Peristilahan Satuan Ukuran Dalam Bahasa Melayu Kapuas Hulu

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Jan 2024

Lasmini, Anti Moni. 2022. The unit of measure has an important role in the life of the BMKH speaker community and has even become a habit that is passed down from generation to generation. The unit of measure is the effort used to express the measurement results, standard or basis of measurement. In Indonesian, the units of measurement that we use are kilo, gram, kg, ounce, meter, ton, and cm. similarly, BMKH also has traditional units of measurement that state units of length, quantity, unit of content, weight and magnitude. This traditional unit of measure also functions to measure the quantity of an object and contains the value and meaning of culture and culture in the community that owns the culture. This study aims to describe and document the terminology of the unit of measure in the BMKH Researchers choose a unit of measure as the object of research to preserve culture through language. This research was conducted in Temuyuk Village, Bunut Hulu District, Kapuas Hulu Regency. The method used in this study is a descriptive method with a qualitative research form. The approach used in this research is semantics. The technique used in this research is direct observation, interview technique, fishing technique, surface speaking technique, recording technique and note-taking technique. The data collection tool in this study was a writing instrument voice recorder for taking notes, and the researcher as the main instrument. Based on the results of the analysis, there are five clarifications in the terminology of the BMKH unit of measure, namely based on the category of terminology in terms of units of measure, meaning and meaning in units of measure.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/1492/1288

