PERSEPSI MASYARAKAT DESA KARANGJATI KABUPATEN NGAWI TERHADAP TRADISI TINGKEBAN
Vol.1 No.3 Agustus 2020
667
……………………………………………………………………………………………………...
PERSEPSI MASYARAKAT DESA KARANGJATI KABUPATEN NGAWI
TERHADAP TRADISI TINGKEBAN
Oleh
Nurhadji N1, Ibadullah M2, M. Hanif3, Sulistyorini4, Erry Y.S5
1,2,3,4,5Program Studi Magister Pendidikan IPS, Program Pascasarjana IKIP PGRI Madiun
E-mail:
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi tingkepan, fungsi tingkepan dan
mengetahui tata cara proses pelaksanaan ritul tingkepan.Penelitian dilakukan dengan
pendekatan kualitatif. Fokus penelitiannya adalah tradisi tingkepan, fungsi tingkepan serta
proses ritual tingkepan di Desa Karangjati Kabupaten Ngawi. Adapun teknis analisis data
yaitu teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi tingkepan
masih tetap di gunakan sampai sekarang, banyak manfaat yang didapatkan dengan
melaksanakan tradisi tingkepan salah satunya adalah supaya calon bayi kelak lahir dengan
selamat dan menjadi anak yang soleh atau sholehah serta calon ibu selamat
Kata Kunci: Masyarakat,Tradisi, Tingkepan
PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa mempunyai beberapa
aturan yang berkenaan dengan masalah
kekeluargaan dalam rangka menyongsong
lahirnya generasi penerus. Diantara aturan itu
sedikit banyak mengikuti aturan yang
diajarkan dalam islam dan ajaran yang dibawa
agama hindhu budha.
Jika kita tengok
sejarah masyarakat Jawa pada masa dahulu
sebelum islam datang dengan ajaran yang
benar, masyarakat jawa telah terbiasa dalam
kehidupan yang mengikuti ajaran-ajaran
terdahulu, yaitu animisme dan dinamisme
yang dibawa oleh agama hindhu budha.
Proses pengislaman di Jawa terjadi
secara damai karena metode yang dipakai oleh
wali adalah metode akomodatif yakni
menggunakan unsur budaya lama (hindhuisme
dan budhisme) tetapi secara tidak langsung
memasukkan nilai islam kedalam unsur lama
itu. Budaya memiliki ciri yang lentur dan
terbuka walau suatu saat terpengaruh unsur
kebudayaan lain, tetapi kebudayaan jawa
masih bisa dipertahankan keasliannya.
Sehingga budaya jawa tidak terlarut dalam
hindhuisme dan budhisme, tapi justru 2
budaya itu dapat dijawakan. Masyarakat Jawa
atau tepatnya suku Jawa, secara antropologi,
budaya adalah orang yang dalam hidup
kesehariannya menggunakan bahasa Jawa
dengan berbagai ragam dialeknya secara turun
temurun. Masyarakat Jawa merupakan
masyarakat yang diikat oleh norma-norma
hidup karena sejarah, tradisi maupun agama.
Menurut Amin Darori (2012) Berbagai
macam kesenian tradisional yang ada dijawa
pada umumnya menggambarkan sifat dan
karakteristik penduduk di mana kesenian itu
berada. Selain itu juga ada tentang upacara
adat kelahiran sampai kematian semua itu
dilaksanakan dengan aturan yang sudah
menjadi warisan dari nenek moyang. Dewasa
ini banyak orang Islam yang masih
melaksanakan upacara selamatan yang
merupakan peninggalan nenek moyang yang
dilatarbelakangi oleh ajaran-ajaran non islam.
Tradisi yang sudah menjadi budaya
masyarakat itu sulit untuk dihilangkan,
terutama dalam masyarakat jawa.
Bagi orang jawa, hidup ini penuh dengan
upacara, baik upacara-upacara yang berkaitan
dengan lingkaran hidup manusia sejak dari
keberadaannya dalam perut ibu, lahir, kanakkanak, remaja, dewasa sampai dengan saat
……………………………………………………………………………………………………...
ISSN 2722-9475 (Cetak)
Jurnal Inovasi Penelitian
ISSN 2722-9467 (Online)
668
Vol.1 No.3 Agustus 2020
………………………………………………………………………………………………………
kematian. Salah satu tradisi ritual dalam adat
Jawa yaitu tingkeban atau mitoni yang
termasuk
dalam
peristiwa
kelahiran.
