Adaptasi masyarakat suku baduy luar terhadap perkembangan global berbasis kearifan lokal
JSCSR
Journal of Socio-Cultural Sustainability and Resilience
JSCSR 1(1): 62-69
ISSN 3025-0269
Adaptasi masyarakat suku baduy luar terhadap perkembangan
global berbasis kearifan lokal
Lisa Nurfalah 1*, Chesya Sera De Claresya 2, dan Muhammad Brilliant Bidjaksono 3
1
Program Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Ilmu Lingkungan,
Universitas Indonesia; Salemba – Indonesia.
2
Program Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Ilmu Lingkungan,
Universitas Indonesia; Salemba – Indonesia;
3
Program Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Ilmu Lingkungan,
Universitas Indonesia; Salemba – Indonesia;
* Korespondensi:
Tanggal Diterima: 20 Juni 2023
Cite This Article:
Nurfalah, L., Claresya, C. S. D., &
Bidjaksono, M. B. (2023).
Adaptasi masyarakat suku
baduy
luar
terhadap
perkembangan global berbasis
kearifan lokal. Journal of SocioCultural Sustainability and
Resilience,
1(1),
62-69.
https://doi.org/10.61511/jscsr
.v1i1.2023.182
Hak Cipta: © 2023 oleh penulis.
Akses terbuka untuk mengajukan
publikasi di bawah syarat dan
ketentuan oleh Creative Commons
Attribution (CC BY) lisensi
(https://creativecommons.org/li
censes/by/4.0/)
JSCSR. 2023, VOLUME 1, ISSUE 1
Tanggal Revisi: 29 Juli 2023
Tanggal Terbit: 30 Juli 2023
Abstract
Indonesia has long been known to the world as a country with rich diversity.
One of the them is the existence of various tribes. These tribes are spread from
Sabang to Merauke. Precisely in the Banten area, there is an indigenous tribe,
namely Baduy. The Baduy tribe is known for its very thick culture,
maintaining the traditions of its ancestors, and being able to live in harmony
with nature. The Baduy tribe is divided into two groups, the Baduy Dalam
tribe and the Baduy Luar tribe. The Baduy Dalam Tribe or can also be called
Urang Baduy or the original tribe of the Baduy. They still uphold their
customary laws as a guide to life, in contrast to the Outer Baduy tribe which
has begun to open up and has adapted to modernization. This research
presents the adaptation of the Baduy Luar tribe to global development based
on local wisdom. The observation location of the Outer Baduy tribe observed
in this research is Kanekes Village, Banten. Data collection was done by
reviewing scientific articles and then joint observation. This research found
that the flow of modernization does not make the Baduy community
contaminated by the outside world to utilize the forest without thinking
about the long term. Judging from the way of survival, although they are
divided into two groups, Baduy Dalam and Baduy Luar, in terms of livelihood,
the group still depends on the surrounding Natural Resources. The life
principle of the Baduy community is to faithfully maintain the sustainability
of nature and environmental sustainability.
Keywords: Baduy community; local wisdom; modernization; nature
conservation
Abstrak
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Salah satu
keanekaragaman yang dimiliki Indonesia yaitu terdapatnya beragam suku.
Suku-suku tersebut tersebar dari Sabang hingga Merauke. Tepatnya di
daerah Banten, terdapat suku asli yaitu Baduy. Suku Baduy dikenal dengan
budayanya yang sangat kental, menjaga tradisi nenek moyangnya, dan
mampu hidup harmonis dengan alam. Suku Baduy terbagi menjadi dua
kelompok, Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam
atau bisa disebut juga Urang Baduy atau Suku Asli dari Suku Baduy. Mereka
hingga saat ini masih memegang teguh hukum adat istiadat mereka
sebagai pedoman hidup, berbeda dengan Suku Baduy Luar yang sudah
mulai terbuka dan sudah beradaptasi dengan modernisasi. Penelitian ini
memaparkan adaptasi masyarakat suku baduy luar terhadap
perkembangan global berbasis kearifan lokal. Lokasi pengamatan suku
baduy luar yang diamati penelitian ini yaitu Desa Kanekes, Banten.