Peristilahan Satuan Ukuran Dalam Bahasa Melayu Kapuas Hulu

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 2 No. 2 Januari – April 2024 Hal. 190-195 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Peristilahan Satuan Ukuran Dalam Bahasa Melayu Kapuas Hulu Anti Moni Lasmini, Sisilya Saman Madeten, Ahmad Rabi’ul Muzammil Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UntanPontianank Email: Abstract Lasmini, Anti Moni. 2022. The unit of measure has an important role in the life of the BMKH speaker community and has even become a habit that is passed down from generation to generation. The unit of measure is the effort used to express the measurement results, standard or basis of measurement. In Indonesian, the units of measurement that we use are kilo, gram, kg, ounce, meter, ton, and cm. similarly, BMKH also has traditional units of measurement that state units of length, quantity, unit of content, weight and magnitude. This traditional unit of measure also functions to measure the quantity of an object and contains the value and meaning of culture and culture in the community that owns the culture. This study aims to describe and document the terminology of the unit of measure in the BMKH Researchers choose a unit of measure as the object of research to preserve culture through language. This research was conducted in Temuyuk Village, Bunut Hulu District, Kapuas Hulu Regency. The method used in this study is a descriptive method with a qualitative research form. The approach used in this research is semantics. The technique used in this research is direct observation, interview technique, fishing technique, surface speaking technique, recording technique and note-taking technique. The data collection tool in this study was a writing instrument voice recorder for taking notes, and the researcher as the main instrument. Based on the results of the analysis, there are five clarifications in the terminology of the BMKH unit of measure, namely based on the category of terminology in terms of units of measure, meaning and meaning in units of measure. Keywords: Terminology, Unit of Measure, Malay Kapuas Hulu. PENDAHULUAN Manusia memanfaatkan bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. baik tua maupun muda. Bahasa tidak akan lepas dari masyarakat yang menggunakannya. Bahasa digambarkan sebagai sekumpulan bunyi yang masing-masing memiliki makna tertentu. Meskipun bahasa merupakan bagian integral dari masyarakat, ia sering dipandang sebagai produk sosial atau budaya. Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu dan Bunut Hulu merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya bahasa daerah Melayu Kapuas Hulu. Salah satu bahasa daerah Indonesia, Melayu Kapuas Hulu, masih aktif digunakan oleh penutur asli untuk interaksi sosial, komunikasi antar generasi, serta pengembangan dan pemeliharaan budaya lokal. Untuk menjamin akurasi pengukuran atau sebagai nilai referensi untuk pengukuran, penakaran, penimbangan, dan perbandingan peralatan, satuan atau unit pengukuran digunakan. Sistem pengukuran dalam kebudayaan melayu Kapuas Hulu ini sudah dipakai secara turunmenurun.Tetapi alat ukur tersebut perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Masyarakat Melayu Kapuas Hulu cenderung menggunakan alat ukur yang canggih dan modern, sehingga banyak orang tidak lagi mengenal sistem pengukuran yang dilakukan secara tradisional. Sistem pengukuran Beberapa istilah kosakata dalam bahasa Indonesia, seperti 'orang', 'buah', dan 'ekor', digunakan sebagai indikasi jumlah dan ukuran. Kami juga menggunakan unit pengukuran seperti gram, kilogram, ons, ton, dan sentimeter. Contohnya bahasa daerah lainnya di Indonesia, Bahasa Melayu Kapuas Hulu memiliki frasa yang berbeda untuk menunjukkan ukuran dan satuan barang. Dopak, rial kulak, ikuk, utik, dan jenis-jenis satuan lainnya digunakan dalam Bahasa Melayu Kapuas Hulu. Kulak yakni satuan ukuran yang dipakai oleh masyarakat Melayu Kapuas Hulu untuk menakar beras. Kulak ini terbuat dari batang pohon kayu belian yang dibentuk seperti panci dan dibuat berdasarkan ukuran yang sudah ditetapkan. Satu kulak beras sama dengan sepuluh kaleng susu yang beratnya 370 gram. Istilah ini masih dipakai masyarakat hingga sekarang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Temuyuk Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 02 Januari-April 2024 190 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 2 No. 2 Januari – April 2024 Hal. 190-195 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Alasan peneliti memilih Desa Temuyuk, ialah karena desa Temuyuk masih terdapat kalangan tua yang masih menggunakan alat-alat tradisional untuk mengukur, menimbang dan menakar menggunakan alat tradisional yang sudah ada sejak nenek moyang zaman dahulu. Alasan memilih peristilahan Satuan Ukuran dalam bahasa Melayu Kapuas Hulu, Kecamatan Bunut Hulu, Desa Temuyuk yaitu (1) keingintahuan peneliti mengenai peristilahan satuan ukuran tersebut untuk dikaji secara mendalam, (2) peneliti tertarik untuk melestarikan dan mendokumentasikan kebudayaan melalui bahasa khususnya dalam peristilahan satuan ukuran yang menjadi pendukung bahasa persatuan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan agar peran dan fungsi bahasa daerah tetap dipertahankan sehingga bahasa daerah tersebut tidak terancam punah dalam pemakaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam perkuliahan dapat dipandu oleh penelitian ini, terutama dalam kursus semantik dan bahasa pendamping. Kesimpulan penelitian dimaksudkan untuk mencerahkan pembaca dan mempersiapkan mereka untuk penyelidikan masa depan. Sesuai dengan tuntutan mereka, penelitian ini juga diantisipasi untuk memberikan informasi dan sumber daya kepada instruktur, masyarakat umum, dan orang lain. Selain itu, siswa kelas VIISMP/MTs dapat memanfaatkan pembelajaran ini untuk mempelajari bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 tingkat satuan. Kemampuan dasar 3.2. Menganalisis konvensi dan norma gramatikal bahasa memeriksa organisasi dan konvensi gramatikal tulisan yang menggambarkan objek yang dibaca atau didengar (seperti sekolah, tujuan wisata, tengara, atau tindakan seni lokal). Menjelaskan informasi dalam teks deskriptif tentang hal-hal yang telah Anda baca dan dengar (seperti sekolah lokal, tempat wisata, bangunan bersejarah, atau pertunjukan seni). Pokok permasalahan penelitian ini adalah bagaimana “Satuan Ukur Terminal Melayu di Kapuas Hulu” berdasarkan permasalahan dasar yang diangkat di atas. Agar penelitian ini dapat terarah dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka dijabarkan lebih lanjut ke dalam sub-sub masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana ungkapan "satuan ukur" dalam bahasa Melayu Kapuas Hulu? (2) Apa arti kata "satuan ukuran" dalam bahasa Melayu Kapuas Hulu? (3) Manakah bahan ajar tambahan untuk kelas VII SMP berdasarkan kurikulum 2013 yang berbasis bahasa satuan ukur dalam bahasa Melayu Kapuas Hulu? Ada dua keuntungan dari penelitian ini: keuntungan teoritis dan keuntungan aktual. (1) Secara teoritis, temuan penelitian ini akan menjelaskan tentang budaya m (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/1492/1288
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/1492/1288

Anti Moni Lasmini, Sisilya Saman Madeten, Ahmad Rabi’ul Muzammil. Peristilahan Satuan Ukuran Dalam Bahasa Melayu Kapuas Hulu, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2024, pp. 190-195,