Perancangan Destination Branding North Surabaya Amerta
Perancangan destination branding North Surabaya Amerta
Bright Dhiva1, Octavia Ring Ring Tungary2
Institut Informatika Indonesia, Surabaya
Abstrak
Bangunan-bangunan antik bersejarah peninggalan Belanda di Surabaya Utara
memberikan atmosfer kota tua yang terasa istimewa yang tidak dapat ditemukan di
bagian Surabaya lainnya. Hal ini menawarkan sebuah potensi wisata yang besar
karena merupakan satu-satunya kompleks Kota Tua di Surabaya. Namun, eksposur
kompleks Kota Tua Surabaya masih terbatas, khususnya untuk penggiat fotografi.
Citra diri dari kota tua masih belum terpancar karena keamanan dan kenyamanan di
Surabaya Utara sebagai destinasi wisata masih perlu ditingkatkan kembali sehingga
masyarakat tidak menyadari keberadaannya. Oleh karena itu, kesan yang baik perlu
diciptakan lewat identitas visual sehingga membuat Kota Tua Surabaya menarik
untuk dikunjungi sebagai tempat destinasi wisata. Metode-metode yang digunakan
dalam perancangan ini adalah metode kualitatif untuk mendapatkan data-data yang
dibutuhkan dan metode perancangan berupa identifikasi data, analisis, sintesis
media, dan evaluasi. Data-data yang telah dikumpulkan digunakan sebagai
landasan utama dalam perancangan karya yaitu destination branding bagi Kota Tua
Surabaya yaitu nama baru bagi brand, logo, elemen sekunder, corporate identity
dan merchandise.
Kata kunci : North Surabaya Amerta, destination branding, identitas visual.
Abstract
Historical and antique Dutch heritage buildings at North Surabaya gives an old
town atmosphere that feels special which cannot be found in other parts of
Surabaya. This offers a great tourism potential because it’s the only Old Surabaya
Town complex in Surabaya. But unfortunately, the Old Surabaya Town complex is
still limited, particularly for photography enthusiasts. The old town’s image have
not shown yet due to district’s security and comfortness at north Surabaya. Thus,
the first to construct an impressive image through a visual identity that makes the
old town attractive to be visited as a tourist destination. Employed methods in this
design are qualitative methods to obtain data and design methods of identification,
analysis, media synthesis, and evaluation. The collected datas are used as a
fundamental to design a destination branding for Old Surabaya Town complex
which includes a new name for the brand, logo, secondary element, corporate
identity and merchandise.
Keywords: North Surabaya Amerta, destination branding, visual identity.
Bright Dhiva, Institut Informatika Indonesia, Surabaya.
.
127
PENDAHULUAN
Indonesia telah mengalami penjajahan oleh enam negara: Portugal,
Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jepang, yang meninggalkan warisan
berupa bangunan kolonial di beberapa kota di Indonesia. Jejak-jejak sejarah
tersebut terdapat pada kawasan-kawasan kota tua yang masih bertahan di beberapa
kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Semarang dan Surabaya dimana di ketiga kota ini
terdapat tempat wisata Kota Tua Jakarta, Kota Tua Semarang dan Kota Tua
Surabaya. Ketiga kota tua ini memberikan wisatawan hiburan sekaligus edukasi
mengenai nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kota Tua Surabaya
mempunyai sejarah heroik dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada
masa penjajahan Belanda, kawasan Surabaya Utara merupakan pusat perdagangan
dengan bangunan-bangunan yang gaya arsitekturnya dipengaruhi oleh VOC
Belanda. Kota Tua Surabaya yang terletak di Kelurahan Bonkaran, Kecamatan
Pabean Cantikan, memiliki banyak bangunan tua Belanda yang menarik wisatawan
khususnya para fotografer. Di Kota Tua Jakarta, terdapat bangunan-bangunan
bersejarah seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, dan Jembatan
Kota Intan. Tempat tersebut juga populer di media sosial dan terdaftar sebagai
destinasi wisata terkenal di aplikasi tripadvisor.co.id. Kota Lama Semarang juga
memiliki bangunan bersejarah seperti Taman Srigunting dan Gereja Blenduk yang
sering digunakan untuk fotografi. Semua tempat wisata kota tua berusaha menarik
perhatian wisatawan dengan keunikannya. Strategi branding digunakan untuk
membedakan diri mereka dari destinasi lain dan menarik minat pengunjung.
Diperlukan upaya branding yang lebih kuat untuk meningkatkan popularitas dan
minat pengunjung Kota Tua Surabaya. Salah satu solusi yang diusulkan adalah
merancang branding destinasi Kota Tua Surabaya yang unik dan kuat.
KAJIAN TEORI
2.1 branding
Brand merupakan hal yang tidak terpisahkan dari merek. Menurut Kotler
(2009), brand adalah semua unsur yang bertujuan untuk membedakan suatu barang,
jasa, atau kelompok penjual dari pesaingnya. branding, seperti yang disebutkan
oleh Neumeier (2003:54), adalah penyampaian identitas, produk atau jasa yang
128
ARTIKA Vol.7,No.2 November (2023)
ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251
ditawarkan, dan keistimewaan suatu merek. Fungsi branding adalah membedakan
merek satu dengan yang lain, mempromosikan, dan membangun citra agar mudah
diingat oleh target pasar. Dalam konteks Kota Tua Surabaya, branding dibutuhkan
untuk menciptakan identitas yang membedakannya dari kompetitor dan
membangun citra yang diinginkan. Ini memungkinkan masyarakat untuk
membedakan merek dan membuatnya lebih mudah diingat. value dari suatu merek
tercermin melalui proses branding, yang pada dasarnya adalah media promosi.
Salah satu jenis branding adalah destination branding, yang berfokus pada
komunikasi identitas unik suatu destinasi wisata dan membedakannya dari
pesaingnya. Untuk Kota Tua Surabaya, elemen-elemen seperti nama merek, logo,
tagline, font, color palette, maskot, dan graphic pattern akan membentuk identitas
mereknya. Masing-masing elemen memiliki peran penting dalam membentuk
identitas merek. Proses branding bertujuan untuk membentuk persepsi yang
diinginkan,
membangun
kepercayaan,
menciptakan
rasa
cinta,
dan
mempertahankan loyalitas konsumen terhadap merek tersebut.
2.2 destination branding
Kegiatan pemasaran merupakan bagian penting dari promosi suatu merek.
branding dan pemasaran saling melengkapi dalam proses promosi merek. Branding
fokus pada citra, reputasi, dan kesetiaan merek, sementara pemasaran lebih
mengedepankan aspek jual beli dan keuntungan finansial. Saat sebuah merek
belum dikenal secara luas, branding menjadi fokus utama, sedangkan pemasaran
lebih terfokus pada merek yang sudah dikenal luas. Menurut American Marketing
Association (AMA) dalam buku Kotler dan Keller (2009:5), pemasaran adalah
fungsi organisasi yang bertujuan menciptakan, mengkomunikasikan, dan
menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya. Swastha (2009:10)
menjelaskan bahwa pemasaran adalah rangkaian kegiatan usaha yang meliputi
perencanaan, penetapan harga, promosi, dan distribusi barang dan jasa untuk
memuaskan kebutuhan konsumen. Pemasaran melibatkan proses jual beli antara
produsen dan konsumen dengan menentukan harga, distribusi, dan promosi
barang/jasa dari pemilik merek. Seiring dengan pertumbuhan merek, persaingan di
pasar semakin ketat dan munculnya teori-teori baru dalam pe (...truncated)