Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589
Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah
Budaya pada Pegawai yang Melakukan
Kesalahan
Arief Yulianto
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Abstrak
Dengan melihat sisi pribadi serta latar belakang para pegawai maka dapat dilihat
bagaimana mereka menjaga etika atau sikap sopan santun. Dalam hal ini, etika yang
alfa dapat dilakukan oleh siapa saja, terlebih oleh anggota yang berpredikat
berprestasi baik. Ditelisik dari segi psikologi, banyak teori yang memperkuat hal ini.
Dari teori tersebut perusahaan atau organisasi dapat menilai anggotanya, apakah baik
atau buruk dari segi etika mereka dalam bekerja. Tembi Rumah Budaya, Bantul,
Yogyakarta merupakan salah satu contoh yang diambil penulis untuk menelisik
proyek permasalahan tersebut. Dengan mewawancarai Manager Human Resources
Department bersangkutan maka, dapat mengetahui sistem manajemen yang sudah ada
di perusahaan tersebut, dengan demikian dapat dilihat siapa saja karyawan yang
berprestasi dan diberi penilaian baik serta buruk di dalam mereka beretika.
Kata kunci: psikologi, manajemen, sikap etis, etika, perilaku baik atau buruk
Abstract
By looking at their personal side and background they can be seen how they maintain
ethics or courtesy. In this case, an alpha ethic can be done by anyone, especially by a
predicated member of achievement. Psychologically examined many theories that
reinforce this. From that theory companies or organizations can assess members
whether good or bad in terms of their ethics in work. Tembi Rumah Budaya, Bantul,
Yogyakarta is one of the examples taken by the author to release the project of the
problem. By interviewing the Human Resources Manager of the Department
concerned, it can know the existing management system in the company, so it can be
seen who the employees are achievers and given good judgment and bad in them
ethical.
Keywords: psychology, management, ethical attitude, ethics, bad and good behavior
PENDAHULUAN
Kehidupan Dusun Tembi di Kelurahan Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Bantul
Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkembang menjadi desa wisata merupakan latar belakang
berdirinya Tembi Rumah Budaya yang namanya diadaptasi menjadi nama sebuah lembaga
kebudayaaan. Dengan adanya Tembi Rumah Budaya di dusun tersebut, kehidupan warga
sekitar mulai membaik dari segi ekonomi. Sebelumnya, Desa Tembi merupakan salah satu
tempat bagi abdi dalem katemben yang tugasnya menyusui anak-anak dan kerabat raja. Maka
desa ini kemudian dinamai dusun Tembi, dan masih ada pula yang menganggap jika
berkunjung ke dusun ini akan mendapatkan kemuliaan bak raja pada zaman yang lalu karena
latar belakang desa tersebut.
31
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589
Adanya Tembi Rumah Budaya juga secara tidak langsung membawa pengaruh kepada
Dusun Tembi sebagai sentra desa wisata. Pengaruh tersebut adalah adanya promosi paket
wisata yang diadakan oleh Tembi Rumah Budaya dengan membawa turis berkeliling dan
melihat kehidupan masyarakat di Dusun Tembi melalui sistem budaya pertaniannya, dengan
demikian warga Dusun Tembi juga menangkap dampak positifnya, yaitu mereka mulai
memahami budayanya sendiri dan mau melestarikan demi kelangsungan ke depannya.
Foto 1: Koleksi Tembi Rumah Budaya
Ceria beramai-ramai menanam padi,
konsep paket yang ditawarkan Tembi
Rumah Budaya, dan bisa berinteraksi
dengan warga lokal Desa Wisata Tembi,
Bantul, Yogyakarta.
