Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang
JOTE Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023 Halaman 335-345
JOURNAL ON TEACHER EDUCATION
Research & Learning in Faculty of Education
ISSN: 2686-1895 (Printed); 2686-1798 (Online)
Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sintang
Kristina1, Patriantoro2, Antonius Totok Priyadi3
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Untan Pontianak
e-mail: .id1, .id2,
.id3
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis jenis tindak tutur ilokusi berupa asertif,
direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif yang terdapat pada kumpulan cerita
rakyat Kabupaten Sintang, serta implementasinya dalam pembelajaran bahasa
Indonesia. Metode dalam penelitian ini berupa deskriptif dengan bentuk kualitatif.
Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumenter dengan menyimak
seluruh isi bacaan cerita rakyat kabupaten Sintang. Berdasarkan hasil analisis
data tindak tutur ilokusi dalam kumpulan cerita rakyat kabupaten Sintang
berjumlah 68 data, yang terdiri dari 26 tindak tutur asertif, 28 tindak tutur direktif,
3 tindak tutur komisif, 10 tindak tutur ekspresif, dan 1 tindak tutur deklaratif.
Penelitian ini dapat diimplementasikan pada menulis bahan ajar Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 jenjang SMA kelas X1 semester genap
dengan Kompetensi Dasar 3.19 “Menganalisis isi dan kebahasaan drama yang
dibaca atau ditonton”. Kompetensi Dasar 4.19 “Mendemonstrasikan sebuah
naskah drama dengan memerhatikan isi dan kebahasaan”.
Kata Kunci: Cerita, Pembelajaran, Tindak Tutur Ilokusi.
Abstract
The purpose of this study is to analyze the types of illocutionary speech acts in
the form of assertive, directive, commissive, expressive and declarative found in
the folklore collection of Sintang Regency, and their implementation in learning
Indonesian. The method in this study is descriptive with a qualitative form. The
data collection technique uses a documentary study by listening to the entire
contents of the Sintang district folklore readings. Based on the results of data
analysis of illocutionary speech acts in the folklore collection of Sintang district,
there are 68 data, consisting of 26 assertive speech acts, 28 directive speech
acts, 3 commissive speech acts, 10 expressive speech acts, and 1 declarative
speech act. This research can be implemented in writing teaching materials for
Indonesian Language Subject Curriculum 2013 for senior high school grade X1
even semester with Basic Competency 3.19 "Analyzing the content and
language of the drama read or watched". Basic Competency 4.19
"Demonstrating a drama script by paying attention to content and language".
Keywords:
Story, Learning, Illocutionary Speech Acts.
PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak terlepas dari penggunaan bahasa
dalam komunikasi sehari-hari untuk menyampaikan suatu tujuan tertentu. Tanpa
bahasa, komunikasi tidak akan berjalan dan manusia akan kesulitan
berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Keberadaan bahasa
Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 335
memungkinkan makna wacana tersampaikan dengan baik karena bahasa
merupakan sebagai suatu system lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan
sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan
dirinya. Selain itu, bahasa itu bersifat dinamis, maksudanya bahasa itu tidak
terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat
terjadi.
Pemahaman dan penafsiran terhadap sebuah wacana, perlu dilakukan
kajian tindak tutur agar maksud yang disampaikan penutur dapat diterima
dengan baik oleh lawan tutur berdasarkan konteks tuturan yang berlangsung.
Proses komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk lisan atau berbentuk
tulisan dari penulis kepada pembaca, seperti karya sastra prosa fiksi.
Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dan berkembang dalam suatu
masyarakat itu sendiri yang diwariskan secara turun temurun dari masyarakat
penuturnya. Pada masa lampau cerita rakyat menjadi ciri khas setiap daerah
yang memiliki budaya yang beraneka ragam. Cerita rakyat mencakup kekayaan
budaya dan sejarah suatu bangsa. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan
tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh
yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk
binatang, manusia, maupun dewa. Di dalam cerita rakyat terdapat tindak tutur
atau dialog dari pelaku baik secara tersirat maupun secara langsung. Oleh
karena itu, tindak tutur tersebut sudah sepatutnya dikaji agar tidak terjadi
kesalahpahaman dalam menapsirkan isi cerita.
Peneliti memilih tindak tutur ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat
Kabupaten Sintang, yaitu: 1) khususnya dalam penelitian tindak tutur cerita
tersebut belum pernah diteliti; 2) dalam tindak tutur ilokusi banyak kata-kata
perintah yang bersifat hampir sama, tetapi jika dipahami lebih dalam ternyata
memiliki perbedaan terlihat dari ciri-ciri jenis tindak tuturnya. 3) tindak tutur ilokusi
dapat memperjelas maksud dan sifat tokoh dalam sebuah cerita; 4) terdapat
banyak kata-kata tokoh, sehingga pendengar atau pembaca seolah-olah
mengetahui peristiwa dialog antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain
meskipun disampaikan secara tersirat; 5) agar tidak terjadi kesalahpahaman
terhadap penafsiran isi cerita; dan 6) sejauh yang peneliti baca, bahwa cerita
Bujang Junau dalam kumpulan cerita rakyat kabupaten Sintang banyak terdapat
tindak tutur ilokusi, sehingga mempermudah peneliti dalam memperoleh data.
Cerita rakyat yang dijadikan sumber data dalam penelitian yaitu cerita
rakyat yang telah didokumentasikan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah
Kabupaten Sintang. Buku ini berjudul Bujang Junau (Kumpulan Cerita Rakyat
Kabupaten Sintang) diterbitkan oleh Romeo Grafika Pontianak pada tahun 2002.
Buku Bujang Junau terdiri dari empat seri, yaitu Bujang Junau, Elang Menyarom,
Klintik, dan Perintah Raja Aji yang berjumlah 59 halaman. Namun dalam
penelitian, peneliti tidak menggunakan cerita Perintah Raja Aji dengan alasan
bahwa dalam cerita Perintah Raja Aji tidak ditemukan tuturan-tuturan atau dialog
antartokoh. Dengan kata lain bahwa cerita Perintah Raja Aji berupa sebuah
deskripsi cerita sehingga tidak bisa dijadikan sumber dalam penelitian.
Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023| 336
Alasan peneliti memilih cerita Bujang Junau dalam kumpulan cerita rakyat
Kabupaten Sintang, yaitu: 1) cerita ini merupakan gambaran kehidupan
masyarakat Sintang pada zaman dahulu sehingga perlu diperkenalkan kepada
masyarakat agar kebudayaan masyarakat Sintang dapat dikenal dan dipahami
oleh masyarakat luas; 2) cerita tersebut mulai hilang keberadaannya karena
orang-orang lebih menyukai comik, cerpen, dan novel untuk dijadikan bahan
bacaan; 3) dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi, maka
cerita ini perlu dilestarikan.
Penelitian ini bertujuan menganalisis atau mendeskripsikan jenis tindak
tutur ilokusi asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif, serta penerapannya
terhadap pembelajaran di sekolah.
Penelitian ini berusaha mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur iloku (...truncated)