IMPLEMENTASI METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR PADA SISTEM PAKAR PENYAKIT IKAN CUPANG
Journal of Information System Management (JOISM)
Vol. 5, No. 2 (2024)
e-ISSN: 2715-3088
IMPLEMENTASI METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR
PADA SISTEM PAKAR PENYAKIT IKAN CUPANG
Devandi Kurnia Restu Andika 1) , Irma Rofni Wulandari 2)
1, 2)
Sistem Informasi Universitas Amikom Yogyakarta
email : 1), 2)
Abstraksi
Penyakit ikan cupang dapat menyebabkan kerugian bagi peternak ikan cupang dan menurunkan kualitas ikan.
Ketersediaan informasi dan pakar tentang penyakit ikan masih terbatas, sehingga diperlukan suatu sistem yang
dapat memberikan diagnosis dan solusi secara cepat. Sistem pakar dapat memberikan rekomendasi solusi atau
kesimpulan untuk masalah. Pengetahuan mengenai penyakit pada ikan cupang diperoleh berdasarkan studi
literatur dan wawancara dari pakar yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala yang
muncul. Penentuan penyakit dalam sistem pakar ini menggunakan metode forward chaining dan certainty factor.
Metode forward chaining digunakan untuk memulai proses inferensi dan certainty factor digunakan untuk
menentukan tingkat kepastian diagnosis yang dikombinasikan dengan keyakinan pakar terhadap penyakit yang
sedang dihadapi dan keyakinan pengguna terhadap gejala yang dipilih. Basis pengetahuan yang terdapat pada
sistem pakar mencakup 8 jenis penyakit dan 30 gejala. Penelitian ini berhasil dalam menerapkan metode forward
chaining dan certainty factor dengan pengujian hasil blackbox sistem berfungsi sesuai yang diharapkan dan
sistem memiliki akurasi diagnosa sebesar 83,3%.
Kata Kunci :
Ikan Cupang, Sistem Pakar, Forward Chaining, Certainty Factor
Abstract
Betta fish diseases can cause losses for Betta fish breeders and reduce the quality of the fish. The availability of
information and experts about fish diseases is still limited, so a system is needed that can provide a diagnosis
and solution quickly. Expert systems can provide recommended solutions or conclusions to problems.
Knowledge about diseases in Betta fish is obtained based on literature studies and interviews with experts which
are used to diagnose diseases based on the symptoms that appear. Determining disease in this expert system
uses the forward chaining method and certainty factor. The forward chaining method is used to start the
inference process and the certainty factor is used to determine the level of certainty of the diagnosis combined
with the expert's belief in the disease being faced and the user's belief in the selected symptoms. The knowledge
base contained in the expert system includes 8 types of disease and 30 symptoms. This research was successful in
implementing the forward chaining and certainty factor methods by testing the black box results, the system
functioned as expected and the system had a diagnostic accuracy of 83.3%.
Keywords :
Betta Fish, Expert System, Forward Chaining, Certainty Factor
meningkatkan kematian. Upaya untuk mengatasi
masalah yang berkaitan dengan kesehatan ikan
cupang yaitu dengan melakukan perawatan ikan
cupang yang terserang penyakit secara tepat dan
optimal. Perawatan ikan cupang tergolong mudah,
akan tetapi banyak penggemar ikan cupang yang
belum mengetahui cara dalam perawatannya. Hal ini
mengakibatkan banyak keluhan dari beberapa
pecinta ikan cupang ketika ikan cupang sering
mengalami sakit. Keterbatasan informasi dan dokter
yang sulit dijangkau, membuat penggemar ikan
cupang lebih memilih untuk mengobati ikan
cupangnya sendiri daripada membawanya ke dokter
sehingga terjadi kematian pada ikan cupang karena
lambatnya
penanganan.
Pemahaman
dan
pengetahuan yang kurang dari pembudidaya ikan
cupang
mengakibatkan
kesulitan
dalam
mendiagnosis gejala-gejala yang ditimbulkan.