Tingkeban adalah upacara yang diadakan oleh
wanita yang hamil pertama kali ketika janin
atau kandungannya genap berusia tujuh bulan.
Dalam upacara ini ada beberapa rangkaian
yang harus dilaksanakan diantaranya siraman
dan selamatan yang didalamnya terdapat
makna dan symbol yang terkandung.
Menurut Herawati (2007) Makna dan
simbol tersebut tidak dapat saling dipisahkan
atau keduanya saling mempengaruhi. Simbol
digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi
tidak hanya dengan sesamnya melainkan juga
dengan makhluk diluar dirinya yang bersifat
Supranatural atau gaib, demi menjaga
keseimbangan dalam alam hidupnya. Dalam
tradisi tingkepan masih ada perbedaan antara
daerah yang satu dengan yang lain karena
intensitas pengaruh budaya luar antara daerah
yang satu dengan daerah lain yang berbeda.
Adanya tradisi atau kebiasan yang didalamnya
masih mengandung makna yang percaya
terhadap hal-hal yang berbau religius magis,
akan tetapi pelaku tradisi tersebut adalah
seorang muslim yang berpedoman pada AlQur’an dan hadits sehingga peneliti
menganggap hal ini yang penting untuk di
pahami.
Masyarakat Jawa Timur secara turun
temurun berpegang teguh kepada adat dan
budaya Jawa. Hal ini tidak lepas dari pengaruh
adat dan budaya Jawa yang telah ada sejak
dulu. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti,
bahwa setiap kehamilan memasuki usia tujuh
bulan di Desa Karangjati Kabupaten Ngawi
selalu dilakukan tradisi adat tingkepan. Tradisi
tersebut selalu dilakukan karena merupakan
warisan dari nenek moyang secara turuntemurun serta pada saat kelahiran, ibu dan bayi
dapat selamat.
Ritual tingkeban merupakan suatu tradisi
yang selalu dilakukan oleh masyarakat Jawa
timur dalam mendo’akan keselamatan calon
bayi dan ibunya. Dalam tradisi Ritual
Tingkeban ini terdapat beberapa nasehatnasehat yang sangat berharga dalam hidup
berumah tangga dan bermasyarakat
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian
Penelitian
dilakukan
dengan
pendekatan kualitatif. Subjek penelitiannya
adalah tokoh masyarakat dan ibu yang sedang
melaksanakan prosesi tingkepan yang berada
di Desa Karangjati Kabupaten Ngawi. Teknik
pengumpulan data yang dugunakan seperti
dari peneliti sendiri, observasi, wawancara,
dan dokumentasi
Metode pengumpulan data yang
digunakan untuk menghimpun data penelitian
melalui wawancara, observasi dan mencatat
kejadian dan memeriksa dokumen. Dengan
tujuan mendapatkan gambaran yang benar
tentang suatu gejala sosial atau peristiwa
tertentu yang ada dan terjadi pada suatu lokasi
dalam suatu daerah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Singkat tentang Desa Karangjati
Kecamatan karangjati merupakan salah
satu kecamatan yang berada di wilayah paling
timur kabupaten ngawi. Secara geografis
kecamatan karangjati merupakan daerah
dataran rendah dan terletak pada posisi
koordinat 07ᵒ 29` LS 111ᵒ 39` BT. Adapun
batas-batas Wilayah Kecamatan Karangjati
yaitu: sebelah utara adalah Kecamatan Bringin
dan Kabupaten Bojonegoro, sebelah timur
Kabupaten
Madiun.
Sebelah
selatan
Kecamatan Pangkur dan sebelah barat adalah
Kecamatan Padas
Desa karangjati terletak didalam
kecamatan karangjati yang merupakan daerah
dataran rendah dengan ketinggian 150-162 M
dari atas permukaan laut. Curah hujan rata-rata
2800-2850 mm/th dan jumlah hari dengan
jumlah curah hujan terbanyak adalah 130 hari.
Suhu udara antara 31-34 derajat celcius.
Sebagian besar masyarakat desa
karangjati
masih
menjalankan
tradisi
………………………………………………………………………………………………………
Jurnal Inovasi Penelitian
ISSN 2722-9475 (Cetak)
ISSN 2722-9467 (Online)
Vol.1 No. (...truncated)