Sumber: arsip.tembi.net
Tembi Rumah Budaya juga menghadirkan sebuah penginapan, museum serta pendopo
yang dimanfaatkan untuk acara atau event. Awalnya Tembi Rumah Budaya adalah perusahaan
nonprofit, namun seiring berjalannya waktu, berkembang pula industri pariwisata di sekitar
Dusun Tembi maka, dibuatlah sebuah konsep penginapan dengan paket wisata. Saat ini Tembi
Rumah Budaya juga dijadikan tempat berkumpulnya para seniman Yogya untuk berdiskusi,
karena sebelumnya sudah dibuat wadah untuk berkomunikasi dengan sesama seniman yaitu
Berita Tembi Rumah Budaya. Selain itu, Tembi Rumah Budaya juga merupakan oasis bagi
warga sekitar Dusun Tembi, di mana menjadi tempat masyarakat sekitar bisa berpartisipasi
dalam membantu manajemen Tembi Rumah Budaya dalam membangun perusahaan.
Foto 2: Koleksi Tembi Rumah Budaya
Pelajar asal Jakarta berlatih bermain gamelan, hal ini
diperkenalkan oleh Tembi Rumah Budaya sebagai
program wisata budaya sejak dini.
Sumber: arsip.tembi.net
Foto 3: koleksi Tembi Rumah Budaya
Pelajar asal Mertoyudan, Sleman. Sedang
mengamati koleksi celengan di Museum Rumah
Budaya Tembi.
Sumber: arsip.tembi.net
32
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 1 Juni 2017| ISSN 2442-9589
Seiring waktu, Tembi Rumah Budaya mulai berkembang dan tentunya berdampak pada
penambahan karyawan. Adanya penambahan karyawan akan timbul beberapa konflik, terutama
dilihat dari segi etika. Sebuah manajemen perusahaan pastilah umum jika terdapat sisi
kesalahan yang dilakukan oleh karyawan, banyak hal yang mungkin dapat dilakukan oleh
karyawan sehingga perihal tersebut dapat berujung konflik kecil hingga besar. Etika setiap
personal juga mempunyai banyak perbedaan, sehingga timbul perilaku-perilaku yang menurut
pimpinan terlihat tidak etis atau tidak sopan meskipun karyawan tersebut berprestasi baik
sekalipun. Dengan demikian, untuk menilai mengenai baik tidaknya etika bisa dilihat dari sisi
psikologis si karyawan tersebut dalam beretika pada sebuah organisasi.
Sebagai contoh, kesalahan yang sering dilakukan oleh para karyawan yaitu ketika
datang terlambat, meskipun hanya datang terlambat, sepertinya sudah biasa. Pihak Tembi
Rumah Budaya tentunya punya sanksi tegas bagi karyawan yang melakukan kesalahan dalam
bekerja. Kesalahan tersebut tentunya bisa diperinci kembali dari kesalahan yang kecil hingga
besar. Dari hal tersebut penulis berusaha menganalisis dan melihat kesalahan yang ada dengan
datang dan mewawancarai Manager Human Resources pihak Tembi Rumah Budaya.
Manajemen kekeluargaan yang sebelumnya menjadi patokan di Tembi Rumah Budaya menjadi
gesekan tersendiri ketika pihak manajemen ingin memberikan sanksi, tak ayal akhirnya ada
rasa segan karena sebagian karyawan adalah penduduk sekitar sehingga pihak manajemen
harus berhati-hati, apalagi jika yang melakukan kesalahan adalah karyawan yang berprestasi.
Foto 4: Koleksi Tembi Rumah Budaya
HUT Karyawan Tembi 2018
Sumber: arsip.tembi.net
Sisi tersebut bisa dilihat dari psikologi sosial yang baru-baru ini mulai memerhatikan
masalah serius mengenai perilaku dan penilaian etis dalam organisasi. Seperti dalam ungkapan
mengenai studi ilmiah tentang etika bisnis telah didasarkan pada tradisi pengembangan kognitif
(Kohlberg, 1984), bahwa hubungan etika perilaku dalam berbisnis sangat terkait dengan tradisi
pengembangan kognitif, ini berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.
Masalah di Rumah Budaya Tembi mengenai kesalahan yang dilakukan oleh pegawai
sangat relevan jika dihubungkan dengan faktor latar belakang mereka termasuk (...truncated)