebut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga menyatakan bahwa sensor yang diberikan oleh lembaga sensor yang bersangkutan pada tayangan televisi tersebut juga sudah sesuai dengan peraturan perundang – undangan tentang penyiaran (P3SPS), karena pada peraturan perundang – undangan tersebut telah dijelaskan mengenai hal apa saja yang tidak boleh ditayangkan pada pertelevisian Indonesia. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa masih banyak masyarakat khususnya remaja usia 12-21 tahun yang tidak mengerti dan belum paham akan aturan mengenai sensor tayangan televisi, sehingga masih banyaknya suatu fenomena anggapan masyarakat mengenai sensor tayangan televisi yang tidak tepat sasaran serta fenomena salah tuduh pada tugas lembaga sensor. Benny Rahmawan Noviadji, Institut Informatika Indonesia, Surabaya. . 185 Oleh karena itu diperlukannya suatu media yang dapat menjembatani masyarakat khususnya remaja usia 12-21 tahun dengan lembaga sensor terkait. Media tersebut diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat yang khususnya remaja usia 12-21 tahun tentang aturan sensor tayangan televisi sesuai dengan undang – undang yang berlaku, beserta edukasi mengenai tugas dari lembaga sensor terkait. Dalam hal ini media animasi menjadi media yang dipilih oleh penulis dalam menanggapi permasalahan tersebut. Karena media animasi memiliki keunggulan dalam hal mewujudkan visualisasi dari konsep imajinasi, dapat menyampaikan pesan secara audio dan visual secara jelas dan menarik serta media animasi juga dapat menggabungkan sejumlah besar data ilmiah ke dalam suatu paket yang kemudian dapat disajikan dengan lebih simpel dan menarik. Jenis animasi yang dipilih oleh penulis dalam menganggapi hal ini adalah jenis animasi stop motion. Animasi stop motion merupakan animasi yang teknik pembuatannya menggunakan teknik frame by frame. Tingkat kesulitan dalam pembuatannya menjadikan animasi stop motion ini memiliki suatu ciri khas dan keunikan tersendiri dalam menarik perhatian masyarakat. KAJIAN TEORI Sensor Televisi Beberapa penelitian telah mengkaji terkait bagaimana seharusnya pengaturan stasiun televisi ini diberlakukan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa siaran televisi sudah seharusnya menjaga koridor siaran agar sesuai dengan standar dan berdasar pada konsep inspirasi dan edukatif. Selain itu, kesadaran akan para produser dan gatekeeper penyiaran program acara televisipun dihimbau agar lebih waspada dalam melakukan penyensoran secara internal, hal tersebutpun akan dipantau oleh KPI. Di sisi lain KPI tidak memiliki wewenang dalam penyensoran namun merupakan inisiatif dari lembaga penyiaran (Sari, 2021). Kurangnya kualitas sensor yang dilakukan oleh stasiun televisi adalah akibat dari SPS KPI tahun 2009, yang memberikan wewenang kepada perusahan televisi untuk menyensor tayangannya sendiri. Dengan menyerahkan tugas menyensor kepada perusahaan televisi, sensor akan semakin beragam karena perbedaan kualitas sumber daya manusia dan teknologi yang digunakan oleh setiap perusahaan media. 186 ARTIKA (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/download/755/290
Article home page: https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/view/755/290

Noviadji Benny Rahmawan, Adiwena Briantito, Fernando Andriyanto. Perancangan Animasi Stop Motion Sebagai Media Edukasi Untuk Memahami Aturan Sensor Tayangan Televisi Bagi Remaja Usia 12 — 21 Tahun, Artika, 2024, pp. 184-201,