DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU
DAMPAK POLUSI PARTIKEL DEBU DAN GAS KENDARAAN
BERMOTOR PADA VOLUME DAN KAPASITAS PARU
Jehosua S.V. Sinolungan
Bagian Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Abstract: The increasing number of vehicles which increase air pollution has negative
impacts on global health, especially that of lung problems. Nowadays, people’s mobility is
fast and variable, needing better and more environmentally friendly transportation, without
neglecting the socio-economic aspect. These are the reasons to develop better and more
environmentally related transportation facilities. By understanding air pollution mechanisms,
and kinds of particles and pollutants from vehicles, we will appreciate and pay more attention
to our environment, especially in urban areas. Collaboration among health and government
related departments has to be improved to regulate the use of inner city vehicles, so that it can
decrease lung problems.
Keywords: air pollution, transportation, dust particles, urban environment
Abstrak: Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor seiring dengan bertambahnya polusi
udara, dan menimbulkan masalah global, yang berdampak negatif antara lain masalah
kesehatan paru. Mobilitas manusia semakin beragam sehingga diperlukan dukungan sistem
transportasi yang makin baik pula serta akrab lingkungan, tanpa mengabaikan segi sosioekonomi. Oleh karena itu sistem transportasi ini perlu dikembangkan menjadi sistem
transportasi yang berkelanjutan. Diharapkan dengan mengetahui batasan polusi udara, jenis,
serta dampak partikel debu dan gas kendaraan bermotor bagi kesehatan manusia akan
membuat kita lebih mencintai dan memperhatikan lingkugan hidup kita, khususnya sekitar
perkotaan. Perana kerjasama lintas sektoral untuk mengatasi polusi partikel debu dan gas
buangan perlu ditingkatkan Pengaturan kendaraan layak beroperasi akan menekan meningkatnya kasus infeksi atau gangguan saluran napas.
Kata kunci: polusi udara, transportasi, partikel debu, lingkungan perkotaan
Sejalan dengan kehidupan masyarakat yang
makin maju, jumlah kendaraan bermotor
makin bertambah mengakibatkan polusi udara makin bertambah dan menjadi masalah
internasional, menimbulkan dampak negatif
antara lain masalah kesehatan.1
Penyakit paru merupakan salah satu
masalah kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga
(SKRT) yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dari
waktu ke waktu tampak bahwa sekitar 3040% penyakit dan penyebab kematian di
Indonesia adalah penyakit paru dengan berbagai bentuknya.2
Hasil Survey Nasional tahun 1992 menunjukkan bahwa penduduk Jakarta yang
menderita gejala batuk dalam satu bulan
akibat polusi udara meningkat dari 16,8%
menjadi 22,5% dan kematian akibat infeksi
saluran napas juga meningkat dari 6,2%
pada tahun 1986 menjadi 9,2% pada tahun
1992.3
Mobilitas manusia semakin beragam
sehingga dukungan sistem transportasi makin baik. Sistem transportasi yang tidak
bersahabat dengan lingkungan akan memberikan dampak langsung maupun tidak
langsung bagi kehidupan manusia seperti
dampak terhadap lingkungan, kesehatan
65
66 Jurnal Biomedik, Volume 1, Nomor 2, Juli 2009, hlm. 65-80
maupun sosial ekonomi. Oleh karena itu
untuk menghindari semakin menurunnya
kualitas lingkungan maka sistem transportasi ini perlu dikembangkan menjadi sistem
transportasi yang berkelanjutan. Sistem
transportasi berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan jenis kendaraan yang beroperasi, perencanaan tata ruang/tata kota,
jenis bahan bakar yang ramah lingkungan,
teknologi pembakaran dan pengendalian gas
buangan kendaraan bermotor serta pengaturan lalu lintas yang ada. Sistem transportasi yang berkelanjutan ini dapat mendukung mobilitas manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidup tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan sekitarnya.4
Masalah pencemaran udara dari sektor
transportasi perlu mendapat perhatian serius. Sektor transportasi telah menjadi kontributor utama terjadinya pencemaran udara
khususnya di Indonesia. Penggunaan bahan
bakar yang tidak ramah lingkungan dari
kendaraan bermotor menghasilkan debu dan
gas buangan yang merupakan campuran
gas-gas serta partikel-partikel yang berbahaya terhadap kesehatan manusia bahkan
lingkungan sekitarnya.4
Polutan–polutan pencemar udara yang
terkandung dalam partikel terdiri atas timah
hitam dalam debu, partikel padat 2,5 µm,
partikel padat 10 µm dan aerosol; dalam gas
buangan kendaraan bermotor terdiri atas
karbon monooksida (CO), nitrogen oksida
(NOx), hidrokarbon (HC), sulfur oksida
(SOx), timah hitam (Plumbum/Pb).5
Menurut data Menteri Kependudukan dan
Lingkungan Hidup, kendaraan bermotor
menyumbang polutan-polutan sebanyak
70% CO, 100% Pb, 60% HC dan 60% NOx
dari seluruh polutan yang mencemari udara
atmosfer (Tabel 1).6
Menurut prediksi para ahli Kesehatan
Lingkungan di Amerika Serikat pada sekitar tahun 2000-an kematian yang disebabkan oleh pencemaran udara akan mencapai
57.000 orang pertahunnya. Selama 20 tahun terakhir ini American Lung Association
melaporkan angka kematian yang disebabkan oleh pencemaran udara naik mendekati
14% atau mendekati 0,7% pertahun. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat
pada tahun 1980 ditemukan bahwa kematian disebabkan oleh pencemaran udara mencapai angka kurang lebih 51.000 orang per
tahun. Angka ini cukup mengerikan karena
bersaing keras dengan angka kematian yang
disebabkan oleh penyakit lainnya, seperti
penyakit jantung koroner, kanker, acquired
immuno deficiency syndrom (AIDS) dan lain sebagainya.4
Indonesia sebagai salah satu negara di
Asia yang berkembang menjadi negara industri baru juga menghadapi masalah polusi
udara, dimana yang paling sering oleh asap
kendaraan bermotor dan asap pabrik. Tingkat polusi udara terutama di kota-kota besar
di Indonesia makin meningkat sehingga
masalah kesehatan terutama pernafasan juga
bertambah.3
Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke lima di
dunia belum menerapkan standar euro ini
padahal jumlah pertambahan kendaraan bermotor mencapai 10% pertahun, khususnya
dibandingkan dengan Bitung mencapai
31,3%, Manado mencapai 30% sedangkan
Sulut mencapai 4%. Kota-kota besar di Indonesia mengalami pencemaran udara yang
tinggi. Hal ini disebabkan karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor, yaitu kurang lebih 90% dari seluruh kendaraan bermotor tersebut masih menggunakan teknologi lama yaitu sistem karburator yang disertai dengan peningkatan penggunaan bahan bakar motor.7
Pajanan polusi udara dalam jangka lama, dapat menimbulkan perubahan atau
kerusakan histopatologi paru, mengamati
kumulatif pajanan dari debu (dust) terhadap
penurunan fungsi paru pekerja terowongan
jalan raya menemukan mereka rata-rata terpapar debu pada saluran pernapasan antara
1,2-3,6 mg/m3 dan 0,019-0,044 mg/m3 (dalam α–quartz) serta terjadi penurunan FEV1
karena pengaruh pajanan debu pada saluran
napas dengan hasilnya p < 0,001 dan α–
quartz p = 0,02. Peters, et al.10, dalam penelitian mereka melaporkan adanya peningkatan polusi udara oleh partikulat (...truncated)