Peniruan Trend Korea Pada Gen Z
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 3 April - Juni 2024 Hal. 353-362
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Peniruan Trend Korea Pada Gen Z
Adinda Zulfa Rizkiyah, Muhammad Ikhsan Fahmi, Jibran Aufa Rajabi, Pia
Khoirotun Nisa
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Alamat: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jkt, Jl. Ir H. Juanda No.95, Ciputat, Kec. CiputatTim., Kota Tangerang Selatan, Banten
15412
Abstract
This research aims to determine the increasing imitation of Korean cultural trends which are increasingly hot. Korean
culture, which is currently trending in Indonesia, has spread to teenagers or Gen Z, starting from hairstyles, Korean
fashion, and everything that smells Korean. The author examines the imitation of Korean trends among Gen Z, where
Gen Z has extensive knowledge of Korean trends so that their application of imitation is also very strong. The method
used in this research is qualitative with literature study. The object of this research discusses the strong imitation of
Korean trends among Gen Z and Gen Z's knowledge about Korea which originates from the mass media.
Keywords: korea trend, Genz.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui meningkatnya peniruan trend budaya korea yang semakin memanas. Budaya
korea yang sedang trend di Indoensia telah mewabah pada remaja atau Gen Z mulai dari gaya rambut, fesyen korea,
dan segala sesuatunya yang berbau korea. Penulis mengkaji tentang peniruan trend korea di kalangan Gen Z, yang
dimana kalangan Gen Z ini memiliki pengetahuan yang luas akan trend korea sehingga penerapan dalam peniruan
mereka juga sangat kental. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan studi pustaka. Objek
penelitian ini membahas kuatnya peniruan trend korea pada kalangan Gen Z dan pengetahuan Gen Z tentang korea
yang berawal dari media massa.
Kata kunci: trend korea, Gen Z
PENDAHULUAN
Kondisi yang dialami masyarakat Indonesia saat ini menuntut sikap adaptif dan responsibilas Pemerintahan.
Secara nyata media sosial telah merubah kehidupan sosial masyarakat hampir disemua jenjang dan strata
sosial. Perubahan dan perkembangan masyarakat sejatinya dibutuhkan guna mengalirkan siklus
bermasyarakat.1
Media sosial kini sangat memainkan peran penting dalam teori social learning karena mereka adalah
platform di mana individu dapat mengamati dan meniru perilaku orang lain. Melalui media sosial, individu
dapat terpapar kepada berbagai model yang menampilkan perilaku tertentu, baik positif maupun negatif.
Media sosial juga memungkinkan individu untuk membangun identitas online dan mencari validasi sosial
melalui interaksi dengan orang lain.
Sosial media adalah platform online yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi, berbagi konten, dan
terhubung dengan orang lain secara virtual. Ini termasuk platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan
TikTok, serta berbagai aplikasi pesan dan forum online. Sosial media memiliki peran yang signifikan
dalam membentuk budaya, opini publik, dan perilaku, dengan
1
Istiani dkk (2020), Fikih Media Sosial di Indonesia, Jurnal Ilmu Syari’Ah Dan Perbankan Islam hal.141
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 02 April –Juni 2024
353
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 3 April - Juni 2024 Hal. 353-362
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
memfasilitasi proses seperti pertukaran informasi, pembentukan komunitas online, dan pengaruh sosial.
Dari adanya platform media sosial inilah muncul berbagai peniruan yang diikuti oleh individu maupun
masyarakat. Salah satunya yatu gaya trend korea. Trend korea ini merupakan salah satu trend yang sangat
booming mulai dari pakaian, perhiasan, make up, skincare dsb.
Melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, pengguna dapat dengan mudah
mendapatkan inspirasi dari selebriti Korea atau pengguna lain yang memamerkan gaya Korea. Mereka dapat
memperoleh tips tentang produk kecantikan Korea, merek pakaian, dan teknik riasan, serta membagikan
hasil peniruan mereka kepada komunitas online mereka.
METODE
Metode yang kami pakai yakni dengan metode kualitatif, metode ini menggunakan studi pustaka (library
research) yaitu metode pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai
literatur yang berhubungan dengan penelitian. Pengumpulan data dengan cara mencari sumber dan
merkontruksi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan riset-riset yang sudah ada. Metode analisis
menggunakan analisis deskriptif. Bahan pustaka yang didapat dari berbagai referensi dianalisis secara kritis
dan mendalam agar dapat mendukung proposisi dan gagasan.
KAJIAN TEORITIS
Pada tahun 1941, dua orang ahli psikologi, yaitu Neil Miller dan John Dollard dalam laporan hasil
eksperimennya mengatakan bahwa peniruan (imitation) merupakan hasil proses pembelajaran yang ditiru
dari orang lain. Proses belajar tersebut dinamakan “social learning “– “pembelajaran social.” Perilaku
peniruan manusia terjadi karena manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita meniru orang lain,
dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya.
2
Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian,
contoh tingkah laku (modeling). Dalam hal ini budaya K-Pop mempengaruhi perilaku penonton dalam
meniru baik dari segi berpakaian, kata-kata populer yang digunakan oleh para artis korea tersebut dan lain
lain.
Mischel juga menjelaskan teori perilaku memberi peran yang penting bagi Peneguhan (reinforcement) dan
Imbalan (reward) dalam sebuah proses belajar dari media, alasannya adalah Reinforcement dan perangsang
telah ditunjukkan berulangkali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan prilaku dan banyak situasi
(setting). Pola perilaku juga tergantung pada harapan individu menyangkut hasil (the outcomes).
Faktor Observational learning ditentukan oleh empat proses pengamatan yang khas tapi, saling berkaitan
yaitu:
1. Proses Perhatian (Attentional Process).
Sebelum suatu perilaku bisa dipelajari dari model, model harus lebih dulu melakukannya, karena hanya
yang dapat diobservasi sajalah yang dipelajari dan hal ini berarti juga terkait pada kapasitas sensorik
seseorang.
2. Proses Retensi (Retentional Process).
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 02 April –Juni 2024
354
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 3 April - Juni 2024 Hal. 353-362
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
2
ISSN : 2963-5802
Egi Prawita S.Psi dkk (2024), ‘Teori-Teori Psikologi Kepribadian’, hal.123
Agar informasi yang diperoleh (diobservasi) bermanfaat informasi harus disimpan baik secara dimasukkan
ke dalam benak dalam bentuk lambang secara verbal atau imaginal sehingga menjadi ingatan (memory).
3. Proses Produksi Perilaku (Behavioral Production Process).
Proses produksi perilaku menentukan tingkat dimana segala sesuatu yang telah dipelajari akan
diterjemahkan dalam perilaku. Oran (...truncated)