Evaluasi & Analisis Rencana Perubahan Jalur Ventilasi Untuk Kebutuhan Lubang Pendididikan Tambang Bawah Tanah Ombilin 1 (Sawahluwung) PT. Bukit Asam Tbk - UPO
ISSN: 2302-3333
Jurnal Bina Tambang, Vol. 4, No. 1
Evaluasi & Analisis Rencana Perubahan Jalur Ventilasi Untuk
Kebutuhan Lubang Pendididikan Tambang Bawah Tanah
Ombilin 1 (Sawahluwung) PT. Bukit Asam Tbk - UPO
Alman syarif1*, and Bambang Heriyadi1**
1
Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang, Indonesia
*
**bambang
Abstract. PT Bukit Asam Tbk Ombilin Mining Unit (UPO-PTBA) is the oldest underground coal
mine in Indonesia, due to the activity of the penambangannya has been performed since the
colonial Netherlands. Ventilation system in underground mine Sawahluwung using suction system
(exhaust) air out the quantity of 35.10 m3/s, while the quantity of incoming air of 34.50 m3/s
through the three holes of entry i.e. Adit Sawahluwung + 214 of 23.00 m3/s, Adit Sawahluwung +
223 of 6.50 m3/s and head of Sapan II of 5.00 m3/s. The amount of air entering the air out there is
a difference of 0.60 m3/s caused by air leaks in the duct wall Mine Fan. Hand in hand towards
post-war mines, PTBA UPO plans make preparing hole and education as a means of education
for the world of education and society, then closing and pengedaman done on the area-J8 J6, J7J9, J1Bak Pumps LS II. The pattern of air flow enters starts from the Adit Sawahluwung.
Keywords: Underground Mining, The Need Of Air, Ventilation System, Tunnel Education, Kepmen.
1. Pendahuluan
PT Bukit Asam Tbk Unit Pertambangan Ombilin
(PTBA-UPO) merupakan perusahaan pertambangan
batubara bawah tanah yang tertua di Indonesia karena
aktivitas penambangannya telah dilakukan semenjak
jaman kolonial Belanda. PTBA-UPO melakukan
penambangan dengan metode long wall manual, long
wall semi mekanis, long wall mekanis dan room and
pillar.
Seiring berjalannya waktu, tambang bawah tanah
PTBA-UPO saat ini sedang menuju kegiatan pasca
tambang dan berencana meninggalkan sebahagian
lokasi tambangnya akan dijadikan lubang pendidikan,
yang direncanakan sebagai tempat pendidikan dan
latihan cara melakukan
pemboran, peledakan,
penyanggaan, kegiatan ventilasi dan lain sebagainya.
Penutupan sebagian besar lokasi tambang bawah
tanah PTBA-UPO akan dilakukan dengan pembuatan
dam pada lokasi J6, J7, J1 dan Lurah Sapan II[1].
Untuk posisi mesin angin induk pada saat ini berada
pada lubang Lurah Sapan II dan direncanakan
penempatannya dekat lubang Adit Sawahluwung
+223.
Kondisi udara ventilasi saat ini pada tambang
bawah tanah Sawahluwung melalui 3 jalur yaitu dari
Adit Sawahluwung +214 , Adit Sawahluwung +223
dan pintu Lurah Sapan II +214,5. Pola aliran udara
masuk dimulai dari Adit Sawahluwung – J.4 – J.3 –
J.2 – J.6 – J.8 - .52 – J.53 – J.51 – J .2C – J.4C – J.3C .
Sedangkan aliran udara keluar dari J.3C – J.64 –
J.1C – J.57 – J.56 – J.65 – J.46 – J.9 – J.7 – J.1 –
keluar. Panjang Jalur ventilasi saat ini ± 6 km dan bila
dijadikan untuk lubang pendidikan akan menjadi ±
1,8 km.
Dengan ditutupnya front penambangan batubara
di tambang bawah tanah Ombilin I (Sawahluwung)
maka mesin angin yang biasa dipergunakan untuk
kebutuhan mensuplai udara ke front jadi stand by, dan
untuk kebutuhan udara lubang pendidikan maka
mesin angin tersebut akan dimanfaatkan sebagai
exhaut fan.
Untuk memenuhi kebutuhan udara pada tambang
bawah tanah PTBA-UPO perlu dilakukan pengkajian
terhadap beberapa parameter yang meliputi kapasitas
mesin angin induk, jumlah pekerja, jumlah
orang/tamu yang masuk, jumlah emisi gas methan,
jumlah peralatan mesin yang beroperasi serta kondisi
suhu dan kelembaban.
