Kajian Pengembangan Ekosistem IKM Tapis Lampung Melalui Penerapan Design Thinking
KAJIAN PENGEMBANGAN EKOSISTEM IKM TAPIS
LAMPUNG MELALUI PENERAPAN DESIGN THINKING
Hadi Kurniawan
Institusi Seni Budaya Indonesia, Bandung1
Abstrak
Tapis adalah salah satu kerajinan kain Indonesia yang bernilai seni
dan estetika tinggi dari wilayah Lampung. Industri kecil menengah
(IKM) Tapis Lampung memiliki potensi besar sebagai sektor bisnis
unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Para pelaku
IKM Tapis Lampung menghadapi berbagai bidang permasalahan
dalam menjalankan bisnis sehingga menghambat kelancaran dan
kemajuan kegiatan usaha. Beberapa contoh permasalahan yang
menjadi tantangan IKM Tapis Lampung dalam kegiatan bisnis antara
lain keterbatasan akses pemasaran, permodalan, trasnformasi digital,
regenerasi pelaku usaha, ketersedian bahan baku, dsb. Berdasarkan hal
tersebut perlu adanya upaya-upaya untuk mendukung pengembangan
ekosistem bisnis IKM Tapis Lampung agar dapat memecahkan
permasalahan serta meningkatkan kemajuan bidang tersebut.
Penelitian ini bertujuan mengkaji permasalahan dan menemukan
solusi untuk pengembangan ekosistem bisnis sehingga bisa menjadi
salah satu rujukan dalam upaya memajukan IKM Tapis Lampung.
Metode penelitian ini menggunakan Design Thigking yang terdiri dari
lima tahap yaitu empahtise, define, ideate, prototype, test. Hasil
penelitian berupa rancangan program kegiatan yang diklasifikasikan
dalam sembilan dimensi ekosistem bisnis untuk menjadi solusi
masalah-masalah yang dihadapi IKM Tapis Lampung serta
meningkatkan kemajuan sektor tersebut.
Kata kunci: IKM Tapis Lampung, ekosistem bisnis, design thinking.
Abstract
Tapis is one of Indonesian textile craft that have high art and aesthetic
value from Lampung region. Tapis Lampung small and medium
industries (IKM) have great potential as a leading business sector to
improve community welfare. The Tapis Lampung SMEs face many
problems in running their business that can hamper the smoothness
and progress business activities. Some problem examples that
challenge SME Tapis Lampung in business activities are limited
access to marketing, capital, digital transformation, regeneration of
business actors, availability of raw materials, etc. Based on the
matters, that are needed to many efforts to support the business
Hadi Kurniawan, Institut Seni Indonesia Bandung, Bandung
23
ecosystem development of IKM Tapis Lampung so that it can solve
problems and increase progress in this field. This research aims to
examine problems and find solutions for developing the business
ecosystem so that it can become a reference in efforts to advance IKM
Tapis Lampung. This research method uses Design Thinking which
consists of five stages, there are empahtise, define, ideate, prototype,
test. The results of this research is the programs and activities design
form that are classified into nine dimensions of business ecosystem to
provide problems solutions that’s faced IKM Tapis Lampung and
increase the economy progress of this sector.
Key words: IKM Tapis Lampung, business ecosystem, design thinking
PENDAHULUAN
Tapis termasuk kerajinan tekstil yang menjadi kekayaan budaya wastra
Nusantara berasal dari masyarkat Lampung. Kerajinan tradisional tersebut adalah
kerajinan bernilai seni dan estetika tinggi yang diciptakan oleh para kriyawan
dengan kreatifitas serta imajanasi berpadu teknik tradisional yang mengandalkan
ketrampilan tangan, kesabaran dan kesungguhan dalam mewujudkan karya. Proses
penciptaan karya Tapis yang memiliki tingkat intensitas tinggi tersebut membuat
kerajinan ini memiliki nilai jual ekonomi yang relatif tinggi disbandingkan dengan
produk modern yang diproduksi secara masal menggunakan teknologi mesin. Hal
ini menunjukan bahwa kain Tapis memiliki potensi besar sebagai produk unggulan
untuk sektor industri kreatif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah
satu komponen penopang perekonomian di Indonesia adalah IKM. Komponen ini
mengambil peran dalam dalam memperluas lapangan kerja, memberikan pelayanan
ekonomi.
