Strategi Penanganan Konflik Oleh Kiyai Di Pesantren Nurul Hidayah

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, May 2023

Konflik yang menjadi bagian dari kehidupan selalu menjadi perbincangan yang dinamis dan tidak pernah mati. Konflik muncul dari banyak faktor seperti orang, struktur dan komunikasi. Konflik dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Hal ini tergantung pada manajemen konflik yang dilakukan. Ketika Anda mengetahui fakta-fakta konflik yang selalu mengiringi Anda, yang terpenting adalah menyiapkan cara-cara menghadapi konflik, sehingga keberadaan konflik menjadi energi yang dahsyat dan digunakan sebagai alat perubahan, bukan sebaliknya. . itu mengurangi kinerja atau menyebabkan efek destruktif lainnya. Dalam kaitan ini, Kyai sebagai pemimpin pesantren bertanggung jawab untuk menentukan tindakan preventif dan kuratif yang tepat. Dalam artikel ini, penulis mencoba memaparkan strategi penanganan konflik yang dapat dilakukan Kyai untuk mencapai solusi yang tepat. Penulis membagi upaya penyelesaian masalah ini menjadi dua bidang, yaitu upaya preventif dan kuratif. Dalam upaya preventif penguatan ESQ melalui budaya pesantren yang direpresentasikan dalam mujahada, isstighosah, transportasi, silaturahmi dan perkawinan antar keluarga pesantren menjadi kunci terpenting. Penulis memaparkan cara-cara yang dapat digunakan Kyai untuk mengelola konflik dalam lima strategi. Yakni al-tabayun (penjelasan), al-syura (pertimbangan), tahkim (upaya mediasi), al-ishlah (perdamaian), sikap al-'afwu (saling memaafkan).