Pengumpulan data dilakukan dengan meninjau artikel ilmiah dan
kemudian di observasi bersama. Penelitian ini mendapati arus
modernisasi tidak membuat masyarakat Suku Baduy terkontaminasi
dunia luar untuk memanfaatkan hutan tanpa memikirkan jangka panjang.
https://journal-iasssf.com/index.php/JSCSR
JSCSR. 2023, VOLUME 1, ISSUE 1
63
Dilihat dari cara bertahan hidup, walaupun mereka terbagi menjadi dua
kelompok, Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar, dalam hal mata
pencaharian, kelompok tersebut masih bergantung pada Sumber Daya
Alam di sekitar. Prinsip hidup masyarakat Suku Baduy adalah setia
menjaga keberlangsungan alam dan kelestarian lingkungan.
Kata kunci: suku Baduy; modernisasi; kearifan local; kelestarian alam
1. Pendahuluan
Indonesia dikenal dengan banyaknya suku bangsa yang melahirkan pola budaya yang
berbeda-beda dan menjadi identitas kelompok. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
realitas kebhinekaan di Indonesia terdiri dari berbagai aspek seperti cara pandang, adat
istiadat, nilai budaya, etika, dan sistem kepercayaan, namun juga banyak perbedaan yang
membentuk identitas setiap kelompok masyarakat. Salah satu keanekaragaman yang
dimiliki Indonesia yaitu terdapatnya beragam suku. Berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik dengan nomor data SP2010, disebutkan bahwa jumlah suku di Indonesia mencapai
1331 kategori suku. Suku-suku tersebut tersebar dari Sabang hingga Merauke dengan
kekhasan identitas masing-masing. Bila membahas mengenai identitas, terdaoat salah satu
suku asli di daerah Banten, yaitu Suku Baduy.
Suku Baduy merupakan suatu kelompok masyarakat adat sunda yang hidup dan
tinggal di Provinsi Banten, tepatnya Kabupaten Lebak, Kecamatan Lauwidamar, Desa
Kanekes (Widowati, 2019; Bahrudin & Zurohman, 2021). Keberadaan suku Baduy di Desa
Kanekes tidak tercampur dengan suku lain. Aktivitas kesehariannya dalam berkomunikasi
mereka menggunakakan bahasa Sunda, dan termasuk dialek Sunda Banten. Akan tetapi
suku Baduy yang termasuk “Baduy Luar” sudah ada yang bisa menggunakan bahasa
Indonesia ketika berkomunikasi dengan pendatang dari luar daerah (Bahrudin &
Zurohman, 2021). Awalnya masyarakat baduy adalah Suku Baduy Dalam, tetapi
berjalannya waktu Suku Baduy dibagi menjadi dua kelompok yaitu suku Baduy Luar dan
Suku Baduy Dalam. Suku Baduy Luar adalah mereka yang telah keluar dari adat dan wilayah
Baduy melalui pemodernan adat istiadat setempat. Sementara itu, Suku Baduy Dalam
adalah suku yang masih memegang teguh adat istiadat setempat (Hariyadi, 2019; Maharani,
2009).
Setiap suku memiliki formulasi kearifan lokal dalam berinteraksi dengan komunitas
ekologis dalam kehidupannya. Baduy memiliki nilai-nilai lokal yang diturunkan terusmenerus dari nenek moyangnya. Pengetahuan yang mereka peroleh dalam menjalani hidup,
diberikan oleh orang tua sebagai keterampilan yang dipelajari sejak dini dan tertanam kuat
di setiap individu (Firdaus et al., 2020). Salah satu keterampilan yang dimiliki yaitu
berladang. Berladang menjadi sebuah tradisi yang dipertahankan masyarakat baduy untuk
bertahan hidup dan tradisi secara bersamaan. Meskipun pemahaman atau wawasan
pengetahuan mengenai bertani tidak mereka peroleh secara formal (di sekolah),
penanaman nilai ya (...truncated)