Pendahuluan
Ikan cupang merupakan ikan air tawar yang banyak
dibudidayakan saat ini oleh kalangan pecinta ikan
hias dan ikan adu. Banyak masyarakat Indonesia
antusias dengan kehadiran ikan cupang. Ikan cupang
memiliki keindahan yang khas, warna yang tidak
biasa, gerakan yang memukau, dan bentuk tubuh
yang unik. Ikan cupang juga memiliki nilai
tersendiri karena dapat digunakan untuk keperluan
pameran dan dijual dengan harga mahal. Ikan hias
yang memiliki nama Betta splendens lebih agresif
dibandingkan
ikan
hias
lainnya
dalam
mempertahankan wilayah kekuasaannya [1]. Selain
memiliki sifat agresif, ikan cupang rentan terhadap
beberapa penyakit yang disebabkan oleh parasit,
jamur, dan bakteri. Penyakit pada ikan cupang dapat
menyebabkan kerugian bagi peternak karena dapat
menurunkan kualitas dan kesehatan ikan, serta
156
Andika & Wulandari, Implementasi Metode Forward Chaining Dan Certainty Factor Pada Sistem Pakar
Penyakit Ikan Cupang
Sistem pakar merupakan teknologi yang dapat
diterapkan untuk mendiagnosa penyakit [2].
Sistem pakar berupa sistem komputer yang
meniru kemampuan dari pakar[3]. Pengetahuan dari
seorang pakar akan dimasukkan kedalam komputer.
Sistem pakar memiliki dua lingkungan yaitu
lingkungan pengembangan dan konsultasi. Pada
bagian pengembangan, tugas pembangun sistem
adalah menanamkan pengetahuan para ahli ke dalam
basis pengetahuan [4]. Pengambilan keputusan dapat
dibantu dengan adanya sistem pakar yang seolaholah seperti pakar[5]. Sistem pakar bekerja dengan
menggunakan metode analisis dan pengetahuan yang
telah didefinisikan oleh seorang pakar [6][7]. Salah
satu metode pada sistem pakar adalah Cartaity
Factor yang dapat menggambarkan keyakinan
seorang pakar dengan mendefinisikan ukuran
kepastian terhadap fakta [8]. Certainty Factor
memiliki kelebihan yaitu menghindari inkonsistensi
pada saat pengambilan kesimpulan [9]. Forward
chaining merupakan mesin inferensi sebagai
pelacakan kedepan dengan menginputkan informasi
kemudian menghasilkan kesimpulan dengan aturan
IF-Then [10].
Certaity Factor dapat diterapkan untuk sistem pakar
dalam mendiagnosis penyakit ikan yang disebabkan
oleh parasit dengan tingkat kepercayaan 95% [17].
Pada penelitian ini akan merancang sistem pakar
dengan mengimplementasikan metode Forward
Chaining Dan Certainty Factor. Metode forward
chaining digunakan untuk memulai proses inferensi
dan certainty factor digunakan untuk menentukan
tingkat kepastian diagnosis yang dikombinasikan
dengan keyakinan pakar terhadap penyakit yang
sedang dihadapi dan keyakinan pengguna terhadap
gejala yang dipilih sehingga diharapkan dapat
memberikan diagnosa penyakit ikan cupang dan
membantu peternak ikan cupang dalam mengatasi
penyakit ikan cupang.
Metode Penelitian
Pada penelitian ini, tahapan-tahapan penelitian
ditunjukkan pada Gambar 1.
Tinjauan Pustaka
Pada penelitian terdahulu, Implementasi metode
Dampster Shafer pada sistem cerdas untuk
mendiagnosa penyakit ikan cupang berhasil
diimplementasikan oleh penelitian [11] dengan 7
penyakit dan 23 gejala. Aplikasi tersebut dapat
melakukan diagnosis awal penyakit yang diderita
dan memberikan hasil diagnosa penyakit. Penelitian
oleh [12] menggunakan metode Naïve Bayes untuk
mendiagnosa penyakit pada ikan cupang dengan 7
penyakit dan 15 gejala, menghasilkan kesimpulan
bahwa naïve bayes (...truncated)