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/741/682

Strategi Penanganan Konflik Oleh Kiyai Di Pesantren Nurul Hidayah

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 1 No. 2 Januari - Juni 2023 Hal. 231-236 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Strategi Penanganan Konflik Oleh Kiyai Di Pesantren Nurul Hidayah Nafisatul Aini, Fazdilatun Nasihah, Ani Qotuz Zuhro'Fitriana Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember Email Abstrak: Konflik yang menjadi bagian dari kehidupan selalu menjadi perbincangan yang dinamis dan tidak pernah mati. Konflik muncul dari banyak faktor seperti orang, struktur dan komunikasi. Konflik dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Hal ini tergantung pada manajemen konflik yang dilakukan. Ketika Anda mengetahui fakta-fakta konflik yang selalu mengiringi Anda, yang terpenting adalah menyiapkan cara-cara menghadapi konflik, sehingga keberadaan konflik menjadi energi yang dahsyat dan digunakan sebagai alat perubahan, bukan sebaliknya. . itu mengurangi kinerja atau menyebabkan efek destruktif lainnya. Dalam kaitan ini, Kyai sebagai pemimpin pesantren bertanggung jawab untuk menentukan tindakan preventif dan kuratif yang tepat. Dalam artikel ini, penulis mencoba memaparkan strategi penanganan konflik yang dapat dilakukan Kyai untuk mencapai solusi yang tepat. Penulis membagi upaya penyelesaian masalah ini menjadi dua bidang, yaitu upaya preventif dan kuratif. Dalam upaya preventif penguatan ESQ melalui budaya pesantren yang direpresentasikan dalam mujahada, isstighosah, transportasi, silaturahmi dan perkawinan antar keluarga pesantren menjadi kunci terpenting. Penulis memaparkan cara-cara yang dapat digunakan Kyai untuk mengelola konflik dalam lima strategi. Yakni al-tabayun (penjelasan), al-syura (pertimbangan), tahkim (upaya mediasi), al-ishlah (perdamaian), sikap al-'afwu (saling memaafkan). Kata Kunci: Manajemen konflik pesantren, Penguatan ESQ, Kultur Pesantren This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license A. Pendahuluan Pesantren tercantum dalam UU No. 13 sebagai salah satu jenis pendidikan agama. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 6 Pasal 15 Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diselenggarakan dengan sistem asrama atau pondok, dengan kyai sebagai pusat utama dan masjid sebagai pusat lembaga tersebut. Harapan masyarakat terhadap pesantren cukup tinggi. Hal ini dapat diturunkan dari keyakinan bahwa dengan ditempatkan di pondok pesantren anak-anak akan memperoleh karakter dan pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang berasal dari Indonesia dan merupakan kekayaan warisan bangsa Indonesia yang tidak bertahan selama berabad-abad. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya pesantren yang sekaligus mendirikan sekolah umum yang sering disebut pesantren khalafi (modern), mulai dari pendidikan rendah hingga perguruan tinggi. Selain sekolah umum, tidak jarang pesantren menawarkan kursus keterampilan khusus yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan santri. Modernisasi pendidikan pesantren juga berdampak paling besar pada kelompok-kelompok besar dari berbagai lapisan masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka ke pesantren.Akibatnya, siswa bersifat heterogen dan majemuk serta memiliki latar belakang sosial, budaya dan ekonomi yang berbeda. Perbedaan tersebut rentan terhadap munculnya konflik yang diidentikkan dengan kontradiksi, argumentasi, perselisihan, perbedaan pendapat atau perbedaan pendapat antar siswa. Selain itu, kehidupan di pondok pesantren tidak terikat dengan tradisi kehidupan individualistis dan berbagi semua aktivitas seperti makan, istirahat, tidur, belajar dan pesantren mengaji selama 24 jam meningkatkan potensi konflik.Dengan aktivitas pertanian sepanjang tahun, pasti ada potensi konflik yang perlu diwaspadai oleh pengelola. Mengingat terdapat berbagai kelompok masyarakat masuk Islam di dalam dan di luar pesantren yang meliputi santri, ustadz, ustadz, wali santri dan instansi terkait. Oleh karena itu, bisa juga terjadi konflik antar dewan Asatidz di lingkungan Pesantren. Menyadari bahwa konflik dapat muncul pada individu, kelompok, kelompok individu, kelompok atau organisasi. Konflik antara santri dan kyai atau majelis kyai dan asatidzi, kyai dengan masyarakat atau yayasan dalam masyarakat dan semua pesantren tidak terbatas pada santri dan asatidzi saja dan tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik. Ingatlah bahwa konflik pada dasarnya adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada manusia yang diciptakan persis sama dalam sifat, sifat, dan cara berpikirnya, yang membuat setiap manusia unik. Karena perbedaan-perbedaan tersebut, konflik juga menjadi situasi normal dalam masyarakat, institusi dan organisasi dalam proses interaksi sosial. Secara historis, konflik manusia dimulai setelah anak dan cucu Adam, ketika Qabil dan Habel berdebat tentang calon istri. Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, artinya: “Kemudian nafsunya memaksanya untuk membunuh Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.01 No. 02 Januari - Juni (2023) 231 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 1 No. 2 Januari - Juni 2023 Hal. 231-236 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 saudaranya, kemudian dia membunuhnya, maka dia termasuk orang-orang yang merugi” (Q.s. alMaidah:30). B. Metode penelitan Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan model deskriptif. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk memperoleh informasi tentang keadaan sekarang, bukan untuk menguji hipotesis atau tidak menggunakan hipotesis, tetapi hanya untuk mendeskripsikan informasi sesuai dengan variabel yang diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan secara mendalam dengan mengumpulkan data atau melalui wawancara atau observasi. Pendekatan kualitatif dipilih karena ingin mendeskripsikan penggunaan konflik dalam Islamic Internet Nurul Hidayah, untuk mendapatkan gambaran yang nyata dan mendapatkan informasi yang jelas tentang hal tersebut. Tentang pengumpulan informasi melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara terstruktur yang digunakan dalam penelitian ini, ditandai dengan pertanyaan yang sangat terbuka, dapat lebih luwes dalam wawancara, tidak selalu terkait dengan petunjuk wawancara, tetapi tidak menyimpang dari topik penelitian, alur dan tujuan pembahasan. . Tujuan dari wawancara adalah untuk memahami fenomena tersebut. Saat melakukan wawancara, peneliti memiliki kewajiban untuk mendengarkan dengan seksama dan mencatat apa yang dikatakan informan. Dalam penelitian ini digunakan teknik non-probabilitas sebagai teknik pengambilan sasaran atau sampel, sasaran dalam penelitian ini adalah sasaran, teknik yang mengambil sampel dari sumber data atau memilih subjek dari sudut pandang tertentu, dengan mempertimbangkan kriteria atau karakteristik tertentu yang ditentukan berdasarkan tujuan penelitian (Sugiyono, 2013) Dalam analisis reduksi data melalui penyajian data dan inferensi. Nama santri Takziran Putri Shofi Shinta Mia Rofi Yo (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/741/682
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/741/682

Nafisatul Aini, Fazdilatun Nasihah, Ani Qotuz Zuhro’ Fitriana. Strategi Penanganan Konflik Oleh Kiyai Di Pesantren Nurul Hidayah, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2023, pp. 231-236,