BENTUK UNGKAPAN PENOLAKAN DALAM PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA MAHASISWA STIT HAMZAH FANSURI SUBULUSSALAM ACEH
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, Volume 6 Nomor 2, 2023 | 1502
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran
http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp
Volume 6 Nomor 4, 2023
P-2655-710X e-ISSN 2655-6022
Rahyu Vini Busri1
Masnita Massaguni2
Submitted : 27/10/2023
Reviewed : 04/11/2023
Accepted : 08/11/2023
Published : 13/11/2023
BENTUK UNGKAPAN PENOLAKAN DALAM
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA
MAHASISWA STIT HAMZAH FANSURI
SUBULUSSALAM ACEH
Abstrak
Masalah dalam penelitian adalah adanya bentuk komunikasi yang terjadi dalam percakapan
mahasiswa yang belum mencerminkan sikap kesantuanan, yang dipenagaruhi teknologi modern.
Tujuan penelitaian ini mengkaji masalah (1) Bagaimanakah bentuk penolakan yang digunakan
oleh mahasiswa STIT HAFAS, (2) Bagaimanakah kesantunan berbahasa dalam ungkapan
penolakan yang digunakan oleh mahasiswa STIT HAFAS Subulussalam Aceh. Metode yang
digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa
STIT HAFAS kelas Manajamen Pendidikan Islam semester 5 yang berjumlah 20 orang. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik angket. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bentuk penolakan yang digunakan oleh mahasiswa STIT HAFAS meliputi enam bentuk,
yaitu (1) penolakan dengan menggunakan ungkapan langsung, (2) penolakan dengan
menggunakan alasan, (3) penolakan dengan menggunakan kata maaf disertai alasan, (4)
penolakan dengan menggunakan alasan disertai penawaran/saran, (5) penolakan dengan
menggunakan ucapan terima kasih disertai alasan, dan (6) penolakan dengan menggunakan
apresiasi disertai alasan. Kesantunan berbahasa yang digunakan oleh mahasiswa dalam menolak
pada umumnya santun karena bentuk-bentuk penolakan yang digunakan oleh mahasiswa STIT
HAFAS lebih banyak yang telah memenuhi skala kesantunan. Implikasi
Kata Kunci: Penolakan, Kesopanan, Bahasa Indonesia
Abstract
The research entitled "Forms of Rejection Expression in the Use of Indonesian Language in
STIT HAFAS Subulussalam Aceh Students" examines the problem (1) How is the form of
rejection used by STIT HAFAS students? (2) How is the language politeness in the expression
of rejection used by STIT HAFAS Subulussalam Aceh students? The method used is descriptive
qualitative method. The data source of this research is the students of STIT HAFAS 5th
semester Islamic Education Management class, totaling 20 people. The data collection
technique in this research is questionnaire technique. The results show that the form of rejection
used by STIT HAFAS students includes six forms, namely (1) rejection by using direct
expression, (2) rejection by using excuses, (3) rejection by using apologies accompanied by
excuses, (4) rejection by using excuses accompanied by offers/suggestions, (5) rejection by
using thanks accompanied by excuses, and (6) rejection by using appreciation accompanied by
excuses. The language politeness used by students in refusing is generally polite because the
forms of refusal used by STIT HAFAS students mostly meet the politeness scale.
