EKTRAKSI CIRI MENGGUNAKAN ALGORITME DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) DAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) PADA WARNA KULIT WAJAH
JTE UNIBA, Vol. 3, No. 2, April 2019
19
EKTRAKSI CIRI MENGGUNAKAN ALGORITME DISCRETE
WAVELET TRANSFORM (DWT) DAN PRINCIPAL
COMPONENT ANALYSIS (PCA) PADA WARNA
KULIT WAJAH
Tommy Sihotang1, A.Asni B2, Anwar Fattah3
1,2,3
Teknik Elektro,Fakultas Teknologi Industri Universitas Balikpapan
Jln. Pupuk Raya Gn. Bahagia Balikpapan 76114 INDONESIA
Email :
Abstract— These technological advances that make it very
easy to provide various efforts to provide convenience and
comfort for humans. The development of this technology must
also begin with the development of human resources (HR). From
this problem, this study discusses the Discrete Wavelet
Transform (DWT) algorithm to measure the accuracy of x and y
vectors for male and female faces to determine the identity and
method of the Principal Component Analysis (PCA) facial
recognition system. Total Sampling 3 Samples consisted of 1
woman and 2 men. Successful results Taking in this method
100%
Intisari—Kemajuan teknologi yang sangat pesat ini
memungkinkan adanya berbagai usaha untuk memberikan
kemudahan dan kenyamanan bagi manusia. Perkembangan
teknologi ini juga harus diikuti dengan perkembangan pada
sumber daya manusia (SDM). Dari permasalahan ini maka
penelitian bertujuan algoritma Discrete Wavelet Transform
(DWT) untuk mengukur akurasi dari vector x dan y ciri wajah
laki-laki dan perempuan untuk menentukan identitas dan
metode Principal Componet Analysis (PCA) system pengenalan
wajah. Jumlah Pengambilan Sample 3 Sample terdiri 1
perempuan dan 2 laki – laki. Hasil keberhasilan pengambilan
dalam metode ini 100 %
Kata Kunci— Segementasi Warna ,Diskrete Wavelet Trasform
(DWT), Pancipal Component Analysis (PCA)
I. PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi yang sangat pesat ini memungkinkan
adanya berbagai usaha untuk memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi manusia. Perkembangan teknologi ini juga
harus diikuti dengan perkembangan pada sumber daya
manusia (SDM). Dalam bidang biometric recognition yang
menjadi salah satu cabang penelitian oleh para penikmat
teknologi informasi. Biometric itu sendiri merupakan metode
untuk mengenali manusia berdasarkan pada satu atau lebih ciri
fisik manusia tersebut. Pengolahan citra digital merupakan
salah satu elemen penting dalam analisis citra. Salah satu
permasalahan yang dihadapi pada pengolahan citra adalah
adanya noise. Intensitas noise yang tinggi maupun rendah bisa
menurunkan kualitas citra dan menyebabkan hilangnya
beberapa detail informasi citra. Paper ini membahas tentang
denoising pada citra menggunakan beberapa keluarga
wavelet[1].
Face recognition merupakan salah satu bagian dari
pengolahan citra yang digunakan untuk membandingkan satu
citra wajah masukan dengan suatu database wajah kemudian
Tommy Sihotang : Estraksi Ciri Menggunakan……..
menghasilkan data wajah yang sesuai dengan citra tersebut.
Biasanya wajah manusia sangat mirip dalam struktur dengan
perbedaan kecil dari setiap orang. Perubahan kondisi
pencahayaan, ekspresi wajah, dan variasi pose yang lebih
rumit merupakan salah satu masalah sulit dalam analisis pola
pada face recognition[2]. Transformasi Wavelet Diskrit
dilakukan dengan menerapkan konvolusi low-pass filter (H)
untuk mendapatkan sinyal global dan high-pass filter (G)
untuk mendapatkan sinyal detil. Karena citra wajah input
berada pada bidang dimensi dua, maka konvolusi diterapkan
dua kali yaitu pada kolom dan baris citra input, sehingga satu
kali proses Transformasi Wavelet Diskrit akan menghasilkan
satu citra global dan tiga citra detil[3].
