Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan

Jun 2017

AbstrakDengan melihat sisi pribadi serta latar belakang para pegawai maka dapat dilihat bagaimana mereka menjaga etika atau sikap sopan santun. Dalam hal ini, etika yang alfa dapat dilakukan oleh siapa saja, terlebih oleh anggota yang berpredikat berprestasi baik. Ditelisik dari segi psikologi, banyak teori yang memperkuat hal ini. Dari teori tersebut perusahaan atau organisasi dapat menilai anggotanya, apakah baik atau buruk dari segi etika mereka dalam bekerja. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta merupakan salah satu contoh yang diambil penulis untuk menelisik proyek permasalahan tersebut. Dengan mewawancarai Manager Human Resources Department bersangkutan maka, dapat mengetahui sistem manajemen yang sudah ada di perusahaan tersebut, dengan demikian dapat dilihat siapa saja karyawan yang berprestasi dan diberi penilaian baik serta buruk di dalam mereka beretika.Kata kunci: psikologi, manajemen, sikap etis, etika, perilaku baik atau buruk Abstract By looking at their personal side and background they can be seen how they maintain ethics or courtesy. In this case, an alpha ethic can be done by anyone, especially by a predicated member of achievement. Psychologically examined many theories that reinforce this. From that theory companies or organizations can assess members whether good or bad in terms of their ethics in work. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta is one of the examples taken by the author to release the project of the problem. By interviewing the Human Resources Manager of the Department concerned, it can know the existing management system in the company, so it can be seen who the employees are achievers and given good judgment and bad in them ethical. Keywords: psychology, management, ethical attitude, ethics, bad and good behavior