Keywords: Rejection, Politeness, Indonesian Language
PENDAHULUAN
Chaer (dalam Indra 2022) Interaksi linguistik pada umumnya melibatkan dua pihak, yaitu
penutur dan lawan tutur dengan satu topik pokok pembicaraan, dalam waktu, tempat dan situasi
tertentu. Selanjutnya, Yasir (2020:10) berpendapat bahwa komunikasi merupakan kegiatan
sosial dan sebagaimana hakikat kegiatan tersebut, komunikasi hanya akan dapat dilaksanakan
1
Progam Studi Manajmen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah
Fansuri, Subulussalam Aceh
2
Program Studi S-1 Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Datu Kamanre
email: ,
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP)
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, Volume 6 Nomor 2, 2023 | 1503
apabila ada pihak lain yang terlibat. Masing-masing pihak harus saling bekerja sama dan
memperhatikan citra lawan bicaranya. Keduanya saling menyampaikan informasi yang dapat
berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang menggunakan bahasa yang santun. Setiap
orang yang terlibat dalam suatu percakapan wajib menjaga etika dalam berkomunikasi agar
tujuan komunikasi dapat tercapai dengan baik. Menurut Mislikhah (2020), tujuan utama
kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, pemakaian bahasa
yang sengaja dibelit-belitkan dan tidak tepat sasaran merupakan ketidaksantunan berbahasa.
Mislikhah (2020), juga mengatakan bahwa inti dari teori kesantunan adalah bagaimana
mengubah bahasa penutur berdasarkan siapa lawan tutur yang dihadapi, dan berdekatan dengan
faktor-faktor lain seperti status sosial, usia, dan keakraban. Dalam sebuah komunikasi yang
efektif bukan hanya dibutuhkan kejernihan pesan, tetapi juga kesantunan, aspek yang sering
terlupakan oleh para penutur.
Ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, penutur menyatakan pernyataan setuju
dan tidak setuju terhadap pernyataan lawan tuturnya. Pernyataan ketidaksetujuan tersebut biasa
disebut dengan ungkapan penolakan. Menurut KBBI “Penolakan adalah cara-cara atau proses
yang ditempuh untuk menolak”. Penolakan biasanya diungkapkan secara lugas dan langsung
dengan penggunaan kata “tidak”. Namun ada pula yang diungkapkan secara tidak langsung.
Hal tersebut dilakukan atas pertimbangan untuk menjaga perasaan lawan tutur dan untuk
menghindari kesan tidak sopan atau kasar. Misalnya, (1) “Maaf, sebenarnya saya ingin sekali
ikut, tetapi keadaan tidak mengizinkan” dan (2) “Saya tidak bisa ikut, pergi saja sendiri” adalah
dua ungkapan penolakan untuk sebuah ajakan. Kedua contoh tersebut memiliki tujuan yang
sama, tetapi dengan ungkapan yang berbeda. Ujaran (1) terkesan lebih santun daripada ujaran
(2) jika ditinjau dari segi pemakaian bahasanya.
Sesuai dengan contoh tersebut, menolak merupakan salah satu jenis tuturan yang sangat
rentan akan terjadinya kesalahpahaman dan kesenjangan antara individu. Bukanlah suatu hal
yang mudah ketika seseorang harus melakukan penolakan. Penutur dan lawan tutur seolah
memiliki kewajiban tidak tertulis untuk saling menyenangkan hati masing-masing. Setiap
peserta tuturan berusaha agar keinginan dan maksud masing-masing terpenuhi. Peserta tutur
akan menghindari ungkapan yang tidak menyenangkan lawan tuturnya. Keinginan untuk harus
menjaga perasaan masing-masing penutur dianggap sebagai fenomena umum yang terjadi pada
berbagai budaya walaupun cara untuk mengungkapkan sebuah penolakan dengan sopan sifatnya
relatif (Abid, 2020).
Beragam ungkapan penolakan dapat ditemukan dalam masyarakat ketika berkomunikasi
dengan sesamanya. Keragaman ini dilihat dari pemakaian bahasa di setiap kalangan. Demikian
juga halnya di kalangan mahasiswa, terdapat perbedaan pemakaian bahasa yang ditemukan
antara masyarakat biasa dengan mahasiswa.
Beberapa kajian penelitian mengenai ungkapan penolakan misalnya Akram Budiman Yusuf,
dkk (2023) dengan judul Realisasi Kesantunan Berbahasa Dosen dan Mahasiswa dalam
L (...truncated)