II. TINJAUAN PUSAKA
Pengenalan wajah adalah salah satu bidang penelitian
penting dengan banyak aplikasi yang menerapkannya. Karena
wajah manusia merepresentasikan sesuatu yang kompleks
sehingga untuk mengembangkan model komputasi yang ideal
adalah sulit, karena setiap metode memiliki kelebihan dan
kekurangan. Teknik pengenalan wajah dapat diaplikasikan
dalam bidang forensik, penegakan hukum, atau lainnya[4].
2.1 Face Recognition
Pengertian Face recognition adalah teknologi dari
komputer yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasi
atau memverifikasi wajah seseorang melalui sebuah gambar
digital. Caranya ialah dengan mencocokkan tekstur lekuk
wajah kita dengan data wajah yang tersimpan di database.
Masalah pengenalan ini dipersulit oleh variabilitas besar
dalam rotasi kepala dan kemiringan, intensitas dan sudut
pencahayaan, ekspresi wajah,
2.2 Discrete Wavelet Transform (DWT)
Discrete Wavelet Transform (DWT) merupakan teknik
dekomposisi multilevel lokalisasi fitur dalam ruang,frekuensi
dan hasilnya bermanfaat untuk mempermudah dalam
kompresi,trasmisi,dan anasis citra. Discrete wavelet transform
bekerja mentransformasikan sinyal yang telah terbentuk
diskrit. Discrete wavelet transform dapat diaplikasikan dalam
penelitian pengenalan melibatkan data dan informasi tentang
frekuensi maupun waktu (lokasi) dari sinyal dan DWT bekerja
secara multiresolusi.Prinsip dasar dari discrete wavelet
transform adalah bagaiman cara mendapatkan representasi
waktu dan skala dari sebuah sinyal menggunakan teknik
digital dan operasi sub-sampling atau down-sampling.
p-ISSN 2528 – 6498
E-ISSN 2549-0842
20
JTE UNIBA, Vol. 3, No. 2, April 2019
Tranformasi DWT – 2 D dilakukan menggunakan filter
wavelet secara horinzal ( baris ) kemudian diikuti dengan
filtering secara vertikal ( kolom ). Filter wavelet yang biasa
digunakan adalah Low Pass filter ( LPF ) dan High Pass Filter
( HPF ).
2.2 Wavelet Haar
Transformasi wavelet telah digunakan sebagai ekstraksi ciri
yang merupakan input bagi analisis tekstur dan penggolongan
tekstur.Hal ini disebabkan karena wavelet mempunyai
kemampuan untuk membawa keluar ciri-ciri (feature) khusus
pada suatu gambar yang diteliti[5].
Proses transformasi wavelet secara konsep memang
sederhana. Citra semula yang ditransformasi dibagi
(didekomposisi) menjadi empat sub-image baru untuk
menggantikan citra asli. Setiap sub-image berukuran 1/4 kali
dari citra asli, 3 sub-image pada posisi atas kanan, bawah kiri,
dan bawah kanan akan tampak seperti versi kasar dari citra
asli, karena berisi komponen frekuensi tinggi dari citra
asli[6].Sedangkan untuk sub-image p ada kiri atas tampak
seperti citra asli dan tampak lebih halus, karena berisi
komponen frekuensi rendah dari citra asli Salah satu
transformasi wavelet yang paling sering digunakan adalah
Haar Wavelet. Haar merupakan wavelet yang paling tua dan
paling sederhana, diperkenalkan oleh Alfred Haar pada tahun
1909. Haar telah menjadi sumber ide bagi munculnya
keluarga wavelet lainnya, seperti Daubechies dan lain
sebagainya.
Untuk mengekstraksi ciri tekstur, dilakukan proses
averaging untuk mendapatkan bagian dengan frekuensi rendah
dan dilakukan proses differencing untuk mendapatkan bagian
dengan frekuensi tinggi. Berikut rumus untuk mencari nilai
averaging dan differencing [7].
2.3 Algoritma Discrete Wavelet Transform (DWT)
DWT diaplikasikan ke dalam data distrik untuk
menghasilkan
keluaran
diskrit
yang
selanjutnya
mentransformasikan isyarat dari domain waktu (domain asli
dari i (...truncated)