Merujuk data survei Badan Pusat Statistika terdapat serapan tenaga kerja
dengan jumlah 9,58 juta jiwa (atau 49,88 persen dibandingkan dengan pekerja
sektor manufaktur) dari sektor industri mikro dan kecil pada tahun 2019 dan 48,22
persenya merupakan pekerja wanita (BPS, 2020). IKM secara luas mampu
berperan untuk proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,
mendorong pertumbuhan ekonomi serta mewujudkan stabilitas nasional. Hal
tersebut bukan berarti menjadikan sektor ini sebagai komponen utama dalam
perkonomian karena para pelaku IKM Tapis masih berkutat pada permasalahan –
permasalahan utama seperti permodalan, kemampuan manajerial yang terbatas,
24
ARTIKA Vol.8,No.1, Juli (2024)
ISSN 2355-8121, E-ISSN 2549-7251
keterbatasan teknologi, dan akses pasar, dll. Beberapa tantangan tersebut menjadi
penghambat kelancaran kegiatan usahan dan kemajuan ekositem bisnis sehingga
dibutuhkan upaya untuk mengatasi permasalahannya.
Hasil penelitian dari Haratua dan Wijaya (2020), mengungkapkan bahwa
ekosistem kewirausahaan dan bisnis di Indonesia perlu dikembangkan agar terjadi
mutualisme antar para aktor dan faktor di dalamnya sehingga memberikan
pertumbuhan positif siginifikan pada wirausaha baru di Indonesia. Konsep dan
definisi dari ekosistem bisnis dan kewirausahaan adalah interaksi yang terjadi
antara para pemangku kepentingan institusional dan individu sehingga dapat
mendorong kewirausahaan, inovasi dan pertumbuhan usaha kecil dan menengah
(UKM) (Isenberg, 2011). Model dari ekosistem kewirausahaan sejatinya
menitikberatkan keterkaitan antar aktor untuk dapat menghasilkan kewirausahaan
yang produktif dan melahirkan wirausaha baru (Stam & Spigel, 2016).
Berdasarkan
hal
tersebut
penelitian
ini
berfokus
pada
mengkaji
permasalahan dan menemukan solusi yang ada pada ekosistem bisnis IKM Tapis
Lampung. Peneletian ini dilakukan untuk merancang program dan kegiatan
berdasarkan fenomena yang menjadi hambatan dan kebutuhan untuk mendukung
upaya kelancaran serta kemajuan usaha IKM Tapis Lampung. Harapannya melalui
hasil penelitian ini bisa menjadi rujukan bagi para pelaku usaha dan pihak yang
terkait dalam mengembangkan ekosistem bisnis IKM Tapis Lampung.
KAJIAN TEORI
IKM Tapis Lampung
Wastra Tapis Lampung pada awalnya digunakan oleh masyarakat adat
sebagai piranti pakaian untuk kebutuhan ritual adat dan budaya. Seiring
perkembangan zaman, keindahan dari kain tradisional ini memiliki potensi yang
sangat baik pada segi ekonomi. Kain ini memiliki nilai jual yang tinggi karena
terkandung nilai seni dan estetika luar biasa. Melalui kreatifitas dan imajinasi para
pelaku kerajinan ini melakukan inovasi yang menjadikan Tapis sebagai produk
unggulan untuk kebutuhan sehari-hari. Berbagai varian produk berbahan kain Tapis
sudah tersedia di pasar untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat seperti
kemeja, tas, topi maupun aksesoris lainnya. Proses pembuatan Tapis yang masih
Hadi Kurniawan, Institut Seni Indonesia Bandung, Bandung
25
dilakukan secara tradisional s (...truncated)