TRADISI TINGKEBAN (SYUKURAN TUJUH BULANAN IBU HAMIL) PADA MASYARAKAT JAWA KHUSUSNYA BERADA DI DESA BAJULAN, KECAMATAN SARADAN, KABUPATEN MADIUN
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), Volume 5 No. 2, Desember 2022| 190
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP)
http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp
Volume 5 Nomor 2, Desember 2022
P-2655-710X e-ISSN 2655-6022
Devina Cholistarisa1
Tyas Utami2
Naora Tsani3
Leinze Rizqi Q.A.4
Darmadi5
Submitted :01/12/2022
Reviewed :05/12/2022
Accepted : 08/12/2022
Published : 17/12/2022
TRADISI TINGKEBAN (SYUKURAN TUJUH
BULANAN IBU HAMIL) PADA
MASYARAKAT JAWA KHUSUSNYA
BERADA DI DESA BAJULAN, KECAMATAN
SARADAN, KABUPATEN MADIUN
Abstrak
Tradisi tingkeban adalah upacara adat Jawa dalam rangka 7 bulanan bayi dalam kandungan atau
upacara 7 bulanan kehamilan. Tingkeban merupakan upacara terakhir sebelum kelahiran, yang
digunakan untuk mendoakan ibu dan calon bayi agar selamat dan lahir normal. Nama "mitoni", yang
berasal dari kata "pitu", atau "tujuh", adalah nama lain dari tradisi tingkeban. Upacara adat yang
dilakukan untuk menghormati tujuh bulan kehamilan inilah yang dimaksud dengan mitoni. Dalam
budaya Jawa, tingkeban atau mitoni adalah kebiasaan lama yang diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Upacara tingkeban ini konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri di bawah
kekuasaan Raja Jayabaya. Dalam tata cara pelaksanaan upacara adat tingkepan ada beberapa tahapan
yang harus dilakukan yaitu, membuat rujak; siraman calon ibu; memasukkan telur ayam kampung;
berganti nyamping sebanyak tujuh kali; pemutusan lawe atau janur kuning; membelah kelapa gading;
selamatan; hidangan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disediakan dalam
upacara tingkepan
Kata Kunci: Tingkeban, Tradisi, Kepercayaan.
Abstract
The tingkeban tradition is a Javanese traditional ceremony for the 7 months of a baby in the womb or
the 7 months of pregnancy. Tingkeban is the last ceremony before birth, which is used to pray for
mothers and prospective babies to be safe and born normally. The name "mitoni", which comes from
the word "pitu", or "seven", is another name for the tingkeban tradition. This traditional ceremony
which is carried out to honor the seven months of pregnancy is what is meant by mitoni. In Javanese
culture, tingkeban or mitoni is an old custom passed down from one generation to the next. This
tingkeban ceremony is said to have existed since the time of the Kingdom of Kediri under the reign of
King Jayabaya. In the procedure for carrying out the traditional tingkepan ceremony, there are several
steps that must be carried out, namely, making rujak; splashes of expectant mothers; insert free-range
chicken eggs; changing sideways seven times; breaking of lawe or janur kuning; splitting ivory
coconuts; congratulations; a dish as thanksgiving to God Almighty, which is provided in the tingkepan
ceremony
Keywords: Tingkeban, Tradition, belief.
.
1
Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Madiun
Email :
2
Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidika , Universitas PGRI Madiun
Email :
3
Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Madiun
Email :
4
Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Madiun
Email :
5
Dosen Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Madiun
Email :
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP)
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), Volume 5 No. 2, Desember 2022| 191
PENDAHULUAN
Tingkeban merupakan salah satu dari keberagaman budaya Bangsa Indonesia. Budaya ini sudah
tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Menurut ilmu sosial dan budaya, tingkeban dan ritualritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi, yaitu sarana yang digunakan guna untuk
meminimalisir suatu kecemasan berlebih khususnya kecemasan orang tua akan bayinya. Dalam hal ini,
kecemasan calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka selama masa mengandung sampai
melahirkan, dan harapan akan anak yang terlahir nanti sehat jasmani dan rohani. Maka dari itu,
dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama, menciptakan suatu ritual yang
syarat akan makna tersebut. Sedemikian rumitnya ritual tingkeban ini, hingga memerlukan tenaga,
pikiran, bahkan materi baik dalam persiapan maupun ketika pelaksanaannya. Semua tahap-tahap
tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai tahap-tahap yang harus dilalui. Mulai dari pemilihan hari
dan tanggal pelaksanaan saja harus memenuhi syarat dan ketentuan yang ada. Apabila mereka
melanggar, maka masyarakat sekitar akan segera merespon negatif terhadap hal tersebut. Pirantipiranti yang tidak sedikit jumlahnya tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit pula.
Dalam persiapannya, khususnya piranti yang berupa makanan ada yang memerlukan waktu
hingga tiga hari sebelum pelaksanaan acara, seperti jenang dodol. Bahkan ada beberapa piranti yang
harus terbuang sia-sia. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa upacara tingkeban merupakan ritual
yang perlu ditinggalkan karena tidak sesuai dengan agama Islam dan cenderung mengarah
keperbuatan syirik. Namun ada juga sebagian tokoh agama Islam dan beberapa masyarakat
beranggapan bahwa upacara tingkeban perlu dilaksanakan sebagai sarana ibadah untuk berdo’a kepada
Allah SWT agar ibu dan bayi yang dikandungnya diberi kesehatan dan keselamatan, serta sebagai
upaya mendidik anak di dalam kandungan karena upacara tingkeban itu mengandung berbagai nilainilai kebudayaan leluhur Islam. Tingkeban adalah sama halnya sarana keselamatan atas bayi yang
dikandungnya. berdasarkan pemaparan di atas, kami melakukan survei dan penelitian mengenai
upacara Tingkeban yang ada di Desa Bajulan Kecamatan Saradan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tradisi tingkeban pada masyarakat Jawa di
Kabupaten Madiun serta untuk mengetahui makna tradisi ritual keagamaan bagi masyarakat di Desa
Bajulan Kecamatan Saradan dan warga sekitarnya.
Manfaat penelitian bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk
melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia dan penelitian ini sebagai sumbangan
informasi bagi segenap masyarakat, baik yang masih meyakini dan mempercayai Upacara Tingkeban
maupun yang tidak mempercayai adanya Ritual tersebut.
METODE
Pada dasarnya bagian ini menjelaskan bagaimana penelitian itu dilakukan. Materi pokok bagian
ini adalah: Untuk penelitian kualitatif seperti penelitian Tindakan kelas, etnografi, fenomenologi,studi
kasus dan lain lain, perlu ditambahkan kehadiran peneliti, subyek penelitian, informan yang ikut
membantu beserta cara-cara menggali data-data penelitian, lokasi dan lama penelitian. Terhadap
Upacara Tingkeban di Desa Bajulan Kecamatan Saradan ini adalah pendekatan dengan metode
penelitian kualitatif deskriptif. Dalam melakukan penulisan ini, metode yang digunakan adalah metode
sejarah, yaitu suatu penulisan yang berdasar pada data-data kejadian masa lampau yang sudah menjadi
fakta.
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yakni analisis nilai-nilai (...truncated)