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/2603/1005

Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan

Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589 Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan Arief Yulianto Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta Abstrak Dengan melihat sisi pribadi serta latar belakang para pegawai maka dapat dilihat bagaimana mereka menjaga etika atau sikap sopan santun. Dalam hal ini, etika yang alfa dapat dilakukan oleh siapa saja, terlebih oleh anggota yang berpredikat berprestasi baik. Ditelisik dari segi psikologi, banyak teori yang memperkuat hal ini. Dari teori tersebut perusahaan atau organisasi dapat menilai anggotanya, apakah baik atau buruk dari segi etika mereka dalam bekerja. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta merupakan salah satu contoh yang diambil penulis untuk menelisik proyek permasalahan tersebut. Dengan mewawancarai Manager Human Resources Department bersangkutan maka, dapat mengetahui sistem manajemen yang sudah ada di perusahaan tersebut, dengan demikian dapat dilihat siapa saja karyawan yang berprestasi dan diberi penilaian baik serta buruk di dalam mereka beretika. Kata kunci: psikologi, manajemen, sikap etis, etika, perilaku baik atau buruk Abstract By looking at their personal side and background they can be seen how they maintain ethics or courtesy. In this case, an alpha ethic can be done by anyone, especially by a predicated member of achievement. Psychologically examined many theories that reinforce this. From that theory companies or organizations can assess members whether good or bad in terms of their ethics in work. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta is one of the examples taken by the author to release the project of the problem. By interviewing the Human Resources Manager of the Department concerned, it can know the existing management system in the company, so it can be seen who the employees are achievers and given good judgment and bad in them ethical. Keywords: psychology, management, ethical attitude, ethics, bad and good behavior PENDAHULUAN Kehidupan Dusun Tembi di Kelurahan Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkembang menjadi desa wisata merupakan latar belakang berdirinya Tembi Rumah Budaya yang namanya diadaptasi menjadi nama sebuah lembaga kebudayaaan. Dengan adanya Tembi Rumah Budaya di dusun tersebut, kehidupan warga sekitar mulai membaik dari segi ekonomi. Sebelumnya, Desa Tembi merupakan salah satu tempat bagi abdi dalem katemben yang tugasnya menyusui anak-anak dan kerabat raja. Maka desa ini kemudian dinamai dusun Tembi, dan masih ada pula yang menganggap jika berkunjung ke dusun ini akan mendapatkan kemuliaan bak raja pada zaman yang lalu karena latar belakang desa tersebut. 31 Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589 Adanya Tembi Rumah Budaya juga secara tidak langsung membawa pengaruh kepada Dusun Tembi sebagai sentra desa wisata. Pengaruh tersebut adalah adanya promosi paket wisata yang diadakan oleh Tembi Rumah Budaya dengan membawa turis berkeliling dan melihat kehidupan masyarakat di Dusun Tembi melalui sistem budaya pertaniannya, dengan demikian warga Dusun Tembi juga menangkap dampak positifnya, yaitu mereka mulai memahami budayanya sendiri dan mau melestarikan demi kelangsungan ke depannya. Foto 1: Koleksi Tembi Rumah Budaya Ceria beramai-ramai menanam padi, konsep paket yang ditawarkan Tembi Rumah Budaya, dan bisa berinteraksi dengan warga lokal Desa Wisata Tembi, Bantul, Yogyakarta. Sumber: arsip.tembi.net Tembi Rumah Budaya juga menghadirkan sebuah penginapan, museum serta pendopo yang dimanfaatkan untuk acara atau event. Awalnya Tembi Rumah Budaya adalah perusahaan nonprofit, namun seiring berjalannya waktu, berkembang pula industri pariwisata di sekitar Dusun Tembi maka, dibuatlah sebuah konsep penginapan dengan paket wisata. Saat ini Tembi Rumah Budaya juga dijadikan tempat berkumpulnya para seniman Yogya untuk berdiskusi, karena sebelumnya sudah dibuat wadah untuk berkomunikasi dengan sesama seniman yaitu Berita Tembi Rumah Budaya. Selain itu, Tembi Rumah Budaya juga merupakan oasis bagi warga sekitar Dusun Tembi, di mana menjadi tempat masyarakat sekitar bisa berpartisipasi dalam membantu manajemen Tembi Rumah Budaya dalam membangun perusahaan. Foto 2: Koleksi Tembi Rumah Budaya Pelajar asal Jakarta berlatih bermain gamelan, hal ini diperkenalkan oleh Tembi Rumah Budaya sebagai program wisata budaya sejak dini. Sumber: arsip.tembi.net Foto 3: koleksi Tembi Rumah Budaya Pelajar asal Mertoyudan, Sleman. Sedang mengamati koleksi celengan di Museum Rumah Budaya Tembi. Sumber: arsip.tembi.net 32 Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589 Seiring waktu, Tembi Rumah Budaya mulai berkembang dan tentunya berdampak pada penambahan karyawan. Adanya penambahan karyawan akan timbul beberapa konflik, terutama dilihat dari segi etika. Sebuah manajemen perusahaan pastilah umum jika terdapat sisi kesalahan yang dilakukan oleh karyawan, banyak hal yang mungkin dapat dilakukan oleh karyawan sehingga perihal tersebut dapat berujung konflik kecil hingga besar. Etika setiap personal juga mempunyai banyak perbedaan, sehingga timbul perilaku-perilaku yang menurut pimpinan terlihat tidak etis atau tidak sopan meskipun karyawan tersebut berprestasi baik sekalipun. Dengan demikian, untuk menilai mengenai baik tidaknya etika bisa dilihat dari sisi psikologis si karyawan tersebut dalam beretika pada sebuah organisasi. Sebagai contoh, kesalahan yang sering dilakukan oleh para karyawan yaitu ketika datang terlambat, meskipun hanya datang terlambat, sepertinya sudah biasa. Pihak Tembi Rumah Budaya tentunya punya sanksi tegas bagi karyawan yang melakukan kesalahan dalam bekerja. Kesalahan tersebut tentunya bisa diperinci kembali dari kesalahan yang kecil hingga besar. Dari hal tersebut penulis berusaha menganalisis dan melihat kesalahan yang ada dengan datang dan mewawancarai Manager Human Resources pihak Tembi Rumah Budaya. Manajemen kekeluargaan yang sebelumnya menjadi patokan di Tembi Rumah Budaya menjadi gesekan tersendiri ketika pihak manajemen ingin memberikan sanksi, tak ayal akhirnya ada rasa segan karena sebagian karyawan adalah penduduk sekitar sehingga pihak manajemen harus berhati-hati, apalagi jika yang melakukan kesalahan adalah karyawan yang berprestasi. Foto 4: Koleksi Tembi Rumah Budaya HUT Karyawan Tembi 2018 Sumber: arsip.tembi.net Sisi tersebut bisa dilihat dari psikologi sosial yang baru-baru ini mulai memerhatikan masalah serius mengenai perilaku dan penilaian etis dalam organisasi. Seperti dalam ungkapan mengenai studi ilmiah tentang etika bisnis telah didasarkan pada tradisi pengembangan kognitif (Kohlberg, 1984), bahwa hubungan etika perilaku dalam berbisnis sangat terkait dengan tradisi pengembangan kognitif, ini berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Masalah di Rumah Budaya Tembi mengenai kesalahan yang dilakukan oleh pegawai sangat relevan jika dihubungkan dengan faktor latar belakang mereka termasuk (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/2603/1005
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/view/2603/1005

Arief Yulianto. Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan, 2017, pp. 31-38,