DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU

JURNAL BIOMEDIK, Feb 2013

Abstract: The increasing number of vehicles which increase air pollution has negative impacts on global health, especially that of lung problems. Nowadays, people’s mobility is fast and variable, needing better and more environmentally friendly transportation, without neglecting the socio-economic aspect. These are the reasons to develop better and more environmentally related transportation facilities. By understanding air pollution mechanisms, and kinds of particles and pollutants from vehicles, we will appreciate and pay more attention to our environment, especially in urban areas. Collaboration among health and government related departments has to be improved to regulate the use of inner city vehicles, so that it can decrease lung problems. Key words: air pollution, transportation, dust particles, urban environment.   Abstrak: Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor seiring dengan bertambahnya polusi udara, dan menimbulkan masalah global, yang berdampak negatif antara lain masalah kesehatan paru. Mobilitas manusia semakin beragam sehingga diperlukan dukungan sistem transportasi yang makin baik pula serta akrab lingkungan, tanpa mengabaikan segi sosio-ekonomi. Oleh karena itu sistem transportasi ini perlu dikembangkan menjadi sistem transportasi yang berkelanjutan. Diharapkan dengan mengetahui batasan polusi udara, jenis, serta dampak partikel debu dan gas kendaraan bermotor bagi kesehatan manusia akan membuat kita lebih mencintai dan memperhatikan lingkugan hidup kita, khususnya sekitar perkotaan. Perana kerjasama lintas sektoral untuk mengatasi polusi partikel debu dan gas buangan perlu ditingkatkan Pengaturan kendaraan layak beroperasi akan menekan mening-katnya kasus infeksi atau gangguan saluran napas. Kata kunci: polusi udara, transportasi, partikel debu, lingkungan perkotaan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/download/814/632

DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU

DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU Jehosua S.V. Sinolungan Bagian Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Abstract: The increasing number of vehicles which increase air pollution has negative impacts on global health, especially that of lung problems. Nowadays, people’s mobility is fast and variable, needing better and more environmentally friendly transportation, without neglecting the socio-economic aspect. These are the reasons to develop better and more environmentally related transportation facilities. By understanding air pollution mechanisms, and kinds of particles and pollutants from vehicles, we will appreciate and pay more attention to our environment, especially in urban areas. Collaboration among health and government related departments has to be improved to regulate the use of inner city vehicles, so that it can decrease lung problems. Keywords: air pollution, transportation, dust particles, urban environment Abstrak: Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor seiring dengan bertambahnya polusi udara, dan menimbulkan masalah global, yang berdampak negatif antara lain masalah kesehatan paru. Mobilitas manusia semakin beragam sehingga diperlukan dukungan sistem transportasi yang makin baik pula serta akrab lingkungan, tanpa mengabaikan segi sosioekonomi. Oleh karena itu sistem transportasi ini perlu dikembangkan menjadi sistem transportasi yang berkelanjutan. Diharapkan dengan mengetahui batasan polusi udara, jenis, serta dampak partikel debu dan gas kendaraan bermotor bagi kesehatan manusia akan membuat kita lebih mencintai dan memperhatikan lingkugan hidup kita, khususnya sekitar perkotaan. Perana kerjasama lintas sektoral untuk mengatasi polusi partikel debu dan gas buangan perlu ditingkatkan Pengaturan kendaraan layak beroperasi akan menekan meningkatnya kasus infeksi atau gangguan saluran napas. Kata kunci: polusi udara, transportasi, partikel debu, lingkungan perkotaan Sejalan dengan kehidupan masyarakat yang makin maju, jumlah kendaraan bermotor makin bertambah mengakibatkan polusi udara makin bertambah dan menjadi masalah internasional, menimbulkan dampak negatif antara lain masalah kesehatan.1 Penyakit paru merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dari waktu ke waktu tampak bahwa sekitar 3040% penyakit dan penyebab kematian di Indonesia adalah penyakit paru dengan berbagai bentuknya.2 Hasil Survey Nasional tahun 1992 menunjukkan bahwa penduduk Jakarta yang menderita gejala batuk dalam satu bulan akibat polusi udara meningkat dari 16,8% menjadi 22,5% dan kematian akibat infeksi saluran napas juga meningkat dari 6,2% pada tahun 1986 menjadi 9,2% pada tahun 1992.3 Mobilitas manusia semakin beragam sehingga dukungan sistem transportasi makin baik. Sistem transportasi yang tidak bersahabat dengan lingkungan akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan manusia seperti dampak terhadap lingkungan, kesehatan 65 66 Jurnal Biomedik, Volume 1, Nomor 2, Juli 2009, hlm. 65-80 maupun sosial ekonomi. Oleh karena itu untuk menghindari semakin menurunnya kualitas lingkungan maka sistem transportasi ini perlu dikembangkan menjadi sistem transportasi yang berkelanjutan. Sistem transportasi berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan jenis kendaraan yang beroperasi, perencanaan tata ruang/tata kota, jenis bahan bakar yang ramah lingkungan, teknologi pembakaran dan pengendalian gas buangan kendaraan bermotor serta pengaturan lalu lintas yang ada. Sistem transportasi yang berkelanjutan ini dapat mendukung mobilitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan sekitarnya.4 Masalah pencemaran udara dari sektor transportasi perlu mendapat perhatian serius. Sektor transportasi telah menjadi kontributor utama terjadinya pencemaran udara khususnya di Indonesia. Penggunaan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan dari kendaraan bermotor menghasilkan debu dan gas buangan yang merupakan campuran gas-gas serta partikel-partikel yang berbahaya terhadap kesehatan manusia bahkan lingkungan sekitarnya.4 Polutan–polutan pencemar udara yang terkandung dalam partikel terdiri atas timah hitam dalam debu, partikel padat 2,5 µm, partikel padat 10 µm dan aerosol; dalam gas buangan kendaraan bermotor terdiri atas karbon monooksida (CO), nitrogen oksida (NOx), hidrokarbon (HC), sulfur oksida (SOx), timah hitam (Plumbum/Pb).5 Menurut data Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, kendaraan bermotor menyumbang polutan-polutan sebanyak 70% CO, 100% Pb, 60% HC dan 60% NOx dari seluruh polutan yang mencemari udara atmosfer (Tabel 1).6 Menurut prediksi para ahli Kesehatan Lingkungan di Amerika Serikat pada sekitar tahun 2000-an kematian yang disebabkan oleh pencemaran udara akan mencapai 57.000 orang pertahunnya. Selama 20 tahun terakhir ini American Lung Association melaporkan angka kematian yang disebabkan oleh pencemaran udara naik mendekati 14% atau mendekati 0,7% pertahun. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1980 ditemukan bahwa kematian disebabkan oleh pencemaran udara mencapai angka kurang lebih 51.000 orang per tahun. Angka ini cukup mengerikan karena bersaing keras dengan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit lainnya, seperti penyakit jantung koroner, kanker, acquired immuno deficiency syndrom (AIDS) dan lain sebagainya.4 Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang berkembang menjadi negara industri baru juga menghadapi masalah polusi udara, dimana yang paling sering oleh asap kendaraan bermotor dan asap pabrik. Tingkat polusi udara terutama di kota-kota besar di Indonesia makin meningkat sehingga masalah kesehatan terutama pernafasan juga bertambah.3 Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke lima di dunia belum menerapkan standar euro ini padahal jumlah pertambahan kendaraan bermotor mencapai 10% pertahun, khususnya dibandingkan dengan Bitung mencapai 31,3%, Manado mencapai 30% sedangkan Sulut mencapai 4%. Kota-kota besar di Indonesia mengalami pencemaran udara yang tinggi. Hal ini disebabkan karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor, yaitu kurang lebih 90% dari seluruh kendaraan bermotor tersebut masih menggunakan teknologi lama yaitu sistem karburator yang disertai dengan peningkatan penggunaan bahan bakar motor.7 Pajanan polusi udara dalam jangka lama, dapat menimbulkan perubahan atau kerusakan histopatologi paru, mengamati kumulatif pajanan dari debu (dust) terhadap penurunan fungsi paru pekerja terowongan jalan raya menemukan mereka rata-rata terpapar debu pada saluran pernapasan antara 1,2-3,6 mg/m3 dan 0,019-0,044 mg/m3 (dalam α–quartz) serta terjadi penurunan FEV1 karena pengaruh pajanan debu pada saluran napas dengan hasilnya p < 0,001 dan α– quartz p = 0,02. Peters, et al.10, dalam penelitian mereka melaporkan adanya peningkatan polusi udara oleh partikulat (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/download/814/632
Article home page: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/814/632

Jehosua Sinolungan. DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU, JURNAL BIOMEDIK, 2013,