Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang

Journal On Teacher Education (Jote), Jun 2023

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis jenis tindak tutur ilokusi berupa asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif yang terdapat pada kumpulan cerita rakyat Kabupaten Sintang, serta implementasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Metode dalam penelitian ini berupa deskriptif dengan bentuk kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumenter dengan menyimak seluruh isi bacaan cerita rakyat kabupaten Sintang. Berdasarkan hasil analisis data tindak tutur ilokusi dalam kumpulan cerita rakyat kabupaten Sintang berjumlah 68 data, yang terdiri dari 26 tindak tutur asertif, 28 tindak tutur direktif, 3 tindak tutur komisif, 10 tindak tutur ekspresif, dan 1 tindak tutur deklaratif. Penelitian ini dapat diimplementasikan pada menulis bahan ajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 jenjang SMA kelas X1 semester genap dengan Kompetensi Dasar 3.19 “Menganalisis isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton”. Kompetensi Dasar 4.19 “Mendemonstrasikan sebuah naskah drama dengan memerhatikan isi dan kebahasaan”.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jote/article/download/14576/12224

Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang

JOTE Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023 Halaman 335-345 JOURNAL ON TEACHER EDUCATION Research & Learning in Faculty of Education ISSN: 2686-1895 (Printed); 2686-1798 (Online) Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang Kristina1, Patriantoro2, Antonius Totok Priyadi3 Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Untan Pontianak e-mail: .id1, .id2, .id3 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk menganalisis jenis tindak tutur ilokusi berupa asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif yang terdapat pada kumpulan cerita rakyat Kabupaten Sintang, serta implementasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Metode dalam penelitian ini berupa deskriptif dengan bentuk kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumenter dengan menyimak seluruh isi bacaan cerita rakyat kabupaten Sintang. Berdasarkan hasil analisis data tindak tutur ilokusi dalam kumpulan cerita rakyat kabupaten Sintang berjumlah 68 data, yang terdiri dari 26 tindak tutur asertif, 28 tindak tutur direktif, 3 tindak tutur komisif, 10 tindak tutur ekspresif, dan 1 tindak tutur deklaratif. Penelitian ini dapat diimplementasikan pada menulis bahan ajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 jenjang SMA kelas X1 semester genap dengan Kompetensi Dasar 3.19 “Menganalisis isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton”. Kompetensi Dasar 4.19 “Mendemonstrasikan sebuah naskah drama dengan memerhatikan isi dan kebahasaan”. Kata Kunci: Cerita, Pembelajaran, Tindak Tutur Ilokusi. Abstract The purpose of this study is to analyze the types of illocutionary speech acts in the form of assertive, directive, commissive, expressive and declarative found in the folklore collection of Sintang Regency, and their implementation in learning Indonesian. The method in this study is descriptive with a qualitative form. The data collection technique uses a documentary study by listening to the entire contents of the Sintang district folklore readings. Based on the results of data analysis of illocutionary speech acts in the folklore collection of Sintang district, there are 68 data, consisting of 26 assertive speech acts, 28 directive speech acts, 3 commissive speech acts, 10 expressive speech acts, and 1 declarative speech act. This research can be implemented in writing teaching materials for Indonesian Language Subject Curriculum 2013 for senior high school grade X1 even semester with Basic Competency 3.19 "Analyzing the content and language of the drama read or watched". Basic Competency 4.19 "Demonstrating a drama script by paying attention to content and language". Keywords: Story, Learning, Illocutionary Speech Acts. PENDAHULUAN Sebagai makhluk sosial, manusia tidak terlepas dari penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari untuk menyampaikan suatu tujuan tertentu. Tanpa bahasa, komunikasi tidak akan berjalan dan manusia akan kesulitan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Keberadaan bahasa Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 335 memungkinkan makna wacana tersampaikan dengan baik karena bahasa merupakan sebagai suatu system lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan dirinya. Selain itu, bahasa itu bersifat dinamis, maksudanya bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Pemahaman dan penafsiran terhadap sebuah wacana, perlu dilakukan kajian tindak tutur agar maksud yang disampaikan penutur dapat diterima dengan baik oleh lawan tutur berdasarkan konteks tuturan yang berlangsung. Proses komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk lisan atau berbentuk tulisan dari penulis kepada pembaca, seperti karya sastra prosa fiksi. Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dan berkembang dalam suatu masyarakat itu sendiri yang diwariskan secara turun temurun dari masyarakat penuturnya. Pada masa lampau cerita rakyat menjadi ciri khas setiap daerah yang memiliki budaya yang beraneka ragam. Cerita rakyat mencakup kekayaan budaya dan sejarah suatu bangsa. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia, maupun dewa. Di dalam cerita rakyat terdapat tindak tutur atau dialog dari pelaku baik secara tersirat maupun secara langsung. Oleh karena itu, tindak tutur tersebut sudah sepatutnya dikaji agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menapsirkan isi cerita. Peneliti memilih tindak tutur ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang, yaitu: 1) khususnya dalam penelitian tindak tutur cerita tersebut belum pernah diteliti; 2) dalam tindak tutur ilokusi banyak kata-kata perintah yang bersifat hampir sama, tetapi jika dipahami lebih dalam ternyata memiliki perbedaan terlihat dari ciri-ciri jenis tindak tuturnya. 3) tindak tutur ilokusi dapat memperjelas maksud dan sifat tokoh dalam sebuah cerita; 4) terdapat banyak kata-kata tokoh, sehingga pendengar atau pembaca seolah-olah mengetahui peristiwa dialog antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain meskipun disampaikan secara tersirat; 5) agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap penafsiran isi cerita; dan 6) sejauh yang peneliti baca, bahwa cerita Bujang Junau dalam kumpulan cerita rakyat kabupaten Sintang banyak terdapat tindak tutur ilokusi, sehingga mempermudah peneliti dalam memperoleh data. Cerita rakyat yang dijadikan sumber data dalam penelitian yaitu cerita rakyat yang telah didokumentasikan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Sintang. Buku ini berjudul Bujang Junau (Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang) diterbitkan oleh Romeo Grafika Pontianak pada tahun 2002. Buku Bujang Junau terdiri dari empat seri, yaitu Bujang Junau, Elang Menyarom, Klintik, dan Perintah Raja Aji yang berjumlah 59 halaman. Namun dalam penelitian, peneliti tidak menggunakan cerita Perintah Raja Aji dengan alasan bahwa dalam cerita Perintah Raja Aji tidak ditemukan tuturan-tuturan atau dialog antartokoh. Dengan kata lain bahwa cerita Perintah Raja Aji berupa sebuah deskripsi cerita sehingga tidak bisa dijadikan sumber dalam penelitian. Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 336 Alasan peneliti memilih cerita Bujang Junau dalam kumpulan cerita rakyat Kabupaten Sintang, yaitu: 1) cerita ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat Sintang pada zaman dahulu sehingga perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar kebudayaan masyarakat Sintang dapat dikenal dan dipahami oleh masyarakat luas; 2) cerita tersebut mulai hilang keberadaannya karena orang-orang lebih menyukai comik, cerpen, dan novel untuk dijadikan bahan bacaan; 3) dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi, maka cerita ini perlu dilestarikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis atau mendeskripsikan jenis tindak tutur ilokusi asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif, serta penerapannya terhadap pembelajaran di sekolah. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur iloku (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jote/article/download/14576/12224
Article home page: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jote/article/view/14576/12224

Kristina Kristina, Patriantoro Patriantoro, Antonius Totok Priyadi. Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang, Journal On Teacher Education (Jote), 2023, pp. 335-345,