252
Peraturan yang mengatur mengenai sistem
ventilasi tambang bawah tanah terdapat dalam
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi
No. 555.K/26/M.PE/1995[2]. Peraturan tersebut
mengatur jumlah udara yang harus dipenuhi dan
kualitas udara yang harus dicapai agar memenuhi
prinsip kesehatan dan keselamatan kerja. Peraturan
tersebut menjadi parameter kelayakan dari sebuah
sistem ventilasi tambang bawah tanah di Indonesia.
Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji hasil
pemetaan di lapangan dengan tujuan utama sebagai
berikut: Mendapatkan data kualitas dan kuantitas
udara pada lubang tambang bawah tanah PT. Bukit
Asam UPO Sawahluwung, Memperoleh kuantitas
udara yang harus dialirkan untuk keperluan lubang
pendidikan & operasional penambangan pada
tambang bawah tanah PT. Bukit Asam UPO
Sawahluwung,Menghasilkan
rancangan
sistem
ventilasi yang baik pada lubang tambang PT. Bukit
Asam UPO Sawahluwung.
2. Lokasi Penelitian
Secara geografis PT. Batubara Bukit Asam Tbk, Unit
Pertambangan Ombilin terletak pada Koordinat 100 ⁰
44 ’ – 100⁰ 50 ’ Bujur timur dan 0 ⁰ 35 ’ – 0 ⁰ 43 ’
Lintang Selatan.
Tambang ini berada di Kota Sawahlunto,
Propinsi Sumatera Barat yang berjarak 90 km dari
kota padang melalui jalan raya Indarung. Lokasi
daerah penambangan meliputi Sawahluwung, Sawah
Rasau V, Sigalut, Langkok, Waringin dan Sugar dengan
luas IUP
2.935 Ha. Untuk kesampaian daerah
sawahlunto dapat dilihat pada gambar berikut :
3. Kajian Teori
Sistem ventilasi adalah salah satu yang di
pergunakan dalam tambang bawah tanah[3], Oleh karena
itu sangatlah perlu di perhatikan kondisi maupun
perawatan. Untuk memperoleh informasi yang terinci
mengenai kuantitas dan kualitas udara tambang bawah
tanah pada sistem jaringan ventilasi, maka perlu
dilakukan pemeriksaan terhadap sistem ventilasi yang ada,
yaitu mengadakan pengukuran dan pengamatan terhadap
ventilasi, sehingga dapat diketahui arah aliran atau
sirkulasi udara, kuantitas udara yang memenuhi
persyaratan yang berlaku.
3.1. Pengendalian Kualitas Udara Tambang
3.1.1 Perhitungan Keperluan Udara Segar
Jenis kegiatan manusia dapat dibedakan, yaitu :
a. Dalam keadaan istirahat
b. Dalam kegiatan kerja moderat, misalnya kerja
kantor
c. Dalam kegiatan kerja keras, misalnya olahraga
atau kerja tambang.
Laju pernafasan per menit didefinisikan sebagai
banyaknya udara dihirup dan dihembuskan per satuan
waktu satu menit. Pada manusia yang bekerja keras,
angka bagi pernafasan ini (respiratori quotient) sama
dengan satu, yang berati bahwa jumlah CO2 yang
dihembuskan sama dengan jumlah O2 yang dihirup pada
pernafasannya. Gambaran mengenai keperluan oksigen
pada pernafasan pada tiga jenis kegiatan manusia secara
umum dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Keperluan Oksigen untuk Pernafasan Manusia
Berdasarkan Jenis Kegiatan
3.1.2 Kelembaban Relatif Udara
Kelembaban relatif udara merupakan bilangan yang
dinyatakan dalam persen (%) yang menunjukkan
perbandingan antara jumlah uap yang dikandung udara
pada temperatur tertentu terhadap jumlah uap air
maksimum yang dapat dikandung pada temperatur yang
sama. Pada dasarnya kandungan uap air dalam udara akan
memiliki temperature yang lebih hangat dibandingkan
dengan uap air yang tercampur dalam udara dingin.
Untuk menentukan kelembaban relatif (RH) dapat dilihat
menggunakan tabel berikut :
Gambar 1. Peta Area Penambangan PT Pamapersada
Nusantara Jobsite TOPB
253
Tabel 2. Tabel Kelembaban Relatif
Gambar 3. Hubungan Antara Efisiensi Kerja dan
Temperatur Efektif
3.1.4 Standar Kualitas Udara Tambang (...truncated)